Antara Akumulasi Kebajikan dan Peradaban

Emang ada kaitannya? Emang! 😛
Kalau kita flash back ke revolusi Mesir kemarin, Yusuf Qardhawy dan Husni Mubarak sebenarnya memiliki persamaan dan perbedaan yang saling berkaitan. Persamaannya, keduanya sama-sama menjadi petani dalam kurun waktu yang lama.

Petani? Emang mereka menanam apa coba? Nah, pertanyaan itulah yang menjadikan keduanya juga berbeda. Yang satu menanam tirani, yang satu lagi menanam kebajikan. Pasti tau, donk, siapa penanam tirani, siapa penanam kebajikan?

Yep, ulama terkenal Mesir yang sejak puluhan tahun lalu diusir oleh si Tiran Mubarak, begitu lama menanam kebajikan di hati para pemuda Mesir. Hingga akhirnya, kesabarannya berbuah: berbondong-bondong rakyat Mesir turun ke jalan untuk mendengarkan khutbah Jumat-nya di Maydan Tahrir! Di sisi lain, bertahun-tahun lamanya Mubarak menanam tirani yang akhirnya berbuah pahit: berbondong-bondong rakyat Mesir turun ke jalan untuk menurunkannya dari kursi presiden!

Dan begitulah, sejarah ialah akumulasi yang meledak. Akumulasi kebajikan Qardhawi melahirkan peradaban, sedangkan akumulasi tirani Mubarak melahirkan revolusi.

Nah, pertanyaannya adalah, sudah sejauh mana kesabaran dan keistiqomahan kita dalam mengakumulasi kebajikan demi melahirkan sebuah peradaban? Apakah kita masih sabar dan istiqomah walau pun sendiri, atau menjadi orang yang diblack list oleh sejarah karena ketidaksabaran dan ketidakistiqomahan kita dalam mengakumulasi kebajikan?

SEMANGAT mengakumulasi kebajikan! Insya Allah hasilnya (peradaban) akan berbuah, pun setelah kematian menghentikan kita dalam berbuat kebajikan.

*mengikat makna tulisannya Ust. Anis Matta di rubrik Tumuhat Tarbawi edisi 247 🙂

Iklan

balada Tukang Kredit (Part 2)

“Ooo, tidak bisa…!” setengah bercanda setengah dongkol, kuladeni permintaan Bu Mita sambil mengambil kembali satu per satu barang-barang daganganku yang kini berada di genggamannya.

            Tanpa tedeng aling-aling, seperti pemiliknya, Bu Mita merampas kembali barang-barang tersebut dengan kekuatan tubuhnya yang memang lumayang berisi.

            “Percaya deh, Bang Pram. Bakal saya lunasin semuanya dalam tempo satu bulan. Pokoknya, saya ambil magic com, blender, dan piring satu lusin. Catat, ya…” langsung saja, tanpa banyak ba-bi-bu, Bu Mita ngeloyor meninggalkanku dan gerobak kecilku.

            “Eh eh, Bu Mita… Bu Mita… Tunggu, tunggu,” apa daya, tak sanggup ku mengejarnya dengan gerobak penuh berisi barang. Hanya mengelus dada sambil memble yang bisa kulakukan.

***

            Masih dengan hati dongkol dan tubuh kecut karena seharian menantang matahari, kurebahkan diri di kamar kontrakan seluas 5×6 meter ini. Kulihat lagi buku kecil dekil plus kumel berisi catatan kredit para pelanggan. Kubolak-balik halaman demi halaman yang formatnya selalu sama: nama, tanggal, dan rincian sisa tagihan. Entah siapa yang mengomandoi, langsung saja mataku menatap liar mencari nama Bu Mita. Kupandangi beberapa detik hingga satu per satu bulir hangat turun dari dua bola mataku. Aih, cengeng bener Pramono, batinku.

            Gantian, kuambil buku lain dari balik satu-satunya bantal yang ada di kamarku. Seperti biasa, ketika emosi sedang memuncak, segera kumuntahkan apa yang kurasakan dalam bentuk tulisan. Alhamdulillah, selalu ada ketenangan setelahnya.

            “Ya Rabb.. Harus seperti inikah nasib kaum kecil sepertiku? Hidup susah, tertindas, tak berdaya… Ah, persetan dengan semuanya! Hanya mengeluh saja yang kubisa. Syukuri, syukuri, syukuri, Pram!” begitu akhir tulisanku hingga mata ini terpejam.

***

            Ritual pagi selesai! Diawali dengan beres-beres rumah, dan diakhiri dengan sholat Dhuha empat rakaat, kusiapkan diri untuk terus mencari pintu-pintu rezeki. Bismillahi tawakkaltu, kudorong keluar gerobak dari gang sempit kontrakanku.Tak pernah bosan kucari gang-gang baru ibu kota. Namun hingga sore hari, belum ada satu pun ibu-ibu yang mau mengkredit barang kepadaku.

            Setelah merasa berjalan cukup jauh, dan hanya berhasil mengumpulkan uang tagihan ke beberapa ibu di kampung yang berbeda, kuputuskan untuk langsung ke rumah Bu Mita. Butuh kira-kira setengah jam perjalanan menuju rumahnya yang terletak di Gang Sayur Asem.

            “Assalamualaikum. Bu Mita..”  dari celah pintu yang terbuka sedikit, kucoba memanggilnya. Butuh beberapa kali panggilan hingga Susi, anak semata wayang Bu Mita menyahuti panggilanku.

            “Eh, Bang Pram. Nynyaari Ibbbu, ya?” tanyanya gugup.

            “Iya, Dek Susi. Ibu ada? Tolong panggilin, ya… Ada Bang Pram bilang,” kataku berusaha ramah.

            “Eee… Kata Ibu, Ibbu lagi kkke warung se sebentar,” gadis yang aneh menurutku. Cantik tapi lugu!

            “Ooo, sebentar, kan? Neper maind, Its OK. Bang Pram tungguin deh..”

            “Eh, jjangan, Bang. Nanti kalo Ibu lama, gimana?”  Susi mulai tampak resah. Matanya berusaha meyakinkanku untuk segera pulang.

            “Lho, tadi katanya sebentar? Nggak apa-apa, abang tungguin sampai maghrib. Kebetulan udah selesai kelilingnya,” mulai naik kejengkelanku menghadapi Susi.

            “Eh, oh.. Iya, ttunggu di luar aja ya, Bang,” kata Susi segera masuk tanpa mempersilakanku duduk atau mengambilkanku bangku. Terlalu! Pikirku.

            Sambil menunggu Bu Mita, kuperhatikan perabot-perabot yang terlihat dari balik kaca rumah itu. Beberapa menit, kutarik kesimpulan sementara: sepertinya Bu Mita ini orang yang cukup berada. Beberapa guci, jam antik, dan perabot lain yang semua terlihat kinclong.

            Satu jam, satu jam setengah, dua jam, masih belum tampak batang hidung Bu Mita. Astaga, aku belum sholat Ashar! Kuputuskan untuk ke musholla menunaikan sholat ashar sebentar yang sengaja kutunda demi bertemu Bu Mita.

            Air wudhu memang bikin segar. Kurasakan kesegaran melingkupi seluruh tubuh, yang sayangnya kembali sirna setelah memasuki gerbang kecil rumah Bu Mita. Masih tak ada tanda-tanda kehadiran Bu Mita di rumahnya.

            Tubuhku lemas.

            Jengkel, kesal, berbaur dalam hatiku. Hingga lima belas menit menjelang maghrib, ah, seperti yang sudah kuduga. Janjinya meleset terus. Lebih baik besok kudatangi lagi saja, besok, batinku.

***

            Gang Sayur Asem.

            Tepat pukul 9 kurang 15 menit, kakiku sudah menyatroni rumah Bu Mita. Tak kuhiraukan dering perut kosong karena belum sarapan. Langsung saja kuketuk pintu yang masih tertutup rapat itu.

            Tok tok tok..

            “Assalamualaikum.”

            Butuh waktu sepuluh menit hingga ada penghuni rumah yang menyambutku. Seorang laki-laki paruh baya berbadan besar, berkepala plontos, gigi tonggos, dan satu tattoo naga besar di lengan kanannya, membukakan pintu.

            “Assalamualaikum, Pak. Ssssaya Pppramono,” inilah efek belum sarapan, bertamu pagi buta ke rumah orang, dan disambut oleh mahluk mengerikan. Seketika nyaliku menciut, gagap menggerayangiku.

            “Saya nggak nanya. Ada perlu apa?” seperti sedang berbicara dengan benda mati, galak benar laki-laki di hadapanku.
            “Bbbu Mita nya ada?”

            “Ada perlu apa?”

            “Saya mmmaaau menagih kkkkreditan Bu Mita, Pppak.”

            “Bu Mita nya nggak ada. Lagi ke pasar!”

            “Oh, begitu ya, Pak? Kapan pulangnya, Pak?” Alhamdulillah, berdzikir dalam hati menghancurkan lidah yang kelu.

            “Nggak tahu!”

            “Baiklah, Pak. Tolong sampaikan ke Bu Mita, nanti saya ke sini lagi. Terima kasih, Pak.”

            Tidak ada anggukan dan kawan-kawannya tanda meng-iya-kan, lelaki itu masuk ke dalam rumahnya. Tak mau menambah pusing, kutinggalkan rumah Bu Mita.

            Panggilan alam memerintahkan kakiku untuk menuju warung nasi uduk di samping rumah Bu Mita.

            “Abis nagih kredit di rumah Bu Mita, ya Bang?” ganggu penjual nasi uduk.

            “Eh, iya Bu.” rasa lapar membuatku agak malas menjawab pertanyaannya.

            “Emang begitu, Bang, ” sambungnya lagi. “Tiap hari banyak juga tukang kredit yang nagih ke rumah Bu Mita, tapi nggak ada yang berhasil ketemu. Selalu begitu. Kalau bukan anaknya yang sok bego, pasti suaminya yang sok galak yang bukain pintu. Sekeluarga sama aja!” katanya mencibir.

            “Masa sih, Bu?” omongannya kali ini benar-benar menghilangkan konsentrasi makanku.

            “Masa saya bohong, sih Bang? Coba saja besok ke sini lagi. Saya jamin, Bu Mita nggak ada lagi. Iris kuping saya, kalau besok abang ketemu Bu Mita,” hilang sudah laparku mendengar ucapan tukang nasi uduk.

            Masa iya, sih, Bu Mita seperti itu? Baiklah, akan kubuktikan omongannya. Aku pasti bisa menemui Bu Mita! Kan kuiris kuping tukang nasi uduk ini kalau aku berhasil! Hheee.

***

            Sepanjang hari ini pikiranku tak menentu. Jauh di dalam kepalaku, si otak seperti sedang berjumpalitan menyusun strategi untuk dapat menemui Bu Mita. Sampai-sampai, hampir saja aku melakukan kesalahan dalam melayani pelanggan.

            “Tinggal berapa lagi sisa hutang saya, Bang?” Bu Dini menghamburkan lamunanku.

            “Dua juta lima ratus enam puluh ribu, Bu Dini,” jawabku ngasal.

            “Hush! Ngaco banget nih, Bang Pram. Jelas-jelas tagihan saya cuma dua ratus lima puluh ribu. Kok bisa-bisanya naik berpuluh-puluh kali lipat gitu? Coba cek lagi. Pasti salah,” sambarnya sewot.

            “Eh, iya. Maaf, maaf Bu. Yang benar cuma lima puluh tujuh ribu lagi. Hhheee.” jawabku mengoreksi.

            “Kalo saya tinggal berapa lagi, Bang Pram?” Bu Ani ikut-ikutan mengecek.

            “Bu Ani, ya? Hmmm, dua ratus sepuluh ribu lagi.” kataku ngasal lagi.

            “Masa, sih? Perasaan kemarin tinggal seratus ribu berapa, gitu,” katanya sewot.

            “Eh, salah lagi ya? Oh iya, yang benar seratus dua puluh tiga ribu lagi, Bu. Hhheee.”

            “Lagi kenapa sih, Bang Pram? Dari tadi nggak konsentrasi nih. Hati-hati, nanti pelanggan pada kabur, lho, kalo salah-salah terus.” Bu Dini menatap kasihan ke arahku.

            “Tau nih, Bang Pram. Biar kata cuma jadi tukang kredit, kudu propesional! Ada apaan sih, Bang Pram? Stres ya belum nikah-nikah sampai sekarang? Hhhiiii,” Bu Dini menimpali.

            “Bukan, Bu Ani. Bang Pram ini lagi pusing. Beberapa hari nagih ke rumah Bu Mita, tapi nggak pernah berhasil. Hhaaaa, makanya Bang Pram, orang kayak gitu jangan dikasih hati. Jadi tukang kredit juga kudu tegas! Nah, rasain deh tuh akibatnya.”

            Belum selesai pusing yang kursakan, ibu-ibu tukang gosip ini malah nambah mengompori. Baiklah, baiklah, baiklah, akan kubuktikan siapa Pramono sebenarnya. Aku pasti bisa menaklukkan Bu Mita. Huh!

***

            Selepas sholat isya, kembali kurebahkan badan di atas kasur yang lebih pantas disebut karpet ini. Kubuka BUCUR, kutumpahkan semua kedongkolan, dan mulai kufikirkan langkah-langkah untuk menaklukkan satu langganan paling menyebalkan: Bu Mita.

            “Ayo, Pram. Berfikir, berfikir, berfikir. Kau pasti bisa menyelesaikan ini!” kataku menyemangat-nyemangati diri sendiri. Namun sayangnya, hingga pukul satu pagi pun masih belum ketemu titik terang untuk menghadapi Bu Mita.

            Pukul 3.00, setelah dua rakaat tahajjud dan tiga rakaat witir, barulah titik terang itu menghampiri.

            “Aha! Aku tahu, aku tahu. Tak bisa lari dariku kau, Bu Mita!” teriakku dengan tangan meninju udara. Besok kan kujalani rencanaku. (bersambung)

 

Belajar Me-recycle Amarah

Alkisah, ada seorang supir taksi yang sedang mempercepat laju taksinya demi mengantar penumpang yang terburu-buru menuju bandara. Di satu pertigaan, set… muncul satu motor dari arah kiri dengan kecepatan cukup tinggi menerobos lampu merah. Wuss, lima senti lagi pintu depan taksi tersebut penyok!

Saat itu juga, keluarlah sumpah serapah dan berbagai nama penghuni kebon binatang dari mulut si pengendara motor. Bah, padahal dia yang salah, ya? Namun, coba tebak apa yang dilakukan si supir taksi? Membalas semua sumpah serapah itu kah? Atau keluar mobil dan langsung menghajar si pengendara motor saking emosi? Jawabannya,  sang sopir hanya membuka jendela, lalu melambaikan tangan sambil tersenyum manis ke arah pengemudi motor! Nah, lo?

Kamu kaget? Nida juga. Apalagi penumpang di belakang si supir. Kaget banget!

Sobat Nida, sebenarnya itulah yang dimaksud dengan kemampuan me-recycle amarah. Nggak cukup hanya dengan membuang amarah pada tempatnya ternyata. Ia juga kudu di-recycle atau didaur ulang, seperti halnya sampah fisik. Nggak percaya?

Begini deh, pernah lewat tempat pembuangan sampah atau TPS, donk? Menurutmu, TPS itu tempat yang tepat untuk sampah, nggak sih? Nggak lah, ya.. Dari aromanya yang tidak sedap saja sudah jelas apa yang terjadi dengan berbagai jenis sampah yang bercampur jadi satu tanpa pemilahan dan apa yang akan terjadi pada orang-orang yang berkutat di dalamnya. Apalagi dengan sampah plastik yang menggunung akibat tak mampu terurai dalam waktu cepat. Makanya, belakangan sudah mulai santer slogan go green dengan 3R (Recycle, Reduce, dan Reuse) dalam penanggulangan sampah.

Nah, mirip, persis dengan amarahmu yang akan menimbulkan aroma tak sedap alias penyakit dalam hatimu, walau pun sudah dibuang di tempat yang tepat. Nggak heran, suatu ketika ia dapat mencuat kembali saat kamu bersinggungan dengan apapun yang membuat amarahmu muncul ke permukaan. Makanya, lebih penting me-recycle amarah dibanding membuang amarah pada tempatnya, kan?

Anyway, beragam bentuk dihasilkan dari daur ulang sampah. Mulai dari tas, kertas, hingga patas. Hheee, maksa! Intinya, hasilnya dapat berbentuk apa pun yang positif alias bermanfaat buat manusia. Termasuk dapat mencegah penyakit yang disebabkan karena sampah.

Yep, seperti itu lah kurang lebih amarah yang mampu didaur ulang oleh tuannya. Ia akan berubah menjadi hal positif yang bermanfaat bagi manusia. Hatimu akan seperti pemandangan alam yang senantiasa hijau. Dan penyakit seperti darah tinggi, stroke, dengki, dll, bakal menjauh deh dari kehidupan kamu! Yuk, belajar me-recycle amarah dari supir taksi dari cerita di atas!

*sumber: http://www.annida-online.com/artikel-2709-yuk-belajar-merecycle-amarah.html

Resensi Film Rumah Tanpa Jendela

Judul          : Rumah Tanpa Jendela

Penulis       : Asma Nadia

Penerbit      : Kompas

Tahun terbit : 2011, Januari

Harga          : Rp. 68.000,-

 

Mimpi Kecil Gadis Berjiwa Besar

Jendela saja. Satu saja. Kecil saja. Titik! Hanya itu yang selalu diimpikan Rara, anak seorang pemulung di tengah ibu kota. Siang malam, saat sedang bersama keluarga maupun  teman-teman, hanya mampi satu itu yang terus ia bicarakan. Tak heran, beberapa teman dan orang tua temannya meledek habis-habisan mimpi Rara. Bukan tanpa sebab, untuk rumah mereka yang hanya terbuat dari tumpukan triplek dan kardus, menjadi hal yang sangat tidak urgent memiliki rumah berjendela.

Kejadian demi kejadian sedih menimpa Rara. Tidak hanya nyawa ibu tercinta dan adik yang masih dalam rahim ibunya yang turut hilang, tak lama berselang, Tuhan juga “memanggil” ayah Rara yang meninggal akibat kebakaran di lingkungan rumahnya. Namun, kesulitan selalu turun satu paket dengan kemudahan. Tanpa disengaja, kecelakaan kecil membawanya bertemu dengan seorang anak autis dari keluarga kaya raya, Aldo.

Walau pun menderita autis, Aldo sebenarnya anak yang baik hati. Namun ibu dan kakak perempuannya merasa malu memiliki anak dan adik authis seperti Aldo. Beruntung ia bertemu Rara dan teman-temannya yang tak pernah mempermasalahkan kelainan Aldo. Persahabatannya dengan Rara pun menjadi titik awal perubahan sikap kakak dan ibu Aldo. Mereka sudah tidak merasa malu lagi memiliki Aldo dalam keluarganya.

Novel keluarga! Itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan novel setebal 175 halaman ini. Semua anggota keluarga, ayah; ibu; adik; kakak; nenek; kakek; bahkan bibi; kudu baca novel satu ini. Untuk apa? Yep, untuk mengevaluasi sejauh mana kasih sayang kita terhadap anggota keluarga!

Novel yang dikembangkan dari cerpen Asma yang berjudul Jendela Rara, ini mengangkat tema yang sangat sederhana. Namun mampu membeberkan permasalahan di dua kelompok masyarakat Jakarta. Si kaya dengan ketidakbersyukurannya, dan si miskin dengan ketidakberdayaannya sebagai kaum papa. Akan kamu temukan cerita cinta, sedikit komedi, persahabatan, dan perjuangan, di dalamnya. So, siap-siap banyak nangis saking terharunya, deh!

Sebagai penulis yang telah lama malang melintang di dunia kepenulisan dan telah menerima berbagai penghargaan hingga tingkat Asia Tenggara, kemampuan Asma dalam novel ini benar-benar tidak diragukan lagi. Mendeskripsikan kehidupan orang kaya ibu kota, hampir semua penulis dapat melakukannya. Tapi mendeskripsikan kehidupan orang miskin ibu kota hingga mendetail, tak semua penulis dapat melakukannya. Dan Asma menjadi salah satu penulis yang dapat melakukannya, seolah-olah ia pernah mengalami bagaimana kehidupan keluarga Rara dan teman-temannya.

Kesabarannya dalam menyelipkan banyak kebaikan tanpa terkesan menggurui dan kecerdasannya mengungkap permasalahan sosial negeri ini, patut diacungi jempol. Apalagi wawasannya yang luas tentang autis, baik yang ia beberkan sendiri maupun dari mulut tokoh-tokoh di sekeliling Aldo. Sempurna!

Dari segi bahasa? Seperti yang sering diulang-ulang Asma, manfaat tulisan bagi pembaca lebih penting dibandingkan penggunaan kata yang nyastra. Jadi, buat yang mencari cerita dengan unsur sastra kental… Salah tempat, Jek! Tapi, buat yang mencari cerita sarat hikmah? Nggak salah baca buku ini!

Sayangnya, satu kelemahan novel ini. Alur campuran yang digunakan Asma, membuat pembaca harus berfikir ulang ketika masuk sub bab selanjutnya. Ya, walau pun tidak separah novel best seller Laskar Pelangi yang juga sering melompat-lompat dalam bercerita. Namun, seandainya cerita dikemas dalam bentuk tulisan yang mengalir tanpa harus tiba-tiba membahas satu orang atau satu kejadian berbeda di tengah cerita, pasti akan lebih maknyuz.

Overall, novel ini benar-benar layak deh untuk dibaca. Seperti telaga di tengah keringnya bacaan bermutu, terutama untuk anak-anak, akhir-akhir ini. Benar-benar nggak akan menyesal, deh, beli bukunya! [nurjanah]