Menjual Taqwa Demi Fujur

GILA, GILA, GILA!
Akhir pekan kemarin benar-benar Gila! Percaya, nggak? Pun hari itu adalah hari pertama menikmati gaji hasil membabu sebagai kuli ketik, pertemuan dengan beberapa orang di dua hari itu membuat Nay ingin menangis sejadi-jadinya! Apa pasal? Seperti yang tertulis di judul: ia dipertemukan dengan beberapa orang yang sebelumnya mendapat taqwa, namun kini mereka rela menjualnya dan menggantinya dengan fujur! A’udzubillah min dzalik…


Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha… [asy-syams:8]

Dulu Mentor, Sekarang Boro-boro!
Ini tentang mereka, beberapa sahabat yang sejak lulus SMA terpisah oleh tempat menimba ilmu. Satu di Yogya, satu di Surabaya, satu di Jakrta, satu di Depok, intinya sih nggak satu kampus, gitu.. Seingat Nay, selama kira-kira empat tahun kuliah, posisi dakwah mereka di kampus hampir sama. Kalau boleh dibilang, merekalah singa-singa dakwah di kampus masing-masing.

Empat tahun berlalu, mereka kini telah kembali untuk mengais rezeki di kota asalnya: Jakarta. Aktivitas ‘pengajian’ mereka pun kembali seperti empat tahun sebelumnya. Canda, tawa, senang, susah, senantiasa terangkum mengiringi kebersamaan mereka.

Sabtu terakhir, ‘sang guru’ mengevaluasi ibadah harian dan mingguan mereka. Salah satu poin yang dievaluasi ialah aktivitas mengelola mentoring. Dulu, waktu masih di kampus, mereka semua adalah sang guru peradaban aka mentor, namun kini, setelah semua kembali ke Jakarta, tinggal Nay seorang yang masih aktif mengisi mentoring.

Awalnya Nay masih bisa memaklumi permasalahan tersebut. Maklum, nyari binaan seorang diri lebih sulit dibanding diberi binaan oleh pihak sekolah atau kampus misalnya. Nay pun masih menjadi mentor karena memang ia lah yang melanjutkan sekolah di Jakarta, binaan pun ia dapat karena hingga kini masih aktif membina Rohis SMA-nya.

Namun di pertemuan itu, pemakluman berubah menjadi kesedihan. Betapa kagetnya ia ketika sang guru menanyakan kepada teman-temannya, siapa saja yang ingin menajdi mentor kembali? Kalian sudah pasti tahu jawabannya: pertanyaan itu hanya dijawab dengan gelengan tanpa semangat dari teman-temannya. Ada yang merasa trauma menjadi mentor katanya, ada juga yang merasa tidak dapat menjadi teladan, bahkan ada yang merasa ruhiyahnya masih senin-kamis, dan berbagai alasan lain yang mampu mereka lontarkan.

Nay benar-benar tidak habis fikir…

Memangkas Jilbab Karena Aktivitas
Di hari yang sama, ia bertemu dengan dua orang yang mengalami kasus yang sama: pemangkasan jilbab!

Sebut saja namanya Liva, siang itu di acara walimahan teman kampus mereka. Inilah kali ke-dua Nay melihat Liva menghadiri walimahan dengan seorang laki-laki yang sama. Pertama kali melihatnya di walimahan kakak kelas mereka 2010 lalu. Walaupun berjalan dengan laki-laki yang belum halal, jilbabnya masih rapi tertata sesuai syariat: menjulur hingga menutupi dada. Namun di hari itu, ada yang berbeda dari Liva. Masih didampingi dengan laki-laki yang sama, jilbab yang dulu sangat rapih (menghaluskan kata panjang), kini mulai terpangkas! Masih menutup hingga dada, sih, hanya saja jelas terlihat lebih pendek dari sebelum-sebelumnya.

“Kemana jilbab yang kita banggakan dulu, dik?” batin Nay gemas.

Sebelum pulang, ia menyambangi duo sejoli yang duduk tidak tepat di angka 11 dari posisinya. Setelah mengajak Liva berbicara ngalor ngidul, di akhir percakapan ia mulai menggoda mereka berdua..
“Masih dengan orang yang sama.. Kapan nih nyebar undangannya? Ditunggu, ya… Cepetan deh lo nikahin adik gue! Kasian, tahu!” goda Nay pada si laki-laki.
“Hheee, kapan, tuh?” canda Liva malu-malu pada teman laki-laki di sampingnya. Yang ditanya pun hanya cengegesan nggak jelas.
“Tau… Kasian tuh dia sebagai cewek!” kini Nay makin ngotot melihat gaya si laki-laki.
“Hah… kasian? Nggak juga kali, ka!” jawab Liva.
Deg! Kepala Nay seperti tertimpuk batu besar. Liva merasa tidak dirugikan dengan hubungan itu? Ya Allah, kemana iman? Kemana predikat ketua keputrian yang dulu disandangnya?

Lagi-lagi, Nay tidak habis fikir…

Lain lagi malamnya, dalam perjalanan pulang dengan angkutan kesayangannya: Metro Mini 69. Sebutlah namanya Ayu. Malam itu mereka baru diperkenalkan dengan salah seorang teman ngaji. Karena arah rumah yang ternyata searah, mereka pun pulang berbarengan. Untungnya wanita yang terpaut 10 tahun dengan Nay yang kini duduk di sampingnya, cukup terbuka. Sepanjang perjalanan ia banyak bercerita tentang kehidupannya. Beragam tema telah mereka lalap, dari mulai tema pengajian, jilbab, kuliah, smpai pernikahan!

Namun dari tema itu semua, yang lagi-lagi membuat Nay tidak habis fikir adalah tema tentang jilbab. Ngakunya, Ayu ini sejak SMA  juga sudah memakai jilbab yang rapi seperti Nay, namun karena ia sudah cinta mati dengan seni tari: profesi sampingannya adalah penari, kuliah di jurusan seni tari, dan bahkan menjadi guru tari di salah satu SD, ia memutuskan untuk memangkas jilbabnya!

“Daripada gua jelek-jelekin orang-orang kayak elu pada, mending gua pendekin nih jilbab,” begitu alasannya.

Dalam hati Nay bercampur dua rasa: antara kasihan dan benci atas pilihan yang dipilih Ayu: memilih yang fujur setelah mendapat taqwa!

“Ya Rabb, aku berlindung kepada-Mu,” batinnya di malam itu.

Qod aflaha man dzakkaha, wa qod khoba man dassaha… [asy-syams: 9-10]

*gambar: zonapikir.wordpress.com

SEMANGAT POL!

Semangat kudu POL!
Ga rugi deh!



Itu kesimpulan yang saya dapat setelah mendengar kembali satu kisah (yang sepertinya fiksi) dari Abang Pemred. Saya juga yakin, teman-teman pasti pernah mendengar cerita ini sebelumnya. Tapi, untuk mengingatkan kembali, dengan senang hati saya akan re-telling buat kalian, dengan sedikit bumbu biar seru ^^. Mudah-mudahan bermanfaat..

Ini cerita tentang dua orang sakit yang tinggal bersebelahan di suatu ruangan lantai tiga di RS Swasta. Sebut saja orang pertama namanya Luqman, yang baru beberapa hari masuk rumah sakit. Ia tinggal di bilik persis samping jendela. Orang ke-dua sebut saja namanya Hakim, seorang pasisen stroke yang sudah berbulan-bulan di rumah sakit yang tiap seminggu sekali dijenguk keluarganya. Ia tinggal di bilik berdindingkan kain putih di sebelah Luqman.

Sejak Luqman tinggal di biliknya, mereka belum pernah sekalipun bertegur sapa atau sekedar menghibur sesama orang sakit. Namun, bukan berarti Luqman tidak mengetahui kondisi Hakim yang sangat merindukan kasih dari anak-anaknya dan berharap dijenguk lebih sering dari biasanya. Ia mengetahui itu semua dari tingkah Hakim yang sering berteriak-teriak dan meronta-ronta sendiri tiap malam. Semua itu tidak akan pernah berhenti hingga sang perawat memberikan obat bius untuk menghentikan aksi ‘sakit’ Hakim.

Didorong rasa ingin berbagi, Luqman pun mulai berusaha menghibur Hakim dengan caranya sendiri. Setelah mendengar tanda-tanda sudah bangunnya Hakim, ia berpura-pura kaget sekaligus senang melihat keadaan di luar jendela:

“Subhanallah, indah banget taman di luar sana!” dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan.

Dengan cepat  ia pun mulai menambahkan dengan nada paling ekspresif yang ia bisa, “Bunga-bunganya sedang bermekaran. Anggrek ungunya benar-benar cantik, Mawar merahnya benar-benar anggun, melati putihnya juga benar-benar berseri. Subhanallah… Ya ampun, bukan hanya itu saja! Ternyata banyak kupu-kupu juga yang mendekati bunga-bunga cantik itu! Dan lihatlah, anak-anak kecil berlarian mengejar kupu-kupu. Mereka terlihat sangat bergembira dengan permainan kejar-kejaran tersebut..”

Di sebelahnya, ia yakin, Hakim mendengar apa yang ia bicarakan sendiri.. Yang ternyata benar saja, Hakim mulai membayangkan keindahan taman yang diceritakan Luqman. Ia cukup bisa merasakan dirinya sedang berada di dalam taman tersebut dikelilingi bunga-bunga, kupu-kupu, dan anak-anak kecil.

Tanpa kalah ekspresif dari sebelumnya, ia melanjutkan, “Wah, langit hari ini pun benar-benar cerah! Angin sepi-sepoi juga seperti tidak mau kalah dengan matahari. Ia ingin bermanfaat untuk manusia. Lihat, banyak orang duduk-duduk santai di dalam taman menikmati cuaca cerah nan sejuk hari ini. Sentuhan lembut angin di kulit mereka dan pancaran sinar sang mentari yang begitu hangat membuat mereka bersuka cita! Masya Allah..”

Di sebelahnya, Hakim lagi-lagi mau tidak mau seperti terhipnotis dengan apa yang diucapkan Luqman. Ia kembali seolah-olah merasakan dirinya sedang berada di dalam taman menikmati angin sepoi-sepoi dan sinar hangat mentari. Baru kali ini sejak di rumah sakit, ia merasakan hidupnya sangat bergairah! Semua karena cerita-cerita dari tetangga sebelahnya.

***
Hari ke-dua, tiga, empat, hingga hari ke-tujuh, Luqman melakukan hal serupa tiap paginya. Di sebelahnya, Hakim senantiasa setia menunggu kejutan apa lagi yang akan ia dengar dari mulut Luqman. Namun sampai di hari ke-tujuh, Ia merasa ada yang hilang dari dirinya. Tetangganya tidak bercerita sebagaimana biasanya. Ia kecewa, namun masih setia menunggu di hari berikutnya. Sayangnya, lagi-lagi hanya kecewa yang ia dapat. Hingga hari ke-tiga ia menunggu, suara tetangganya tak kunjung ia dengar. Penasaran, ia pun menanyakan perihal tetangganya ke perawat yang biasa mengurusinya.

Betapa kagetnya Hakim, ketika ia mendengar langsung dari mulut indah sang perawat kalau tetangganya telah keluar dari rumah sakit sejak empat hari yang lalu. Tepatnya malam saat ia biasa dibius untuk menghentikan tingkah ‘sakitnya’. Ia sedih, kecewa, merasa kehilangan orang terbaik di rumah sakit selama beberapa hari ini.

Merasa kangen dengan cerita indahnya suasana taman yang biasa diceritakan tetangganya, ia pun meminta kepada sang perawat untuk pindah posisi di tempat tidur Luqman. Ia ingin melihat sendiri indahnya taman yang selama ini hanya dapat ia bayangkan.

Tempat tidurnya pun digeser ke posisi yang ia minta. Namun, betapa kagetnya Hakim ketika melihat pemandangan di luar jendela yang jauh dari apa yang disampaikan Luqman dan yang ia bayangkan selama ini. Tidak ada taman dengan bunga warna-warni, tidak ada kupu-kupu cantik, tidak ada anak-anak ecil berlari-larian, tidak ada, tidak ada semuanya! Hanya tembok putih yang ia lihat dari jendelanya..

Dengan kesal ia bertanya kepada sang perawat:

“Suster, beberapa hari ini pasien di sebelah saya menceritakan tentang keindahan taman di luar jendela. Di manakah taman yang ia maksud, Sus? Kok saya tidak melihatnya?”

“Taman yang mana ya, Pak? Tidak ada taman di rumah sakit ini. Dan setahu saya, bapak yang sebelumnya tinggal di sini ialah seorang yang buta,” ujar Perawat dengan ramahnya.

Betapa kagetnya Luqman dengan kenyataan ke-dua. Jadi, selama ini apa yang dikatakan temannya hanya fiktif belaka? Taman anak-anak kecil, kupu-kupu, semuanya tidak ada? Ia pun mulai merenungi apa yang dilakukan tetangganya selama beberapa hari kemarin. “Ah, betapa baiknya ia. Aku yakin, ia pasti berbohong untuk menghiburku..” batinnya dalam hati.

***
Nah, gimana, dapat kan hikmah dari cerita di atas? Betapa semangat bukan hanya bermanfaat bagi diri ternyata, tapi juga untuk orang lain di sekitar kita. Walaupun semangat itu hanya muncul dari kepura-puraan, toh ia akan dapat dirasakan juga pengaruh positifnya bagi orang di sekitar kita.

Silakan memilih dua pilihan: bersemangat atau berpura-pura semangat lah!

SEMANGAT KUDU POL!!




*lagi-lagi cuma mau tawasaw bil haq wa shobr  ^^,
*gambar: jiwasukses.wordpress.com

Belajar Dari Hud-hud

Aha, kemarin saya baru baca buku bagus banget! Tulisannya bang Fatan Fantastik dan Deniz Dinamiz, yang judulnya Enak Bener Jadi Orang Pinter.Buku yang sepertinya diperuntukkan untuk anak-anak SMA dan sederajat. Tapi nggak rugi lah lowongin waktunya buat baca!

Sebenarnya, untuk orang seumur saya, sih, seharusnya buku itu biasa aja. Tapi emang dasar saya belum banyak baca kisah sahabat Rasul, saya fikir banyak banget ilmu yang didapat dari buku ini, terutama tentang sahabat-sahabat yang keren abis karena kepintarannya. Kepintarannya inilah yang telah menorehkan tinta emas sejarah Islam.

Btw, apa sih kaitannya buku bang Fatan dengan burung hud-hud? Yang sudah baca pasti tahu! Diantara kisah orang pintar dalam buku tersebut, diceritakanlah kisah burung Hud-hud dan Nabi Sulaiman. Buat yang rajin baca terjemahan Qur’an, pasti tahu deh cerita tentang hud-hud yang telat hadir saat Sulaiman meng-absen semua pengikutnya:
“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat Hud-hud? Apakah dia termasuk yang tidak hadir?”

Saking disiplinnya Sulaiman, tanpa banyak babibu, dia ngancam Hud-hud seperti ini:
“Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan yang terang.”

Ada nggak, yah,pemimpin kayak gitu di zaman sekarang? Kalau ada jundinya yang nggak ikut ta’lim atau ngak datang syura tanpa alasan yang jelas, dikasih iqob yang seberat-beratnya? Bisa-bisa jundi atau binaannya pada kabur duluan kali, ya? 🙂

Ok, lanjut ke ceirta Hud-hud. Untungnya, nggak seberapa lama ucapan itu dilontarkan dari lisan sang Raja, datanglah Hud-hud dengan tergopoh-gopoh:
“Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata : “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.”

Tahu apa lagi yang dia bilang? Yang jelas perkataannya ini benar-benar menunjukkan ucapan seorang ahli ilmu deh, tanpa menghakimi sedikit pun orang yang sedang dia bicarakan:
“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugrahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaithan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk. Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.”

Lihat, kan, nggak ada tuh dari kata-katanya yang menunjukkan pernghakiman terhadap ratu Balqis dan kaumnya? Malah terakhir dia menutup laporannya dengan kalimat memuji Allah:
“Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar”

Super sekali, tuh, hud-hud!

Nah, masih dari buku bang Fathan, di situ disebutin juga kalau tiap mahluk di kerajaan Sulaiman memiliki tugasnya masing-masing. Dari buku inilah saya baru tahu kalau si Hud-hud ini kebagian tugas sebagai pencari daerah mana saja yang banyak mengandung air (walaupun ada juga yang berpendapat kalau pekerjaannya adalah sebagai penjaga/pengawas/penginta).

Ini dia poin paling penting menurut saya, terlepas pendapat mana yang benar terkait pekerjaan si Hud-hud. Dari Hud-hud lah saya jadi merenung, ternyata ungkapan ‘nahnu du’at qobla kulli syai’ bukan hanya berlaku bagi manusia! Temuannya terhadap negeri Saba menandakan kalau di atas pekerjaannya sebagai pencari air, ia juga adalah seorang da’i yang nggak rela melihat Allah dipersekutukan. Seekor burung pun adalah da’i!

Jadi kebayang, bagaimana seandainya kalau Hud-hud masih hidup di zaman sekarang, ya? Mungkin dia akan ngamuk melihat begitu banyak kesyirikan yang dilakukan masyarakat kita, dari kelas teri sampai kelas kakap. Atau mungkin kita menjadi salah satu dari orang yang terkena amukannya karena kesyirikan yang mungkin tanpa sadar kita lakukan? Na’udzubillah..

Mungkin itu yang membedakan kita dengan Hud-hud. sense of da’i-nya guede banged! Kalau kata anak sekarang, TOP MARKOTOP, dah! Kayaknya beda banget ya sama kita.. Kita pelajar, karyawan, wirausahawan, atau profesi lainnya, namun kita sering (me)lupa(kan) kalau kita adalah seorang da’i. Ngakunya sih da’i supel, bergaul dengan siapa saja, tapi giliran ngelihat teman kita melakukan syirik atau dosa apapun bentuknya, sepertinya lidah kita kelu untuk menegurnya..

So, yuk mulai sekarang kita belajar dari Hud-hud untuk menjadi da’i yang pelajar, da’i yang karyawan, da’i yang enterpreneur. Pokoknya nahnu du’at qobla kulli syai, deh!

*kisah Hud-hud bisa dilihat di Quran surat An-Naml: 20-26
**dibuat dalam rangka tawasaw bil haq wa shobr 🙂


tulisan yang lupa diupload

Tontonan Gratis Euforia AFF 2010 Utan Kayu-Ciledug

16 Desember 2010 boleh dibilang menjadi moment perekat bagi masyarakat Indonesia. Bukan karena peperangan atau peristiwa mengerikan lain yang biasa sukses menyatukan sebuah bangsa. Mostly simple than that, because its just about semi final AFF 2010 competition between Indonesia vs Filiphina. Sebuah ajang yang sangat prestisius di kawasan Asia Tenggara, karena pemenangnya sudah pasti bakal mendapat tiket untuk melaju into the bigest tournament: World Cup 2014. Negara mana sih yang rela timnya nggak berpartispasi dalam perhelatan akbar tersebut?
Di hari itu, bahkan sejak beberapa hari sebelum pertandingan berlangsung, dari pagi hingga malam, di sela-sela aktivitas, tiap jam, tiap menit, tiap detik, tak jua bosan setiap orang di manapun berada, turut ambil bagian untuk memperbincangkan Big Match ini. Apalagi dengan media sebagai kompornya dan taruhan sebagai minyak tanahnya, semakin terasa membakar lah euforia AFF di tengah masyarakat kita.
Tua, muda, kaya, miskin, laki-laki, perempuan, perjaka, gadis, suami, istri, janda, duda, semua berpesta pora merayakan prestasi langka yang pernah diraih Timnas Indonesia. Yah, maklum, kalau mau diingat-ingat, kapan sih terakhir kali Timnas kita menorehkan prestasi gemilang di tingkat Internasional? Boro-boro tingkat Internasional, tingkat nasional aja ribut terus! So, wajar lah kalau euforianya begitu meriah (kalau nggak tega bilang lebay bin alay!).
***
Oiya, perkenalkan, namaku Nurjanah. Sekilas pengalamanku dengan dunia per-bola-an. Bola menurutku masih biasa-biasa aja dibandingkan bulu tangkis. Biasanya aku ikut-ikutan gila bola juga hanya saat Piala Dunia berlangsung. Gimana nggak ikutan kalau semua teve baik di rumah, rumah makan, sampai di warung-warung rokok, hanya menyetel satu stasiun yang sama yang menyiarkan bola! Mau nggak mau deh jadi tahu, minimal tahu nama pemain terganteng dan Negara-negara yang biasa mendominasi peringkat atas semacam Brazil, Argentina, Prancis, dan Inggris.
Seperti masyarakat pada umumnya, di piala AFF tahun ini–yang sepertinya baru kudengar kalau ada piala ini di tingkat Asia—aku juga terkena sihirnya. Masih belum jelas sabab musababnya, yang jelas awalnya saat itu orang sedang beramai-ramai membicarakan tentang dua pemain naturalisasi Timnas Indonesia, namanya Irfan Bachdim dan Christian Elocco Gonzales. Katanya sih, selain digandrungi karena ketampanannya, konon mereka bermain indah dan berperan besar dalam mengantarkan Indonesia memasuki babak semi final. Aku pun jadi tertarik dan bertekad untuk ikut menyaksikan pertandingan semi final walau pun hanya dari teve.
Sayangnya tekad tinggal tekad, dan yang tadinya tertarik jadi berasa nggak menarik! Karena ternyata selain berlangsung pada hari kerja, pertandingan tersebut juga berlangsung selama perjalanan pulang kantorku, yakni pukul 19-21.00. Kalau beruntung sampai rumah sebelum pukul 21.00 pun palingan hanya dapat menyaksikan sesi komentar dari para komentator. Atau kalau maksain mau menyaksikan di kantor bareng Satpam kantor, sampai rumah jam berapa coba? Benar-benar bikin BT!  >__<
Apa mau dikata, kuikhlaskan saja tidak menonton semi final babak pertama Indonesia melawan Filiphina. Insya Allah masih bisa menyaksikan semi final babak ke-dua dengan lawan yang sama di hari Minggunya, fikirku. Walhasil, hanya tampang mupeng yang terpasang sepanjang perjalanan pulang.
***
Saat kau dituntut untuk bersabar, maka bersabarlah. Kalau kau tak mampu, maka berpura-pura bersabarlah. Insya Allah Ia akan memberi kesabaran untukmu! Begitu kira-kira yang disampaikan Pemredku di salah satu pertemuan belum lama. Aku pun mencoba menempuh perjalanan pulang kantor dengan berpura-pura bersabar. Dan hasilnya? Whew, alhamdulillah banyak hiburan yang kudapatkan sampai di depan rumah.
    Pertama, masih nggak jauh dari gerbang kantor, kira-kira 50 meter, beberapa rumah terdengar gaduh oleh suara-suara dukungan untuk Timnas. Di salah satu rumah yang pintunya sedikit terbuka, kulihat walaupun sambil lalu, seorang anak perempuan duduk tak tenang di depan teve sambil berteriak-teriak. Pantatnya pun seperti tak resah menduduki kursinya saking semangatnya, “Ayo, Irfan, Gonzales, serang terus, serang! Hwaaa…”
    Itu baru satu rumah. Teriakan yang hampir sama juga terdengar dari rumah di depan rumah anak perempuan tadi, tepatnya dari lantai dua. Kali ini ada dua suara yang kudengar, suara seorang laki-laki dewasa dan suara seorang anak kecil. Anak kecilnya menyenandungkan salah satu bait lagu Indonesia Raya dengan riang dan berulang-ulang, “Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya, untuk Indonesia raya”. Sedangkan orang dewasa di dalamnya terdengar teriak-teriak nggak begitu jelas yang intinya juga mendukung Timnas tentunya. Cuma beberapa kata yang berhasil kucuri dengar, “In-do-ne-sya! In-do-ne-sya!” Bisa dibayangkan gimana berisiknya tiga suara beradu dari rumah yang berseberangan? Cukup menghibur hati yang gondok, lho! :p
    Apa hanya sampai di situ? Eit, tunggu dulu. Itu baru dua rumah yang terdengar. Masih ada satu tempat lagi yang juga terkena sihir AFF sebelum keluar dari gang nangka. Tepatnya di sebuah warung kopi yang letaknya hanya beberapa rumah dari dua rumah tadi. Saat kulangkahkan kaki di depan warkop tersebut, sengaja kutolehkan muka untuk mengetahui kegilaan apa yang sedang terjadi di dalamnya. Hemm, walaupun nggak seramai di dua rumah sebelumnya, namun ternyata tersedia tontonan lucu juga di dalamnya. Hanya ada satu pembeli yang tampak asik menikmati indomie dengan mata yang terus tertuju pada teve di atas sebuah rak. Pun dengan sang penjual, walaupun tampak sedang mengaduk sesuatu dalam gelas, matanya seperti tak mau lepas dari teve di atas sebelah kanannya. Bisa dibayangkan kalau yang sedang diaduk adalah air soda campur susu? Dapat dipastikan sodanya akan beleber keluar gelas J.
    Di sepanjang jalan dari gang nangka menuju shelter pasar genjing pun tak kalah menggelitik. Dari dalam metro mini 49, sengaja kutolehkan kepala ke arah kaca samping kiri bis, maksudnya sih agar dapat menyaksikan jalannya pertandingan walau pun hanya sekilas pintas. Tapi lagi-lagi, yang kudapat malah berbagai ekspresi kumpulan orang yang menyaksikan pertandingan di depan teve.
    Di pangkalan ojhek depan gang waringin misalnya, masih terekam jelas pemandangan beberapa tukang ojek yang menonton bola sambil berteriak-teriak. Entah apa yang diteriakkan, namun dari ekspresi mereka seperti menggambarkan kesenangan setelah memenangkan sesuatu, karena satu orang teriak sambil berdiri dan menunjuk-nunjuk ke arah teve, “ya,, ya,, ya, eya! Huuu!” begitu kira-kira yang samar-samar berhasil kutangkap dengar. (sampai rumah baru sedikit kuanalisa, mungkin ekspresi itu mereka tunjukkan setelah Gonzales berhasil membobol gawang Filiphina, mungkin lho, ya!)
    Dan terakhir sebelum naik Transjakarta, ini yang paling menarik dan membuatku tersenyum geli sendiri. Saat mengambil ancang-ancang untuk turun di pintu metro mini, tepatnya 10 meter sebelum halte pasar genjing, kusaksikan sekerumunan orang–sepertinya sih tukang ojeg juga– menyaksikan pertandingan dari teve yang berada di dalam warung rokok pinggir jalan. Berhubung teve nya diletakkan di dalam warung rokok, mau nggak mau mereka harus menyaksikannya dari luar dan otomatis berjajar memanjang ke belakang. Orang yang berada di barisan paling depan tentu saja duduk di atas kursi agar yang bagian belakang dapat menyaksikannya. Benar-benar cara menonton teve yang nggak lazim!

mengenal bawang

Mari Mengenal Bawang

Lo kenal macam-macam bawang? Sebagai orang beriman dan yang ngakunya kader dakwah, lo kudu kenal dengan macam-macam bawang!
Seingat gue, bawang tuh ada tiga macam deh: bawang bombay, bawang merah, dan bawang putih. Ada yang tau lagi bawang lain? Kalau nggak ada yang tau, mungkin tambahan dari gue: bawang busuk, kali ya?

Bro n Sis.. Menurut lo penting nggak, sih, kita mengenal macam-macam bawang? Menurut gue sih penting banget! Kalo nggak percaya, lo kudu percaya! Karena gue punya cerita, nih, tentang macam-macam bawang. Begini ceritanya..

Di SMA gue, kita punya ketua Rohis yang keren abis! Dia disenangi guru karena kepintarannya. Disenangi orang-orang pendukung sekolah seperti satpam, orang kantin, orang caraka, dan orang koperasi karena tingkah santunnya. Dan yang paling penting, dia itu disayang banget sama kita-kita para pengurus karena kepemimpinannya. Pokoknya, di zamannya dia, Rohis sekolah gue nomor wahid dah! Udah prestasi anak-anaknya top markotop, kegiatan2nya juga ngejual abis! Menurut gue, kalau mau diibaratin, dia itu kayak bawang bombay! Dia itu yang paling besar, mengharumkan dirinya sendiri dan orang lain, dan yang pasti disenangi banyak orang. Sedikit kata memang, tapi banyak teladan dari dia!

Ada lagi nih, Bro n Sis, di sekolah tetangga gue. Ada cerita seru sekaligus nyebelin tentang ketua Rohis-nya. Dia itu.. Brilian banget otaknya! Semua guru mengelu-elukan dia deh. Yang nggak kalah penting lagi, dia menjadi salah satu munsid ROHIS yang guanteng abis! Nggak salah kalo temen2 gue yang ammah pada tergila-gila sama dia. Mungkin kalo boleh dibanding-bandingin–dan mudah-mudahan pembandingnya nggak marah–dia itu mirip banget sama Afgan, si ganteng dari SMA Unggulan di CIlandak itu lho!

Tapi sayang, di mata pengurus Rohis, dia itu agak nyebelin! Apa pasal? Ternyata dia itu selain punya suara yang mirip Curly Van Houten kalo lagi nasyid-an, juga punya mulut yang tajam banget: SETAJAM SILET yang bisa menyayat hati! Kalau ada hal yang nggak sesuai dengan kemauan dia, beh.. Bisa dimarah-marahin itu anak buahnya. Ujung-ujungnya, kalau nggak ada yang bisa diandalin, dia bakal ngerjain sendiri itu semua pekerjaan Rohis.

Tapi tunggu dulu, lo jangan buruk sangka dulu sama dia. Biar kata galak, dia itu orangnya visioner. Pokoknya selama hayat masih di kandung badannya, dia nggak akan rela melihat Rohis nggak dianggep. Makanya dia agak galak (versi dia) demi kebaikan Rohis. Jadi, kalau mau diibaratin, nih, Bro n Sis, dia itu kayak bawang merah! Warnanya paling nyentrik, mengharumkan dirinya sendiri dan orang lain, nggak jauh deh sama bawang bombay. Kalo nggak percaya, lihat aja di tukang nasi uduk atau warteg atau tukang soto. Dia selalu dipakai, kan?

Lain lagi di Rohis sekolah teman gue di daerah Depok. Ada cerita seru dan ngegemesin dari sang ketua Rohisnya. Dia itu.. Nggak kalah pintar dengan dua ketua Rohis yang tadi diceritakan. Wajahnya selalu charming karena rajin wudhu. Dan yang pasti, otaknya itu lho, nomor wahid deh di SMA itu. Dia ini disenangi oleh guru dan murid-murid cewek. Tapi sayang, dia itu kalem abis, bow! (kalau nggak mau dibilang pemalu). Nggak heran kalau banyak anak cewek yang sering godain dia. Bukan hanya itu saja sih, ada lagi sayangnya nih, karena dia ketua Rohis, kan seharusnya menjadi orang terdepan dalam pemikiran dan tindakan, ya? Tapi dia itu orangnya, nggak tau karena kekalemannya atau karena emang udah kodratnya, dieeeem banget! NO Talk, LESS Action. Bikin pengurus Rohisnya pada BT, kan? Nah, kalau diibaratin (agak maksa nih), dia itu kayak bawang putih, ya? Warnanya terlalu standar, nggak ada bedanya sama lingkungannya. Dia wangi juga sih, tapi nggak sewangi bawang merah yang cukup mencolok atau bawang bombay yang guede!

Warning: Jangan suuzhon dulu sama orang kayak gini. Bisa jadi emang dia itu tercipta menjadi orang yang seperti itu. Jangan salahin dia donk, mungkin itu keunikan yang dia punya. Kita nggak tahu kalau ternyata dia itu pendekatan personalnya bagus banget dengan binaan-binaannya (keep husnuzhon).

Nah, yang terakhir ini.. BEWARE! Jangan sampe kita jadi yang kayak begini. Dia itu ketua Rohis di negeri antah berantah, jauh banget dah dari sekolah gue. Ceritanya kayaknya sih nggak ada orang lain lagi, sampai dia bisa jadi ketua Rohis. Dia itu.. kepinterannya standar lah dengan anak-anak lain. Ibadahnya apalagi, standar banget! Wajib masih suka diulur, apalagi sunnah: minim banget! Apalagi tingkah lakunya, Bro n Sis, nggak mencerminkan anak Rohis banget! Dia itu masih suka nyontek. Wajar kalau nilainya juga standar. Nih yang paling bahaya: Dia itu, diem-diem dan akhirnya ketahuan kalau ternyata punya gandengan! Gile nggak tuh orang? Ketua Rohis kok punya gandengan? Parahnya, sebagai ketua Rohis pun dia nggak bisa menuntun para pengurus untuk membawa Rohis. Sampai-sampai pengurusnya punya lagu khusus buat dia: Mau dibawa ke mana, Rohis kita?.. So, pantas banget kan kalau ketua Rohis kayak gini kita julukin sebagai bawang busuk! Bau dan bikin bau orang lain!

Nah, segitu deh cerita gue tentang macam-macam bawang. Gue sih pengen banget jadi bawang bombay, tapi apa mau dikata, gue nggak dianugerahin kecemerlangan kayak dia. Tapi satu hal: gue mau terus belajar. Kalau seandainya lo kayak bawang putih yang kalem banget atau kayak bawang merah yang mencolok banget, nggak usah ngiri juga mau jadi bawang bombay. Just be your self aja deh, yang penting lo kembangin terus nilai-nilai positif dalam diri lo. Bawang merah dan putih juga ada positifnya, kan?

Pesan dari gue: Lo boleh jadi bawang apapun dengan nilai positif masing-masing, asal jangan sampai lo dan gue jadi bawang busuk! Apalagi kalo lo udah ada stempel anak Rohis. Beh, bener2 bau dan bikin bau!

*tawasaw bil haq.. tawasaw bish shobr, ye.. 🙂