Dua Lelaki yang Namanya Berakhiran Huruf “O”

Selalu berlimpah “hadiah” di bulan ramadhan dalam kehidupan gue, elo, kita semua. Right?

Gue percaya banget! Dan di minggu ke-dua ramadhan tahun ini, lagi-lagi Allah memberikan hadiah buat gue yang mungkin bukan dalam bentuk materi atau prestasi, tapi lebih kepada pertemuan dengan dua lelaki yang udah gue sebutin di judul: dua lelaki yang namanya berakhiran hufur “O”.

Segitu spesialnya, kah?

Buanget!  Dan gue bakal berbagi (pamer sih tepatnya, hheee) ke kalian, gimana berkesannya pertemuan dengan dua lelaki ini. Mudah-mudahan kalian nggak ngiri, yeee..

First Man, “O” for Tasaro

Sudah pernah dengar nama lelaki ini? Itu lho, penulis muda yang beken dengan novel sekaligus biografi Muhammad. Kalau nggak tahu, just ask Mbah Google!

Tepatnya di Gramedia Matraman, dari FB gue tahu kalau hari itu (11/8) ada talkshow buku teranyar Tasaro yang merupakan novel ke-dua dari trilogi tentang Muhammad, Muhammad: Para Pengeja Hujan. Waktu itu gue datengnya nggak telat-telat amat sih… 15 menit sebelum acara berakhir lah (tolong jangan protes dengan statement terkhir, karena menurut orang dengan golongan darah O, ini merupakan hal yang wajar-wajar saja! Hheee).

Nggak dapat inti acaranya, pasti! Tapi untungnya, ba’da acara langsung gue samperin tuh Mas Tasaro yang sudah berada di samping panggung dan tanpa tedeng aling-aling gue minta wawancara eksklusif dengan beliau (Who me? Tebak aja sendiri. Hheee). Mengingat beberapa menit lagi buka puasa, actually gue nggak maksa-maksa amat, sih. Dia bersedia ya syukur, nggak bersedia, yasud lah…

Eh, nggak disangka nggak dinyana (ada yang tahu, apa sih ini artinya?), doi bersedia untuk diwawancara! Surprise bangget! Mendadak kaget! Alhamdulillah…

$#@*^!?

Begitulah, nggak sampai 30 menit, wawancara berlangsung seru dan gue menjadi terkagum-kagum dengan lelaki ini (sayangnya sudah ada yang punya, hheee). Tapi tolong jangan sangka salah dulu, karena gue bukan terkagum-kagum layaknya seorang ABG cewek yang kesemsem dengan lawan jenisnya atau artis pujaannya. Ini lebih kepada kekaguman seseorang terhadap seseorang yang amat mencintai Rasulnya. Beuuuuh, keren aja ini orang. Sesaat gue jadi pengen buru-buru ke toilet terdekat untuk ngaca dan membanding-bandingkan diri gue dengan doi!

Why?

Yah, gimana nggak mau ngaca dan ngebanding-bandingin… Secara fisik aja, doi nggak terlihat layaknya laki-laki dengan embel-embel Islam di sekujur tubuhnya (jenggot, celana ngantung, totok dua di jidat, etc). Sedangkan gue, jilbab ini cukup lah menunjukkan kalau gue adalah seorang muslimah.

Tapi secara pemikiran dan tingkah laku, sepertinya, eh salah, faktanya… doi lebih Islami dan mencintai Islam ketimbang gue. Ini jelas terbukti dari novel tentang Muhammad-nya dan statement-statement yang terucap lancar dari lisannya ketika wawancara berlangsung.

Katanya, sebagai penulis doi cuma pegen menyampaikan apai itu Islam dan siapa itu Muhammad seara benar. Perkara buku itu laku di pasaran atau nggak, ya itu urusan penerbit. Tapi melihat perkembangan trilogi pertamanya yang sukses enam kali cetak ulang, doi cukup yakin degan buku ke-duanya ini. Yey, bravo!

Oiya, ada lagi yang bikin gue kesemsem. Yakni, nggak adanya gelar mantan anak pesantren atau madrasah atau sarjana dakwah yang tersemat pada dirinya. Cuma jebolan anak komunikasi Unpad malah!

Nah, keren kan? Tanpa embel-embel di atas, doi dengan pede dan lancarnya menulis novel tentang Muhammad! Bahkan, nggak jarang kritikan ditujukan padanya atas “tingkah” satunya ini. “Siapa elo?” kira-kira seperti itu deh kritikannya.

Bukan menciut atau memutuskan berhenti melanjutkan novel triloginya karena kritikan itu, beliau malah balik menantang (menantanhg positif lho maksudnya) mereka-mereka yang mengkritik dan kebanyakan punya kapasitas lebih dari dirinya untuk menulis tentang Muhammad, tapi malah nggak buat tulisan untuk menunjukkan kepada masyarakat dunia, siapa itu Muhammad yang sesungguhnya.

 Malah doi dengan rendah hatinya bilang, “Ya, bacaan Quran saya masih jauh dari benar, ilmu agama saya juga nggak ada apa-apanya. Tapi saya Cuma mau menunjukkan kepada orang-orang, siapa itu Muhammad dengan benar. Makanya saya rela melakukan riset bertahun-tahun demi membuat novel ini,” papar Tasaro.

Hmmm, gimana menurut lo tentang orang ini? Okeh, yak? J

Second Man, “O” for Ippho

Owalah, kalau lelaki satu ini, siapa sih yang nggak kenal? Motivator otak kanan dan penggiat sedekah yang kiprahnya sudah sampai ke beberapa Negara Asia. Yep, Ippho “right” Sentosa! Yang nggak tahu mah kebangetan! *Hheee, pisss.

Pertama kali gue ketemu, beberapa bulan yang lalu waktu menghadiri seminar 7 Keajaiban Sedekah doi di Menara Sukofindo, Pasar Minggu. Keren! Benar-benar memotivasi gue untuk nggak perhitungan dalam sedekah dan untuk menjadi Muslim yang kaya! Hhee, saking noraknya, di akhir acara gue sampai minta foto bareng, lho! Hwkkk, malu juga kalau difikir-fikir :p

Nah, di minggu ke-dua ramadhan ini, alhamdulillah Allah mengijinkan gue untuk bertemu lagi dengan doi beserta anak istrinya (Khadija dan Mbak Astrid), tapi bukan dalam rangka seminar.

Ceritanya, beberapa hari yang lalu, dari kantor gue kedapetan tugas untuk memvideokan proses pemotretan Ippho dan keluarga untuk majalah Ummi. Beuh, jingkrak-jingkrak kegirangan gue waktu pertama kali dikasih tahu tugas ini. Yah, walaupun alasan pemberian tugas ini lebih kepada lokasi pemotretan yang dekat dengan rumah gue sih, hheee. Tak apalah, yang penting ketemu Ippho lagi!

Bertempat d TK Khalifah Bintaro, selama beberapa jam gue bisa lebih dekat dengan Ippho dan keluarga. * sekali lagi, tolong jangan ngiri!* Dengan jurus andalan seorang sanguin plus bergoldar O: sok kenal sok deket aka. SKSD, gue cari-cari berbagai cara biar bisa ngobrol banyak dengan mereka. Ihiy!

Dengan Mbak Astrid, alhamdulillah nggak sulit. Apalagi gue ikutan nemenin doi waktu di-rias. Jadi tahu, ternyata doi supel juga. Usia kita (gue, doi, perias) yang nggak terpaut jauh juga mungkin yang menjadikan pembicaraan kita lumayan akrab. Udah kayak teman aja berasanya. Hihi.

Dengan Khadija… yah, ini mah masih bocah yang hari ini (13/8) genap berusia satu tahun. Nggak sulit lah ya, sering negur sambil senyum-senyum juga jadi. Hheee.

Nah, dengan Mas Ippho, lumayan susah sih. Seperti yang diakuinya waktu seminar dulu, kalau doi ini sulit akrab dengan orang yang baru pertama kali ketemu. Nah, di sini gue membuktikannya. Tapi tolong digaris bawahi, itu cuma di beberapa jam pertemuan aja. Setelah itu, wah wah… keliatan beapa guweeedE sense of humour doi! J

Eiya, satu kejadian yang paling keingetan sampai sekarang ialah, ketika semuanya telah selesai dan kita-kita pada mau pamit pulang. Kira-kira begini percakapan atau lebih tepatnya motivasi Mas Ippho khusus buat gue:

Gue dan teman-teman    : Terima kasih Mas Ippho dan Mbak Astrid buat hari ini, kita pamit dulu…

Mas Ippho        : Iya, sama-sama. Maaf jamuannya nggak maksimal. Seadanya.

Mbak astrid        : Mudah-mudahan bisa ketemuan lagi, ya… Oiya, undangannya jangan lupa, yaaa (sambil cipika-cipiki sama gue)

Teman-teman        : Eh, lo mau nikah, Nje? Wahwah, nggak bilang-bilang, nih…

Gue            : (nyengir kuda dan bertanya-tanya dalam hati : “Siapa yang bilang gue mau nikah? Si Mbak bisa aja… Tapi okd, gue undang deh kalian berdua nanti kalau gue nikahan. Kan dia yang minta, hheee” )

Mas Ippho            : Iyalah, ngapain nunda-nunda nikah? Orang yang belum nikah itu agamanya baru setengah, rejekinya juga cuma setengah, dan yang pasti… enaknya cuma setengah! Hheee.

Gue dan teman-teman        : Huwahaha….

Hheee, buat MP-ers, tolong jangan ngiri sama gue, yeee. Karena tiap orang kan rejekinya beda-beda. Mungkin saat ini gue dipertemukan dengan Tasaro dan Ippho, besok-besok  dengan Ahmadinnejad,  Ismail Haneyah, Anis Matta, JK Rowling, dll yang kepingin gue temuin. *Hheee, bikin orang nambah mupeng!

 

 

Iklan

8 comments

  1. Heru Nugroho · Agustus 15, 2011

    Pasti orang ketiga dgn “O” yang mau ditemuin…
    Al mOsailem MOestsaqqif. . . 😀

  2. nurjanah hayati · Agustus 15, 2011

    huuuu, maksa!
    baca donk judulnya: yang namanya BERAKHIRAN huruf O.
    apa Heru Nugroho? huwahaha..

  3. Heru Nugroho · Agustus 15, 2011

    Jiyahahahaha 😀

    YESS!!

    Pancingan berhasil 😀

    *siul

    kalo mw ketemu, ke MBM aja. . .
    Tapi gak deh, saya khn pemalu… 😀

  4. nurjanah hayati · Agustus 15, 2011

    eh, apa dah?
    bersisik sekali anak kecil ini 🙂

  5. Heru Nugroho · Agustus 15, 2011

    :))

    *ngikik

  6. nurjanah hayati · Agustus 15, 2011

    ckckc… dasar ababil!
    ada singkong diragiin, tape deeeeeh..
    huwahaha.

  7. Heru Nugroho · Agustus 15, 2011

    Ada singkong digoreng, buat buka puasa…

    *gak-lucu

  8. nurjanah hayati · Agustus 15, 2011

    berhubunug saya baik, menghormati teman yang rajin komen postingan saya.. hhee, lucu juga pantun ga nyambungnya. huwahaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s