Menjual Taqwa Demi Fujur

GILA, GILA, GILA!
Akhir pekan kemarin benar-benar Gila! Percaya, nggak? Pun hari itu adalah hari pertama menikmati gaji hasil membabu sebagai kuli ketik, pertemuan dengan beberapa orang di dua hari itu membuat Nay ingin menangis sejadi-jadinya! Apa pasal? Seperti yang tertulis di judul: ia dipertemukan dengan beberapa orang yang sebelumnya mendapat taqwa, namun kini mereka rela menjualnya dan menggantinya dengan fujur! A’udzubillah min dzalik…


Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha… [asy-syams:8]

Dulu Mentor, Sekarang Boro-boro!
Ini tentang mereka, beberapa sahabat yang sejak lulus SMA terpisah oleh tempat menimba ilmu. Satu di Yogya, satu di Surabaya, satu di Jakrta, satu di Depok, intinya sih nggak satu kampus, gitu.. Seingat Nay, selama kira-kira empat tahun kuliah, posisi dakwah mereka di kampus hampir sama. Kalau boleh dibilang, merekalah singa-singa dakwah di kampus masing-masing.

Empat tahun berlalu, mereka kini telah kembali untuk mengais rezeki di kota asalnya: Jakarta. Aktivitas ‘pengajian’ mereka pun kembali seperti empat tahun sebelumnya. Canda, tawa, senang, susah, senantiasa terangkum mengiringi kebersamaan mereka.

Sabtu terakhir, ‘sang guru’ mengevaluasi ibadah harian dan mingguan mereka. Salah satu poin yang dievaluasi ialah aktivitas mengelola mentoring. Dulu, waktu masih di kampus, mereka semua adalah sang guru peradaban aka mentor, namun kini, setelah semua kembali ke Jakarta, tinggal Nay seorang yang masih aktif mengisi mentoring.

Awalnya Nay masih bisa memaklumi permasalahan tersebut. Maklum, nyari binaan seorang diri lebih sulit dibanding diberi binaan oleh pihak sekolah atau kampus misalnya. Nay pun masih menjadi mentor karena memang ia lah yang melanjutkan sekolah di Jakarta, binaan pun ia dapat karena hingga kini masih aktif membina Rohis SMA-nya.

Namun di pertemuan itu, pemakluman berubah menjadi kesedihan. Betapa kagetnya ia ketika sang guru menanyakan kepada teman-temannya, siapa saja yang ingin menajdi mentor kembali? Kalian sudah pasti tahu jawabannya: pertanyaan itu hanya dijawab dengan gelengan tanpa semangat dari teman-temannya. Ada yang merasa trauma menjadi mentor katanya, ada juga yang merasa tidak dapat menjadi teladan, bahkan ada yang merasa ruhiyahnya masih senin-kamis, dan berbagai alasan lain yang mampu mereka lontarkan.

Nay benar-benar tidak habis fikir…

Memangkas Jilbab Karena Aktivitas
Di hari yang sama, ia bertemu dengan dua orang yang mengalami kasus yang sama: pemangkasan jilbab!

Sebut saja namanya Liva, siang itu di acara walimahan teman kampus mereka. Inilah kali ke-dua Nay melihat Liva menghadiri walimahan dengan seorang laki-laki yang sama. Pertama kali melihatnya di walimahan kakak kelas mereka 2010 lalu. Walaupun berjalan dengan laki-laki yang belum halal, jilbabnya masih rapi tertata sesuai syariat: menjulur hingga menutupi dada. Namun di hari itu, ada yang berbeda dari Liva. Masih didampingi dengan laki-laki yang sama, jilbab yang dulu sangat rapih (menghaluskan kata panjang), kini mulai terpangkas! Masih menutup hingga dada, sih, hanya saja jelas terlihat lebih pendek dari sebelum-sebelumnya.

“Kemana jilbab yang kita banggakan dulu, dik?” batin Nay gemas.

Sebelum pulang, ia menyambangi duo sejoli yang duduk tidak tepat di angka 11 dari posisinya. Setelah mengajak Liva berbicara ngalor ngidul, di akhir percakapan ia mulai menggoda mereka berdua..
“Masih dengan orang yang sama.. Kapan nih nyebar undangannya? Ditunggu, ya… Cepetan deh lo nikahin adik gue! Kasian, tahu!” goda Nay pada si laki-laki.
“Hheee, kapan, tuh?” canda Liva malu-malu pada teman laki-laki di sampingnya. Yang ditanya pun hanya cengegesan nggak jelas.
“Tau… Kasian tuh dia sebagai cewek!” kini Nay makin ngotot melihat gaya si laki-laki.
“Hah… kasian? Nggak juga kali, ka!” jawab Liva.
Deg! Kepala Nay seperti tertimpuk batu besar. Liva merasa tidak dirugikan dengan hubungan itu? Ya Allah, kemana iman? Kemana predikat ketua keputrian yang dulu disandangnya?

Lagi-lagi, Nay tidak habis fikir…

Lain lagi malamnya, dalam perjalanan pulang dengan angkutan kesayangannya: Metro Mini 69. Sebutlah namanya Ayu. Malam itu mereka baru diperkenalkan dengan salah seorang teman ngaji. Karena arah rumah yang ternyata searah, mereka pun pulang berbarengan. Untungnya wanita yang terpaut 10 tahun dengan Nay yang kini duduk di sampingnya, cukup terbuka. Sepanjang perjalanan ia banyak bercerita tentang kehidupannya. Beragam tema telah mereka lalap, dari mulai tema pengajian, jilbab, kuliah, smpai pernikahan!

Namun dari tema itu semua, yang lagi-lagi membuat Nay tidak habis fikir adalah tema tentang jilbab. Ngakunya, Ayu ini sejak SMAΒ  juga sudah memakai jilbab yang rapi seperti Nay, namun karena ia sudah cinta mati dengan seni tari: profesi sampingannya adalah penari, kuliah di jurusan seni tari, dan bahkan menjadi guru tari di salah satu SD, ia memutuskan untuk memangkas jilbabnya!

“Daripada gua jelek-jelekin orang-orang kayak elu pada, mending gua pendekin nih jilbab,” begitu alasannya.

Dalam hati Nay bercampur dua rasa: antara kasihan dan benci atas pilihan yang dipilih Ayu: memilih yang fujur setelah mendapat taqwa!

“Ya Rabb, aku berlindung kepada-Mu,” batinnya di malam itu.

Qod aflaha man dzakkaha, wa qod khoba man dassaha… [asy-syams: 9-10]

*gambar: zonapikir.wordpress.com

Iklan

3 comments

  1. carrot soup · Mei 25, 2011

    Ini yg komen apa gw doank yak di sini? *tidak melihat makhluk lainnya*

  2. carrot soup · Mei 25, 2011

    Hehe, mending nyari yg masih mau naikin iman Nuy, drpd musingin manusia kyk gitu.. Mariiii, tingkatkan fardhiyahnya.. ^^

  3. nurjanah hayati · Mei 30, 2011

    he, iya bang. masih sepi πŸ™‚
    mari..! *semangat nyambut ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s