Badminton Emang Nggak Pernah Monoton

Gawat gawat gawat, gajah makan kawat!

Masa’ ya, sekarang Sabtu sudah tergeserkan sama Jumat sebagai hari paling cepecial dan paling dinanti! Oh no… bisa-bisa diomelin Ustadzah, nih… Bandel! Tapi tenang aja, cuma tergeserkan satu peringkat doank kok, di urutan ke-dua. Beda lima tingkat sama Senin yang berada di posisi paling buncit. *he, tangga lagu, kaleee’?

Yah, begitu deh kalau udah berhubungan sama apapun yang namanya olah fisik, jingkrak-jingkrakan, olah raga, dan kawan-kawannya. Bawaannya heppiiiii pangkat tiga! Mungkin ini salah satu bawaan lahir lanjutan. Sebelumnya, kata Emak dan beberapa kakak gue, waktu lahir tuh seluruh badan gue dipenuhi dengan bulu-bulu halus. Kalau kakak gue bilang sih mirip salah satu hewan berawalan M berakhiran T (emang sial tuh orang!). Nah, mungkin ini efek lanjutan setelah gedenya. Bulunya ilang, doyan jejingkrakannya masih nempel. He, nggak apa lah, asal jangan kelakuannya aja yang sama, tul nggak?

Dua bulan ini nih yey, sejak ada program baru di kantor tentang jadwal olah raga bersama tiap Jumat, tiap Senin menjelang, yang paling dinanti-nanti pasti hari Jumat! Kalau Rabu udah suntuk sama kerjaan, pelipur laranya ya cuma Jumat! Detik-detik menjelang Jumat so pasti senantiasa menggila tralala!

Olah raga emang nggak pernah ngebosenin. Apalagi olah raga bulu tangkis alias badminton. Bikin addict banget! Emang olah raga yang truly Indonesia, deh… Prok prok prok.

Jadi keingetan… Dulu, waktu jaman SD, gue tinggal di rumah kakak yang punya empat anak cewek dan rumahnya itu dijadiin kost-kost-an putri gituh. Kalau lagi musim-musimnya pertandingan badminton, beuuuuhh… kita pasti pada nonton berjamaah di depan teve. Ada kali teve 20inch dikerubungin 15 orang. Dan satu kata buatan kita yang paling keingetan sampe sekarang ialah “pinse bolse” aka pindah bola. Hhiii. Pokoknya rempong banget dah kalau anak cewek yang nonton. Rraammme’!

Sampai sekarang pun nggak jauh beda. Kalau lagi nonton badminton berdua sama si Babeh, pasti rame-rame sendiri gituh. Yang ujung-ujungnya bakal ditinggalin pergi sama Babeh. Nonton berdua udah kayak nonton se-RT, katanya. Hhiii, lebay banget tuh, Babeh!

Balik lagi. Setelah belasan tahun hanya mampu menjadi penonton setia badminton, alhamdulillahnya sekarang udah naik grade jadi pemain di lapangan, nih. Bahkan udah tanding 4 setangah kali dobel tim (walaupun cuma setingkat kantor gue) dengan 1 setangah kali menang tiga kali kalah. Heh, kok bisa? Begini nih ceritanya…

Di pertandingan pertama antara ruangan gue lawan ruangan sebelah. Sebutlah tim Adik melawan tim Kakak. Perjanjiannya, kalau tim Adik yang menang, nama perusahaan tempat gue bekerja bakal diubah dari nama tim Kakak menjadi tim Adik (jangan nanya apa nama perusahaanya, pliz..! ^^).
Dengan sekuat tenaga, gue yang tergabung dalam tim Adik, jor-joran ngelawan tim Kakak. Beuh, tim Kakak isinya orang-orang kelas Berat semua! Smash-annya manteb-manteb. Tehnik permainannya juga okeh punya. Nggak heran kalau tim Adik berhasil MENANGgung kekalahan di pertandingan pertamanya. Tim Adik dengan amat sangat lapang dada menerima kenyataan pahit ini. Emang dasar Mamih kita belum redho’ kali ye, kalau nama perusahaan diubah jadi nama tim Adik… 😛

Di pertandingan ke-dua, lagi digelar pertandingan antara tim Kakak melawan tim Adik dengan kesepakatan yang sama. Hasilnya pun juga sama. Tim Adik masih belum mampu menghancurkan ketangguhan tim Kakak. Ya, nasib..! Lagi-lagi tim Adik bersuuzhon, emang masih belum dapet redho’ dari Mamih, sih… makanya kalah lagi.

Nah, di pertandingan ke-tiga, tim Kakak nggak ada yang bisa dateng dikarenakan sedang digerayangin oleh satu mahluk bernama Deadline! Akhirnya, dengan sedikit kecewa karena dendam kekalahan yang membara, kali ini tim Adik harus berhadapan dengan tim Embah. Alhamdulillah kemenangan berhasil diraih oleh tim Adik dengan skor 2-0. Tapi, kalau difikir-fikir, kemenangannya kurang elit! Secara lawannya tim Embah yang secara fisik juga berada jauh di bawah tim Adik. Jadi, kurang bisa dibanggain lah kemangan kali ini.

Nah, Jumat ini berlangsung pertandingan ke-empat dan ke-empat setangah. Kali ini nggak ada perjanjian apa pun karena yang main juga campuran. Tim Adik melawan tim Kakak digabung dengan tim Embah. Yang ini lebih memalukan, karena lagi-lagi tim Adik harus mengakui keunggulan tim Kakak+Embah. Dan hikmah yang bisa diambil ialah, emang fisik nggak bisa dijadiin alesan menang-kalah, ye..?

Dan yang paling menggembirakan (buat gue) pun tiba. Setalah pertandingan ke-empat selesai, tanpa istirahat, segera dilanjutkan dengan pertandingan ke-lima. Berhubung waktunya sudah habis, pertandingan pun hanya berlangsung sampai setengah main saja. Yang ini lumayan deh buat gue, karena di pertandingan kali ini, tim Adik dipecah dan gue berpartner dengan tim Embah. Dan hasilnya, tarrraaa… bersama Embah, gue raih kemenangan. Ihiiiyy!
Yah, walaupun kemenangannya kurang elit juga. Cuma setangah pertandingan, gituh…!

Tapi gue tetap senang. Biar kata kebanyakan kalahnya, proses learning by doing-nya oke punya. Pertama banget, kira-kira sebulan berjalan olah raga badminton sekantor ini, gue cuma bisa ngebalikin kok ke lawan. Itu pun tanpa pake ilmu, asal bisa balikin kok, seneng bukan kepalang dah rasanya! Padahal bolanya mah ngambang terus. *di bulan pertama ini gue mendapat smash-an terus yang bertubi-tubi, terutama dari tim Kakak.

Nah, memasuki bulan ke-dua, gue mulai belajar sedikit demi sedikit. Istilah kasarnya, mulai bermain pakai otak. Beberapa kali konsultasi ke Babeh, akhirnya gue dapetin kenyataan kalau gue emang nggak jago nye-mesh. Kalau kata Babeh, permainan gue nggak bertenaga, nggak pake power! *keren kan bahasa Babeh gue..!

Dan memasuki pertengahan bulan ke-dua, gue dapati lagi kenyataan kalau gue lebih nyaman bermain netting ketimbang nye-mesh. Gue asah deh sedikit demi sedikit kemampuan netting. Dengan sedikit tipuan gerakan, angkat raket seakan-akan mau me-nye-mesh, tahan sepersekian detik kok di raket, dan langsung gue kembalikan kok dengan ayunan ringan mendekati net. Dan hasilnya, wew… tenaga nggak banyak kebuang, permainan pun terlihat lebih cantik nan gemulai. *ini nari apa main badminton, sih?

Puncaknya pun terjadi hari Jumat ini. Kemarin tepatnya. Walaupun masih kalah, tapi beberapa teman mengakui kemampuan netting yang gue praktekkin sepanjang pertandingan. Bahkan ada yang sampai mengatakan, “diasah terus kemampuan nettingnya, bagus banget tuh!”.

Nah, mungkin itu sedikit pandangan dan pengalaman gue tentang badminton. Satu-satunya olah raga–selain sepak bola–yang merakyat banget, menurut gue. Tua, muda, laki-laki, perempuan, semua suka!

Hidup badminton yang nggak pernah monoton!
Aheeeyyy!
🙂

*gambar: http://www.iswandibanna.com

Iklan

2 comments

  1. Mudhalifana "pia" Haruddin · September 8, 2011

    Backhand, forehead eh forehand..smash, dropshot, dan ooouuuttt, hehe.

  2. nurjanah hayati · September 8, 2011

    beuh, keknya jagoan Mbak Pia dah..
    hhee, aku mah ga ngerti istilah2, cuma suka main ajah 🙂
    main bareng yuk.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s