Kereta Tiba Pukul Berapa?

Noted: Ini bukan judul lagu Bang Iwan Fals, lho… Ini tak lain dan tak bukan adalah spontanitas yang gue ciptakan di senin pagi mengawali pekan ke-empat Oktober ini. Mudah-mudahan, MPman MPwati solihin solihat nggak bosan dengan tema ini, yeesss..

Menurut gue, tema ini penting b-g-t! Bikos wat? Karena takdir gue masih di atas jalan karyawan. Mungkin sebagian dari kalian juga bernasib sama menyedihkannya seperti gue (baca: jadi karyawan). Mungkin lagi, sebagian dari kalian juga akan bernasib sama seperti gue. Secara, mental orang Indonesia terutama ortu kita masih mental cetakan kompeni. Lulus sekolah/kuliah kudu kerja kantoran. Ya, salaaam… Tragis banget nggak sih nasib kita?

Gue acung jempol deh buat MPman MPwati yang sudah beberapa langkah lebih maju meniti karir sebagai wirausahawan/wati. 2thumbsup!

Sekali lagi gue katakan, tulisan ini lumayan penting bagi kebanyakan orang Indoesia kecuali jamaahnya Sandiaga S. uno, Ippho Right S, n Bob Sadino. Jamaah tiga orang ini mah nggak rekomended banget baca tulisan gue. Kecuali bagi yang berkenan membaca, yaudin, gue nggak maksa, sila dibaca. Hhee.

Ok, markilai (mari kita mulai) tulisan tentang spontanitas seri ke berapa tau (saking seringnya dibahas) ini. Nggak tau ada kekuatan dan bisikan dari mana,jam12malem sebelum tidur kemarin, intuisi spontanitas gue mengatakan bahwa hari ini harus berangkat ngantor naik kereta. Titik.

Paginya, walaupun meleset jauh 45menit dari rencana yang udah terjadwal semalam, berangkatlah gue menuju stasiun pondok ranji, yang letaknya sekitar 45menit satu kali naik angkot dari depan rumah.

Herannya lagi, gue udah tau kalau kereta menuju manggarai sudah berangkat sejak setengah7, kereta menuju depok pun akan berangkat pukul 7an. Tapi tetap aja hati ini mantab untuk memilih ikhwan A, eh, memilih naik kereta. Hhee. Walhasil, gue harus ngeteng ke st tanah abang dulu untuk sampai ke st manggarai.

Sengaja gue pilih kereta ekonomi non AC menuju st tanah abang. Selain murah meriah tapi bikin gerah, ini juga salah satu ikhtiar gue sebagai calon pemimpin umat dan agama: merasakan sulitnya kehidupan rakyat kecil (alasan ke-dua sepertinya hanya bumbu tulisan, tapi tolong dipercaya!). Asap rokok mengepul di mana-mana, tatapan curiga memenuhi raut wajah kebanyakan penumpang, namun tak ketinggalan, beberapa suara tawa canda masih terdengar dari mereka yang mungkin sudah tiap hari bergelut dalam dunia sumpek kereta ekonomi milik masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah ini.

Sumpede… Capek banget! Beda jauh dengan kondisi bis Mayasari Bakti Tangerang-Pulogadung ber-AC yang biasa gue naikin. Adeeem!

30menit kurang lebih perjalanan st Pondok Ranji-Tanah Abang yang gue lalui dengan berdri kaki. Bikin ngedumel dalam hati, tapi nagih! Hheee. Untung kereta menuju st Manggarai berAC plus kosong pula. Bisa kali buat uncang-uncang kaki, selonjoran, bahkan tiduran… #eh?!

Sayangnya cuma 10menitan surga dunia yang membawa gue hingga ke st Manggrai. Setelah itu, masih harus menyusuri terminal Manggarai, naik MM49 menuju Utan Kayu, dan jalan kaki lagi 10ment hingga betul-betul sampai gerbang kantor.

In the end of my story, markipulkan (baca: mari kita simpulkan)…

Lagi-lagi, mencipta spontanitas itu… PENTING banget! Hheee.
Berita baiknya, tadi pagi gue mendengar kesaksian dari mulut teman satu ruangan dan status fb beberapa teman, bahwa Jakarta pagi ini super duper muaaacet! Tapi overall, nggak peduli ongkos sama mahalnya, energi terkuras lebih, yang penting… Spontanitas hadir, rutinitas minggir! Aheeyyy!😄

10 comments

  1. Nobi Nobita · Oktober 24, 2011

    buset dah.. jakarta2.. gak ngimpi deh idub di jakarta..😦 sukur kmren dpt panggilan aye tolak.. mau ke t4 kerja aja.. naek angkot, naek kereta, naek ongkot lagi.. stasiun ini, stasiun itu… beuh… puyeeeeng! enaknya hidup neng ndeso (nada Tukul).. yang penting ada internet, bisa buat jualan… nikmatnya ndesoku…. bangga saya jadi orang ndeso…😀

  2. Ina Chan · Oktober 24, 2011

    Hidup ndeso!😀
    Lagian aneh,kenapa macetnya cuma senin? padahal kan hr kerja smp jumat.. *toeng

  3. nurjanah hayati · Oktober 24, 2011

    Emang, Mas Soer,,, sy jg ga pernah mimpi 23thn tumbuh, besar dan beraktifitas d Jakarta. Udah takdir jd anak Jakarta:-(

    Tapi sy punya mimpi, nanti saya akan tinggal d desa sama keluarga saya🙂

  4. nurjanah hayati · Oktober 24, 2011

    Ina: iya. Kyaknya semua orang dari pinggiran Jakarta sudah bersumpah buat mnuhin Jakarta tiap Senin pagi yeesss… Jadi bikin eneg😦

  5. Ina Chan · Oktober 24, 2011

    Iya,bosen jg d jakarta.. pengen kerja d luar jawa sebetulnya,ka.. tapi apa daya izin tak sampai.. blm ada “teman”nya sih.. hehe
    asik tuh,ka,menikmati masa tua d desa.. ummi abi jg pengen gitu..😀

  6. nurjanah hayati · Oktober 24, 2011

    Hhii.. Sama nasib kita Na… Blm dpt ijin dr ortu krna blm da tmn😛

  7. Nobi Nobita · Oktober 24, 2011

    halah malah pada curhat.. Bikin #galau aj..

  8. nurjanah hayati · Oktober 24, 2011

    Eh iya, maap maap. Mari kita tutup forum curhat ini. Sodaqollahul azhim😀

  9. akuAi Semangka · Oktober 26, 2011

    enjoy your life aja yaaa😀

  10. nurjanah hayati · Oktober 26, 2011

    betoool…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s