Pilkadang di kampungnya Markonah

Gimana ya mengawali tulisan ini?

Suatu hari di… Ah, basi.
Hari ini gue… Yah, keliatan banget curhatnya.
Eh tau nggak lho?… Sok ABG deh gue. inget umur!

Okd, gue nyerah.
To the point aja kalau beg beg begituh. Gue, anak Jakarta yang kegusur dari tanah nenek moyangnya sendiri, hingga harus menepi ke Banten pinggiran tepatnya BSD aka Bintaro Sonoan Dikit (penting nggak sih?), ingin sedikit bertutur tentang temen gue yang bernama Markonah.

Doi ini tingal di salah satu provinsi yang nempel dengan Jakarta. Katanya sih, hari ini di lingkungan rumahnya lagi ada pemilukadang (pemilihan umum kepala udang!). Nggak ngerti pemilihan apa yang dimaksud, mending kita dengerin aja yuk cerita doi:

“Pagi-pagi sekitar jam7, waktu gue sedang beberes rumah, pintu rumah diketuk.

Toktoktok..

Bergegas Bapak membuka pintu. Nggak biasa-biasanya ada tamu di pagi hari. Kalau ada, biasanya kakak gue yang nggak pernah ngetuk pintu. Langsung buka sendiri slongket di pintu. Penasaran, gue pun mencuri dengar dan lihat, ada apa dan siapakah gerangan?

Owowow… Ternyata ada teman Bapak yang bawain duit. Kalau gue nggak salah dengar sih, buat bertiga. Hmmm, apakah itu berarti buat Bapak, ibu, da gue? Kayaknya sih begitu, pasalnya nggak berapa lama, sebelum Bapak berucap terima kasih pada temannya itu, Bapak bertanya dengan suara agak lantang.

“Jadi, pilih nomor berapa nih?” tanya Bapak.

“Oh, nomor berapa aja. Satu juga boleh,” jawab itu orang.

Apa? Apakah itu berarti? Ah, tidak… Lebih baik gue tanyakan langsung ke Bapak, apa yang gue dengar barusan.

“Duit apa Pak? Apa maksud tuh orang ngasih duit ke kita? Kenapa dia bilang coblos nomor satu juga boleh?”

Bapak hanya diam sambil membuka amplop berisi uang tersebut.

“Balikin uang itu sekarang juga, Pak.”

“Jangan banyak cingcong. Kita tinggal di kampung orang. Jangan reseh. Ikutin aja aturan mainnya. Masa rejeki ditolak?” Bapak mulai naik urat.

“Kalau cuma puluhan ribu, Markon juga bisa ngasih Bapak. Balikin uang itu, Pak.”

Bapak diam lagi. Masih asik dengan uang berkisar 60ribuan itu.

“Ok, kalau Bapak nggak mau balikin, terserah mau Bapak pakai buat apa, asal jangan kasih uang itu ke Markon dan Ibu. Dan jangan Bapak lupa omongan Bapak yang dulu-dulu. Ambil uangnya jangan pilih orangnya!”

Bapak masih saja diam. Fyuuuh!

08.00
Gue bersiap membawa Ibu ke TPS buat nyoblos pake kursi roda. Belajar dari pemilukadang sebelumnya, kalau bolanya nggak dijemput dan hanya menunggu berharap banget panitianya mau membantu mengantar bola ke rumah mengingat kondisi Ibu yang sudah payah, sudah pasti itu bola nggak dibawain. So, dengan bersusah payah gue bawa Ibu untuk nyoblos langsung ke TPS. Capek sih, tapi demi kampung gue yang lebih baik, gue rela melakukan itu semua.

Di jalan, gue ketemu teman Bapak yang tadi membawakan uang ke rumah. Sumpah, pengen gue rauk mukanya. Dasar antek-antek pemda! Dumel gue dalam hati.

Apalagi waktu doi nanya mau kemana, dengan ceplas-ceplos ge bilang, “Mau nyoblos, kalau nggak datang langsung, hak suara Ibu ilang kayak pemilu kemarin.” Langsung gue tinggal tuh orang dengan sediiiiikit senyuman basa basi.

Di TPS, tatapan para panitia pemilu nggak kalah menjengkelkan. Mereka, termasuk di antaranya ketua dan manan RT rumah gue, menatap gue dengan tatapan nyebelin. Bodo lah, biarin dibilang aneh sekalian. Toh yang membuat gue seperti ini juga kalian, Antek-antek Pemda! Huh!

Alhamdulillah, Ibu bisa nyoblos juga kali ini. Nggak ketinggalan, gue juga minta kakak ipar buat gantiin hak nyoblos kakak gue yang sudah pindah ke luar kota. Agak-agak curang sih, tapi daripada hak suara itu diambil sama yang lain yang punya misi besar menguasai daerah rumah gue, lebih berabe!

Bada nyoblos, gue anter Ibu ke rumah kakak yang lumayan dekat dengantempat nyoblos. Ah, belum hilang dongkol di hati terhadap kelakuan beberapa orang, eh ada lagi kabar buruk dari anak kakak yang kerja di salah satu percetakan besar. Katanya, semalem ada salah satu calon yang mendadak minta dibuatin lembaran yang berisi kejelekan-kejelekan satu lawannya yang lumayan diperhitungkan oleh masyarakat sekitar. Untungnya, bos percetakan tersebut nggak mau menuruti permintaannya. Wuih.. Sukur deh!

Sore menjelang, pulang dari rumah kakak, perhitungan suara sedang berlangsung. Gue mampir sebentar untuk mengetahui hasil akhir. Wuiiih, hasilnya nggak mengejutkan. Yang punya banyak uang dan berlaku curang, so pasti menang! Lumayan telak malah. Hiks, sedih gue!”

Hahay, Markonah, Markonah… Nggak usahlah sedih begitu. Bukan di kampung lo aja yang kayak begitu, buanyak kampung lain yang lebih subur lahan kecurangannya, salah satunya di daerah rumah gue. Tooosss! XD

Iklan

4 comments

  1. 1st nas · Oktober 23, 2011

    hmmhhhh… menyedihkan (melihat perilaku manusia sekarang)

  2. nurjanah hayati · Oktober 23, 2011

    Emang dasar tuh pada-pada..

  3. akuAi Semangka · Oktober 26, 2011

    hahaha.. makin nyata aja yaa orang berbuat maksiat. gubrak deh!

  4. nurjanah hayati · Oktober 26, 2011

    gabruk! baju doank demokrasi, underwear mah orde baru! *eh?! sotoy πŸ˜›

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s