Bike to Kampung!

Ketika di rumah bingung mau apa…
Ya bersepeda…
[Enje feat to Black]

Agak maksa emang dua bait lagu di atas, tapi beneran itu mewakili aktifitas gue hari ini banget.

Maaf-maaf nih-bukannya sombonh-biasanya nggak ada kata libur dalam kamus hidup gue. Alamdulillah, selalu aja ada aktifias (kebaikan insyaAllah) di luar rumah tiap weekend, baik dengan teman sekolah, kampus, kantor, dll. Sampai-sampai ortu, kakak, dan keponakan hafal banget dengan tingkah sok sibuk gue.

Makanya, pertanyaan mereka tiap Sabtu dan Minggu pagi itu nggak jauh-jauh dari kata-kata “Hari ini pergi ke mana?”. Sebaliknya, kalau siangan sedikit gue masih beredar di rumah atau berlama-lama main sama keponakan, pertanyaan merekapun setipe dengan ekspresi kebingungan yang setipe pula: “Weiiit, tumben di rumah aja, emang nggak kemana-mana hari ini?”. Etapedeee!

Segitunya banget, yeesss… Sesibuk-sibuknya manusia juga kan butuh istirahat dan kumpul-kumpul bareng keluarga, right?

Eniwey… Sebenarnya nggak direncanain juga kalau hari ini bakal berdiam diri di rumah. Udah menggebu-gebu malah pengen ketemu dengan teman-teman sma (percaya ga?). Tapi apa mau dikata, nomor hape baru menghancurkan segalanya! Sms balasan dari salah seorang adik kelas, nggak gue terima sampai tadi pagi. Jadilah gue berfikir mereka pada lagi sibuk sampai nggak sempat buat ketemuan rutinan.

Kata salah satu teman sih, provider baru gue emamg begitu. Banyak sms yang nggak sampai ke tujuan, nyangkut entah di mana. Beneran jadi mau beralih lagi ke A* dah kalau begini keadaannya. Padahal belum sebulan ganti A*is demi internetan murah. Hix!

Sebetulnya badan lagi nggak enak juga (baca: masuk angin) buat diajak jalan. Gue pun mencoba mengikuti kebiasaan sebagian orang menghabisi weekend dengan istirahat full di kama. Tapi ternyata, makin dimanjain dengan istirahat, makin nggak sehat mental gue. Males ngapa-ngapain!

Akhirnya, setelah maksain (saking malesnya) naro cucian kotor di mesin cuci, gue putuskan sore tadi buat sepedaan ke jalan raya sambil nunggu azan maghrib. Sekalian nyicip beberapa jalan yang katanya udah mulus berkat kemurahan salah satu calon gubernur (thanx, Bu. Rajin-rajin aja nyalonin diri jadi pemimpin, biar infrastruktur terkontrol terus. Yayaya… :-))

Jalanlah, eh salah, bersepedalah gue sore tadi dengan rute: rumah-rumah kakak-jalan raya ceger-depan kampus stan-jalan warjeng-rumah kakak-rumah. Pas banget, nyampe rumah pas azan Maghrib.

Actually, bisa juga sampai rumah sebelum maghrib. Tapi sengaja gue lama-lamain dengan mencari jalan alternatf aka jalan tikus.

Usaha pertama sukses! Akhirnya gue tau bahwa ada jalan kampung menuju persis seberang gerbang kampus stan dari rumah gue. Lumayan ancur jalannya, tapi justru mantabs banget sensasinya buat menghempas rasa malas yang bercokol sejak pagi tadi dalam diri. Apalagi baut-baut sepeda mini yang beberapa sudah lepas (maklum, sepeda tua. Lungsuran pula!) bersatu dengan suara klakson (hheee, motor, kalee!) ketika melewati turunan di jalan yang rusak tanpa memegang rem, hmmm… mengasilkan harmoni suara yang dahsyat… Berisiknya! Hheee.

Tapi sayang, usaha ke-dua untuk menemukan jalan pulang dari warjeng menuju ceger, gatot! Padahal, patokan gue adalah rumah gede bak istana satu-satunya di kampung rumah gue. Waktu ngeliat gentengnya yang menjulang dari jalanan warjeng, gue yakin pasti ada jalan tembus menuju rumah itu. Ternyata, nggak selalu begitu ketentuannya. Tiga kali gue coba meraba-raba jalan kecil nan rusak sambil nanya-nanya kepada warga setempat, tettooot… Ternyata buntu, Sodara-i!

Akhirna gue nyerah… Kembali gue telusuri jalan umum menuju rumah. Sediiih, capek, ngos-ngosan, tapiii… Senang! Akhirnya bisa menutup hari dengan spontanitas… XD

Pilkadang di kampungnya Markonah

Gimana ya mengawali tulisan ini?

Suatu hari di… Ah, basi.
Hari ini gue… Yah, keliatan banget curhatnya.
Eh tau nggak lho?… Sok ABG deh gue. inget umur!

Okd, gue nyerah.
To the point aja kalau beg beg begituh. Gue, anak Jakarta yang kegusur dari tanah nenek moyangnya sendiri, hingga harus menepi ke Banten pinggiran tepatnya BSD aka Bintaro Sonoan Dikit (penting nggak sih?), ingin sedikit bertutur tentang temen gue yang bernama Markonah.

Doi ini tingal di salah satu provinsi yang nempel dengan Jakarta. Katanya sih, hari ini di lingkungan rumahnya lagi ada pemilukadang (pemilihan umum kepala udang!). Nggak ngerti pemilihan apa yang dimaksud, mending kita dengerin aja yuk cerita doi:

“Pagi-pagi sekitar jam7, waktu gue sedang beberes rumah, pintu rumah diketuk.

Toktoktok..

Bergegas Bapak membuka pintu. Nggak biasa-biasanya ada tamu di pagi hari. Kalau ada, biasanya kakak gue yang nggak pernah ngetuk pintu. Langsung buka sendiri slongket di pintu. Penasaran, gue pun mencuri dengar dan lihat, ada apa dan siapakah gerangan?

Owowow… Ternyata ada teman Bapak yang bawain duit. Kalau gue nggak salah dengar sih, buat bertiga. Hmmm, apakah itu berarti buat Bapak, ibu, da gue? Kayaknya sih begitu, pasalnya nggak berapa lama, sebelum Bapak berucap terima kasih pada temannya itu, Bapak bertanya dengan suara agak lantang.

“Jadi, pilih nomor berapa nih?” tanya Bapak.

“Oh, nomor berapa aja. Satu juga boleh,” jawab itu orang.

Apa? Apakah itu berarti? Ah, tidak… Lebih baik gue tanyakan langsung ke Bapak, apa yang gue dengar barusan.

“Duit apa Pak? Apa maksud tuh orang ngasih duit ke kita? Kenapa dia bilang coblos nomor satu juga boleh?”

Bapak hanya diam sambil membuka amplop berisi uang tersebut.

“Balikin uang itu sekarang juga, Pak.”

“Jangan banyak cingcong. Kita tinggal di kampung orang. Jangan reseh. Ikutin aja aturan mainnya. Masa rejeki ditolak?” Bapak mulai naik urat.

“Kalau cuma puluhan ribu, Markon juga bisa ngasih Bapak. Balikin uang itu, Pak.”

Bapak diam lagi. Masih asik dengan uang berkisar 60ribuan itu.

“Ok, kalau Bapak nggak mau balikin, terserah mau Bapak pakai buat apa, asal jangan kasih uang itu ke Markon dan Ibu. Dan jangan Bapak lupa omongan Bapak yang dulu-dulu. Ambil uangnya jangan pilih orangnya!”

Bapak masih saja diam. Fyuuuh!

08.00
Gue bersiap membawa Ibu ke TPS buat nyoblos pake kursi roda. Belajar dari pemilukadang sebelumnya, kalau bolanya nggak dijemput dan hanya menunggu berharap banget panitianya mau membantu mengantar bola ke rumah mengingat kondisi Ibu yang sudah payah, sudah pasti itu bola nggak dibawain. So, dengan bersusah payah gue bawa Ibu untuk nyoblos langsung ke TPS. Capek sih, tapi demi kampung gue yang lebih baik, gue rela melakukan itu semua.

Di jalan, gue ketemu teman Bapak yang tadi membawakan uang ke rumah. Sumpah, pengen gue rauk mukanya. Dasar antek-antek pemda! Dumel gue dalam hati.

Apalagi waktu doi nanya mau kemana, dengan ceplas-ceplos ge bilang, “Mau nyoblos, kalau nggak datang langsung, hak suara Ibu ilang kayak pemilu kemarin.” Langsung gue tinggal tuh orang dengan sediiiiikit senyuman basa basi.

Di TPS, tatapan para panitia pemilu nggak kalah menjengkelkan. Mereka, termasuk di antaranya ketua dan manan RT rumah gue, menatap gue dengan tatapan nyebelin. Bodo lah, biarin dibilang aneh sekalian. Toh yang membuat gue seperti ini juga kalian, Antek-antek Pemda! Huh!

Alhamdulillah, Ibu bisa nyoblos juga kali ini. Nggak ketinggalan, gue juga minta kakak ipar buat gantiin hak nyoblos kakak gue yang sudah pindah ke luar kota. Agak-agak curang sih, tapi daripada hak suara itu diambil sama yang lain yang punya misi besar menguasai daerah rumah gue, lebih berabe!

Bada nyoblos, gue anter Ibu ke rumah kakak yang lumayan dekat dengantempat nyoblos. Ah, belum hilang dongkol di hati terhadap kelakuan beberapa orang, eh ada lagi kabar buruk dari anak kakak yang kerja di salah satu percetakan besar. Katanya, semalem ada salah satu calon yang mendadak minta dibuatin lembaran yang berisi kejelekan-kejelekan satu lawannya yang lumayan diperhitungkan oleh masyarakat sekitar. Untungnya, bos percetakan tersebut nggak mau menuruti permintaannya. Wuih.. Sukur deh!

Sore menjelang, pulang dari rumah kakak, perhitungan suara sedang berlangsung. Gue mampir sebentar untuk mengetahui hasil akhir. Wuiiih, hasilnya nggak mengejutkan. Yang punya banyak uang dan berlaku curang, so pasti menang! Lumayan telak malah. Hiks, sedih gue!”

Hahay, Markonah, Markonah… Nggak usahlah sedih begitu. Bukan di kampung lo aja yang kayak begitu, buanyak kampung lain yang lebih subur lahan kecurangannya, salah satunya di daerah rumah gue. Tooosss! XD

Mencipta Spontanitas (lagi)

A: Spontanitas, apaan tuh?
Acara reality show era 90-an yang punya jargon ‘uhuy’ kah?
B: Bukan, itu mah Spontan nggak pake -itas!

A: Atau jangan-jangan, bis berbodi extra yang banyak melintas di Jakarta?
B: Yeeh, itu mah Patas!

A:Owowow… Itu pasti yang ada di kamar mandi buat nyiduk air?
B: Haaah.. Apaan tuh?
A: Gayung!
B: Gigigigi (ketawa ala baru)… Bener-bener nggak nyambung!

***

Masih nyambung dengan postingan sebelum-sebelumnya tentang rutinitas dan spontanitas, ada satu tips untuk menghadirkan spontanitas di tengan rutinitas yang kelupaan-baru kepikiran tepatnya. Baru banget gue sadari, ternyata sudah terlampau sering gue dan teman-teman kantor (di satu ruangan) mencipta spontanitas tersebut…

Emang yeesss… Very something kalau punya atasan orang sanguin (sanguin itu sodaranya orang sasak, hheee). Apalagi kalau bawahannya juga orang sanguin. Biar kata nggak semuanya, yang sanguin-sanguin itu biasanya akan menularkan jiwa-jiwa pasar (ramai dan gaduh, maksudnya) kepada orang-orang di ruangan tersebut. Ruanganpun selalu ramai dengan canda tawa. Nggak ada yang namanya mumet kerja dan kepala penat, yang pasti akan membuat iri tetangga di ruangan sebelah deh. Eh, apa disebelin sabab keterlaluan berisiknya? Hanya Allah dan para tetangga yang tau.

But… Nggak selamanya juga sih bekerja di lingkungan orang sanguin itu menyenangkan. Ada juga tingkah mereka yang-bagi sebagian orang-kadang nyebelin. Ritme kerja yang nggak bisa ditebak dan terlalu santai, misalnya. Buat orang yang tertata hidup dan kerjanya, mungkin orang sanguin dianggap bikin capek. Kalau dia (orang sanguin) lagi menggebu-gebu terhadap sesuatu, harus dikerjakan sekarang juga dan (kadang) menomorsekiankan pekerjaan atau tugas utamanya.

Bukan bermaksud ngomongin kejelekan orang lain. Hanya melihat diri sendiri, teman satu ruangan, dan atasan gue. Hheee.

Tapi eh tapi, menurut gue niiih, yang negatif-negatif dari kerja orang sanguin itu nggak selamanya buruk bin nyebelin deeeh (secara ngomentarin diri sendiri dan orang sejenis, so pasti bernada pembelaan ;-)). Pasalnya, yang negatif tersebut justru kadang menjadi salah satu cara buat mengentas rutinitas.

Bisa bayangin, lima hari dalam satu minggu menjadi karyawan angkatan 85 (nyampe kantor jam 8, pulang jam 5)? Oh meeen, betapa membosankannya dunia! Apa bedanya kita sama robot, kalau begitu?

Atau nggak, coba bayangin kalau tiap seminggu sekali rapat di ruangan tertutup dan terus berulang selama takdir masih menggariskan diri lo menjadi karyawan? Oh my… Apa fungsi mall dan plaza yang terserak di Jakarta kalau begitu?

Atau nggak lagi, coba bayangin kalau tiap hari lo harus kerja 8 jam tanpa diselingi hal-hal yang bisa mengakrabkan antar sesama seperti nyanyi-nyanyi bareng (karokean bareng lebih nampolkayaknya), membuat lelucon di siang bolong, makan bubur kacang ijo bareng di warkop terdekat, atau hanya sekedar menanggapi (memuji) hal-hal sepele dari kerjaan teman? Wiih, pasti hari senin bakal terasa ngebosenin, selasa menjadi nelangsa, rabu amat bau, kamis terasa pesimis, dan jumat bakal kiamat! Hanya sabtu dan minggu yang begitu diunggu! Cucian banget, kaaan?

Menurut gue sih… Menjadi karyawan itu emang pilihan hidup yang lumayan mnyedihkan. Tapi berteman dngan orang-orang sanguin, eh salah, melakukan hal-hal spontanitas demi menumpas rutinitas seperti yang sering dilakukan orang sanguin, menjadi pelipur lara yang tiada terkira di dunia kerja. Yuk deh, bersama kita mencipta spontanitas! 😀

*ditulis bada rapat dadakan menjelang maghrib yang diakhiri makan burjo bareng di Warkop Jalan Wahab, Utan Kayu. Aheeyyy, happy banget. Very something!

Nyebur Dalam Kubangan Fotografi

Kalau difikir-fikir, bener-bener gaya si Nje! Kamera aja (bahkan yang poket) nggak punya, sok-sokan belajar fotografi. Tapi mau gimana lagi, ini tuntutan profesi, Woman!

Beberapa kali dipercaya memegang kendali dokumentasi di dalam maupun luar kantor, mau ga mau ge kudu melakukan yang terbaik (tumben.co.uk (bukan unitedkingdom, tapi utankayu)).

Puncaknya ketika konser Maher Zain kemarin. Walaupun sudah ditentir sedikit dengan teman yang emang profesinya fotografer, tetap aja ga mudeng. On d spot gituh belajarnya. Detik-detik konser MZ dimulai. Nggak lama kursus kilat berlangsung, kamera Fuji yang gue pegang ngedrop! Hilang sudah semua settingan yang sudah dikondosikan teman gue sesuai dengan pencahayaan Istora Senayan. Alahai… gatot deh mendapatkan hasil jepretan terbaik (sok udah ahli aja ya bahasanya).

Bada itulah semangat belajar teknik fotografii gue meluber hingga mengalahkan semangat Ngempi gue (padahal mah Ngempi mulu tiap hari yeesss). Diawali dengan improvisasi kepada si fotografer, rencana gue berjalan lumus. Doi bersedia ngajarin FREE alias cuma-cuma. Begini kira-kira percakapan gue dengan doi dua minggu yang lalu…

“Mau tanya dunk, Ja… Tau ga tempat kursus foografi di sekitar sini yang seuai dengan budget SDM? Mau ikutan nih, sekalian buat nambah jam belajar pribadi,” kata gue mengawali.

“Banyak kok tempat kursus fotografi. Tapi, kalau bisa belajar sama teman, ngapain kursus segala?” kata teman gue enteng.

Yes yes yes, sesuai dengan rencana. Temen gue emang teope begete! Sesuatu yeesss…

“Eh, maksudnya lo mau ngajarin nih? Beneran? Kapan, kapan?” gue langsung memborbardir, takut hangus penawaran sangat langka ini.

“Gampang… Ntar kalau deadline udah kelar, atur aja dah!” jujur gue ga tau ekspresi doi karena percakapan ini berlangsung via semacam chat fasilitas kantor. Berharap ekspresi senang membantu.

“Okd… Kapan, kapan selesai deadline?” beginilah salah satu cara jitu menunjukkan antusiasme kepada lawan bicara. Eh, apa nggak tau malu? Bener-bener saru, yeesss.

“Akhir bulan ini insyaAllah.”

“Siiip, ditunggu janjinya segera, yeesss”

“ok.”

Dan, tau ga… Sebelum akhir bulan doi sudah menunaikan janjinya aja lho, walaupun medadak aja.

Siang hingga sore tai, gue dan dua orang teman yang juga biasa megang kamera, memulai sesi pertama kursus CUMA-CUMA itu. Alhamdulillah udah langsung kenalan dengan icon M (manual), S (speed), F (diafragma), ISO, flash, MF (manual focus), AF (auto fokus), A (aperture), S (speed priority), P (program), Auto, dan beberapa kawannya di luar ombol menu. Cihuy banget kenalan dengan kamera dan printilan-printilannya. Very something!

Bada materi trilili lebih seru, karena kami langsung mempraktekkan apa yang sudah dipelajari di awal plus tanya jawab beberapa teknik yang Biasa kami lihat di majalah-majalah. Limpahkan pahala tak terhingga untuk Lao Tse dadakan kami, ya Allah…

Nah, sudah jelas kan motif gue belajar fotografi? Bukan karena gaya-gayaan ngikutin tren, atau juga demi dibilang keren. Profesi inilah yang membuat gue mau ga mau belajar alat yang sering gue pakai ini. Makanya judulnya nyebur, bukan mendalami atau mengeluti. Kan diawali dengan keadaan baru kemudian harus tenggelam (nyebur).

Lagian.. Bukannya salah satu cara mendapatkan perrolongan Allah adalah dengan jalan memantaskan diri? Anggap aja lah ini upaya gue memantaskan diri untuk memiliki kamera (yang bukan poket, apa sih namanya?)di tahun depan? Biar Allah yakin banget gitu, kalau gue udah layak punya kamera macem begini. Mungki juga melallui tangan-tangan MP-man MP-wati yang rajin beekunjung ke rumah EnjEklopedia ini. Amin, ya Allah… 😉

Dunia 2 Wanita

Kalau bicara tentang wanita… Apa yang terlintas di benak kalian, wahai MP-man MP-wati?

Kayak-kayaknya sih, BAWEL akan menjadi satu kata yang paling meewakili mahluk yang tercipta dari tulang rusuk kaum Adam ini deh… Gue yang terlahir sebagai salah satu wanita pendiam di muka bumi ini (pitnah banget!), pun mengamini opini publik yang sudah turun temurun dari jaman firaun tersebut (emang iya ya?)

Yaaa, anggap aja iya. Karena sediem-diemnya dan sekalem-kalemna gue (opini pribadi bukan fakta!), gue pun doyan curhat kepada siapa aja., termasuk teman lama. Kalau bahasa teman ngaji gue: doyan ngeluh! o_O

Seperti sore ini waktu janjian dengan salah satu teman dekat di kampus dulu. Dari kantor hingga perjalanan menuju tempat kteemuan, gue sudah menyusun daftar masalah yang mau gue curhatin ke teman gue ini. Salah satunya mau pamer satu barang istimewa (tebak-tebak buah manggis^^).

Di 1/8 pertama sesi curhat kami, gue sukses mendominasi. Barang istimewa gue juga sudah gue pamerkan. Tapi selanjutnya… Hiyaiks! Posisi bertukar 180 derajat hingga akhir sharing. Ibarat Valentino Rossi yang biasa di pool position, namun kini harus rela berada di posisi buncit motogp (perumpamaan yang agak imposible ga sih?). Intinya, gue yang tadinya melakoni pembicara aktif, kini menjadi pembicara pasif. Hiks, nggak tersalurkan deh hasrat berbagii (apa mengeluh?) yang sudah dipersiapkan…

Tapi eh tapi… Not bad juga jadi pembicara pasif alias pendengar. Jadi banyak bersyukur ajah rasanyah. Kadang berfikir, hidup gue kurang beruntung kalau dibanding-bandingin dengan teman kuliah yang lain. Padahal mah, setelah asik mendengarkan berbagai curhatan teman, enggak sama sekali. Justru, kekurangan ini adalah Anugerah dari Allah. Tampang dan penghasilan yang pas-pasan alhamdulillah sedikit menjauhkan gue dari masalah yang ditimbulkan keduanya lho… *underestimatenya kambuh

Antara sedih dan lucu mendengar curhatan betapa menderitanya teman yang berwajah rupawan. Apalagi mendengar berbagai praktek kurang halal di tempat kerja doi. Padahal gajinya lumayan…

Hhiii… Seandainya gue yang di posisi doi, pastinya gue ga ga ga kuat deh menghadapi semua itu. Emang Allah itu adil beudh yeesss… Selalu dan bakal Ngasih ujian sesuai dengan kadar kemampuan hambaNya. TeOpe deeeeh! ❤

Pohon Tiga Rasa Buat Rakyat Banten

Wiii… hari ini ngebolang ke daerah Serpong sampaii Tangerang kabupaten bersama teman SMA. Niatnya mau rekreasi, tapi karena satu dan lain hal, rekreasi diganti dengan keliling BSD naik angkutan umum dari pagi sampai zuhur. Ga ga ga kuat! Hheee.

Selama enam kali ganti angkutan hingga balik lagi ke pintu tol veteran Bintaro, sejauh mata memandang, Serpong kampung masih berlatar pepohonan hijau. Namun, pohon musim ini sepertinya beda dengan pohon yang gue liat di Jakarta (di deket rumah gue juga ada dink… tapi nggak selebat di Serpong). Ada tambahan bagian pohon di sepanjang batang utama pohon-pohon tersebut. Kita sebut aja buah, deh yeesss.

Buah-buah tersebut, kalau gue perhatiin terdiri dari tiga rasa: rasa BERSATU, rasa PERUBAHAN, dan rasa SEGERA SEJAHTERA. Hheee, yang orang Banten pasti tahu deh buah-buahan ini…

Konon, ketiga buah ini BBB aka. Bukan Buah Biasa. Sabab, buah ini ada empunya! Pemilik buah pertama adalah anaknya Jawara Banten dan mantan aktor ternama ibukota. Keduanya sudah sangat mashur di telinga rakyat Banten, karena duitnya yang bejibun!

Pemilik buah ke-dua adalah tokoh ternama di Tangerang kota. Kabar punya kabar, doi ini antek-anteknya partai biru Indonesia (apa hayooo?). Sedangkan pemilik buah ke-tiga adalah antek-antek partai padi yang diapit bulan sabit. Harusnya, beliau ini sudah dikenal oleh masyarakat Banten, karena sudah beberapa kali mencalonkan diri menjadi pemimpin setempat. Sayangnya, dewi fortuna nggak pernah mau dekat-dekat dengan beliau (pasti karena dewi fortuna tau kalau doi ini berlabel ikhwan, kudu jaga hijab gituh!) alias kalah melulu!

Nah… ketiga pemilik buah ini gue dengar sedang berlomba menjajakan buahnya khusus buat rakyat Banten. Peraturannya, siapa yang sukses menjual buahnya paling banyak, mereka bakal terpilih menjadi pemimpin Banten selama lima tahin ke depan. Wuih, pertarungan super dasyat!

Peetanyaannya adalah… Buah manakah yang kini paling banyak diminati oleh rakyat Banten?

Ahhaaa… Beberapa hari ini tiap mau berangkat ngantor, gue menemukan jawabannya, sodari/i! Sesuatu banget, karena rakyat kecil seperti gue yang tiap hari menggunakan angkutan umum, menaruh perhatian lebih terhadap para pemilik buah tersebut, terutama pemilik buah rasa BERSATU dan PERUBAHAN.

Menurut mereka, pemilik buah rasa BERSATU itu duitnya buanyak. Terbukti, belakangan beberapa jalan utama di beberapa titik i Tangerang menjadi mulus berkat kemurahan hati beliau. Salah satunya jalanan depan rumah gue lho… Bukan hanya mulus seperti pantat bayi, tapi juga dibangun parit di sisi kanan kiri jalan. Manab tuenaaaan!

Hati mereka juga tercuri setelah si empunya buah ini melakukan lomba gerak jalan keliling kampung gue beberapa pekan lalu. Hadiahnya menggiurkan, bow! Sampai-sampai, Babeh gue yang udah nggak suka jalan jauh-jauh karena faktor U, excited buat ikutan. Sayangnya cuma sampai pendaftaran. Hari H doi ngerasa nggak kuat. Etapedeee!

Pemilik buah rasa PERUBAHAN nggak kalah popular sebenarnya. Hanya saja, cakupan kepopularannya masih kalah dibanding pemilik buah pertama. Doi ini sangat terkenal di kalangan Masyarakat kota. Kepemimpinannya top markotop deh kata mereka.

Administrasi nggak ribet, suka ngundang masyarakat setempat dalam pengajian dan sarasehan di rumahnya. Mereka tersepona katanya dengan gaya kepemimpinan doi.

Sayangnya, doi ini berasal dari partai biru di Indonesia. Jadi kemungkinan besar buah dagangannya kurang diminati oleh masyarakat Banten di luar Tangerang kota. Oh, poor you!

Pemilik buah rasa SEJAHTERA, apa kabar yeesss? Kabar baik, hheee. Cukup dikenal oleh rakyat Banten, gue yakin. Hanya sayangnya, doi kurang popular dibaning dua rivalnya. Kasiam kasian kasian!

Padahal eh padahal, kalau menurut gue yang nggak ada hubungannya dengan Effendi Ghazali, buah rasa SEJAHTERA lebih enak dan dibutuhkan rakyat Banten dibanding dua buah yang lain.

Alasannya?

Ya… lebih konkrit aja kayaknya rasanya.
Coa pikir deh…

Rasa Bersatu… Emang kemarin-kemarin Banten musuhan terus sampai harus makan buah BERSATU? Kayaknya nggak nyambung, yeesss…

Rasa PERUBAHAN lebih aneh lagi menurut gue. Nggak jelas, kalau makan buah itu, setelahnya akan berubah bagian mananyakah rakyat Banten? Berubah menjadi Ksatria Baja Hitam? Sayang, hanya Allah dan beliau yang tau akan dibawa kemana Rakyat Banten.

Nah, kalau buah rasa SEJAHTERA sepertinya dan harusnya disukai rakyat Banten. Karena kondisi Banten terutama di pedalamannya emang masih belum sejahtera. Dibutuhkan buah rasa SEJAHTERA agar rakyat Banten segera sejahtera dalam lima tahun mendatang.

Iya nggak sih?
Hhheee… hanya persepsi pribadi sih. jangan diambil hati pliisss XD

Qais Nggak Majnun-majnun Amat

MP-man MP-wati…
Pernah denger kisah berjudul Layla Majnun? Itu lho… Seorang laki-laki bernama Qais dari keturunan bangsawan, tampan, digilai oleh para wanita, tapi malah tergila-gila dengan seorang gadis kampung yang jauh dari paras cantik, dan nggak bebanda pula alias kismin.

Sejak bertemu dan kenal dengan Layla, sosok Qais ini berubah 180 derajat. Teman-teman cowok sesama keturunan bangsawan, cewek-cewek di sekeliling Qais, dan keluarganya sungguh bingung dengan kelakuan Qais yang makin aneh dari hari ke hari. Makanya, doi sampe dapat gelar Layla Majnun atau kalau bahasa arabnya Majnunu Layla (sok ngarab… bener nggak nih?)

Yaaa, wajar aja deh yesss… Namanya juga orang lagi jatuh cintrong! Telek ayam dibilang coklat pasta, e* kambing dibilang chacha. Bukan begitu, MP-man MP-wati yang masih waras? Pernah lah ya ngerasain jatuh cinta…

Nah, ceritanya… tadi sore pas ‘nimba ilmu’ di TMBookStore Depok, gue baca satu buku kumpulan kisah islami berjudul Kerakusan Nabi Sulaiman (kalau nggak salah-berarti benar- sih judulnya begitu). Nah, kisah pertama itu tentang si Qais dan Layla.

Waktu baru pertama banget baca kisah mereka berdua di Serial Cinta-nya Ust Anis Matta, gue sempat mengasihani cinta si Qais yang sampe segitunya kepada Layla. Tapi setelah tadi membaca lagi kisah mereka, gue jadi lebih tau alasan Qais tergila-gila dengan sang pujaan hatinya.

Cinta Qais pada Layla, tak lain dan tak bukan, dasarnya adalah kecakapan ruhani Layla yang terpancar dalam tutur, sikap, dan lakunya. Kalau jaman sekarang, namanya Inner Beauty, kali yeesss…?

Bahkan, ketika teman-temannya sesama pemuda dari kalangan bangsawan menanyakan keheranan mereka atas cinta gila Qais, doi menyuruh teman-temannya untuk senantiasa bangun malam demi melihat kecantikan Layla yang seungguhnya!

Hmmm… beneran gue jadi dapet satu pelajaran baru yang gue amini dari dua pargrap terakhir yang ditulis penulsnya, bahwa pemuda-i seharusnya meneladani kerja cinta gila Qais. Mencari wanita yang baik agamanya untuk dicintai.

Kalau perkataan keren Rasul seperti ini kira-kira; tankihul mar-ah lil arba’: limaliha, lijamaliha, linasabiha lidiniha (lagi… bener ga sih hadisnya kek begitu? Maaf sotoy o_O). Intinya sih… wanita itu dicintai karena 4 hal di atas. Walaupun syarat tentang agama disebutkan di urutan paling buncit, tapi Rasul memerinahkan untuk melihat agamanya terlebih dulu di atas segalanya (harta, kecantikan, nasab). Ini sepertinya berlaku juga untuk kriteria laki-laki yang harus dipilih wanita, yeesss…

Jadi, agamanya agamanya agamanya dan agamanya dulu dibandingg apapun.

Nah, jadi dapet pelajaran lagi nih… Kalau begitu kata Rasulullah, melihat kiteria agama di atas segalanya, kita wanita juga kudu ngaca, yeesss… Mau dapetin yang soleh, ya berbenah diri juga. Ngaca gituuuh, Njeee! 🙂

*ngingetin diri sendiri.
**lagi belajar make pedang ( smartphone) buat ngiris daging (sesuai dengan fungsinya). Hhiii, alasan yang saru dengam pamer!