Belajar Dari Hud-hud

Aha, kemarin saya baru baca buku bagus banget! Tulisannya bang Fatan Fantastik dan Deniz Dinamiz, yang judulnya Enak Bener Jadi Orang Pinter.Buku yang sepertinya diperuntukkan untuk anak-anak SMA dan sederajat. Tapi nggak rugi lah lowongin waktunya buat baca!

Sebenarnya, untuk orang seumur saya, sih, seharusnya buku itu biasa aja. Tapi emang dasar saya belum banyak baca kisah sahabat Rasul, saya fikir banyak banget ilmu yang didapat dari buku ini, terutama tentang sahabat-sahabat yang keren abis karena kepintarannya. Kepintarannya inilah yang telah menorehkan tinta emas sejarah Islam.

Btw, apa sih kaitannya buku bang Fatan dengan burung hud-hud? Yang sudah baca pasti tahu! Diantara kisah orang pintar dalam buku tersebut, diceritakanlah kisah burung Hud-hud dan Nabi Sulaiman. Buat yang rajin baca terjemahan Qur’an, pasti tahu deh cerita tentang hud-hud yang telat hadir saat Sulaiman meng-absen semua pengikutnya:
“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat Hud-hud? Apakah dia termasuk yang tidak hadir?”

Saking disiplinnya Sulaiman, tanpa banyak babibu, dia ngancam Hud-hud seperti ini:
“Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan yang terang.”

Ada nggak, yah,pemimpin kayak gitu di zaman sekarang? Kalau ada jundinya yang nggak ikut ta’lim atau ngak datang syura tanpa alasan yang jelas, dikasih iqob yang seberat-beratnya? Bisa-bisa jundi atau binaannya pada kabur duluan kali, ya? šŸ™‚

Ok, lanjut ke ceirta Hud-hud. Untungnya, nggak seberapa lama ucapan itu dilontarkan dari lisan sang Raja, datanglah Hud-hud dengan tergopoh-gopoh:
“Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata : “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.”

Tahu apa lagi yang dia bilang? Yang jelas perkataannya ini benar-benar menunjukkan ucapan seorang ahli ilmu deh, tanpa menghakimi sedikit pun orang yang sedang dia bicarakan:
“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugrahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaithan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk. Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.”

Lihat, kan, nggak ada tuh dari kata-katanya yang menunjukkan pernghakiman terhadap ratu Balqis dan kaumnya? Malah terakhir dia menutup laporannya dengan kalimat memuji Allah:
“Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar”

Super sekali, tuh, hud-hud!

Nah, masih dari buku bang Fathan, di situ disebutin juga kalau tiap mahluk di kerajaan Sulaiman memiliki tugasnya masing-masing. Dari buku inilah saya baru tahu kalau si Hud-hud ini kebagian tugas sebagai pencari daerah mana saja yang banyak mengandung air (walaupun ada juga yang berpendapat kalau pekerjaannya adalah sebagai penjaga/pengawas/penginta).

Ini dia poin paling penting menurut saya, terlepas pendapat mana yang benar terkait pekerjaan si Hud-hud. Dari Hud-hud lah saya jadi merenung, ternyata ungkapan ‘nahnu du’at qobla kulli syai’ bukan hanya berlaku bagi manusia! Temuannya terhadap negeri Saba menandakan kalau di atas pekerjaannya sebagai pencari air, ia juga adalah seorang da’i yang nggak rela melihat Allah dipersekutukan. Seekor burung pun adalah da’i!

Jadi kebayang, bagaimana seandainya kalau Hud-hud masih hidup di zaman sekarang, ya? Mungkin dia akan ngamuk melihat begitu banyak kesyirikan yang dilakukan masyarakat kita, dari kelas teri sampai kelas kakap. Atau mungkin kita menjadi salah satu dari orang yang terkena amukannya karena kesyirikan yang mungkin tanpa sadar kita lakukan? Na’udzubillah..

Mungkin itu yang membedakan kita dengan Hud-hud. sense of da’i-nya guede banged! Kalau kata anak sekarang, TOP MARKOTOP, dah! Kayaknya beda banget ya sama kita.. Kita pelajar, karyawan, wirausahawan, atau profesi lainnya, namun kita sering (me)lupa(kan) kalau kita adalah seorang da’i. Ngakunya sih da’i supel, bergaul dengan siapa saja, tapi giliran ngelihat teman kita melakukan syirik atau dosa apapun bentuknya, sepertinya lidah kita kelu untuk menegurnya..

So, yuk mulai sekarang kita belajar dari Hud-hud untuk menjadi da’i yang pelajar, da’i yang karyawan, da’i yang enterpreneur. Pokoknya nahnu du’at qobla kulli syai, deh!

*kisah Hud-hud bisa dilihat di Quran surat An-Naml: 20-26
**dibuat dalam rangka tawasaw bil haq wa shobr šŸ™‚


Iklan

3 comments

  1. youzhmie yusuf · Januari 27, 2011

    jadi teringak sebuah kalimat..”sebelum apa-apa kita adalah da'i” ^^

  2. nurjanah hayati · Januari 27, 2011

    that's raight, dear.. šŸ™‚
    nahnu du'at qobla kulli syai. it's a must! hhee..

  3. nurjanah hayati · Januari 27, 2011

    maksudnya thats right.. šŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s