Ilmu Itu Seperti Jodoh

Alhamdulillah hujaaannn! Pas banget gue lagi keingetan momen-momen perjuangan menimba ilmu 8 hari yang lalu. 

Tepatnya hari Kamis. Kami berempat sudah membuat janji akan menyambangi daerah Kramat Jati untuk menimba ilmu dari seorang guru. Waktu itu seharian hujannya macam lagu BBB: putus nyambung putus nyambung putus nyambung. Gak kelar-kelar!

Tekad gue dari yang membara buat berangkat ke sana, jadi menciut seciut-ciutnya tiap mendongak ke langit. Pikir gue, kayaknya dipending aja deh belajarnya jadi bulan depan. Cuaca nggak memungkinkan,  Cyn!

Lain kepala, lain pemikiran. Kalau menurut gue begitu, ketua kelompok kami pantang berpikir begitu! Dengan semangat yang nggak kunjung surut, doi berangkat dari kosannya dengan memakai jas hujan warna ungu polkadot lucu membelah hujan pakai ojek online. Satu lagi, dengan kondisi flu berat. Ya Salaam!

Sumveh, bahkan sampai besoknya gue masih bete mamvus gitu sama dia. Wkwkkk!

Tapi gue akuin, gue belajar banyak hal dari dia tentang yang paling penting dari proses menuntut ilmu, yang dengannya kini dia sukses menjadi petarung thifan andal, pemanah andal, penyiar radio andal, kuliah S1 & S2 di waktu yang bersamaan, dan memiliki hapalan Qur’an yang ampunampyuuun. Kalau kalian laki, dan minat sama teman gue yang high quality ini… boleh japri ke gue. Kali aja dia mau. Hehee.

Oke lanjut. Yang pertama dan paling utama adalah mencari keridhoan guru. Jadi guru kami ini spesial ilmunya. Nggak heran, nggak semua orang bisa berguru sama beliau. Nah, menurut ketua kelompok kami, dengan bersedianya beliau menerima kami sebagai murid, itu sudah jadi kehormatan buat kami para muridnya. Makanya, pantang bikin guru macam ini kecewa. 

Termasuk, apapun yang terjadi, mau hujan badai kek, kalau sudah buat janji ketemuan untuk belajar sama beliau ya harus wajib ‘ain ditepatin! 

Heuw… dengan berat hati, menerobos hujan juga lah gue pakai ojek online dari Mampang-Kramat Jati. Pun sudah pakai ponco, tetap aja bagian bawah terutama sepatu jadi kuyup bukan kepalang. Mamaaakkk!

Gue pikir ini kelebayan ketua kelompok kami aja yang memaksakan diri nerobos hujan untuk proses belajar yang nggak sampai 1 jam itu. Tapi nyatanya… 

“Ya memang begitu. Bagi para pencari ilmu sejati, ilmu itu harus diperjuangkan. Nggak bisa santai-santai. Harus ada pengorbanan.” petuah pak guru saat kami sampai juga di sana dengan kondisi kehujanan kedinginan.

Mungkin kita sudah terbiasa hidup enak. Pun dalam urusan menimba ilmu. Guru bisa dipanggil buat belajar privat di rumah. Mau cari bahan bisa langsung ke mesin pencari Google. Bahkan belajar bisa melalui online di Whatsapp. 

Bagus sih. Tapi keberkahannya jadi berkurang. Ilmu yang kita dapatin gampang didapat, gampang juga hilangnya. Kadang perlu juga sih punya kelompok belajar yang seperti ini. Biar makin semangat terus nimba ilmunya. Sepokat gak nich? 😃

Terus… maksud ilmu seperti jodoh apa donk? Ya harus dijemput, diikhtiarkan! Hehe
#latepost

Iklan

Adab Pencari Ilmu

Gatel ih buat nulis tentang tema ini. Pasalnya di sebuah grup belajar bahasa di WA, salah seorang peserta menawarkan guru kami untuk bertandang ke rumahnya tanpa difasilitasi kendaraan untuk ke sana. Duh!

Kali aja dia cuma basa-basi ke gurunya, Nje? 

Menurut gue basa-basi sama guru juga ada adabnya. Hehe.

Oke. Melakoni diri sebagai guru sekaligus murid, gue jadi banyak belajar tentang adab. Sebagai murid gue sedikit2 mulai paham pentingnya adab yang baik terhadap guru. Sebagai guru gue mengambil banyak pelajaran dari murid2 gue tentang bagaimana mereka memuliakan gue sebagai gurunya. Alhamdulillah… murid2 gue baik-baikkk, kecuali yang nggak baik. Hehew!

Bicara tentang adab kali ini, tentu gue memposisikan diri sebagai murid ya. Bukan sebagai guru. Disayangkan aja kalau masih ada teman-teman yang kurang baik adabnya terhadap gurunya. 

Emang Enje sudah baik adabnya sama guru? 

Sadar gue bukan murid yang baik-baik banget. Kelas 3 SD pernah dengan kurang ajarnya bolak-balik nanya jam istirahat ke seorang guru saking bosannya belajar. Jaman SMA pernah ngambek sama guru.  Jaman kuliah sering telat masuk kelas padahal kosan dekat dari kampus, juga suka tidur di kelas yang muridnya sedikit. Hiks!

Tapi itu kan dulu. Alhamdulillah sekarang sudah belajar baik secara langsung (dapet materi tentang penting adab dalam menuntut ilmu), maupun secara nggak langsung (memperhatikan polah murid2 gue). 

Jan pernah dilupain ya Brader & Sister. Kepada siapapun dan di manapun kalian menimba ilmu, adab itu nomor wahid! Mau gurunya enak atau nggak enak, jagalah adab kita terhadap mereka para guru. 

Karena apa???

Dari guru lah kan kita dapati ilmu. Bukan dari buku atau dari mana pun. Kalau kita jaga adab kita terhadap mereka, mereka jadi ridho karenanya. Insya Allah kan kita dapati berkahnya ilmu. 

Sebaliknya, kalau adab kita buruk terhadap mereka, mereka nggak ridho. Terus dari siapa lagi kan kita dapati ilmu? 

Mungkin begini ya negatifnya sosial media. Pun difungsikan untuk yang positif-positif macam media menimba ilmu. Tapi jauuuh terasa keberkahannya dari kita menimba ilmu langsung tatap muka bertemu guru. Melalui pertemuan itu kita belajar adab dan etika. Setujuuu? 😊

Dijaga Ilmu

Sok iye itu ketika pernikahan membuat lo kisut dalam dunia tulis menulis. Hiks!

Bukan. Ini bukan salah pernikahannya, cuma pribadinya aja yang belum bisa ngatur waktu. Kapan harus mengabdi pada suami, kapan mesti manjain diri salah satunya dengan menulis di sini. Oke, poinnya manajemen waktu gue masih buruk. Wkwk!

Tanpa berpanjang kalam gue mau nulis tentang betapa pentingnya ilmu dalam hidup kita. Ready?

Semalam. Waktu Indonesia bagian Depok. Gak ada angin gak ada hujan, sekonyong-konyong seorang teman di Bangka sana nyamperin via WA. Katanya, kangennn mau belajar lagi bareng gue. Wow, ampas masker kefir macam gue dikangeninnn! 

Sedikit menguji kebenaran ucapannya, gue suruhlah doi buat grup WA yang mengkoordinir teman-teman untuk belajar. Gak nyangka, dalam kedipan mata (kalah dah jin ifrit!) gue sudah tergabung dalam satu grup. Sebut saja namanya “Manis Manja Grup”.

Siapa anggotanya? Beberapa teman lama waktu gue tinggal di Bangka, yang sempat beberapa bulan gue kumpulin untuk jadi korban kesotoyan gue. 

Maksudnya… gue transfer ilmu yang insya Allah manfaat baik teori maupun praktek, yang gue dapat dari proses belajar selama dua bulan tahun kemarin dengan keringat, air mata dan darah! (ini apaan???)

Salah satu fase yang agak nyebelin bagi jomblo mungkin ketika orang dekat kita menikah. Bukan iri. Melainkan ada semacam perasaan teman kita diambil orang yang gak dikenal, hingga membuat kita jadi susah berhubungan lagi dengan teman kita itu. 

Begitupun. Gue nikah. Byarrr! Kelompok belajar kami bubar. Pun dengan secuil ilmu yang Allah amanahin ke gue, ikutan bubar. Huwaaa!

Alhamdulillah… WA yang gue terima semalam menjadi semacam pertanda gue dijagain kembali sama ilmu. 

Masa?

Iya! Dari kapan tau mau ngulang-ngulang apa yang sudah Allah amanahi, apa daya adaaa aja yang bikin gak mulai-mulai. Ya ini belum kelar. Ya itu mesti segera diselesaiin. Dllsb. 

Tiba-tiba aja ada yang minta diajarin, kan, rejeki syekaliii! 

Gue selalu yakin. Gak akan habis ilmu dibagi. Justru, yang ada malah makin dia memperbanyak diri. Mangkanya gue selalu menekankan ke orang-orang yang gue ajarin: cara paling jitu supaya ilmu kita nempel terus adalah dengan  ngajarin ilmu tersebut ke orang lain. Insya Allah… nempel!

Alaysa kadzaalik? Ye, kan? Setuju kan? Kalau punya ilmu jangan pelit yak! Biar ilmu jagain kita! Ihiyyy! ☺

Hari Gini Masih Malu Bertanya? 

Gue masih inget, dari kecil sampai setengah perjalanan menjadi mahasiswi gue termasuk tipe yang malu kalau mau nanya, apalagi disuruh nanya. Langsung nunduk! Hehe. Perasaan takut salah, takut diketawain, takut dibilang b*go, selalu menghantui. 

Alhamdulillah seiring waktu gue jadi belajar: gak selamanya yang nanya itu yang salah, yang culun, yang paling b*go. Kalau emang ada satu hal yang kita butuh jawabannya ya nanya aja. Kenapa takut dibilang ini dan itu? 

Sampai saat ini gue pun memutuskan untuk keluar dari menjadi orang yang malu bertanya terhadap apa-apa yang nggak gue tau. Bahkan di beberapa sesi diskusi gue suka bertanya demi mendapat hadiah, eh, demi ngomporin yang lain supaya nggak jadi orang yang pemalu buat nanya. 

Nggak tau salahnya di mana. Di kalangan akhowat yang gue suka main dengan mereka itu masih ada penyakit malu bertanya ini. Kalo ada sesi tanya jawab malah mengheningkan cipta semua. Kan ini gawat. Malu bukan pada tempatnya!

Mungkin, ya… Mungkin… sistem di masyarakat kita ada yang salah. Malu itu emas. Yang blak-blakan itu lumpur. Wkwkkk. Hellooo plis deh!

Beberapa kali juga gue berurusan dengan mereka yang secara penampakan ngerti agama. Tapi ketika gue dengan gaya blak-blakan bertanya sesuatu yang menurut mereka itu nggak pantas ditanyain, risih, gue dicap ini itu lah. Padahal yang gue tanyain nggak melanggar syariat. Heuw payah kan!

Jadi ingat perkataan seorang kenalan, “Orang yang ngerti agama mestinya nggak menghalangi syariat cuma karena menurut dia kurang etikanya di kalangan masyarakat.” Ah setuju bangettt! 

Udah nggak zaman ya, Bapak/Ibu, mengecap orang yang suka bertanya dengan “kurang etika” dan whatever lah. Yang rajin bertanya emang kadang ngeselin, cuma kami nggak mau ada zhon-zhonan di antara kita. Ntar malah dosa! 😛

5 Keuntungan Terlahir Sebagai Anak Dari Keluarga Besar

Wahhh… long time no write nich! Nulis lagi ah! Ya kali aja corat-coret di sini bisa mengatasi penyakit hati tanpa perlu obat-obatan kimia yang pasti ada efek samping buat tubuh. Ya kan??? 😅 

Oke. Ceritanya mau nulis ala-ala tulisan di web hipwee.com dan sejenisnya. Betapa menjadi manusia yang terlahir dari keluarga dengan penghuninya yang kalau kumpul lebaran bisa sampai tumpeh tumpeeeh itu punya keuntungannya sendiri.

Apa aja? Ini dia…

1. Insya Allah kamu subur! 

Iya nggak sich… kesuburan itu  salah satunya dipengaruhi oleh faktor genetik juga? Menurut gue sih iya. Soalnya abang-abang dan mpok-mpok gue 80% cepat hamilnya (setelah nikah lhooo!) dan punya anak banyak!

Begitu juga dengan keluarga besar dari pihak Babak dan Mamak gue. Anaknya pada punya banyak anak. Anaknya lagi cepat punya anak. *pusing nggak tuh bacanya? 😂 

Yah kecuali Allah berkehendak lain, segala sesuatunya bisa dan sah aja terjadi. Misal, kakak-kakak pada cepat punya anak dan punya banyak anak. Terus Allah mau nguji lo dengan yang beda dari yang lain. 

Tapi nggak usah syediiih, kan sudah punya banyak keponakan dan cucu yang lucu bin menggemaskan bin ngangenin (yang masih pada bayi sih, hehe!).

2. Mangan ora mangan sing penting kumpooolll!

Punya keluarga besar insya Allah kita nggak akan ngerasa kesepian, Dude! Beberapa momen bisa jadi ajang kumpul demi merekatkan kemesraan ini supaya janganlah cepat berlalu~~~

Bisa jadi tempat minjam duit juga sih saat kantong lagi jebol, hehe. Yang penting ada niat dan itikad buat ganti ya! Soalnya sodara adalah sodara, tapi utang tetaplah utang. Nggak kenal sodara! *lho 😛

3. Caring is something!

Punya saudara dengan ekonomi yang pas-pasan ngajarin kita supaya jadi lebih peduli. Saat ada yang butuh kita bantu, saat kita lagi butuh insya Allah ada yang bantu. Asal jangan jadi manusia gadir aja ya. Dibantu mulu tapi nggak pernah ngulurin tangan buat bantu. Hehe.

Kemarin pas gue menggelar resepsi pernikahan, berasa banget betapa saudara-saudara dari yang inti ke yang besar pada turun memberi bantuan moril materil tenaga waktu pikiran dan maaih banyak lagi. Dari jauh-jauh hari, pas hari H, sampai setelahnya pun masih bantu-bantu  

Ah… moga Allah kasih kemampuan gue buat bantuin balik saat mereka ada hajatan kelak. Aamiin.

4. Belajar fleksibel dari banyak karakter saudara

Ini berasaaa banget. Banyak saudara means banyak kepala. Banyak kepala means banyak karakter orang yang mesti lo hadapi. Nggak perlu kuliah bidang Psikologi buat ngadepin saudara yang beda-beda karakternya. Wkwkkk ya kali!

Intinya perlakukanlah orang lain sesuai karakternya. Jangan minta dimengerti molooo. Gadir wooo! 😛

5. Jadi jomblo pun nggak masalah saat ada keluarga yang mensupport!

Iya sih jomblo, tapi ada wadah dan orang-orang yang bisa lo cintai dan lo pun dicintai. Enak kan?

Jadi inget, gue punya satu keponakan yang biasa setia anterin kemana-mana, yang suka gue traktir dan gantian nraktir saat doi lagi ada rejeki. Pokoknya kami sering bareng deh. Padahal usia kami terpaut hampir 15 tahun lebih banyak. Means doi baru aja lulus SD! 😅

Waktu kemarin gue anter doi masuk pondok di Timur Jawa sana sekalian jenguk keponakan lain yang tinggal di Jawa dan masuk pondok juga. Terbagilah perhatian gue ke mereka berdua. Tiba-tiba doi nyeletuk begini saat gue lebih banyak ngobrol sama keponakan yang lain:

“Situ waktu jomblo sama siapa?” 

Wkwkkk. Iyain beee! 😛

Terserah orang mau bilang apa dengan kondisi keluarga lo yang super duper gede. Mau dibilang jadul kek, berisik kek, rempong kek… biarin aja. Hidup lo kan lo yang jalanin! ☺

We are big family~~~

Teluk Kiluan: Sekeping Surga, Untuk Cahaya Surga, Dari Para Perindu Surga (Catper 3)

Yak, sebelum puasa besok mau lanjutin lagi ah catatan perjalanan gue ke Teluk Kiluan, Lampung. Yang sebelumnya ada di sini dan sini yaaa… ☺

Alhamdulillah, sepanjang kami melakukan perjalanan cuacanya baguuus syekalih! Pun di hari terakhir kami di sana yang agendanya merupakan agenda utama: mencari si lumba-lumba, hey hey, bermain api, hey hey! #terBondan

Usia boleh 50an, tapi semangat jalan2 17an 😆

Bakda sholat Subuh, tilawah, chit chat tentang rumah tangga masing-masing *nasib gaul sama emak-emak 😅, sarapan dengan sukun dan pisang goreng yang begitu lezat terasa, kami pun bersiap untuk melakukan perjalanan panjang mengarungi lautan demi meet up sama si lumba-lumba.
Fyi ya Guys, Teluk Kiluan merupakan cekungan yang bersebelahan dengan Samudera Hindia. Nah, ujungnya Teluk Kiluan (emperannya Samudera Hindia) menjadi jalur perjalanan si lumba-lumba saban pagi dan sore. Nah ini dia yang menjadi daya tarik para wisatawan yang mengunjungi Teluk Kiluan. Bahkan  bukan cuma lumba-lumba, kalau lagi  beruntung kalian bisa bertemu dengan ikan paus yang menyemburkan air melalui kepalanya. Seruuu, kan? 🐳

Emperan Samudera Hindia

Bagi wisatawan yang mau bertemu si lumba-lumba, mesti merogoh kocek sebesar 250 ribu rupiah untuk menyewa satu Jukung (buat 2-3orang) beserta satu nelayan pemandunya. Main ke tengah samudera booo’, nggak bisa dipaksain buat muat banyak orang. Hehe.

Oke lanjut. Start naik Jukung pukul 6.15 pagi. Kami bergerak ke arah selatan menuju Samudera Hindia ada kali 1.5 jam dengan ombak yang suwepeeeer gede demi meet up sama si lumba-lumba. Sayang, kondisi ombak yang begitu menjadi penghalang si hewan mamalia laut untuk melewati emperan Samudera Hindia. Hiks, rupanya belum rejeki. Dua Jukung kami dan sekitar belasan Jukung yang dinaiki wisatawan lain pun harus rela pulang dengan tangan hampa. 

Jadi ingat percakapan kami dengan ibu mertua Mba Nuri waktu kami mampir ke rumah beliau dalam perjalanan pulang di Tanjung Karang.

Ibu mertua: gimana, ketemu sama lumba-lumba?

Kami: nggak, Bu. Belum rejeki. Hehe.

IM: wah jangan kapok ya. Berarti kalian disuruh main lagi nanti ke sana. Sudah save nomornya?

Kami: nomor Mba Nuri? Sudah punya, Bu.

IM: bukan. Nomor lumba-lumbanya! 

Kami: wkwkwkkk. Sa ae Bu 😂

Oke lanjut ya. Agak sedih sih nggak jadi ketemu lumba-lumba. Soalnya ini merupakan agenda utama kami jalan jauh-jauh sampai rela dadakan nyebrang ke Sumatera. Tapi nggak kenapa juga deh. Yang penting kami pulang dengan membawa segudang hikmah. 

1. Selezat-lezatnya makanan, kalau sudah lewat tenggorokan mah sama aja dengan makanan nggak lezat. Buktinya 5 dari 6 anggota kami yang berangkat, begitu kompak untuk muntah berjama’ah akibat ombak yang sukses mengocok perut kami. Nggak ada air minum, sukun dan pisgor yang lezatpun jadi eneg terasa saat keluar lagi dari lambung kami menuju kerongkongan. Huwek!

2. Jangan remehin mahluk Allah yang bernama air. Kalau mereka sudah bersatu padu dalam lautan menjadi gelombang, lo bakal ketakutan setengah mati dibuatnya.

3. Sebutuh-butuhnya  dan secanggih-canggihnya hape yang lo bawa, nggak akan bisa nolong di tengah lautan. Justru, cuma Allah–yang selama di daratan biasa kita nomor duakan setelah hape–yang bakal selalu kita ingat dan kita jadikan satu-satunya tempat memohon pertolongan. Dia emang cuma dia yang memberi kita keselamatan baik di darat maupun di lautan.

4. Jangan pernah menganggap diri paling malang sedunia. Nggak kenapa nggak ketemu lumba-lumba, yang penting bisa selamat sampai daratan. Ini berasa banget bersyukurnya pas tau di perjalanan pulang ke penginapan, masih di lautan yang jauh dari daratan, di sisi kiri kami ada Jukung yang terbalik karena hantaman ombak yang mengganas. 

5. Seumur-umur naik kendaraan di lautan, baru kali ini gue muntah. Ini mungkin sebagai pengingat dari Allah. Gue lagi jalan sama ibu-ibu berumur 50 tahun lebih yang sibuk mengeluarkan isi perut bahkan sebelum Jukung putar arah menuju penginapan saking sulitnya nyari lumba-lumba. Coba kalau gue nggak dikasih muntah, mungkin gue bakal egois meminta bapak nelayan yang memandu kami untuk terus ke tengah samudera demi tercapainya tujuan utama. Ya, muntah nggak selamanya cemen dan buruk. 

***

Siap2 snorkeling yuk! 😆

Pukul 9.30 kami sampai di penginapan yang disambut Mbak Nuri dengan 7 buah air kelapa untuk memulihkan stamina kami. Sementara Bu Upi memilih istirahat karena mabuk lautan yang parah banget, gue dan empat anggota yang lain memilih melanjutkan agenda berikutnya: snorkeling di pantai depan penginapan. 

Ini penampakan tempat snorkeling kami. Mayan deh liat karang dan ikan2 berseliweran…

Nggak sampai setengah jam sih snorkelingannya. Soalnya kami ngejar waktu pulang. Jam11 sudah harus cek out biar sampai Jakarta nggak kemaleman. 

Ehtapi nggak bisa sih. Namanya juga ibu-ibu. Rencana tinggal rencana. Pukul 12 kurang sedikit kami baru naik Jakung menuju dermaga. Pukul 13.00 baru naik ELF memulai perjalanan pulang. 
Berhubung badan sudah pada ngereteg, kondisi jalan pulang yang off road nggak membuat mata kami gentar untuk menutup demi istirahat. 

Selain diajak mampir ke rumah mertua Mba Nuri di Tanjung Karang sambil menikmati Bakso Soni yang super enak sejagat Lampung, kami sempatkan juga beli oleh-oleh di Yen Yen. Ini dia pusat belanja oleh-oleh yang kesohor di Lampung. Harganya juga nggak begitu mahal alias standar. 

Mejeng dulu sebelum turun kapal 😂

Sampai Bakauheuni pukul 20 30. Alhamdulillah dapat kapal yang sepi dan nyamaaaan ngetz. Kami sewa ruangan VIP yang menyediakan enam tempat tidur atas bawah dan tiga bangku berjajar. Cukup deh buat kami bertujuh merebahkan badan setelah berjam-jam tidur dengan posisi duduk di ELF. 
Senin pukul 02.00 dini hari, kamipun sampai di masjid Daarut Tauhid Cipaku. Alhamdulillah… ☺

Teluk Kiluan: Sekeping Surga, Untuk Cahaya Surga, Dari Para Perindu Surga (Catper 2)

Okeeey… markijut catatan perjalanan gue dan teman-teman para perindu surga menuju Teluk Kiluan, Lampung. Cerita sebelumnya ada di sini ya.

Santai lagi di pinggir pantai 😉

Setelah sampai di home stay Kiluan Dolphin, ishoma, kami pun lagi-lagi secara tiba-tiba memutuskan untuk berancut ke Laguna Gayau. Padahal, di ELF Mbak Nuri sempat nggak rekomen pergi ke sana karena medannya yang curam naik turun tebing. Tapi begitu sampai di home stay beliau sendiri yang bilang, “Sudah sampai sini. Sayang kalau nggak ke Laguna.” Hehe.
Setelah hampir setengah jam berkutat dengan matching-matchingin baju biar tampil oke saat difoto *pe-rem-pu-an*, pukul 13.30 kami berangkat ke Laguna. Naik Jukung lagi kembali ke dermaga, untuk menuju ke pintu masuk Laguna Gayau. 
Dengan bermodal 5ribu rupiah per kepala, ditemani oleh Yoga–pemuda penduduk asli Kiluan yang memiliki tanah berhektar-hektar warisan ortunya di sana–kamipun memulai perjalanan dengan hati riang gembira. 

Senyum maksa menahan ngos-ngosan yg melanda 😂

Berita baiknya, kini sudah dibuat jalur khusus lho menuju Laguna demi mempermudah perjalanan para wisatawan. Kalau dulu jalurnya agak menyulitkan sampai-sampai terlaranglah gue memakai rok *hiks* untuk menghindari jatuh keserimpet, kini sudah dibuat trek yang sudah beralaskan peluran semen dan kadang anak tangga. Masih agak curam sih, tapi katanya ini jauh lebih enak ketimbang dulu. 
Tapi teteup aja wisatawannya masih sedikit. 

Waktu kami ke sana aja cuma ada tim kami dan beberapa laki-laki yang gue taksir mereka masih satu tim gitu. Jadilah Laguna Gayau semacam private pool yang hanya mesti kami bagi jadi dua. Paling ujung para laki-laki, sebelahnya yang dibatasi dengan karang untuk kami para perempuan. Yeay, Laguna syari’ah! Hehe. 

Hoiya, saran gue sih perbanyak olah raga dulu ya sebelum memutuskan ke Laguna Gayau. Sumveh mirip-mirip nanjak gunung gitu treknya. Mesti jago atur napas deh. Saking capeknya salah satu anggota kami nyeletuk, “Ini siapa yang punya ide jalan-jalan beginiii?!”. Wkwkkk, ampuuun Maaak!!!

Beberapa langkah lagi menuju Laguna. Alhamduuulillaaah…

Setelah kurleb 45 menit jalan tertatih-tatih menanjak dan menurun, sampai juga kami di papan bertuliskan “Selamat Datang di Laguna Gayau”. Ini hadiah pertama sebelum bertemu hadiah utamanya. Menuruni beberapa anak tangga lagi. Tadaaa… this is it. Salah satu ciptaan Ilahi: Laguna Gayau!

Di bawah kaki gue ada batu karang dan ikan kecilnya juga lho…

Buat yang belum mudeng apa itu laguna. Gampangnya semacam kolam renang alami yang isinya air laut. Kok bisa? Iya, jadi ada karang tinggi yang memisahkan air laut dengan daratan yang agak mencekung. Nah, air laut dengan ombaknya yang mengganas itu pun tumpeh-tumpeh memenuhi cekungan di balik karang. Jadi deh Laguna. Keceee! 😍

Tapi mesti hati-hati ya kalau mau main ke Laguna Gayau. Soalnya setahun yll beberapa kali ada insiden wisatawan yang terseret ombak di sana. Intinya sih mesti bawa guide, pakai pelampuang buat jaga-jaga, lihat kondisi laut (kalau ombak lagi gede mending nggak usah main), sama jangan main ke sana pas sore hari (ombak makin menjadi). 

Alhamdulillah pas kami main ke sana air lautnya lagi stabil. Cuma nggak lama sebelum kami memutuskan balik, tiba-tiba ombaknya makin gedd. Makanya kami langsung caw deh. Ngeri booo’!

Fokus ke air yg menyembur di belakang kami ya…

Oiya, selain Laguna, ada lagi salah satu ciptaan Ilahi yang dijamin bikin kita berdecak kagum sekaligus bergidik ngeri. Tepat di sisi kanan tangga menuju Laguna, ada lubang dengan lebar kira-kira tiga meter yang bakal menyemburkan air laut dari dasarnya saat ombak datang. Sebaliknya, ia akan kosong melompong saat ombaknya terseret lagi ke laut. 

Kalau lagi beruntung, semburan ombak dari dasarnya bisa sampai sepuluh meter dari lubangnya lho. Di satu sisi bagus buat spot foto, di satu sisi bikin ngeri. Terutama banget pas air lautnya kesedot lagi ke laut. Tiba-tiba lubangnya kosong melompong. Beberapa detik kemudian nyemburin air laut lagi tergantung besar kecilnya ombak. Ya Allah… 😐

Puas main di Laguna (faktor ombak yang makin gede sih tepatnya), kami putuskan untuk kembali ke penginapan. 

Ini pantai depan penginapan yang satu lagi. Bersihnya poool!

Tapi sebelumnya, kami diajak Mbak Nuri dulu ke home staynya yang satu lagi. Lebih jauh dari tempat kami (naik Jukung lagi), lebih buwesar, dan lebih bersiiih pasirnya. Soalnya nggak ada pepohonan di sekitar pantainya.

Biar lagi liburan, jangan lupa ngaji ya! 😀

Nggak lama sih di sana. Lanjut kami balik ke penginapan melalui jalan darat (masuk hutan), bersih-bersih, ishoma, masuk ke agenda inti: ngaji bareng dan Yasinan. *pencitraan* 😎
Iya, ngajinya cuma sebentar. Hehe. Kemudian kami makan malam dengan menu ikan segar langsung dari laut yang dibakar di depan home stay, ngobrol sebentar, zzz…. capek!

Tunggu cerita kami mencari lumba-lumba dan snorkeling di hari berikutnya yaaa… ☺ (bersambung)

Teluk Kiluan: Sekeping Surga, Untuk Cahaya Surga, Dari Para Perindu Surga (Catper 1)

Kadang betul deh, yang namanya liburan itu nggak usah direncanain dari jauh-jauh hari, karena seringnya nggak terealisasi. Justru, yang dadakan malah biasanya yang jadi. Setuju nggak? 

Gue sih seringnya mengamini teori ini. Yang terakhir kejadian, saat dua Sabtu yll kelompok Qur’an kami sedang menikmati lezatnya Pempek khas Lampung, muncullah ide untuk melakukan trip ke salah satu destinasi wisata yang masih perawan di Lampung: Teluk Kiluan!

Sebut saja namanya geng SUNNY. 7 orang booo’! 😎

Betul aja lho terealisasi. Enam hari setelahnya, Jum’at malam (18 Juli 2017) tepatnya pukul 21.30 bertolaklah  kami–tujuh wanita perindu surga (Mba Nuri, Mba Upi, Mba Dian, Mba Ii, Mba Heni, Mba Enje, Mba Selfi)–dari masjid Daarut Tauhid Cipaku menuju pelabuhan Merak, demi menyebrangi Selat Sunda. Tepat pukul 03.00 kami pun sukses menginjakkan kaki di bumi Sumatera melalui pelabuhan Bakauheuni. Alhamduuulillah…

Selamat pagi buta, Sumatera! ☺

Untuk menuju Kiluan dari Bakauheuni, kami harus menempuh perjalanan darat totalnya kurang lebih 5 JAM, Sodara/i! Alhamdulillahnya ELF yang kami naiki sudah diset hanya untuk bertujuh plus dua supir, jadi lega bin nggak capek deh. 

Ini masjid enak banget utk jadi tempat singgah. Nyaman, adem, bersih!

Lanjut… perjalanan yang 5 jam itu pun sudah dipotong sholat Subuh, sarapan bubur yang enak banget, dan mampir ke pasar untuk beli persediaan makanan sampai Ahad siang dulu di Bandar Lampung. 

Jadi dari Bakauheuni ke Bandarlampung kurleb kami tempuh 2 jam. Sementara dari Bandarlampung ke Kiluan memakan waktu kurleb 3 jam. Melewati banyak pantai di sepanjang kiri jalan (Pantai Klara 1, Pantai Klara 2, Pahawang, dllsb), rumah panggung khas Lampung, sawah, dan hamparan pohon-pohon tinggi. 

Ini lho jalur nanjak nan off-road menuju Kiluan. Ada kali 3km jalannya begini. Heuw.

Jujur ya, jalanannya nggak bagus banget untuk menuju Kiluan. Selain jalan yang banyak lubangnya, juga ada jalur off-road yang nanjak di 7 km mendekati TKP. Ngilu, linu, mual, terblend jadi satu. Mungkin ini salah satu sebab masih sedikitnya wisatawan yang mau mengunjungi Kiluan. Mereka lebih memilih Pahawang yang lebih dekat dan jalurnya lebih manusiawi. Kitu ceunah!

Tampang kesel dan capek, tapi ttp mau eksis 😂

Tapi andai pada mau sabar dengan kondisi jalanannya, insya Allah balasannya setimpal kok. Dari gapura Selamat Datang, akan kita dapati view super kece lautan di Teluk Kiluan.  Masya Allah!

View dari dermaga. Tempat parkir Jukung ☺

Setelah istirahat sebentar di warung dekat gapura, kami melanjutkan sedikit lagi perjalanan untuk menuju dermaganya Teluk Kiluan. Di sini kita akan menikmati yang namanya kampung Bali di Bandung tapi ala Lampung. 

Kok gitu? Yap, soalnya kampung di Lampung ini namanya Bandung Jaya, tapi ada banyak rumah orang Bali berjejer. Jadi liburan ke Teluk Kiluan berarti kita pergi ke 3 daerah: Lampung, Bandung, Bali. 😜

Lanjut. Kami kira, perjalanan akan selesai setelah sampai di dermaga. Nyatanya, kami mesti naik Jukung dulu (kapal kecil berkapasitas maksimal 7-8 orang) ke arah Barat untuk sampai ke home stay milik salah satu dari kami: Mbak Nuri. Ah… a million thanks, Mbak, untuk penginapannya yang homeeey bangetzzz!

Yg mau nginep di sini, bisa follow @KiluanDolphin di Twitter. Pas banget buat yg mau menepi mencari ketenangan. 😍

Nggak sampai lima menit sih di atas Jakung. Tepat pukul 11.24 waktu Lampung, kami mendarat pas di depan penginapan yang view-nya langsung Teluk Kiluan dan Pulau Kelapa–ini icon-nya Kiluan selain lumba-lumba. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Yeay!

Dari balkon home stay

Okey, sampai di sini dulu catatan perjalanan gue ke Teluk Kiluan. Nanti kita sambung lagi cerita halan-halan ke destinasi pertama: Laguna Gayau yang emeijing binggo di hari yang sama. Tapi tunggu kiriman foto-foto dulu. Hehe.

Pulau Kelapa difoto dari depan penginapan kami 😎

Pavettia Natural Mineral Facial Powder (Semacam Review)

Gue percaya banget, nulis itu terapi saat kebingungan melanda para zombie aka. Zomblo Bingung. Hehe. Okey, kali ini sekadar melepas penat, mau sedikit review satu produk yang baru gue kenal.

Secuek-cueknya gue, untuk urusan perlindungan wajah dari bahaya sinar UV, masih mayan aware lah. Apalagi setelah tau sikit-sikit bahaya sinar UV dan melihat para wanita yang nggak lagi muda yang wajahnya jadi berbercak karenanya. 

Agak telat sih awarenya, tapi lebih baik daripada nggak sama sekali, kan? 

Dulu zaman ngantor rajin pakai sunscreen-nya Wardah. Terus lagi booming-boomingnya BB Cream Wardah juga ikutan nyicip walau nggak bertahan lama. 

Selain bersihin mukanya yang agak malesi di malam hari, juga disadarin sama sodara perihal BB ini. Kata doi, “Nggak usah pakai yang gitu-gituan. Mending sehatin kulit wajah dari dalam (pakai serum).”

Ah, iya juga! Akhirnya gue putuskan untuk pakai bedaknya aja (bedak Wardah juga ada SPF-nya).

Nah, belum lama. Pas banget bedak nyaris habis, sodara gue kasih link IG @pavettiaskincare. Produk kecantikan yang taglinenya “From Farm to Beauty”. Kece!

Produk yang segala komposisinya ditanam di Subang, Jawa Barat, ini produknya emang belum sebanyak Wardah. Belum ada logo halal dari MUI juga. Tapi kalau baca review dan konsepnya, worth a try lah. 

Pssttt…tiap produknya ada sertifikat Ecocert juga. Semacam pengakuan di tingkat internasional kalau produk ini beneran menggunakan bahan alami (non kimia). Begitu kalau nggak salah penjelasannya.

Sekitar tiga pekan yang lalu kebetulan ada bazar produk online di bilangan Cipete sana, salah satunya si Pavettia ini. Meluncurlah gue dan sodara ke sana demi memburu diskon 10%! 😅

Setelah jajal-jijil dan menyesuaikan dengan kondisi kantong, gue putuskan untuk membeli Pavettia Mineral Facial Powder dan Pavettia Serum Vitamin C (untuk serumnya masih in progress, jadi belum bisa direview. Nanti kalau sudah ada hasilnya ya gue review. Hehe).

Oke, kali ini kita review bedak taburnya dulu. Dengan berat yang cuma 8 gram, awalnya setengah hati sih buat beli. Tapi beberapa kali pakai, hilang sudah rasa kecewanya. Berganti jadi ketakjuban dan mau beli produk lainnya. Hehe, perempuan!

Gue beli yang warna Mocha. Agak kurang terang, harusnya pilih Latte sesuai warna kulit gue yang kuning langsat kayaknya (Pilihan lainnya ada Rossy, Latte dan Terra yang disesuaikan dengan warna kulit wajah). 

Tapi yang paling penting adalah… 

BEDAK PAVETTIA INI RINGAAAAAAAANNNN BANGET! #KEPSLOKJEBOL

Pakai bedak tapi kayak nggak pakai bedak sama syekalih lho!!! Selain bikin wajah nggak cepat memproduksi minyak, dia nggak beleber juga pas keringetan. Abis dipoles kayak langsung nempel gitu. 

Selain itu aromanya juga aroma jamu. Alami banget. Dan kabarnya walau wadahnya kecil, dia bisa sampai dua bulan pemakaian rutin. Jadi konon ownernya salah beli ukuran wadah gitu deh. Jadilah walau kecil tapi full terisi penuh macam bedak padat. 
Oiya, produk Pavettia juga nggak bisa bertahan lama. Enam bulan saja kecuali kalau disimpan di suhu ruangan. Masih bisa diperpanjang lah pemakaiannya. Intinya nggak pakai bahan pengawet kali ya, soalnya betul-betul alami.

Buat para jama’ah bedakers, kalian mesti coba deh. Selain produknya yang made in dalam negeri, juga sudah waktunya kita kembali ke produk-produk alami demi wajah kita. Udah, gitu aja review-reviewannya. 😁

Kecil tapi padat lho!

Menjadi Tuli

“Rijal, kadang kita perlu menjadi tuli. Kadang kita perlu mengabaikan kalimat-kalimat negatif yang menghampiri kita, bahkan ketika teriakan itu diucapkan oleh diri kita sendiri. Sebagian suara barangkali ada untuk kita dengar, sisanya ada untuk kita abaikan. Hidup kita nggak lama, kita nggak perlu habiskan waktu dan energi untuk lakukan hal-hal yang justru kontraproduktif dengan upaya menebar kebermanfaatan kita.”

~Laras di Buku “Tuhan Maha Romantis”, Azhar Nurun Ala.