waduh2,, rindu nulis diMP :(

Iklan

AADG?? (Ada Apa Dengan Gempa??)

  Tidak berapa lama sebelum tulisan singkat ini dibuat, penulis menyaksikan berita di TV yang mengabarkan bahwa siang ini gempa kembali terjadi di dua tempat yang berjauhan di Indonesia, yakni di Manokwari (Papua) dan di Sukabumi (Bogor). Walau pun tidak mengetahui pukul berapa tepatnya gempa tersebut terjadi, namun lagi-lagi jelas bahwa hal ini sudah pasti merupakan peringatan dari Yang Maha Aziz. Itulah yang harus diyakini umat Islam Indonesia akan banyaknya bencana mulai dari banjir, kebakaran hutan, hingga gempa yang terjadi di Negara kita yang notabene Negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Perhatian penduduk dunia kini tersorot ke Indonesia, dan mungkin bukan hanya penduduk dunia tapi juga kita sebagai penduduk Indonesia agak sedikit bertanya-tanya mengapa Negara yang ada serambi Mekah dan serambi Madinah (baca NAD dan Gorontalo) di dalamnya yang diberikan bencana berturut-turut? Mengapa bukan Amerika atau negara-negara barat yang diberikan bencana-bencana tersebut? Padahal sudah jelas kemusyrikan dan kemaksiatan terjadi di mana-mana di Negara-negara tersebut… Mengapa bukan Israel yang sudah jelas penjajah terkejam nomor wahid di dunia yang diberikan bencana-bencana tersebut? Dan mengapa-mengapa lainnya yang intinya mengapa harus Indonesia??

Nah fren, that’s the point! Mengapa harus Indonesia? Karena begitu cintanya Sang Khalik terhadap kita (muslim Indonesia), diberikanlah bencana-bencana tersebut sebagai peringatan. Seperti perumpamaan yang terdapat dalam salah satu hadits Rasul bahwa jika seseorang diberikan musibah atau sakit oleh Allah Azza wa Jalla maka akan dirontokkan-Nya dosa-dosa orang tersebut dengan syarat orang tersebut ikhlas menerima musibah atau sakit yang menimpanya. Nah kesimpulannya apa? Bahwa Negara kita mungkin di mata Allah kini sedang bergelimang, berlumpur, dan bahkan banjir dengan dosa dan Ia berkehendak akan merontokkan dosa-dosa kita. Makanya diberilah musibah atau ‘sakit’ itu kepada kita. Kurang apa lagi coba? Benar-benar Ar-Rahim…

Mugkin akan ada yang mengatakan: ‘ah lu si enak yang tinggal di Jakarta, ga kena gempa makanya lu masih bias bilang kaya begitu..’ Eit, santai dulu fren! Masih ingat ga waktu gempa di Tasik kemarin? Orang-orang Jakarta juga ikut geger lho! Apalagi yang saat gempa tersebut terjadi sedang berada dalam gedung-gedung tinggi lantai 10 ke atas. Belum lagi banjir 5 tahunan dan kebakaran dimana-mana saking padat penduduknya. Itu peringatan juga kan? Nah untuk kita-kita yang tinggal di Jakarta juga jangan tenang-tenang aja. Tinggal nunggu waktu aja mungkin untuk hadirnya ‘tamu istimewa’ tersebut (na’udzubillah…). Secara kemaksiatan berlalu lalang di dekat kita setiap harinya. Dan kita? Mungkin kita termasuk dalam golongan orang yang tidak melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang dapat mengundang ‘tamu istimewa’ tersebut, tapi apakah kita sudah melakukan upaya sehingga orang di sekeliling kita terhindar dari berbuat maksiat? Masih inget kan kisah orang soleh yang tinggal di negeri dimana orang-orangnya melakukan kemaksiatan.. Ga tanggung-tanggung, ia juga diazab sama Allah! Atau kisah umat nabi Nuh yang umurnya sampai ratusan tahun namun tidak mau bertobat daqri perbuatan keji yang mereka lakukan. Maka Allah jadikan mereka sebagai salah satu umat yang paling hina seperti yang diceritakan dalam kalamuLlah (bias dibuka di QS 71: 1-28, lengkap banget ceritanya!!). So, minimal banget kita memepersiapkan diri kita sendiri dengan ibadah-ibadah untuk menghadapi ‘tamu istimewa’ tersebut. Selalu merasa was-was dan merasakan pengawasan-Nya sehingga ketika menjadi korban, husnul khatimah dapat kita raih.. Amiin.

Balik lagi bicarain kaitan antara sakitnya Negara kita dengan gempa dan musibah lain yang terjadi.. Belum lama santer berita yang membuktikan bahwa Negara kita sepertinya memang sedang sakit. Pertama, Putri Indonesia yang ternyata berasal dari provinsi NAD! Padahal kita tahu bahwa provinsi tersebut terkenal dengan penegakan syariat Islamnya. Menjadi masalah juga si sang Putri tidak mengenakan jilbab yang harusnya mencitrakan provinsinya, karena sebelum-sebelumnya Putri Aceh selalu mengenakan jilbab. Tapi yang menjadi masalah sekali adalah mengapa harus orang Aceh yang terpilih sebagai Putri Indonesia? Padahal kan dari ajang Putri Indonesia akan diikutkan lagi ke ajang Miss Universe.. bisa dibayangin orang Serambi Mekkah mengenakan bikini di hadapan orang banyak dan akan ditampilkan ke seluruh dunia!!! Tertawalah para musuh Islam…

Itu yang pertama. Masih ada lagi yang lebih heboh ternyata. Pernah dengar artis Jepang yang terkenal dengan blue filmnya? Maria Ozawa alias Miyabi… Bulan ini hampir datang ke Indonesia. Walau pun katanya bukan untuk bermain dalam blue film, melainkan dalam film komedi namun mengapa harus Miyabi? Semua orang terutama masyarakat Jepang tahu betul kalo ia termasuk salah satu icon Sex yang sedang naik daun saat ini, dan Negara muslim terbesar di dunia mengundangnya untuk bermain dalam film karya anak negeri ini… Benar-benar kreativitas yang kebablasan! Apalagi menurut salah satu tulisan di internet, kehadiran Miyabi ke Indonesia telah disetujui oleh Menkominfo yang kemarin (Muhammad nuh)! Jadi wajar kalau negeri ini sakit, wong pemimpinnya saja sakit! Untungnya masih ada MUI yang mengeluarkan fatwa haram atas kehadirannya dan masih ada juga beberapa masyarakat kita yang masih waras moralnya dengan melakukan aksi unjuk rasa sebelum kedatangan artis tersebut. Walhasil bersyukur lah kita karena gadis berdarah Jepang Canada tersebut tidak jadi datang, dan itu mungkin itu bisa jadi salah satu penangkal datangnya musibah di negeri kita.

Terakhir, seperti salah satu bait nasyid Izzis : ‘tetaplah bertahan dan bersiap siagalah!!’. Tetap bertahan di tengah kondisi lingkungan yang semakin bobrok ini dan bersiap siagalah akan hadirnya ‘tamu istimewa’ dari Allah. Perkuat dan pertajam rasa pengawasan Allah atas hamba-Nya dan senantiasa beribadah dan berdakwah di jalan-nya.. semoga Menkominfo yang baru bisa menolak hadirnya Miyabi-miyabi yang lain ke Indonesia.. (hidup Pak Menkominfo!! ^^,)

*foto: kampungtki.com

*tulisan jadul

Buah Cinta Islam Untuk Wanita Muslimah

Dalam Islam peran laki-laki dan perempuan di dunia ini semua sama, yakni untuk beribadah, memurnikan penghambaan hanya kepada Allah azza wa jalla semata. Seperti yang disebutkan-Nya dalam al-Qur’an yang mulia: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariyat: 56).
    Namun ketika berbicara tentang peran dan fungsinya dalam Islam, tentu masing-masing memiliki porsi berbeda. Dan sangat jelas sekali bahwa peran dan fungsi wanita muslimah dalam Islam menempatkannya pada derajat yang tinggi sebagai mahluk. Seperti yang dikatakan Prof. DR. Sulaiman Asyqar dalam buku Buah Cinta Al-Banna untuk Wanita: “Wanita muslimah mendapatkan tempat yang begitu tinggi dalam masyarakat muslim. Tempat yang menjamin terjaganya kemuliaan dan melindungi sisi-sisi dirinya sebagai manusia, serta tempat yang membentengi harga dirinya.”
    Apa gerangan yang membuat Islam begitu meninggikan derajat wanita muslimah? Ternyata jawabannya terletak pada 3 peran dan fungsi wanita muslimah baik sebagai seorang hamba, seorang isteri, seorang ibu, maupun sebagai bagian dari masyarakat muslim. Dari berbagai sumber yang penulis dapat, para ulama sepakat menyebutkan bahwa wanita muslimah memiliki 3 peran dan fungsi yang harus senantiasa dikembangkan baik oleh dirinya sendiri maupun orang-orang disekililingnya.
    Mar-atush sholihah—Seorang muslimah mempunyai kewajiban terus meng-up grading dirinya untuk menjadi muslimah yang sholihah. Di sini peran orang tua sangat besar dalam membentuknya menjadi wanita shalihah sejak ia masih dalam kandungan. Dan beranjak dewasa, ketika sudah dapat membedakan baik dan buruk, ia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena begitu besar perannya untuk keluarga dan dakwah, sehingga ia harus men-sholihkan dirinya terlebih dahulu, memberikan ketaatan tertinggi kepada Allah semata sebagai syarat kokohnya keluarga dan dakwah Islam.
    Jauzatul muti’ah—Kalau peran mar-atush shalihah merupakan bentuk ketaatan wanita muslimah kepada Allah Swt, jauzatul muti’ah merupakan bentuk ketaatannya sebagai seorang isteri. Menunaikan kewajibannya, melayani suaminya, dan membuat suaminya bahagia terhadapnya tanpa mengabaikan hak-haknya sebagai seorang hamba dan seorang isteri. Ia mempunyai hak yang sama dalam pendidikan, pengambilan keputusan (termasuk berpolitik), dan berjihad. Seperti dikatakan Rasul dalam sebuah hadits: “Apabila wanita itu melakukan sholat dan bisa menjaga kehormatan dirinya serta taat kepada suaminya, maka ia dapat memasuki surga dari segala penjuru pintu yang ia sukai”
    Ummul madrasah—Inilah peran termulia seorang wanita muslimah. Ia lah madrasah pertama bagi keturunannya. Dari rahimnya generasai-generasi terbaik Islam lahir. Mujahid dan mujahidah tangguh yang mengenal Tuhannya dan membela negara dan Islam. Tengoklah kisah masa kecil Imam Syafi’i, siapakah yang senantiasa mengantarkannya bepergian dari satu majelis ilmu ke majelis ilmu lain memasuki satu negara keluar negara lain? Tidak lain dan tidak bukan adalah ibunya.
    Begitulah peran wanita muslimah dalam Islam. Peran besarnya baik bagi keluarga maupun dakwah membuatnya memang pantas untuk dimuliakan dan diposisikan di tempat tertinggi. Mungkin peran shahabiyah dapat kita jadikan acuan bagaimana menjadi wanita muslimah seharusnya. Ketika ibunda Khadijah menguatkan Rasulullah di awal dakwahnya yang sulit. Atau Khansa yang merelakan ke-empat anaknya untuk pergi ke medan jihad. Atau Sumayyah yang menjadi syahidah pertama kebanggan Islam. Keistimewaan peran itu harus senantiasa menjadi motivasi wanita muslimah memainkan peran dan fungsi terbaiknya dalam keluarga dan dakwah. Allahu a’lam bish showab..

*gambar: ainpunyacerita.blogspot.com

Si Haus Ilmu dan Si Ahli Hikmah

MUSA, siapa sih yang nggak kenal dengan doi? Si pembelah laut merah yang jadi orang most wanted se-seantero Mesir di zaman fir’aun (Ramses II, ya?). Sedangkan Khidr, buat yang rajin baca surat Al-Kahfi tiap malam jumat, dan sesekali membaca terjemahnya, pasti kenal dengan nabi ini. Ahli ilmu pilihan Allah yang tingkah lakunya di luar batas kewajaran manusia (versi saya yang sering berfikir parsial dan ilmunya masih cetek banget, lho!).

Kalau berbicara tentang dua insan ini, sudah jelas corongnya adalah tholabul ‘ilmi. Yang satu adalah hamba yang sangat haus ilmu, sedangkan yang satu lagi merupakan salah satu hamba terpilih yang dikaruniai begitu banyak hikmah. Menurut Syaikh Imam M. Ma’rifatullah al-Arsy, ia lah si penjaga sumber air di tengah segitiga bermuda yang airnya dapat membuat siapa saja yang meminumnya menjadi panjang umur.

Seandainya saya adalah Musa dan diberikan guru seperti Khidr, sudah pasti saya akan melakukan apa yang dilakukan Musa kala itu. Protes, protes, dan protes! Bagaimana tidak jika sang guru berulang-ulang melakukan hal yang di luar kewajaran manusia? Namun begitulah Allah hendak memberikan pelajaran kepada kita. Tidak pernah pandang bulu Ia, karena seorang nabi pun ia jadikan contoh untuk pelajaran bagi manusia.

Diceritakan waktu itu Nabi Musa tengah berdiri di depan Bani Israil. Seseorang bertanya siapa yang paling berilmu diantara mereka, yang dijawab dengan lantang oleh Musa, “Saya!”. Sombong juga nih, nabi.. Makanya, saat itu juga Allah menegurnya dan menunjukkan Khidr, hamba-Nya yang lebih berilmu yang tinggal di pertemuan dua lautan.

Nah, bedanya Musa dengan saya (kita juga kali, ya..). Mendapat teguran seperti itu, bukannya marah malah semakin membuncah dadanya untuk berguru kepada orang yang dimaksud Tuhannya. “Di mana aku dapat menemuinya, Tuhanku?” tawadhu’ bener, ye..

Langsung saja ia menempuh perjalanan jauh dengan ditemani pelayannya menuju tempat yang ditunjukkan Allah. Dan begitu bertemu dengan orang yang dicari, ia pun mendeklarasikan hasratnya untuk berilmu dan menjadikan Khidr sebagai gurunya. Awalnya Khidr meragukan kesabaran Musa untuk berguru kepadanya, namun dengan segenap hati ia berjanji tidak akan  menentangnya dalam perkara apapun. “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.” (18:69)

Baru beberapa saat perjalanan, terbukti juga keraguan Khidr. Musa mengingkari janjinya ketika di tengah perjalanan Khidr melubangi perahu yang mereka dan penumpang lain tumpangi. “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” (18:71). Setelah mendapat peringatan dari Khidr akan janjinya di awal pertemuan untuk tidak menentangnya, Musa pun segera meminta maaf. Mereka pun melanjutkan perjalanan. Begini nih, murid yang tawadhu’, cepat sadar kalau sotoy..

Lagi, di tengah perjalanan Khidr “bertingkah” dengan membunuh seorang anak muda yang mereka jumpai. Reflek Musa berontak melihat kelakuan sang guru. “Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat munkar.” (18: 74). Untuk ke-dua kalinya Khidr memperingatkan Musa akan janjinya dulu.

Merasa malu telah menyalahi ucapannya, ia pun berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku.” (18:76).

Mereka pun berjalan lagi. Tak berapa lama, di sebuah negeri mereka minta dijamu oleh penduduknya, namun tidak ada satupun yang mau menjamu mereka. Akhirnya, keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh, lalu Khidr malah menegakkannya.

Kali ini, habis sudah kesabaran Musa. Ia tak sanggup untuk tidak mengomentari. “Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.” Habis sudah kesempatan Musa. Ia pun harus merelakan banyak hikmah dari Khidr yang menurutnya belum ada satupun yang ia dapatkan.

Akhirnya, di akhir perjalanan bersama mereka berdua, Khidr baru menjelaskan berbagai hikmah dari apa yang ia lakukan selama berjalan bersama Musa. Untuk tindakannya menghancurkan perahu yang mereka tumpangi, karena perahu itu milik seorang yang sangat miskin, dan saat itu akan lewat seorang raja yang suka merampas harta rakyatnya. Dengan kemampuan berfikir jauh ke depan yang dikaruniai Allah, menurutnya lebih membawa maslahat melubangi kapal tersebut daripada membiarkan kapal nantinya dirampas sang raja.

Tindakannya membunuh anak muda yang mereka temui, juga karena Khidr telah melihat tanda-tanda kedurhakaan si anak sejak dini. Secara lebih luas lagi, kalau ia dibiarkan hidup, akan menimbulkan dampak positif terhadap orang di sekitarnya, terutama orang tua.

Dan tindakan terakhirnya menegakkan rumah yang hampir roboh, karena ia tahu di dalamnya terdapat harta simpanan milik kakak beradik yang tinggal di rumah tersebut. Seandainya ia menyuruh masyarakat setempat yang masih menyembah berhala untuk merobohkannya, maka akan terbongkarlah harta simpanan tersebut. Sedangkan, kedua kakak beradik itu masih belum cukup umur  untuk mengelola harta simpanan dalam rumahnya.

Nah, jelas banyak banget, kan, pelajaran yang Allah kisahkan secara gamblang dalam surat Al-Kahfi? Menurut saya wajar sih berulang kali Musa memprotes tingkah laku “aneh” gurunya, karena memang ia tidak dikaruniai ilmu seperti Khidr. Mampu berfikir jauh ke depan.

Begitu juga dengan kita (saya sih tepatnya), seringnya tidak menyukai proses belajar yang memakan waktu banyak. Yang instan-instan saja, fikir kita. Padahal, balasan untuk orang yang menuntut ilmu sudah ditulis jelas dalam Al-Quran: yarfa’iLlaahul ladziina aamanuu minkum wal ladziina uutul ‘ilma darajaat. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Whew!

Dari rentetan ayat ini, sejak awal Allah juga sudah mewanti-wanti agar tidak cepat sombong dengan ilmu yang kita miliki. Karena di atas langit masih ada langit, di sekeliling kita masih banyak orang yang lebih tinggi ilmunya.

Semangat belajar Musa juga layak kita acungkan jempol. Walaupun telah diutus menjadi seorang nabi, semangat belajarnya terus membara! Perjalanan melelahkan  sampai menemui “pertemuan dua laut”, ia lalui demi dapat berguru dengan Khidr. Terakhir, seandainya Musa tidak berfikir secara parsial, menyadari minimnya ilmu yang dimiliki, pasti ia akan memperoleh lebih banyak lagi hikmah dari hamba pilihan Allah itu.

Allahu a’lam.. 

*foto: komunitaspejuangislam.blogspot.com

Efektivitas Dalam Menyampaikan Kritik

Kritik dengan berbagai bentuknya kadang emang bikin jengkel, gondok, perih di hati, dan berbagai ungkapan lain yang bikin seseorang merasa nggak nyaman. Menurut kita benar, belum tentu menurut orang lain. Namun, kadang kritik juga penting untuk jadi alarm diri, bagaimanapun bentuknya.

Maunya sih, semua kritik yang datang disampaikan dengan tutur semanis mungkin di telinga. Tapi apa mau dikata, beda kepala beda rasa. Tiap orang punya ke-khas-an tersendiri dalam tiap bicaranya.

Yang saya baca dari Om Wikipedia, definisi kritik itu sendiri ialah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. Nah, dari situ jelas, kan, kalau kata kuncinya adalah UNTUK MENINGKATKAN, baik pemahaman, memperluas, apresiasi, atau memperbaiki. Bagaimana pun caranya, dari low impact sampai high impact, yang penting tujuannya harus jelas, seperti yang telah disebutkan.

Belum lama, saya mendapat kritik dari seorang kakak. Cara penyampaiannya, sih, hampir boleh dibilang bukan bahasa kritik. Lebih kepada keheranannya terhadap sesuatu hal yang saya ucap. “Astaghfirullah, masya Allah, ya ampun…” that’s it! Tapi saya tahu itu merupakan bentuk kritiknya terhadap ucapan saya.

Hebatnya, justru ucapan seperti itu mampu membuat saya berfikir sendiri, menyelami lebih dalam semua ucap yang telah meluncur. Apa gerangan yang salah? Selama hampir satu jam, masih terbayang ucapan singkat penuh makna dari si kakak. Bahkan sampai memengaruhi aktivitas saya. Mau ngapa-ngapain jadi serba nggak enak! Sampai akhirnya saya temukan. Bukan jawaban, hanya perasaan bersalah entah dari mana.

Dari ucapan keheranan si kakak, saya mulai sadar bagaimana seharusnya menyampaikan kritik. Memang penting menguasai seni menyampaikan kritik, tapi yang lebih penting lagi adalah efektifitas dalam penyampaiannya. Nggak perlu banyak kata. Sedikit kalau langsung menuju ke hati orang yang diberi kritik, insya Allah akan membuatnya tersadar sekejap mata. Apalagi ucapan yang meluncur dari mereka yang dengan kualitas ruhyah tinggi. Dijamin langsung tepat sasaran!

MENGEJAR BANG LUQMAN

Kemarin, tepatnya di kelas C kursus bahasa arab, seperti biasa.. di sela2 penyampaian materi, muhadhir ku di kelas itu, bapak Ubaidillah suka memberikan sedikit ilmu agamanya yang menurutku ‘ajiib banget2! Kepada kami para murid yang ilmunya masih sangat, sangat, sangat cetek.
    Paduan antara ilmu agama beliau yang sangat luas ditambah pemikiran2nya yang moderat sekali membuat apa yang beliau sampaikan, baik itu materi bahasa arab maupun ilmu lainnya, sangat berarti dan dinanti-nanti oleh kami para murid. Decak kagum disertai tasbih  sering meluncur dari bibir ini saat beliau menjelaskan tentang ilmu agama. Apalagi yang paling kunanti adalah ilmu angka dalam Al-qur’an! Bukan kebetulan ternyata Allah menyusun angka2 yang tertulis dalam Al-qur’an, karena semuanya jika dikaitkan terdapat ilmu yang sangat banyak untuk ummat islam.
    Satu hal yang paling ku kagumi dari beliau adalah salah satu ucapannya, ‘saya mah ustadz muhammadiNU! kalo ada undangan ceramah dari muhammadiyah saya datang, kalo ada undangan ceramah dari NU saya juga datang.. yah begitu kita seharusnya, jadi pemersatu ummat. Bukan malah jadi bensin yang memporak-porandakan ummat saat ada api.’ Ajiib bener2 deh sama beliau.. J
    Ok lah, itu sekilas tentang muhadhir yang cukup ku agumi karena ilmu dan pemikirannya. Kita lanjut ke cerita selanjutnya. Di kelas itu beliau menjelaskan tentang salah satu hikmah dari seorang ahli hikmah pilihan Allah yang namanya termaktub dalam Al-qur’an dan dijadikan nama salah satu surat di dalamnya. Yap, siapa lagi kalau bukan bang Luqmanul Hakim?? Seorang budak yang dikaruniai hikmah oleh Allah yang hidup di zaman Nabi Dawud..
    Wuih, senang bukan kepalang hati ini karena orang yang kukagumi bercerita tentang ahli hikmah yang ku kagumi! (bingung ga tuh??) Semua rasa kesal dan capek karena harus menaiki kurang lebih 10 rentetan anak tangga untuk sampai ke kelas (kelas kami terletak di lantai 5 gedung walikota Jakarta Selatan L ) hilang saat itu juga. Kurekam baik-baik setiap ucapan muhadhir  dan jadilah sebuah catatan kecil di pojok kiri atas buku teks bahasa arabku. Begini kurang lebih isinya:
    Ya anakku, dunia itu laksana lautan yang dalam. Sudah terlalu banyak yang tenggelam.. Kalau kau tahu lautan itu dalam, maka persiapkanlah perahumu. Mendekatlah terus kau kepada Allah, niscaya kau akan meraih taqwa. Itulah perahumu!
    Sejak keluar dari kelas, ucapan muhadhir tentang hikmah bang Luqman kepada anaknya selalu terngiang2 di telingaku seperti kata mba Ikke Nurjanah: masih terngiang di telingaku, bisik cintamu.. Eit, tapi tunggu dulu! Bukan cinta murahan yang dibisikkan dan terngiang terus di telinga ini, tapi cintanya sang ahli hikmah kepada anaknya dengan diberikannya hikmah tersebut, dan juga cintanya muhadhir sehingga ia membagi ilmunya tentang hikmah bang Luqman kepada kami para murid2nya.
    Di dalam bis pun, saat menuju tempat ngajar privat, kubuka lagi buku teks bahasa arab tepat di halaman yang kutuliskan hikmah indah itu.. Kuambil handphone dari dalam tas dan segera mengaktifkan GPRS untuk membuka FB dan meng-update statusku. Terlalu mubazir dan sia2 kalo ga di share ke teman2 yang lain, fikirku.
    Meskipun sempat bingung bagaimana harus kutuliskan nasihat beliau agar teman2 di FB tertarik dengan statusku (nasihat beliau maksudku). Namun seperti mendapat ilham entah dari mana, kuputuskan untuk menuliskannya dalam bentuk dialog antara si empunya nasihat dengan si empunya status (baca: aku). Dengan sedikit kata2 banyolan tentunya, akhirnya ku-update lah statusku..
    Selesai meng-update status, kumasukkan lagi handphone ke dalam tas dan kubuka lagi buku teks bahasa arabku tepat di halaman tempat kutuliskan nasihat tersebut. Kubaca berulang kali, kuresapi tiap untaian kata yang kesemuanya sangat indah menurutku sambil mencoba membayangkan bagaimana rupa beliau berdasarkan buku2 yang kubeli tentang dirinya, hingga tak kuat lagi mata ini menahan kantuknya. ZrRrRrR… (tidur!)
***
    Sejauh mata memandang, yang kulihat hanya hamparan padang rumput yang tingginya mencapai pinggang orang dewasa. Kuusahakan berpikir keras tentang kejadian terakhir dalam hidupku sampai akhirnya aku bisa sampai di tempat seperti ini. Namun semakin keras usahaku untuk terus mengingat, semakin tidak dapat kuingat kejadian2 sebelum aku tiba di tempat ini. “Argh.. sudahlah, yang jelas ini bukan di Indonesia!” batinku.
    Kuputuskan untuk keluar dari hamparan padang rumput ini dan mencari sedikit air untuk membasahi tenggorokanku yang semakin mengering beberapa menit saja di tempat seperti ini. Ah, baru kali ini kurasakan rindu yang mendalam terhadap Jakarta. Jadi teringat, sering kali bibir ini mengeluh betapa panasnya kota kelahiranku itu, namun ternyata masih ada tempat yang panasnya sangat melebihi Jakarta.
    Alhamdulillah, setelah jalan beberapa ratus meter ternyata tidak jauh dari padang rumput tersebut kutemukan sebuah aliran sungai kecil yang airnya cukup jernih menurutku. Dan satu hal yang membuat rasa hausku sedikit hilang adalah akhirnya kutemukan seseorang dengan kulit yang sangat2 gelap di pinggiran sungai tersebut dengan banyak sekali kayu yang letaknya tidak jauh dari tempat ia duduk.
    Walaupun orang ini sangat asing bagiku, namun raut muka seperti ini pernah terlintas dalam benakku. Sambil menciduk air dengan kedua telapak tangan untuk minum, kuusahakan untuk mengingat2 raut muka orang tersebut. Siapa dan pernah bertemu di mana orang seperti itu?? Seorang laki-laki pendek, berkulit sangat hitam, berbibir tebal, dan berhidung lebar..
    Sebagai orang asing di daerah seperti ini, aku tidak cukup berani untuk bertanya kepadanya di manakah aku sekarang berada? Selain juga karena orang tersebut sepertinya sedang sangat khusyuk sekali memandangi sungai kecil di depannya sambil sesekali memejamkan mata, sehingga sepertinya ia tidak merasakan kehadiranku yang berada tidak jauh darinya. Hingga akhirnya ketika sedang asyik berfantasi ria memikirkan orang yang berada tidak jauh di sampingku, datanglah seorang anak berkulit hitam sambil berlari kecil yang raut wajahnya mirip dengan orang di sampingku. ‘abi, abi, abi,,’. Satu kesimpulan yang kudapat: sepertinya anak kecil itu adalah anaknya.
    Ia cukup ramah, karena ketika melihat ada orang lain selain laki2 yang ia panggil abi di tempat ini, ia melemparkan senyum lebarnya ke arahku. Sedikit bergumam dalam hati, betapa adilnya Allah. Walaupun diciptakanNya ras Negro, yang menurut banyak orang mereka tercipta dengan  paras yang tidak indah, namun ternyata ketika senyum tulus nan ikhlas tergambar dari wajah mereka, semakin terlihat menarik anak kecil di depanku ini.
    Apalagi ketika ia berjalan menuju ke arahku dan memberikanku sedikit kue yang berada di tangannya. Kubalas senyumnya dan langsung saja kuterima kue yang ia sodorkan (laper banget rasanya di tempat yang seterik ini..), sambil kuucapkan rasa terima kasihku kepadanya.
    Nah, di sini letak keanehannya. Ia membalas ucapan terima kasihku dengan mengatakan ‘sama-sama..’ Semakin pusing lah aku memikirkan di mana sebenarnya kini ku berada?? Apa mungkin kini aku terdampar di Papua? Entahlah..
    Sambil makan ia sedikit bertanya2 kepadaku dengan bahasa Indonesia (lagi), dan kuceritakanlah kebingunganku kenapa aku bisa sampai di tempat seperti ini dengan bahasa Indonesia juga tentunya. Setelah habis kumakan sedikit kue darinya, ia mengajakku menyampari abi-nya. ‘Mungkin ia dapat memberi tahumu sesuatu..’ katanya.
    Akhirnya kuturuti ajakannya dan ia mulai menceritakan kisahku kepada abinya. Satu hal yang paling tidak ku mengerti adalah, sejak pertama kali melihat orang ini hingga aku menyampari bersama anaknya, ia tidak pernah melihat ke arahku sekalipun dan aku merasa seperti tidak ada di hadapannya!
    “Ah, sepertinya ia bukan orang sombong atau apalah seperti yang kufikirkan saat ini. Kalau anaknya saja sangat baik kepadaku, orang tua yang membesarkan dan mendidik anak ini sudah tentu juga orang baik. Pasti ia orang yang sangat menjaga pandangannya terhadap lawan jenis,” fikirku meyakini diri sendiri.
    Akhirnya momen yang kutunggu-tunggu datang juga. Ia mulai membuka mulutnya dan berkata kepada anaknya sambil mengelus-elus rambutnya masih tidak melihat ke arahku.  ‘hai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasnya. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui.’
    Subhanallah, bener2 nasihat yang syarat dengan hikmah.. Beberapa saat kupandangi orang tersebut dan akhirnya terlintas dalam benakku. Sepertinya tidak asing kalimat itu di telingaku. Sudah sering kudengar, tapi siapa yang mengucapkannya?? Cling, cling, cling,, ya Allah, itu kan nasihat yang diberikan idolaku, sang ahli hikmah, kepada anaknya yang termaktub dalam surat Luqman!! Ya betul, tidak salah lagi, kalau orang yang ada di depanku ini pasti adalah idolaku.. Bang Luqmanul Hakim!
    Refleks aku bertanya kepadanya untuk meyakinkan diriku bahwa ia adalah betul2 orang pilihan Allah yang dikaruniai hikmah. ‘Maaf pak (tadinya mau panggil Bang, tapi berhubung ada anaknya di sebelahku maka kuputuskan untuk memanggilnya Bapak ;D ), apa betul anda Luqmanul Hakim yang Allah karuniakan hikmah kepada anda?’, krik, krik,, lagi-lagi ia masih seperti tidak melihatku, namun lebih baiknya kini tergambar sedikit senyum walau pun tidak diarahkan senyum itu kepadaku.
    Ya, pasti, aku sangat yakin kalau orang yang di depanku ini adalah idolaku.. Langsung saja, tidak mau kehilangan momen yang sangat, sangat, sangat baik ini, kukatakan kepadanya. ‘Pak Luqman, saya NJ. Saat ini saya tersesat entah di mana kini saya berada. Namun ternyata, di tengah kebingungan saya, Allah masih sangat baik dengan mempertemukan saya kepada anda. Tolong beri saya nasihat pak..’
    Tanpa banyak kata dan tidak keluar dari mulutnya sedikit pun basa basi, ia langsung berkata lagi-lagi masih tanpa memandang ke arahku. ‘NJ, apakah kau pernah melihat lautan yang dalam??’
     Saking senengnya, kujawab pertanyaan beliau dengan penuh semangat, ‘pernah Pak, tapi di TV..’
    Ia melanjutkan perkataannya lagi, ‘dunia itu laksana lautan yang dalam. Sudah terlalu banyak orang yang tenggelam di dalamnya. Kalau kau tahu lautan itu dalam, maka persiapkanlah perahumu..’
    Agak sedikit bingung, maka langsung saja kutanyakan kepadanya ‘apa yang Bapak maksud dengan perahu?’ Lagi2 tanpa memandang ke arahku, ia menjawab ‘dekatkanlah dirimu terus kepada Allah, niscaya engkau akan meraih taqwa. Itulah perahumu.’
    Bener2 sarat dengan hikmah semua kata2 yang meluncur dari bibirnya.. Belum sempat kuucapkan rasa syukur dan terima kasih ku padanya atas nasihat yang diberikannya, tiba-tiba kurasakan ada seseorang menepuk pundakku dari belakang. Karena masih dalam suasana hati yang senang bukan kepalang dan masih ingin mendapatkan hikmah dari idolaku, tak kuhiraukan tepukan di pundakku. Saat akan meminta kembali nasihat darinya, kurasakan tepukan di pundakku semakin keras. ‘mba, mba,,’
***
    Duh siapa si ini? Fikirku dalam hati. Namun ketika kualihkan wajahku ke belakang, kagetku bukan main karena pemandangan di belakangku 180 derajat berbeda dengan yang barusan kulihat di sekelilingku. Dalam sekejap, padang rumput di belakangku berubah menjadi kotak besi bersegi panjang yang di kanan kirinya terdapat 2 bangku orange berjejer memanjang ke belakang dan jendela geser kecil di sisi2nya. Kubalikkan lagi pandanganku ke depan, dan ternyata yang kulihat kini hanya kaca segi empat bening besar, dan di sampingku yang tadinya terdapat anak kecil berkulit hitam, kini berubah menjadi supir tua yang memberikan senyumannya kepadaku. Towwweeeettt!!!
    ‘mba, udah abis, mau turun di mana? Ketiduran ya?’ perkataan supir tua itu membuyarkan kebingunganku.
    Tak kujawab pertanyaannya, karena masih sedikit tidak sadar dan malu juga sebetulnya. Dengan langkah yang agak sedikit berat, kuturuni bis itu. “Yah ternyata hanya mimpi!” Kataku dalam hati sambil naik lagi angkutan ke arah balik untuk pergi menuju tempat ngajar privat.
    Ini kelewatan terparahku karena tertidur di dalam bis.. Biasanya hanya terlewat beberapa meter dari tempat yang kutuju, namun ini betul2 kelewatan sejauh2nya, bahkan sampai penghabisan bis yang kunaiki!
    Namun aku sangat senang karena walau pun hanya dalam mimpi, aku dapat bertemu dengan orang yang selama kurang lebih 4 tahun ini membuatku penasaran akan sosoknya karena hikmah yang dimilikinya. Bahkan ia memberiku nasihat di pertemuan kami yang pertama dan mungkin yang terkhir (kecuali Allah berkenan memberikanku kesempatan untuk bertemu dengannya, yah walau pun hanya dalam mimpi L).
    Karena jarak antara penghabisan metro mini yang kunaiki dengan tempat ngajar privatku cukup jauh, kusempatkan membuka kembali FB ku via handphone untuk sekedar melihat apakah ada komen untuk status yang belum lama ku update. Cukup banyak juga laporan di notifikasi yang semuanya berisi laporan komen-an atas statusku. Duh, deg2an rasanya melihat komen dari teman2.. Dan benar juga, 5 orang teman memberikan jempolnya, sedangkan yang memberi komen ada 3 orang. Bermacam-macam komen dari mereka, namun yang paling menarik untukku adalah komen salah satu teman yang menanyakan apakah ini cerita bersambung atau bukan?? Satu tantangan di awal tahun untuk mulai lagi menulis, fikirku. Seketika itu juga gairah menulisku yang selama ini berhibernasi, seperti ada yang menariknya keluar dari gua nyamannya dan mengatakan, ‘bangun dan ambil peluang lu!!’
    Hhaaa, betul juga, ini pasti kesempatan untuk mulai menulis lagi. Langsung saja kubalas komen dari beliau, ‘ini versi pendeknya, ada lagi versi panjangnya insya Allah. Masih belum pd untuk dimuat di FB..’ padahal mah emang belum dibuat.

    Alhamdulillah,, Bang Luqmanul Hakim, sang ahli hikmah bener2 memberiku inspirasi! Dan inilah hasilnya…
***

*tulisan jadul, cerpen ke-dua yang ditulis sepanjang hidup
*gambar: anotherprincessmaia.blogspot.com