dipuji, walaupun cuma lewat kata.. bikin semangat polll! :P

Iklan

Rahasia Ubun Ubun Dalam Al Qur’an


Pertaaaaama kali buat Blog, gue udah bertekad untuk hanya memasukkan tulisan2 pribadi ke dalam blog ini. Beberapa orang teman sudah menggoda untuk memasukkan apa pun yang bermanfaat ke dalam blog. Untuk menyebarkan kebaikan, katanya. Tapi tetep, tekad gue masih belum goyah. Bikin blog cuma buat tulisan pribadi!

Semakin ke sini, tepatnya semakin sering berselancar di dunia maya, berkunjung dari satu situs ke situs lain, menelusuri situs-situs yang ada, beuuuuuh. Tekad gue sudah goyah! Tergoda juga untuk memasukkan satu artikel bagus tentang ubun-ubun.

Mungkin sebagian orang bilang nggak penting, tapi menurut gue ini penting buanggetz! Karena setelah bertahun-tahun gue mempertanyakan banyak hal tentang kata ubun-ubun yang suka dipakai Rasul dan disebutkan juga dalam Qur’an, akhirnya gue temukan jawabannya dalam artikel ini.

Buat loe-loe pada yang suka bertanya-tanya atau pernah dengar Rasul bilang gini: “demi Dzat yang ubun-ubunku berada dalam genggamannya, etc” atau pernah baca terjemahan Qur’an yang menggunakan kata ubun-ubun, misal: “(yaitu) ubun-ubun orang yang durhaka lagi mendustakan” (Q.S Al-‘Alaq: 16), ini dia jawabannya…

Aheeeeeyyy!
Selamat menikmati 🙂

Gambaran otak manusia bagian depan yang disebut Allah dalam Al Qur’an Al Karim dengan kata nashiyah (ubun-ubun). Al-Qur’an menyifati kata nashiyah dengan kata kadzibah khathi’ah (berdusta lagi durhaka). Allah berfirman, “(Yaitu) ubun-ubun yang mendustakan lagi durhaka.” (Al-‘Alaq: 16). Bagaimana mungkin ubun-ubun disebut berdusta sedangkan ia tidak berbicara? Dan bagaimana mungkin ia disebut durhaka sedangkan ia tidak berbuat salah?

Prof. Muhammad Yusuf Sakr memaparkan bahwa tugas bagian otak yang ada di ubun-ubun manusia adalah mengarahkan perilaku seseorang. “Kalau orang mau berbohong, maka keputusan diambil di frontal lobe yang bertepatan dengan dahi dan ubun-ubunnya. Begitu juga, kalau ia mau berbuat salah, maka keputusan juga terjadi di ubun-ubun.”

Kemudian ia memaparkan masalah ini menurut beberapa pakar ahli. Di antaranya adalah Prof. Keith L More yang menegaskan bahwa ubun-ubun merupakan penanggungjawab atas pertimbangan-pertimbangan tertinggi dan pengarah perilaku manusia. Sementara organ tubuh hanyalah prajurit yang melaksanakan keputusan-keputusan yang diambil di ubun-ubun.

Karena itu, undang-undang di sebagian negara bagian Amerika Serikat menetapkan sanksi gembong penjahat yang merepotkan kepolisian dengan mengangkat bagian depan dari otak (ubun-ubun) karena merupakan pusat kendali dan instruksi, agar penjahat tersebut menjadi seperti anak kecil penurut yang menerima perintah dari siapa saja.

Dengan mempelajari susunan organ bagian atas dahi, maka ditemukan bahwa ia terdiri dari salah satu tulang tengkorak yang disebut frontal bone. Tugas tulang ini adalah melindungi salah satu cuping otak yang disebut frontal lobe. Di dalamnya terdapat sejumlah pusat neorotis yang berbeda dari segi tempat dan fungsinya.

Lapisan depan merupakan bagian terbesar dari frontal lobe, dan tugasnya terkait dengan pembentukan kepribadian individu. Ia dianggap sebagai pusat tertinggi di antara pusat-pusat konsentrasi, berpikir, dan memori. Ia memainkan peran yang terstruktur bagi kedalaman sensasi individu, dan ia memiliki pengaruh dalam menentukan inisiasi dan kognisi.

Lapisan ini berada tepat di belakang dahi. Maksudnya, ia bersembunyi di dalam ubun-ubun. Dengan demikian, lapisan depan itulah yang mengarahkan sebagian tindakan manusia yang menunjukkan kepribadiannya seperti kejujuran dan kebohongan, kebenaran dan kesalahan, dan seterusnya. Bagian inilah yang membedakan di antara sifat-sifat tersebut, dan juga memotivasi seseorang untuk bernisiatif melakukan kebaikan atau kejahatan.

Ketika Prof. Keith L Moore melansir penelitian bersama kami seputar mukjizat ilmiah dalam ubun-ubun pada semintar internasional di Kairo, ia tidak hanya berbicara tentang fungsi frontal lobe dalam otak (ubun-ubun) manusia. Bahkan, pembicaraan merembet kepada fungsi ubun-ubun pada otak hewan dengan berbagai jenis. Ia menunjukkan beberapa gambar frontal lobe sejumlah hewan seraya menyatakan, “Penelitian komparatif terhadap anatomi manusia dan hewan menunjukkan kesamaan fungsi ubun-ubun.

Ternyata, ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengarauh pada manusia, sekaligus pada hewan yang memiliki otak. Seketika itu, pernyataan Prof. Keith mengingatkan saya tentang firman Allah, “Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Hud: 56)

Beberapa hadits Nabi SAW yang bericara tentang ubun-ubun, seperti doa Nabi SAW, “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu…”

Juga seperti doa Nabi SAW, “Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan setiap sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya…”

Juga seperti sabda Nabi SAW, “Kuda itu diikatkan kebaikan pada ubun-ubunnya hingga hari Kiamat.”

Apabila kita menyandingkan makna nash-nash di atas, maka kita menyimpulkan bahwa ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengendali perilaku manusia, dan juga perilaku hewan.

Source :  http://situslakalaka.blogspot.com

Astaghfirullah, Aku Gagal Lagi!

KALAU gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang…  Aku meninggalkan apa, ya? Begitulah kira-kira satu pertanyaan yang terus bergelayut di kepalaku, ketika baru saja menginjak semester akhir di masa kuliah dulu.  Apa yang dapat kubanggakan sebelum meninggalkan kampus tercinta?
Indeks Prestasi Kumulatif di atas tiga, sih, tapi itu mah masih standar dibandingkan dengan teman lain yang seangkatan. Organisasi yang kuikuti juga tidak dapat terlalu dibanggakan, karena selama hampir empat tahun, hanya satu organisasi yang kuikuti: Rohis Fakultas! Yah, walaupun dapat merasakan  “jenjang karir” juga di dalamnya. Diawali dengan staf, deputi, ketua keputrian, hingga majelis pertimbangan. Yep, hanya  “jenjang karir” itu yang dapat kubanggakan.
Aaarrrggghhh… Aku merasa masih belum puas. Bukan itu yang kukejar ketika menjadi calon mahasiswa dulu, yakni menorehkan prestasi di bidang akademik! Tepatnya menjadi mahasiswa berprestasi, minimal tingkat fakultas. “POKOKNYA, AKU HARUS MENJADI MAHASISWA BERPRESTASI!” begitu tulisku di buku mimpiku.
***
Januari 2008
UNFORGOTABLE year! Benar-benar menjadi tahun paling berkesan sepanjang hidupku. Pasalnya, cukup banyak prestasi gemilang yang berhasil kutoreh–dengan izin Allah dan bantuan teman-teman pastinya—walaupun cita-cita untuk menjadi mahasiswa berprestasi masih belum kesampaian di tahun ini.
Di awal tahun itu, aku ditunjuk menjadi ketua keputrian Rohis fakultas. Bukan tugas yang ringan, karena harus mengkordinir hampir seratus muslimah yang tergabung di dalamnya, dan harus mampu menjadi teladan untuk muslimah se-seantero kampus. Dengan bismiLlah dan sedikit nangis Bombay saat serah terima amanah, aku ambil kesempatan ini.
Di awal kepengurusan, bersama sang ketua, kami bertekad memajukan prestasi keilmuan semua anggota Rohis. Untuk mencapai itu, so pasti harus dimulai dari pemimpinnya dulu, bukan? Akhirnya, dengan semangat membara, kuajak dua orang anggota Rohis yang menurutku memiliki semangat berprestasi untuk mengikuti lomba penulisan karya tulis ilmiah tingkat Universitas.
Dua minggu kurang kami habiskan untuk berdiskusi hingga bermalam di salah satu kost-an kami. Namun, sepertinya niatku untuk ikut lomba masih belum lurus—menggugurkan kewajiban sebagai pioneer prestasi di Rohis, hingga kami dinyatakan tidak lolos ke tahap presentasi. Sedih? Sedikit…
Ada lagi yang lebih membuatku sedih, yakni karena waktu lomba yang kuikuti berbarengan dengan pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat fakultas, aku pun tidak punya waktu banyak untuk mempersiapkan pemilihan mahasiswa berprestasi. Ini berarti, satu kesempatan telah hilang untuk merealisasikan mimpiku di awal kuliah dulu. Tinggal satu tahun kesempatanku untuk meraih mimpiku. Yakni di tahun depan, tepatnya semester delapan, yang berbarengan dengan waktu magang dan skripsi. Mungkinkah aku dapat…?
***

Februari 2008
LAGI, Allah memberi kejutan. Seorang kakak kelas mencari partner untuk mengikuti lomba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional. Dengan izin-Nya, aku dipertemukan dengan si kakak. Berlima kami mengajukan proposal PKM bidang pemberdayaan masyarakat(PKMM), yang langsung dinyatakan lolos tahap pertama. Kami pun diberi dana untuk merealisasikan program yang telah dibuat. Dan, di tengah perjalanan, melihat keberlangsungan program kami, lagi-lagi kelompokku dinyatakan lolos tahap selanjutnya. Angin segar menghampiri kelompokku. Kami dinyatakan sebagai satu-satunya kelompok PKMM mewakili universitas sampai ke tingkat nasional. Spektakuler!
Pertengahan Juli, rombongan kelompok Universitasku berangkat ke Semarang (Unisilla) untuk mempresentasikan program yang telah dijalankan di hadapan peserta lain dari seluruh universitas se-indonesia. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan yang terbaik demi mengharumkan almamater. Tapi sayang, kali ini angin segar tidak menghampiri kelompokku. Kami pun harus berpuas diri pulang dengan hanya membawa predikat peserta.
Sedih? So pasti, tapi jika dibandingkan dengan pengalaman dan semangat yang kudapatkan selama bertanding di sana, lebih dari cukup lah untuk mengganti kesedihan dengan semangat membara mengikuti lomba yang sama di tahun berikutnya. Ya, aku telah bertekad untuk menebarkan semangat ini dengan mengajak adik kelas yang lain untuk menyicipi pertarungan berskala nasional!
***
Desember 2008
COBA lagi! Sesuai janjiku dulu di Semarang, aku pun merekrut tiga adik kelas untuk mengikuti PKM tahun 2009. Hampir satu bulan kami mengerjakan proposal, survey tempat bersama, hingga penyelesaian yang berhasil kami serahkan di hari akhir. Dengan snagat pede kukatakan kepada seluruh anggota kalau kelompokku pasti akan lolos dengan mulus!
Begitulah kesombongan yang hanya milik Allah. Setelah berani mendahului takdir, walaupun hanya dalam bentuk ucapan. Hasilnya, kelompokku dinyatakan tidak lolos! Antara sedih dan malu dengan anggota kelompok, kuterima hasil itu. Dan sebagai ketua yang sok bijak, kusarankan kepada mereka untuk mengikuti lomba ini di tahun selanjutnya.
***
Januari 2009
HOPELESS! Memasuki semester terakhir dengan beban magang dan skripsi, rasanya tak mungkin mengikuti ajang pemilihan mahasiswa berprestasi. Namun, di hari ulang tahun ke 21, satu orang teman di Rohis memberikan satu buku motivasi Solikhin Abu Izzuddin: Deadline Your Life, yang tak kusangka dan kunyana, ada ‘udang’ di balik pemberian buku tersebut. Beberapa hari setelah diberikannya buku, ia pun menyemangatiku untuk ikut pemilihan mapres. Eh, lebih tepatnya memintaku mewakili Rohis dalam pemilihan mapres.
Tanpa ragu ku-iya-kan permohonannya. Tak kuhiraukan bagaimana sulitnya membagi waktu antara pelaksanaan magang, persiapan skripsi, dan mengumpulkan bahan untuk membuat makalah sebagai salah satu syarat dalam ajang mapres.
Seminggu berjalan, perlahan dengan sengaja kutinggalkan magang yang sudah separuh berjalan. Tak ketinggalan dengan proposal skripsi yang juga ku-stop demi mengejar target proposal mapres. Dari pagi sampai menjelang maghrib, kuhabiskan waktu di depan laptop. Beberapa kali mencari data di perpustakaan dan sumber langsung. Waktu itu aku mengambil tema tentang bahaya rokok pada anak, so, KOMNAS PA lah pilihan yang tepat untuk mencari data lengkap.
Alhamdulillah, semua data kudapatkan. Hanya saja, karena terbiasa membuat makalah lomba dalam tim, dan kini harus membuat makalah seorang diri, yang nantinya akan dipresentasikan di hadapan juri dan seluruh mahasiswa se-fakultas, membuatku agak kesulitan. Sampai akhirnya, di detik terakhir, dengan terseok-seok kukumpulkan juga makalah tersebut.
Tak lama berselang dari penyerahan, waktu untuk mempresentasikan pun tiba. Sudah kusiapkan sebaik-baiknya—dengan bantuan beberapa teman–mulai dari power point, teknik presentasi, sampai bahasa latihan berbicara dengan bahasa inggris, kulakoni hingga pukul dua malam!
Di hari H, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kelancaran lisanku saat presentasi dan sesi tanya jawab. Namun, kusadari banyak kelemahan dari makalah yang kupresentasikan. Bahkan, salah satu juri yang tak lain dan tak bukan adalah pembimbing skripsiku pun mencela habis makalahku. Akhirnya, di hari pengumuman kuterima juga hasil yang sangat tidak memuaskan. Menempati urutan ke-enam dari tujuh peserta!
Bukan main sedihnya saat itu hingga beberapa hari ke depannya. Apalagi mengingat teman-teman yang sepanjang proses pembuatan makalah kudukung penuh dan kusemangat-semangati malah posisinya lebih baik di atasku! Ucapan setan sedikit menyusup dalam hati. Tak habis-habisnya kubandingkan presentasiku dengan teman-teman lain. “Inni khoirum minhu!” kataku dalam hati.
Untungnya, satu orang  teman baik selalu menyemangatiku dengan sms-sms taushiahnya, yang  salah satunya berhubungan dengan keikhlasan. Itulah yang benar-benar membuatku tersadar. Ternyata, niatku dalam mengikuti ajang mapres bukan karena Allah dan merealisasikan cita-citaku menjadi mapres. Namun lebih kepada mewakili Rohis. Akan kulakukan yang terbaik demi mengharumkan nama Rohis. Niat yang kurang tepat, bukan?
Setelah itu, aku pun mulai bangkit untuk menyelesaikan magang dan skripsi yang beberapa minggu kemarin kuabaikan. Lagi, kuhabiskan hari-hari di tempat magang dan perpustakaan. Tak lupa juga beberapa hari sekali menghadap ke dosen pembimbing yang kemarin menjadi salah satu juri dalam pemilihan mapres.
Terkait pembimbingku ini, ada satu cerita yang berkaitan dengan ajang pemilihan mapres kemarin. Walaupun mendapat hasil yang sangat tidak memuaskan dan makalahku dicaci maki habis-habisan di depan seluruh hadirin. Namun, sejak saat itulah pembimbingku yang tadinya cukup killer, berubah sikap menjadi lebih lunak. Menurut dua teman lain yang satu bimbingan dengannya, ia selalu membanggakan diriku di hadapan mereka. Sampai-sampai satu orang kesal denganku, karena hasil akhir skripsinya lebih rendah dariku.
Bukan hanya mendengarkan dari orang lain, aku pun juga merasakan hal serupa. Walaupun saat bimbingan sikapnya masih sama: dingin. Namun, saat presentasi magang dan skripsi, ia sangat membelaku di hadapan penguji lainnya. Bahkan, aku mendapat nilai akhir yang sangat sangat memuaskan di semester tersebut.  Ia member nilai A untuk magang dan skripsiku.
***
Januari 2010
MASIH dengan tema yang sama. Ajang pemilihan mapres. Memang aku sudah lulus, namun namaku masih disebut-sebut di ajang tersebut. Menurut kabar dari seorang adik kelas yang mengikuti ajang tersebut, dosen pembimbingku yang menjadi juri lagi di tahun tersebut, terus membangga-banggakanku di hadapan peserta dan hadirin semua.
Dari situ aku sadar. Memang Allah tidak pernah melihat hasil, karena hasil adalah bonus saja darinya. Tapi, ia begitu sangat menghargai usaha dari hambanya. Kalaupun ia tidak memberikan balasan di saat yang kita harapkan, suatu ketika. Bahkan satu tahun setelah kesedihan paling parah dalam hidupku, ia masih menghargai usahaku dulu.

*ceritanya mau ikut lomba, eh malah lupa dikirim 😦