balada Tukang Kredit (Part 2)

“Ooo, tidak bisa…!” setengah bercanda setengah dongkol, kuladeni permintaan Bu Mita sambil mengambil kembali satu per satu barang-barang daganganku yang kini berada di genggamannya.

            Tanpa tedeng aling-aling, seperti pemiliknya, Bu Mita merampas kembali barang-barang tersebut dengan kekuatan tubuhnya yang memang lumayang berisi.

            “Percaya deh, Bang Pram. Bakal saya lunasin semuanya dalam tempo satu bulan. Pokoknya, saya ambil magic com, blender, dan piring satu lusin. Catat, ya…” langsung saja, tanpa banyak ba-bi-bu, Bu Mita ngeloyor meninggalkanku dan gerobak kecilku.

            “Eh eh, Bu Mita… Bu Mita… Tunggu, tunggu,” apa daya, tak sanggup ku mengejarnya dengan gerobak penuh berisi barang. Hanya mengelus dada sambil memble yang bisa kulakukan.

***

            Masih dengan hati dongkol dan tubuh kecut karena seharian menantang matahari, kurebahkan diri di kamar kontrakan seluas 5×6 meter ini. Kulihat lagi buku kecil dekil plus kumel berisi catatan kredit para pelanggan. Kubolak-balik halaman demi halaman yang formatnya selalu sama: nama, tanggal, dan rincian sisa tagihan. Entah siapa yang mengomandoi, langsung saja mataku menatap liar mencari nama Bu Mita. Kupandangi beberapa detik hingga satu per satu bulir hangat turun dari dua bola mataku. Aih, cengeng bener Pramono, batinku.

            Gantian, kuambil buku lain dari balik satu-satunya bantal yang ada di kamarku. Seperti biasa, ketika emosi sedang memuncak, segera kumuntahkan apa yang kurasakan dalam bentuk tulisan. Alhamdulillah, selalu ada ketenangan setelahnya.

            “Ya Rabb.. Harus seperti inikah nasib kaum kecil sepertiku? Hidup susah, tertindas, tak berdaya… Ah, persetan dengan semuanya! Hanya mengeluh saja yang kubisa. Syukuri, syukuri, syukuri, Pram!” begitu akhir tulisanku hingga mata ini terpejam.

***

            Ritual pagi selesai! Diawali dengan beres-beres rumah, dan diakhiri dengan sholat Dhuha empat rakaat, kusiapkan diri untuk terus mencari pintu-pintu rezeki. Bismillahi tawakkaltu, kudorong keluar gerobak dari gang sempit kontrakanku.Tak pernah bosan kucari gang-gang baru ibu kota. Namun hingga sore hari, belum ada satu pun ibu-ibu yang mau mengkredit barang kepadaku.

            Setelah merasa berjalan cukup jauh, dan hanya berhasil mengumpulkan uang tagihan ke beberapa ibu di kampung yang berbeda, kuputuskan untuk langsung ke rumah Bu Mita. Butuh kira-kira setengah jam perjalanan menuju rumahnya yang terletak di Gang Sayur Asem.

            “Assalamualaikum. Bu Mita..”  dari celah pintu yang terbuka sedikit, kucoba memanggilnya. Butuh beberapa kali panggilan hingga Susi, anak semata wayang Bu Mita menyahuti panggilanku.

            “Eh, Bang Pram. Nynyaari Ibbbu, ya?” tanyanya gugup.

            “Iya, Dek Susi. Ibu ada? Tolong panggilin, ya… Ada Bang Pram bilang,” kataku berusaha ramah.

            “Eee… Kata Ibu, Ibbu lagi kkke warung se sebentar,” gadis yang aneh menurutku. Cantik tapi lugu!

            “Ooo, sebentar, kan? Neper maind, Its OK. Bang Pram tungguin deh..”

            “Eh, jjangan, Bang. Nanti kalo Ibu lama, gimana?”  Susi mulai tampak resah. Matanya berusaha meyakinkanku untuk segera pulang.

            “Lho, tadi katanya sebentar? Nggak apa-apa, abang tungguin sampai maghrib. Kebetulan udah selesai kelilingnya,” mulai naik kejengkelanku menghadapi Susi.

            “Eh, oh.. Iya, ttunggu di luar aja ya, Bang,” kata Susi segera masuk tanpa mempersilakanku duduk atau mengambilkanku bangku. Terlalu! Pikirku.

            Sambil menunggu Bu Mita, kuperhatikan perabot-perabot yang terlihat dari balik kaca rumah itu. Beberapa menit, kutarik kesimpulan sementara: sepertinya Bu Mita ini orang yang cukup berada. Beberapa guci, jam antik, dan perabot lain yang semua terlihat kinclong.

            Satu jam, satu jam setengah, dua jam, masih belum tampak batang hidung Bu Mita. Astaga, aku belum sholat Ashar! Kuputuskan untuk ke musholla menunaikan sholat ashar sebentar yang sengaja kutunda demi bertemu Bu Mita.

            Air wudhu memang bikin segar. Kurasakan kesegaran melingkupi seluruh tubuh, yang sayangnya kembali sirna setelah memasuki gerbang kecil rumah Bu Mita. Masih tak ada tanda-tanda kehadiran Bu Mita di rumahnya.

            Tubuhku lemas.

            Jengkel, kesal, berbaur dalam hatiku. Hingga lima belas menit menjelang maghrib, ah, seperti yang sudah kuduga. Janjinya meleset terus. Lebih baik besok kudatangi lagi saja, besok, batinku.

***

            Gang Sayur Asem.

            Tepat pukul 9 kurang 15 menit, kakiku sudah menyatroni rumah Bu Mita. Tak kuhiraukan dering perut kosong karena belum sarapan. Langsung saja kuketuk pintu yang masih tertutup rapat itu.

            Tok tok tok..

            “Assalamualaikum.”

            Butuh waktu sepuluh menit hingga ada penghuni rumah yang menyambutku. Seorang laki-laki paruh baya berbadan besar, berkepala plontos, gigi tonggos, dan satu tattoo naga besar di lengan kanannya, membukakan pintu.

            “Assalamualaikum, Pak. Ssssaya Pppramono,” inilah efek belum sarapan, bertamu pagi buta ke rumah orang, dan disambut oleh mahluk mengerikan. Seketika nyaliku menciut, gagap menggerayangiku.

            “Saya nggak nanya. Ada perlu apa?” seperti sedang berbicara dengan benda mati, galak benar laki-laki di hadapanku.
            “Bbbu Mita nya ada?”

            “Ada perlu apa?”

            “Saya mmmaaau menagih kkkkreditan Bu Mita, Pppak.”

            “Bu Mita nya nggak ada. Lagi ke pasar!”

            “Oh, begitu ya, Pak? Kapan pulangnya, Pak?” Alhamdulillah, berdzikir dalam hati menghancurkan lidah yang kelu.

            “Nggak tahu!”

            “Baiklah, Pak. Tolong sampaikan ke Bu Mita, nanti saya ke sini lagi. Terima kasih, Pak.”

            Tidak ada anggukan dan kawan-kawannya tanda meng-iya-kan, lelaki itu masuk ke dalam rumahnya. Tak mau menambah pusing, kutinggalkan rumah Bu Mita.

            Panggilan alam memerintahkan kakiku untuk menuju warung nasi uduk di samping rumah Bu Mita.

            “Abis nagih kredit di rumah Bu Mita, ya Bang?” ganggu penjual nasi uduk.

            “Eh, iya Bu.” rasa lapar membuatku agak malas menjawab pertanyaannya.

            “Emang begitu, Bang, ” sambungnya lagi. “Tiap hari banyak juga tukang kredit yang nagih ke rumah Bu Mita, tapi nggak ada yang berhasil ketemu. Selalu begitu. Kalau bukan anaknya yang sok bego, pasti suaminya yang sok galak yang bukain pintu. Sekeluarga sama aja!” katanya mencibir.

            “Masa sih, Bu?” omongannya kali ini benar-benar menghilangkan konsentrasi makanku.

            “Masa saya bohong, sih Bang? Coba saja besok ke sini lagi. Saya jamin, Bu Mita nggak ada lagi. Iris kuping saya, kalau besok abang ketemu Bu Mita,” hilang sudah laparku mendengar ucapan tukang nasi uduk.

            Masa iya, sih, Bu Mita seperti itu? Baiklah, akan kubuktikan omongannya. Aku pasti bisa menemui Bu Mita! Kan kuiris kuping tukang nasi uduk ini kalau aku berhasil! Hheee.

***

            Sepanjang hari ini pikiranku tak menentu. Jauh di dalam kepalaku, si otak seperti sedang berjumpalitan menyusun strategi untuk dapat menemui Bu Mita. Sampai-sampai, hampir saja aku melakukan kesalahan dalam melayani pelanggan.

            “Tinggal berapa lagi sisa hutang saya, Bang?” Bu Dini menghamburkan lamunanku.

            “Dua juta lima ratus enam puluh ribu, Bu Dini,” jawabku ngasal.

            “Hush! Ngaco banget nih, Bang Pram. Jelas-jelas tagihan saya cuma dua ratus lima puluh ribu. Kok bisa-bisanya naik berpuluh-puluh kali lipat gitu? Coba cek lagi. Pasti salah,” sambarnya sewot.

            “Eh, iya. Maaf, maaf Bu. Yang benar cuma lima puluh tujuh ribu lagi. Hhheee.” jawabku mengoreksi.

            “Kalo saya tinggal berapa lagi, Bang Pram?” Bu Ani ikut-ikutan mengecek.

            “Bu Ani, ya? Hmmm, dua ratus sepuluh ribu lagi.” kataku ngasal lagi.

            “Masa, sih? Perasaan kemarin tinggal seratus ribu berapa, gitu,” katanya sewot.

            “Eh, salah lagi ya? Oh iya, yang benar seratus dua puluh tiga ribu lagi, Bu. Hhheee.”

            “Lagi kenapa sih, Bang Pram? Dari tadi nggak konsentrasi nih. Hati-hati, nanti pelanggan pada kabur, lho, kalo salah-salah terus.” Bu Dini menatap kasihan ke arahku.

            “Tau nih, Bang Pram. Biar kata cuma jadi tukang kredit, kudu propesional! Ada apaan sih, Bang Pram? Stres ya belum nikah-nikah sampai sekarang? Hhhiiii,” Bu Dini menimpali.

            “Bukan, Bu Ani. Bang Pram ini lagi pusing. Beberapa hari nagih ke rumah Bu Mita, tapi nggak pernah berhasil. Hhaaaa, makanya Bang Pram, orang kayak gitu jangan dikasih hati. Jadi tukang kredit juga kudu tegas! Nah, rasain deh tuh akibatnya.”

            Belum selesai pusing yang kursakan, ibu-ibu tukang gosip ini malah nambah mengompori. Baiklah, baiklah, baiklah, akan kubuktikan siapa Pramono sebenarnya. Aku pasti bisa menaklukkan Bu Mita. Huh!

***

            Selepas sholat isya, kembali kurebahkan badan di atas kasur yang lebih pantas disebut karpet ini. Kubuka BUCUR, kutumpahkan semua kedongkolan, dan mulai kufikirkan langkah-langkah untuk menaklukkan satu langganan paling menyebalkan: Bu Mita.

            “Ayo, Pram. Berfikir, berfikir, berfikir. Kau pasti bisa menyelesaikan ini!” kataku menyemangat-nyemangati diri sendiri. Namun sayangnya, hingga pukul satu pagi pun masih belum ketemu titik terang untuk menghadapi Bu Mita.

            Pukul 3.00, setelah dua rakaat tahajjud dan tiga rakaat witir, barulah titik terang itu menghampiri.

            “Aha! Aku tahu, aku tahu. Tak bisa lari dariku kau, Bu Mita!” teriakku dengan tangan meninju udara. Besok kan kujalani rencanaku. (bersambung)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s