Geopark Ciletuh, Semoga Keindahanmu Selalu Utuh

Alhamdulillah… long weekend gue kemarin diisi dengan berlibur ke tempat baru ( dan bersama teman-teman baru), tepatnya ke Geopark Ciletuh, yang katanya sih sedang dalam proses pengajuan ke UNESCO supaya bisa menjadi salah satu geopark macam Agnes Mo yang go internasional. Le O Le O Le O…

Geopark (taman bumi) sendiri maksudnya adalah konsep pengelolaan kawasan yang memiliki keragaman geologi, hayati, dan budaya yang pengelolaannya dilaksanakan dengan tujuan edukasi, konservasi, dan pembangunan yang berkelanjutan. Bingung, ya? Gue juga, hehe. Tapi intinya sih, yang gue tangkap kenapa disebutnya geopark, karena ia menyajikan destinasi wisata yang beraneka rupa. Mau nyari pantai, sawah, hutan, air terjun, goa dengan bebatuan yang katanya tertua di Jawa Barat, situs peninggalan jaman megalitik, sampai kebudayaan masyarakat setemoat… semua yang kamu mau, ada di sini! *iklan apa ya?

Kali ini gue berlibur bersama teman-teman satu divisi kantor suami yang terdiri dari 7 keluarga. Pukul 7.30 dua mobil memulai perjalanan dari masjid agung Bogor, melewati jalur Cikidang tembus ke perempatan Palabuhanratu. Di alun-alunnya kami berhenti sejenak untuk menemui rombongan di satu mobil lagi plus makan siang yang disiapkan oleh istri pak manajer. Makanannya ala-ala Sunda gitu. Enak deh pokoknya!

Di sini juga gue menemukan kuliner tahu gejrot khas Palabuhanratu yang punya ciri khas tanpa kuah dan ditambah kencur sebagai pelengkap. Lebih segar sih, tapi gue butuh kuah cuko seember biar bisa dikokop. Hehe.

Sekitar pukul 13.30 tiga mobil Xenia putih memulai perjalanan menuju TKP melalui jalur Loji. Kalau googling sih katanya ini jalur yang belum lama diresmikan sama Pak Aher. Kondisi jalannya mulus dan membuat waktu perjalanan semakin efisien ketimbang melewati jalur biasanya. Walaupun kalau curah hujan lagi tinggi, jalur ini nggak rekomen banget. Karena sebelah kirinya tanah dan tebing tinggi, sebelah kanannya berbatasan sama laut. Masih suka terjadi longsor, ceunah.

Alhamdulillah lagi, sepanjang hari Jumat kemarin cuaca mendukung banget. Langit pun membiru sempurna membuat siapapun yang doyan ambil foto girang bukan main!

Pemberhentian pertama kami adalah Pantai Loji. Banyak juga pengunjung yang berhenti di sini sekadar ambil foto di spot Duyung Selfie yang sudah disediakan, yang view-nya adalah Teluk Palabuhanratu dan rumah-rumah nelayan di tengah laut.

Oiya, di papannya tertera biaya dua ribu rupiah per orang bagi yang ingin mengambil foto di sana. Tapi bingung juga mau bayar ke siapa, karena nggak ada penjaganya. Padahal sudah siang menjelang sore, lho. Yaudah bayar pakai doa aja deh. Semoga yang sudah menyediakan spot foto di atas Teluk Palabuhanratu dimudahkan segala urusannya. Kalau belum menikah, segera dipertemukan dengan jodohnya. Kalau sudah menikah, dikaruniai keturunan yang soleh/ah. Aamiin.

Next, kami melanjutkan perjalanan lagi dengan trek yang kian curam. Ada pengunjung yang datang dengan menaiki mobil tua, eh nggak kuat nanjak di salah satu tanjakannya. Ada banyak juga pengunjung yang datang dengan menaiki sepeda gunung, walau kadang harus turun dari sepeda saking curamnya tanjakan, eh sampai juga ke kawasan paling atas. Nah, mobil yang gue naiki ini Xenia paling buntut kata Paksu. Hiks, kasian mesinnya, 1000 cc dengan 9 penumpang di dalamnya. Jadi deh ngeden bin meraung-raung tiap ketemu tanjakan.

Poinnya, kalau ke sini emang bagusnya naik mobil yang kuat nanjak. Mobil 4WD oke banget! Pun buat yang mau touring pakai motor, pakai motor yang cc-nya gede ya. Ada aja sih M*o dan Su*ra yang gue temui, tapi jangan nyesel kalau pulangnya malah turun mesin! :p

Pemberhentian berikutnya di Titik Pandang Puncakdarma. Kalau tadi viewnya lautan, sekarang ditambah sawah dan kebun di bawah kami. Di sini juga berjejer tukang jananan dan minuman yang harganya masih manusiawi. Salah satu yang gue temui adalah rujak buah dikasih buni seharga sepuluh ribu sepiring penuh. Ya Allah nikmat bangeeet. Kalian harus coba!

Di sini juga nggak lama, karena kami mesti menemukan homestay yang sudah dibooking dari jauh hari dan mengejar waktu sholat Ashar.

Alhamdulillah nemu musholla yang kayaknya masih baru dibangun. Karena toiletnya masih bagus. Hehe.
Mendekati pukul 18 kami baru menemukan home stay Pak Fahmi yang posisinya agak masuk ke dalam. Kami menyewa 3 rumah yang harga per rumahnya cukup murah. 500 ribu saja!

Di rumah yang gue tempatin ada 4 kamar, sayang aja kamar mandinya cuma satu dan harus sharing dengan pengunjung dadakan yang isinya cowok semua. Heuw, kan serem! Nggak rekomen deh home staynya. Googling cari yang lain aja.

***

Sabtu paginya kami menyambangi Pantai Palangpang yang jaraknya kurleb 4 kilo dari home stay. Ini sebetulnya agenda utama yang diincar oleh bocah-bocah. Sayang beribu sayang, selain airnya yang coklat (mungkin karena semalaman hujan deras), di bibir pantainya juga banyak sampah. Heuw! Akhirnya setengah mati para mamak membujuk anaknya untuk menangguhkan main ke pantai, dan ketua rombongan membuat agenda baru mampir ke pantai Palabuhanratu pulangnya.

Allah baikkk banget. Semaleman bahkan sampai pukul 8 pagi pun masih hujan, eh seharian kami main-main langit dicerahin lagi. Gerimis sih sedikit saat kami di Titik pandang Panenjoan. Alhamdulillah cuma di detik-detik akhir kami mau jalan pulang.

Ohiya, di Panenjoan ini lebih dahsyat lagi view-nya. Melihat ke bawah, kami nggak nyangka bakal sampai setinggi dan sejauh ini jalan-jalannya. Kami bisa melihat Pantai Palangpang yang berbentuk tapal kuda, dan di belakangnya terhampar sawah dan kebun. La haula wa la quwwata illa billah. Hanya Allah yang sanggup menciptakan pemandangan sebagus ini. Kita mah apa, cuma res-resan chiki di alam semesta ini. Makanya jangan banyak gaya!

Yang gue sayangkan dari perjalanan ini adalah… beberapa kali melewati petunjuk jalan menuju beberapa curug, tapi nggak ada satupun yang disambangi. Hiks, begini kalau jalan ikut rombongan. Apalagi rombongannya banyak bocahnya. Cuma pantai tujuan utamanya. Padahal Curug Awang yang konon mirip air terjun Niagara di Amriki begitu dekat dengan Panenjoan yang kami singgahi. Sudah gue kode-kode ke pemimpin rombongan supaya ke sana, teteup nggak tertangkap hajat gue (kayaknya sih karena airnya yang keruh bekas hujan ya, jadi pada nggak berminat). Wkwkkk. Mesti banget ini ke sini lagi naik motor di musim panas. Biar bisa ke banyak tempat. Aamiin.

Yak, dari Panenjoan kami naik lagi ke atas. Gue sudah ke-PD-an aja kami bakal sampai Pantai Karangbolong yang merupakan ujung selatan dari geopark ini. Ternyata salah, sodarah! Rombongan menuju Pantai Palabuhanratu melalui jalur yang lain. Kayaknya sih karena hujan semalam, jadi nggak mau ambil risiko jalanan longsor kalau balik lewat Loji.

Kurleb 2.5 jam kami pun sampai di Palabuhanratu, siap menyantap ikan segar bakar dan udang asam manis sebelum bersenag-senang dengan pantai yang benerannya. Alhamdulillah…

Oiya, denger-denger pantai ini mulai ditinggalkan orang-orang seiring dengan makin populernya Sawarna, Ujung genteng, dan tentu saja Geopark Ciletuh. Emang sih, pasir di pantai ini hitam, kalah jauh dengan Sawarna dan Ujung genteng. Tapi kalau gue tangkap sih, semakin kotornya pantai ini lah yang membuatnya sepi peminat.

Bayangin ya… selain banyak sampah sulit diurai macam styrofoam dan plastik, masa ada kasur gulung segede gaban di tengah pantai? Belum lagi gue temuin ubi, batok kelapa, ranting-ranting yang keseret-seret ombak. Duh, sedih aing!

Emang betul deh, kerusakan yang terjadi di bumi ini nggak lain karena ulah tangan manusia. Menemukan alam yang bagus, dieksploitasi habis-habisan, cari yang lain yang lebih bagus, yang lama ditinggalin. Begitu aja sampai Nobita lulus S3!

Mungkin ini yang membuat teman gue berujar, “Kalau nemu tempat wisata alam yang bagus, jangan disebar di sosmed, nanti orang-orang nggak bertanggung jawab pada datang ngerusakin!” Hiks.

Plis… kalian jangan begitu ya. Mari kita jaga dan muliakan bumi dengan segala isinya. Jangan sampai kita jadi manusia yang disinggung Al-Qur’an yang menjadi sebab rusaknya bumi. Na’udzubillah.

***
Dan… gue pun sampai di rumah pukul 23 teng! Yang tersisa hingga kini nggak lain capek dan cucian kotornya. Tapi rasa senang mendapat hal baru, pemandangan baru, dan teman-teman baru… insya Allah terus terkenang. Terima kasih Allah. Terima kasih semuaaa 😉

Iklan

Besok Hari Ibu!

Gue bukan jenis manusia yang suka merayakan momen-momen penting orang lain macam ultah. Pernah sekali-kalinya undang kakak2 dan keponakan2 untuk syukuran ultah Mamak, nggak lama beliau wafat. Emang takdir sih, tapi trauma. Hehe. Nah, apalah lagi momen Hari Ibu. Agak gengsi ngucapin “Selamat Hari Ibu” secara langsung ke beliau!

Tapi bener ya, manusia bisa tumbuh tanpa seorang ayah, tapi jarang manusia yang bisa tumbuh tanpa seorang ibu. Oh, betapa besar pengaruh seorang ibu dalam kehidupan anak manusia. Mungkin itu kali yang membuat momen hari ibu lebih santer terdengar daripada hari ayah. Di samping  hadits tentang keutamaan “ibumu ibumu ibumu baru ayahmu”.

2 tahun 8 bulan pasca Mamak wafat. Dan gue masih aja nangis kalau dalam tidur mimpiin tentang beliau. Apalagi pasca menikah, ada saat-saat gue yang kini berstatus sebagai istri keingetan Mamak sebagai istri Babak dulu. Seinget gue beliau nggak pernah tuh ngeluhin kondisi kehidupan rumah tangganya yang notabene berkurangan secara ekonomi. Alhamdulillah sih dulu belum ada gawai ya. Nggak tau deh ceritanya kalau beliau dulu sudah paham sosmed dkk. Mungkin beda cerita?

Sebelum bed rest karena serangan stroke sampai akhir hayatnya, Mamak turut serta dalam menyokong perekonomian keluarga kami. Mengurus 9 anak dengan suami hanya sebagai sekuriti, membuatnya mau nggak mau melakukan apapun biar dapur tetap ngepul. 

Waktu gue kecil pernah beliau jualan nasi ulam di depan rumah. Gue gedean pernah juga jualan beras di rumah sambil jahit2 celana  kolor. 

Ada satu yang paling berkesan waktu gue SMP. Gue diajak ke Muara Angke, naik Patas dari Blok M, buat beli sekarung aneka jenis ikan asin. 

Can you imagine… dari turun bis ke pusat pengasinan lumayan jauh. Jalanan di TKP yang becek plus bau pesing. Di sana pun nggak sebentar karena mesti cari berbagai jenis ikan asin. Pulangnya mesti geret-geret sekarung beras isi ikan asin naik turun bus. 

Nggak sampai di situ. Sampai rumah beliau mesti mlastiki ikan2 itu, buat dijual door to door ke rumah tetangga. Ya Allah, Emak gue setrong banget ya? 

Beliau begitu bersahaja menjalani kesehariannya sebagai seorang istri dan ibu. Rajin bangun malam dan Dhuha. Setia mencukupi kebutuhan perut semua anggota keluarga walau dengan lauk yang ala kadarnya. 

Satu lagi yang paling berkesan. Beliau ini bisa jahit baju lho! Saking nggak memungkinkan untuk sering bela beli baju baru, hampir semua pakaiannya made in tangan beliau sendiri. Gue pun juga sama, beberapa kali dijahitin gamis yang selalu berwarna hijau–warna favorit beliau. Ini nih yang memotivasi gue untuk kursus jahit. Biar kelak bisa jahitin baju juga buat anak. Hehe.

Yaudah. Segitu aja tahadduts bi ni’mat nya punya Emak yang setrong. Doain ya biar gue teruuus jadi anak solehah, biar segala doa yang gue panjatkan untuk beliau diijabah oleh Allah. 

Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu’anha. Aamiin.

Met Hari Ibu ya! 😃 

Mamak yang selalu Cans bahkan sampai akhir hayatnya 😍

Tentang Menikah

Wah gimana gitu ya, di FB gue sering muncul berita kurang sedap dari kehidupan pasangan hafizh muda dan anaknya pengacara kondang itu. Gatel banget buat komentar, tapi mesti ditahan… tahan… tahan. Jadi deh memutuskan koar-koarnya di blog tercinta ini. 

Tapi sungguh, yang gue tulis di bawah ini bukan tentang mereka berdua, koq. Ben ae. Itu kan urusan rumah tangga mereka. 

Gue cuma mau bilang, betapa bersyukurnya gue ditakdirkan menikah di usia yang nggak lagi muda dan dikelilingi oleh para wanita dengan aneka macam permasalahan rumah tangganya. 

Untuk yang pertama, gue masih berkeyakinan kalau pernikahan di usia muda di zaman sekarang agak kurang tepat. That’s why gue kurang sreg sama akun-akun dan para tokoh yang gembor-gemborin nikah muda. Ya emang sih, yang nikah di usia gak muda pun ada aja yang pisah. Tapi seenggaknya sudah pada dewasa dan bisa lebih bijak menghadapi ujian yang ada. Mau koar-koar masalah dengan pasangan di sosmed juga kayaknya malu deh sama umur. Hehe.

Pun kalau emang para pemuda (nggak enak pakai kata remaja untuk tema pernikahan, terlalu kinyiskinyis!) mesti nikah di usia muda, ortu merekalah yang mestinya mendorong-dorong. Karena mereka yang lebih tau kemampuan dan kesiapan si anak. Lah kalau orang lain yang gemborin (apalagi yang gemborin juga baru hitungan jari usia pernikahannya), terus kita kena pancing padahal kita mah urus diri sendiri belum becus, ya babak belur nanti setelah nikah. Gampang minta cerai, gampang ucap talak. Duh!

Nah… untuk yang kedua, dari awal-awal pernikahan gue sudah diwanti-wanti oleh beberapa teman: jangan terlalu mencintai pasangan. Hati manusia gampang berbolak-balik. Cintai sekadarnya.

Bisa kebayang nggak, pengantin baru sudah didoktrin dengan kata-kata itu? Susyeeeh! 😂

Tapi gue senenggg banget. Emang betul ya. Kalau mau belajar balet, bergurunya ya sama yang ngerti balet. Lebih baik lagi kalau dianya sudah teruji dengan memenangkan berbagai penghargaan di kompetisi balet. 

Dari mereka gue belajar, niat menikah itu ya lillahi ta’ala, jalanin sunnah Rosul. Jangan sampai niat  menikah kita supaya bisa segera keluar dari rumah ortu yang penuh dengan masalah (ini namanya lari dari kandang macan ke kandang buaya). Jangan sampai juga niat menikah kita supaya ada yang bimbing (Wah, ini rentan cepat selesai kalau yang kita dapati ternyata sang imam nggak bisa bimbing bahkan prilakunya jauuuh dari yang diharapkan *serius ini nggak nyindir anaknya pengacara, cuma barangkali ada kesamaan kisah 😅). 

Jadi niat yang konon katanya klise itu emang mesti dilurusin selurus-lurusnya. Jangan sampai ada pengharapan yang berlebihan ke pasangan supaya kita begini dan begitu. Balik lagi: lillahi ta’ala, ngikut sunnah Rosul.

Baik buruknya pasangan ya terima aja dah. Kalau dia baik, banyak-banyak bersyukur. Kalau dia kurang baik, jangan diumbar-umbar ke sosmed. 

Oiya, dari salah satu teman yang sudah beranak empat dan dengan posisi dia yang jadi tulang punggung keluarga, gue dibuat takjub dengan statement beliau, “Ya mau gimana lagi, mungkin emang rejeki pernikahanku Allah kasihnya melalui aku, bukan melalui Darling (panggilang beliau ke suaminya 😍). Dia juga sudah berusaha koq buat usaha, walau gagal terus. Masa’ mau dibubarin gitu aja pernikahannya cuma gara-gara itu?”

Wooooooooow! Itu hatinya terbuat dari apa ya bisa selegowo itu menerima kekurangan pasangan yang padahal kewajiban utamanya kaum Adam ya menafkahi keluarga? 😕

Ilmu Itu Seperti Jodoh

Alhamdulillah hujaaannn! Pas banget gue lagi keingetan momen-momen perjuangan menimba ilmu 8 hari yang lalu. 

Tepatnya hari Kamis. Kami berempat sudah membuat janji akan menyambangi daerah Kramat Jati untuk menimba ilmu dari seorang guru. Waktu itu seharian hujannya macam lagu BBB: putus nyambung putus nyambung putus nyambung. Gak kelar-kelar!

Tekad gue dari yang membara buat berangkat ke sana, jadi menciut seciut-ciutnya tiap mendongak ke langit. Pikir gue, kayaknya dipending aja deh belajarnya jadi bulan depan. Cuaca nggak memungkinkan,  Cyn!

Lain kepala, lain pemikiran. Kalau menurut gue begitu, ketua kelompok kami pantang berpikir begitu! Dengan semangat yang nggak kunjung surut, doi berangkat dari kosannya dengan memakai jas hujan warna ungu polkadot lucu membelah hujan pakai ojek online. Satu lagi, dengan kondisi flu berat. Ya Salaam!

Sumveh, bahkan sampai besoknya gue masih bete mamvus gitu sama dia. Wkwkkk!

Tapi gue akuin, gue belajar banyak hal dari dia tentang yang paling penting dari proses menuntut ilmu, yang dengannya kini dia sukses menjadi petarung thifan andal, pemanah andal, penyiar radio andal, kuliah S1 & S2 di waktu yang bersamaan, dan memiliki hapalan Qur’an yang ampunampyuuun. Kalau kalian laki, dan minat sama teman gue yang high quality ini… boleh japri ke gue. Kali aja dia mau. Hehee.

Oke lanjut. Yang pertama dan paling utama adalah mencari keridhoan guru. Jadi guru kami ini spesial ilmunya. Nggak heran, nggak semua orang bisa berguru sama beliau. Nah, menurut ketua kelompok kami, dengan bersedianya beliau menerima kami sebagai murid, itu sudah jadi kehormatan buat kami para muridnya. Makanya, pantang bikin guru macam ini kecewa. 

Termasuk, apapun yang terjadi, mau hujan badai kek, kalau sudah buat janji ketemuan untuk belajar sama beliau ya harus wajib ‘ain ditepatin! 

Heuw… dengan berat hati, menerobos hujan juga lah gue pakai ojek online dari Mampang-Kramat Jati. Pun sudah pakai ponco, tetap aja bagian bawah terutama sepatu jadi kuyup bukan kepalang. Mamaaakkk!

Gue pikir ini kelebayan ketua kelompok kami aja yang memaksakan diri nerobos hujan untuk proses belajar yang nggak sampai 1 jam itu. Tapi nyatanya… 

“Ya memang begitu. Bagi para pencari ilmu sejati, ilmu itu harus diperjuangkan. Nggak bisa santai-santai. Harus ada pengorbanan.” petuah pak guru saat kami sampai juga di sana dengan kondisi kehujanan kedinginan.

Mungkin kita sudah terbiasa hidup enak. Pun dalam urusan menimba ilmu. Guru bisa dipanggil buat belajar privat di rumah. Mau cari bahan bisa langsung ke mesin pencari Google. Bahkan belajar bisa melalui online di Whatsapp. 

Bagus sih. Tapi keberkahannya jadi berkurang. Ilmu yang kita dapatin gampang didapat, gampang juga hilangnya. Kadang perlu juga sih punya kelompok belajar yang seperti ini. Biar makin semangat terus nimba ilmunya. Sepokat gak nich? 😃

Terus… maksud ilmu seperti jodoh apa donk? Ya harus dijemput, diikhtiarkan! Hehe
#latepost

Adab Pencari Ilmu

Gatel ih buat nulis tentang tema ini. Pasalnya di sebuah grup belajar bahasa di WA, salah seorang peserta menawarkan guru kami untuk bertandang ke rumahnya tanpa difasilitasi kendaraan untuk ke sana. Duh!

Kali aja dia cuma basa-basi ke gurunya, Nje? 

Menurut gue basa-basi sama guru juga ada adabnya. Hehe.

Oke. Melakoni diri sebagai guru sekaligus murid, gue jadi banyak belajar tentang adab. Sebagai murid gue sedikit2 mulai paham pentingnya adab yang baik terhadap guru. Sebagai guru gue mengambil banyak pelajaran dari murid2 gue tentang bagaimana mereka memuliakan gue sebagai gurunya. Alhamdulillah… murid2 gue baik-baikkk, kecuali yang nggak baik. Hehew!

Bicara tentang adab kali ini, tentu gue memposisikan diri sebagai murid ya. Bukan sebagai guru. Disayangkan aja kalau masih ada teman-teman yang kurang baik adabnya terhadap gurunya. 

Emang Enje sudah baik adabnya sama guru? 

Sadar gue bukan murid yang baik-baik banget. Kelas 3 SD pernah dengan kurang ajarnya bolak-balik nanya jam istirahat ke seorang guru saking bosannya belajar. Jaman SMA pernah ngambek sama guru.  Jaman kuliah sering telat masuk kelas padahal kosan dekat dari kampus, juga suka tidur di kelas yang muridnya sedikit. Hiks!

Tapi itu kan dulu. Alhamdulillah sekarang sudah belajar baik secara langsung (dapet materi tentang penting adab dalam menuntut ilmu), maupun secara nggak langsung (memperhatikan polah murid2 gue). 

Jan pernah dilupain ya Brader & Sister. Kepada siapapun dan di manapun kalian menimba ilmu, adab itu nomor wahid! Mau gurunya enak atau nggak enak, jagalah adab kita terhadap mereka para guru. 

Karena apa???

Dari guru lah kan kita dapati ilmu. Bukan dari buku atau dari mana pun. Kalau kita jaga adab kita terhadap mereka, mereka jadi ridho karenanya. Insya Allah kan kita dapati berkahnya ilmu. 

Sebaliknya, kalau adab kita buruk terhadap mereka, mereka nggak ridho. Terus dari siapa lagi kan kita dapati ilmu? 

Mungkin begini ya negatifnya sosial media. Pun difungsikan untuk yang positif-positif macam media menimba ilmu. Tapi jauuuh terasa keberkahannya dari kita menimba ilmu langsung tatap muka bertemu guru. Melalui pertemuan itu kita belajar adab dan etika. Setujuuu? 😊

Dijaga Ilmu

Sok iye itu ketika pernikahan membuat lo kisut dalam dunia tulis menulis. Hiks!

Bukan. Ini bukan salah pernikahannya, cuma pribadinya aja yang belum bisa ngatur waktu. Kapan harus mengabdi pada suami, kapan mesti manjain diri salah satunya dengan menulis di sini. Oke, poinnya manajemen waktu gue masih buruk. Wkwk!

Tanpa berpanjang kalam gue mau nulis tentang betapa pentingnya ilmu dalam hidup kita. Ready?

Semalam. Waktu Indonesia bagian Depok. Gak ada angin gak ada hujan, sekonyong-konyong seorang teman di Bangka sana nyamperin via WA. Katanya, kangennn mau belajar lagi bareng gue. Wow, ampas masker kefir macam gue dikangeninnn! 

Sedikit menguji kebenaran ucapannya, gue suruhlah doi buat grup WA yang mengkoordinir teman-teman untuk belajar. Gak nyangka, dalam kedipan mata (kalah dah jin ifrit!) gue sudah tergabung dalam satu grup. Sebut saja namanya “Manis Manja Grup”.

Siapa anggotanya? Beberapa teman lama waktu gue tinggal di Bangka, yang sempat beberapa bulan gue kumpulin untuk jadi korban kesotoyan gue. 

Maksudnya… gue transfer ilmu yang insya Allah manfaat baik teori maupun praktek, yang gue dapat dari proses belajar selama dua bulan tahun kemarin dengan keringat, air mata dan darah! (ini apaan???)

Salah satu fase yang agak nyebelin bagi jomblo mungkin ketika orang dekat kita menikah. Bukan iri. Melainkan ada semacam perasaan teman kita diambil orang yang gak dikenal, hingga membuat kita jadi susah berhubungan lagi dengan teman kita itu. 

Begitupun. Gue nikah. Byarrr! Kelompok belajar kami bubar. Pun dengan secuil ilmu yang Allah amanahin ke gue, ikutan bubar. Huwaaa!

Alhamdulillah… WA yang gue terima semalam menjadi semacam pertanda gue dijagain kembali sama ilmu. 

Masa?

Iya! Dari kapan tau mau ngulang-ngulang apa yang sudah Allah amanahi, apa daya adaaa aja yang bikin gak mulai-mulai. Ya ini belum kelar. Ya itu mesti segera diselesaiin. Dllsb. 

Tiba-tiba aja ada yang minta diajarin, kan, rejeki syekaliii! 

Gue selalu yakin. Gak akan habis ilmu dibagi. Justru, yang ada malah makin dia memperbanyak diri. Mangkanya gue selalu menekankan ke orang-orang yang gue ajarin: cara paling jitu supaya ilmu kita nempel terus adalah dengan  ngajarin ilmu tersebut ke orang lain. Insya Allah… nempel!

Alaysa kadzaalik? Ye, kan? Setuju kan? Kalau punya ilmu jangan pelit yak! Biar ilmu jagain kita! Ihiyyy! ☺

Hari Gini Masih Malu Bertanya? 

Gue masih inget, dari kecil sampai setengah perjalanan menjadi mahasiswi gue termasuk tipe yang malu kalau mau nanya, apalagi disuruh nanya. Langsung nunduk! Hehe. Perasaan takut salah, takut diketawain, takut dibilang b*go, selalu menghantui. 

Alhamdulillah seiring waktu gue jadi belajar: gak selamanya yang nanya itu yang salah, yang culun, yang paling b*go. Kalau emang ada satu hal yang kita butuh jawabannya ya nanya aja. Kenapa takut dibilang ini dan itu? 

Sampai saat ini gue pun memutuskan untuk keluar dari menjadi orang yang malu bertanya terhadap apa-apa yang nggak gue tau. Bahkan di beberapa sesi diskusi gue suka bertanya demi mendapat hadiah, eh, demi ngomporin yang lain supaya nggak jadi orang yang pemalu buat nanya. 

Nggak tau salahnya di mana. Di kalangan akhowat yang gue suka main dengan mereka itu masih ada penyakit malu bertanya ini. Kalo ada sesi tanya jawab malah mengheningkan cipta semua. Kan ini gawat. Malu bukan pada tempatnya!

Mungkin, ya… Mungkin… sistem di masyarakat kita ada yang salah. Malu itu emas. Yang blak-blakan itu lumpur. Wkwkkk. Hellooo plis deh!

Beberapa kali juga gue berurusan dengan mereka yang secara penampakan ngerti agama. Tapi ketika gue dengan gaya blak-blakan bertanya sesuatu yang menurut mereka itu nggak pantas ditanyain, risih, gue dicap ini itu lah. Padahal yang gue tanyain nggak melanggar syariat. Heuw payah kan!

Jadi ingat perkataan seorang kenalan, “Orang yang ngerti agama mestinya nggak menghalangi syariat cuma karena menurut dia kurang etikanya di kalangan masyarakat.” Ah setuju bangettt! 

Udah nggak zaman ya, Bapak/Ibu, mengecap orang yang suka bertanya dengan “kurang etika” dan whatever lah. Yang rajin bertanya emang kadang ngeselin, cuma kami nggak mau ada zhon-zhonan di antara kita. Ntar malah dosa! 😛

5 Keuntungan Terlahir Sebagai Anak Dari Keluarga Besar

Wahhh… long time no write nich! Nulis lagi ah! Ya kali aja corat-coret di sini bisa mengatasi penyakit hati tanpa perlu obat-obatan kimia yang pasti ada efek samping buat tubuh. Ya kan??? 😅 

Oke. Ceritanya mau nulis ala-ala tulisan di web hipwee.com dan sejenisnya. Betapa menjadi manusia yang terlahir dari keluarga dengan penghuninya yang kalau kumpul lebaran bisa sampai tumpeh tumpeeeh itu punya keuntungannya sendiri.

Apa aja? Ini dia…

1. Insya Allah kamu subur! 

Iya nggak sich… kesuburan itu  salah satunya dipengaruhi oleh faktor genetik juga? Menurut gue sih iya. Soalnya abang-abang dan mpok-mpok gue 80% cepat hamilnya (setelah nikah lhooo!) dan punya anak banyak!

Begitu juga dengan keluarga besar dari pihak Babak dan Mamak gue. Anaknya pada punya banyak anak. Anaknya lagi cepat punya anak. *pusing nggak tuh bacanya? 😂 

Yah kecuali Allah berkehendak lain, segala sesuatunya bisa dan sah aja terjadi. Misal, kakak-kakak pada cepat punya anak dan punya banyak anak. Terus Allah mau nguji lo dengan yang beda dari yang lain. 

Tapi nggak usah syediiih, kan sudah punya banyak keponakan dan cucu yang lucu bin menggemaskan bin ngangenin (yang masih pada bayi sih, hehe!).

2. Mangan ora mangan sing penting kumpooolll!

Punya keluarga besar insya Allah kita nggak akan ngerasa kesepian, Dude! Beberapa momen bisa jadi ajang kumpul demi merekatkan kemesraan ini supaya janganlah cepat berlalu~~~

Bisa jadi tempat minjam duit juga sih saat kantong lagi jebol, hehe. Yang penting ada niat dan itikad buat ganti ya! Soalnya sodara adalah sodara, tapi utang tetaplah utang. Nggak kenal sodara! *lho 😛

3. Caring is something!

Punya saudara dengan ekonomi yang pas-pasan ngajarin kita supaya jadi lebih peduli. Saat ada yang butuh kita bantu, saat kita lagi butuh insya Allah ada yang bantu. Asal jangan jadi manusia gadir aja ya. Dibantu mulu tapi nggak pernah ngulurin tangan buat bantu. Hehe.

Kemarin pas gue menggelar resepsi pernikahan, berasa banget betapa saudara-saudara dari yang inti ke yang besar pada turun memberi bantuan moril materil tenaga waktu pikiran dan maaih banyak lagi. Dari jauh-jauh hari, pas hari H, sampai setelahnya pun masih bantu-bantu  

Ah… moga Allah kasih kemampuan gue buat bantuin balik saat mereka ada hajatan kelak. Aamiin.

4. Belajar fleksibel dari banyak karakter saudara

Ini berasaaa banget. Banyak saudara means banyak kepala. Banyak kepala means banyak karakter orang yang mesti lo hadapi. Nggak perlu kuliah bidang Psikologi buat ngadepin saudara yang beda-beda karakternya. Wkwkkk ya kali!

Intinya perlakukanlah orang lain sesuai karakternya. Jangan minta dimengerti molooo. Gadir wooo! 😛

5. Jadi jomblo pun nggak masalah saat ada keluarga yang mensupport!

Iya sih jomblo, tapi ada wadah dan orang-orang yang bisa lo cintai dan lo pun dicintai. Enak kan?

Jadi inget, gue punya satu keponakan yang biasa setia anterin kemana-mana, yang suka gue traktir dan gantian nraktir saat doi lagi ada rejeki. Pokoknya kami sering bareng deh. Padahal usia kami terpaut hampir 15 tahun lebih banyak. Means doi baru aja lulus SD! 😅

Waktu kemarin gue anter doi masuk pondok di Timur Jawa sana sekalian jenguk keponakan lain yang tinggal di Jawa dan masuk pondok juga. Terbagilah perhatian gue ke mereka berdua. Tiba-tiba doi nyeletuk begini saat gue lebih banyak ngobrol sama keponakan yang lain:

“Situ waktu jomblo sama siapa?” 

Wkwkkk. Iyain beee! 😛

Terserah orang mau bilang apa dengan kondisi keluarga lo yang super duper gede. Mau dibilang jadul kek, berisik kek, rempong kek… biarin aja. Hidup lo kan lo yang jalanin! ☺

We are big family~~~

Teluk Kiluan: Sekeping Surga, Untuk Cahaya Surga, Dari Para Perindu Surga (Catper 3)

Yak, sebelum puasa besok mau lanjutin lagi ah catatan perjalanan gue ke Teluk Kiluan, Lampung. Yang sebelumnya ada di sini dan sini yaaa… ☺

Alhamdulillah, sepanjang kami melakukan perjalanan cuacanya baguuus syekalih! Pun di hari terakhir kami di sana yang agendanya merupakan agenda utama: mencari si lumba-lumba, hey hey, bermain api, hey hey! #terBondan

Usia boleh 50an, tapi semangat jalan2 17an 😆

Bakda sholat Subuh, tilawah, chit chat tentang rumah tangga masing-masing *nasib gaul sama emak-emak 😅, sarapan dengan sukun dan pisang goreng yang begitu lezat terasa, kami pun bersiap untuk melakukan perjalanan panjang mengarungi lautan demi meet up sama si lumba-lumba.
Fyi ya Guys, Teluk Kiluan merupakan cekungan yang bersebelahan dengan Samudera Hindia. Nah, ujungnya Teluk Kiluan (emperannya Samudera Hindia) menjadi jalur perjalanan si lumba-lumba saban pagi dan sore. Nah ini dia yang menjadi daya tarik para wisatawan yang mengunjungi Teluk Kiluan. Bahkan  bukan cuma lumba-lumba, kalau lagi  beruntung kalian bisa bertemu dengan ikan paus yang menyemburkan air melalui kepalanya. Seruuu, kan? 🐳

Emperan Samudera Hindia

Bagi wisatawan yang mau bertemu si lumba-lumba, mesti merogoh kocek sebesar 250 ribu rupiah untuk menyewa satu Jukung (buat 2-3orang) beserta satu nelayan pemandunya. Main ke tengah samudera booo’, nggak bisa dipaksain buat muat banyak orang. Hehe.

Oke lanjut. Start naik Jukung pukul 6.15 pagi. Kami bergerak ke arah selatan menuju Samudera Hindia ada kali 1.5 jam dengan ombak yang suwepeeeer gede demi meet up sama si lumba-lumba. Sayang, kondisi ombak yang begitu menjadi penghalang si hewan mamalia laut untuk melewati emperan Samudera Hindia. Hiks, rupanya belum rejeki. Dua Jukung kami dan sekitar belasan Jukung yang dinaiki wisatawan lain pun harus rela pulang dengan tangan hampa. 

Jadi ingat percakapan kami dengan ibu mertua Mba Nuri waktu kami mampir ke rumah beliau dalam perjalanan pulang di Tanjung Karang.

Ibu mertua: gimana, ketemu sama lumba-lumba?

Kami: nggak, Bu. Belum rejeki. Hehe.

IM: wah jangan kapok ya. Berarti kalian disuruh main lagi nanti ke sana. Sudah save nomornya?

Kami: nomor Mba Nuri? Sudah punya, Bu.

IM: bukan. Nomor lumba-lumbanya! 

Kami: wkwkwkkk. Sa ae Bu 😂

Oke lanjut ya. Agak sedih sih nggak jadi ketemu lumba-lumba. Soalnya ini merupakan agenda utama kami jalan jauh-jauh sampai rela dadakan nyebrang ke Sumatera. Tapi nggak kenapa juga deh. Yang penting kami pulang dengan membawa segudang hikmah. 

1. Selezat-lezatnya makanan, kalau sudah lewat tenggorokan mah sama aja dengan makanan nggak lezat. Buktinya 5 dari 6 anggota kami yang berangkat, begitu kompak untuk muntah berjama’ah akibat ombak yang sukses mengocok perut kami. Nggak ada air minum, sukun dan pisgor yang lezatpun jadi eneg terasa saat keluar lagi dari lambung kami menuju kerongkongan. Huwek!

2. Jangan remehin mahluk Allah yang bernama air. Kalau mereka sudah bersatu padu dalam lautan menjadi gelombang, lo bakal ketakutan setengah mati dibuatnya.

3. Sebutuh-butuhnya  dan secanggih-canggihnya hape yang lo bawa, nggak akan bisa nolong di tengah lautan. Justru, cuma Allah–yang selama di daratan biasa kita nomor duakan setelah hape–yang bakal selalu kita ingat dan kita jadikan satu-satunya tempat memohon pertolongan. Dia emang cuma dia yang memberi kita keselamatan baik di darat maupun di lautan.

4. Jangan pernah menganggap diri paling malang sedunia. Nggak kenapa nggak ketemu lumba-lumba, yang penting bisa selamat sampai daratan. Ini berasa banget bersyukurnya pas tau di perjalanan pulang ke penginapan, masih di lautan yang jauh dari daratan, di sisi kiri kami ada Jukung yang terbalik karena hantaman ombak yang mengganas. 

5. Seumur-umur naik kendaraan di lautan, baru kali ini gue muntah. Ini mungkin sebagai pengingat dari Allah. Gue lagi jalan sama ibu-ibu berumur 50 tahun lebih yang sibuk mengeluarkan isi perut bahkan sebelum Jukung putar arah menuju penginapan saking sulitnya nyari lumba-lumba. Coba kalau gue nggak dikasih muntah, mungkin gue bakal egois meminta bapak nelayan yang memandu kami untuk terus ke tengah samudera demi tercapainya tujuan utama. Ya, muntah nggak selamanya cemen dan buruk. 

***

Siap2 snorkeling yuk! 😆

Pukul 9.30 kami sampai di penginapan yang disambut Mbak Nuri dengan 7 buah air kelapa untuk memulihkan stamina kami. Sementara Bu Upi memilih istirahat karena mabuk lautan yang parah banget, gue dan empat anggota yang lain memilih melanjutkan agenda berikutnya: snorkeling di pantai depan penginapan. 

Ini penampakan tempat snorkeling kami. Mayan deh liat karang dan ikan2 berseliweran…

Nggak sampai setengah jam sih snorkelingannya. Soalnya kami ngejar waktu pulang. Jam11 sudah harus cek out biar sampai Jakarta nggak kemaleman. 

Ehtapi nggak bisa sih. Namanya juga ibu-ibu. Rencana tinggal rencana. Pukul 12 kurang sedikit kami baru naik Jakung menuju dermaga. Pukul 13.00 baru naik ELF memulai perjalanan pulang. 
Berhubung badan sudah pada ngereteg, kondisi jalan pulang yang off road nggak membuat mata kami gentar untuk menutup demi istirahat. 

Selain diajak mampir ke rumah mertua Mba Nuri di Tanjung Karang sambil menikmati Bakso Soni yang super enak sejagat Lampung, kami sempatkan juga beli oleh-oleh di Yen Yen. Ini dia pusat belanja oleh-oleh yang kesohor di Lampung. Harganya juga nggak begitu mahal alias standar. 

Mejeng dulu sebelum turun kapal 😂

Sampai Bakauheuni pukul 20 30. Alhamdulillah dapat kapal yang sepi dan nyamaaaan ngetz. Kami sewa ruangan VIP yang menyediakan enam tempat tidur atas bawah dan tiga bangku berjajar. Cukup deh buat kami bertujuh merebahkan badan setelah berjam-jam tidur dengan posisi duduk di ELF. 
Senin pukul 02.00 dini hari, kamipun sampai di masjid Daarut Tauhid Cipaku. Alhamdulillah… ☺

Teluk Kiluan: Sekeping Surga, Untuk Cahaya Surga, Dari Para Perindu Surga (Catper 2)

Okeeey… markijut catatan perjalanan gue dan teman-teman para perindu surga menuju Teluk Kiluan, Lampung. Cerita sebelumnya ada di sini ya.

Santai lagi di pinggir pantai 😉

Setelah sampai di home stay Kiluan Dolphin, ishoma, kami pun lagi-lagi secara tiba-tiba memutuskan untuk berancut ke Laguna Gayau. Padahal, di ELF Mbak Nuri sempat nggak rekomen pergi ke sana karena medannya yang curam naik turun tebing. Tapi begitu sampai di home stay beliau sendiri yang bilang, “Sudah sampai sini. Sayang kalau nggak ke Laguna.” Hehe.
Setelah hampir setengah jam berkutat dengan matching-matchingin baju biar tampil oke saat difoto *pe-rem-pu-an*, pukul 13.30 kami berangkat ke Laguna. Naik Jukung lagi kembali ke dermaga, untuk menuju ke pintu masuk Laguna Gayau. 
Dengan bermodal 5ribu rupiah per kepala, ditemani oleh Yoga–pemuda penduduk asli Kiluan yang memiliki tanah berhektar-hektar warisan ortunya di sana–kamipun memulai perjalanan dengan hati riang gembira. 

Senyum maksa menahan ngos-ngosan yg melanda 😂

Berita baiknya, kini sudah dibuat jalur khusus lho menuju Laguna demi mempermudah perjalanan para wisatawan. Kalau dulu jalurnya agak menyulitkan sampai-sampai terlaranglah gue memakai rok *hiks* untuk menghindari jatuh keserimpet, kini sudah dibuat trek yang sudah beralaskan peluran semen dan kadang anak tangga. Masih agak curam sih, tapi katanya ini jauh lebih enak ketimbang dulu. 
Tapi teteup aja wisatawannya masih sedikit. 

Waktu kami ke sana aja cuma ada tim kami dan beberapa laki-laki yang gue taksir mereka masih satu tim gitu. Jadilah Laguna Gayau semacam private pool yang hanya mesti kami bagi jadi dua. Paling ujung para laki-laki, sebelahnya yang dibatasi dengan karang untuk kami para perempuan. Yeay, Laguna syari’ah! Hehe. 

Hoiya, saran gue sih perbanyak olah raga dulu ya sebelum memutuskan ke Laguna Gayau. Sumveh mirip-mirip nanjak gunung gitu treknya. Mesti jago atur napas deh. Saking capeknya salah satu anggota kami nyeletuk, “Ini siapa yang punya ide jalan-jalan beginiii?!”. Wkwkkk, ampuuun Maaak!!!

Beberapa langkah lagi menuju Laguna. Alhamduuulillaaah…

Setelah kurleb 45 menit jalan tertatih-tatih menanjak dan menurun, sampai juga kami di papan bertuliskan “Selamat Datang di Laguna Gayau”. Ini hadiah pertama sebelum bertemu hadiah utamanya. Menuruni beberapa anak tangga lagi. Tadaaa… this is it. Salah satu ciptaan Ilahi: Laguna Gayau!

Di bawah kaki gue ada batu karang dan ikan kecilnya juga lho…

Buat yang belum mudeng apa itu laguna. Gampangnya semacam kolam renang alami yang isinya air laut. Kok bisa? Iya, jadi ada karang tinggi yang memisahkan air laut dengan daratan yang agak mencekung. Nah, air laut dengan ombaknya yang mengganas itu pun tumpeh-tumpeh memenuhi cekungan di balik karang. Jadi deh Laguna. Keceee! 😍

Tapi mesti hati-hati ya kalau mau main ke Laguna Gayau. Soalnya setahun yll beberapa kali ada insiden wisatawan yang terseret ombak di sana. Intinya sih mesti bawa guide, pakai pelampuang buat jaga-jaga, lihat kondisi laut (kalau ombak lagi gede mending nggak usah main), sama jangan main ke sana pas sore hari (ombak makin menjadi). 

Alhamdulillah pas kami main ke sana air lautnya lagi stabil. Cuma nggak lama sebelum kami memutuskan balik, tiba-tiba ombaknya makin gedd. Makanya kami langsung caw deh. Ngeri booo’!

Fokus ke air yg menyembur di belakang kami ya…

Oiya, selain Laguna, ada lagi salah satu ciptaan Ilahi yang dijamin bikin kita berdecak kagum sekaligus bergidik ngeri. Tepat di sisi kanan tangga menuju Laguna, ada lubang dengan lebar kira-kira tiga meter yang bakal menyemburkan air laut dari dasarnya saat ombak datang. Sebaliknya, ia akan kosong melompong saat ombaknya terseret lagi ke laut. 

Kalau lagi beruntung, semburan ombak dari dasarnya bisa sampai sepuluh meter dari lubangnya lho. Di satu sisi bagus buat spot foto, di satu sisi bikin ngeri. Terutama banget pas air lautnya kesedot lagi ke laut. Tiba-tiba lubangnya kosong melompong. Beberapa detik kemudian nyemburin air laut lagi tergantung besar kecilnya ombak. Ya Allah… 😐

Puas main di Laguna (faktor ombak yang makin gede sih tepatnya), kami putuskan untuk kembali ke penginapan. 

Ini pantai depan penginapan yang satu lagi. Bersihnya poool!

Tapi sebelumnya, kami diajak Mbak Nuri dulu ke home staynya yang satu lagi. Lebih jauh dari tempat kami (naik Jukung lagi), lebih buwesar, dan lebih bersiiih pasirnya. Soalnya nggak ada pepohonan di sekitar pantainya.

Biar lagi liburan, jangan lupa ngaji ya! 😀

Nggak lama sih di sana. Lanjut kami balik ke penginapan melalui jalan darat (masuk hutan), bersih-bersih, ishoma, masuk ke agenda inti: ngaji bareng dan Yasinan. *pencitraan* 😎
Iya, ngajinya cuma sebentar. Hehe. Kemudian kami makan malam dengan menu ikan segar langsung dari laut yang dibakar di depan home stay, ngobrol sebentar, zzz…. capek!

Tunggu cerita kami mencari lumba-lumba dan snorkeling di hari berikutnya yaaa… ☺ (bersambung)