Mau Sombong? Ngaca, Donk!

(Refleksi Diri Buat Yang Nulis)

Mahluk yang satu ini bener-bener deh.. Awal penciptaannya saja sudah menggegerkan mahluk-mahluk lain. Bangsa jin dibuat iri ketika Allah memerintahkan mereka bersujud kepada Adam, dan karenanya ia dikeluarkan dari surga. Malaikat pun menyangsikan ketika Allah menetapkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ya, manusia, manusia, manusia..

     Diciptakan paling akhir diantara mahluk lain seperti malaikat dan jin, tapi begitu banyak kemuliaan dan kelebihan yang diberikan Sang Pencipta pada bani Adam ini. Dan yang saya pahami sepanjang bergelut di dunia pen-tarbiyah-an, manusia itu lebih utama dari mahluk lain diantaranya karena komponen penciptaannya yang terdiri dari jasad, akal, dan hati. Dua mahluk lain punya juga si komponen tersebut, tapi fungsinya tidak selengkap manusia. Malaikat contohnya, mereka tidak dikaruniai akal. Ini bukan bermaksud merendahkan malaikat lho, hanya saja dalam Al-qur’an memang diceritakan bagaimana ketika Allah menanyakan nama-nama benda kepada malaikat namun tak ada satu pun dari benda-benda yang ditunjukkan, yang mereka ketahui nama-namanya. Sedangkan Adam dapat menyebutkan satu per satu nama-nama benda tersebut.

Selain itu mereka juga punya hati, tapi hatinya senantiasa tunduk pada Allah. Tiada satu waktu pun terlewatkan melainkan untuk beribadah kepada Nya. Sangat berbeda dengan malaikat, dalam Qur’an surat Asy-syams:8 Allah mengatakan ‘fa alhamaha fujuroha wa taqwaha’. Allah telah menunjukkan dua jalan kepada manusia dan mereka bebas memilih jalan mana yang mau mereka tempuh selama hidup di dunia, jalan fujur atau jalan taqwa. Dengan segala konsekuensi tentunya dari setiap jalan yang mereka pilih..

    Nah yang ingin dibahas di sini bukan tentang komponen-komponen penciptaan 3 mahluk tersebut atau membandingkannya. Tulisan ini terinspirasi sehabis membaca buku salah satu penyair sufi terbesar, Jalaluddin Maulana Rumi. Saya tertarik dengan salah satu syair beliau tentang manusia yang berbunyi seperti ini:

Manusia tercipta dari tanah, dan
Jika tidak ada tanah,
Dengan apa manusia akan dibuat?


Dalam buku yang berjudul Rumi, syair ini dimasukkan dalam bab kerendahan hati. Ketika suatu hari Maulana memeberikan kuliah kepada murid-muridnya, ia menekankan kebaikan dan pentingnya kesederhanaan dalam menjalani kehidupan. Seperti yang telah disabdakan oleh Rasul: ‘hendaklah kamu senantiasa berhubungan dengan orang-orang dengan sopan dan rendah hati, dan hati-hatilah agar tidak ada yang dirugikan karenamu (baik harta maupun perasaannya)’.  Dan ini dibuktikan ketika dalam perang Uhud musuh membuat salah satu gigi beliau tanggal. Bukannya mengutuk, Rasul malah mengampuni bahkan mendoakan mereka. Karena menurut beliau mereka adalah kaum yang tidak mengetahui.

Maulana juga memberi perumpamaan tentang pohon dalam kuliah tersebut. Dikatakan bahwa pohon yang menjulang tinggi ke langit dan membanggakan diri hanya karena ketinggiannya, mungkin tidak berbuah. Sebaliknya, pohon yang sarat buah batangnya melengkung ke bawah, dan karena itulah ia menunjukkan kemuliannya. Dan hendaklah manusia menjadi pohon sarat buah yang melengkung ke bawah sehingga ia menjadi mulia..

    Kita kembali ke syair Maulana tentang manusia. Dalam buku tersebut dikatakan pula bahwa kiasan ‘tanah’ dimaksudkan sebagai sesuatu yang selalu berada ‘di bawah’ dan bukan di atas seperti udara, cahaya, dan atmosfer. Nah, oleh karena itu tanah berada dalam ‘posisi lebih rendah’ dan tetap dalam posisi yang lebih rendah. Tidak seperti api yang walau pun terkadang berada di bawah, namun ia dapat membumbung ke langit tinggi dengan sombong dan congkaknya..

Mungkin kita harus sering merenungi dan banyak berkaca pada syair Maulana. Seringkali kita merasa tinggi, padahal kita hanya tercipta dari tanah hitam yang diberi ruh. Tanyakan pada diri kita, bagaimana kita bisa sombong sementara mahluk lain yang tidak lebih utama dari manusia tercipta dari bahan yang lebih baik daripada tanah? Malaikat tercipta dari cahaya, namun mereka tidak pernah walau sedikit pun membantah kepada Rabb-Nya. Bahkan ketika mereka diperintahkan untuk bersujud kepada Adam, mereka rela melakukannya. Padahal mereka lebih dulu diciptakan daripada Adam. Atau bangsa jin yang diciptakan dari api, namun sebagian mereka ketika diperdengarkan bacaan Qur’an mengakui bahwa Qur’an itu kitab yang menakjubkan. Mereka beriman kepadanya: inna sami’na qur’anan ‘ajaba..

Jadi karena terbuat dari tanah, sudah seyogyanyalah manusia harus mampu mengendalikan egonya, bukan malah seperti pohon tinggi yang selalu merasa tinggi dengan penuh kesombongan dan kecongkakannya. Kalau kita bertingkah laku seperti pohon tinggi, maka kembali lagi tanyakan pada diri sendiri ‘dari apakah saya diciptakan?’ Bukan dari cahaya, karena malaikat tidak pernah sombong, mungkinkah kita temannya bangsa jin yang terbuat dari api yang karena kesombongannya mereka bantah Tuhannya?? Na’udzubillah..
Lagi-lagi, hanya dari tanah manusia diciptakan..




*gambar: imafstory.blogspot.com

Iklan

2 comments

  1. Mirah TuL · Februari 1, 2011

    ^_^..iya,apasih yang patut disombongkan juga..kita ini g ada apa2nya???bila sang pemilik sudah berkehendak kita g ada artiinya….^_^

  2. nurjanah hayati · Februari 1, 2011

    yep, betul.. betul.. betul 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s