lebih baik suruh gue nulis daripada harus ngutak-ngatik tampilan MP… o_O

Iklan

Internet Membuat Gue "XLangkah Lebih Maju" Menjadi Reporter dan Blogger

Apa jadinya, ya, kalau abad 21 seperti sekarang ini nggak ada yang namanya internet? Pliiis, tolong jangan dibayangin… Tolong, tolong jangan dibayangin!

Nggak bisa melihat wajah imut plus suara emas JB secara cuma-cuma tiap hari via Youtube…

Nggak ada yang namanya Briptu Norman di kancah musik tanah air…
Nggak ada aksi sosial galang suara menegakkan keadilan via FB dan Twitter (baca: kasus Prita Mulya Sari dan kasus Bibit Chandra)…
Dan pastinya, nggak bisa ikut-ikutan kuis gratis via sosial media. Huwehehe…

Anyway, sebagai seorang reporter debutan majalah online (www.annida-online.com), anugerah Tuhan berupa internet, ini benar-benar membuat karir gue “XLangkah lebih maju”, Meeen!

                 [selesai meliput konferensi pers Konser Maher Zain @ Hotel Sultan (4/10)]

Berkat internet, berita hasil liputan bisa langsung dikirim ke redaktur, saat itu juga tanpa tunggu beberapa jam kemudian atau besok-besok.
Berkat internet, arus perputaran informasi suatu acara (sharing info acara sesama reporter dari media massa lain), berjalan mulus tanpa hambatan. Gue pun jadi lebih rajin liputan sana-sini, booow! 
Berkat internet, proses wawancara narasumber yang super sibuk, bisa dilakukan via chat YM ataupun FB. 
Dan berkat internet pula, tepatnya berkat jejaring sosial, media tempat gue bekerja makin ng-eksis dari hari ke hari. Prok pok proook! Go Annida-Online Go!
Eh satu lagu, ding… Kalau di video ini, ada foto gue dan dua teman lainnya yang lagi foto bergaya bareng Masbro Maher Zain, selesai wawancara eksklusif di Hotel Oriental.  Mantafff! 🙂
Weleh, ruaaarrr biasa berkali-kali! Sekarang apa-apa emang butuh internet, yeesss… o_O

Dan satu lagi berkah internet bagi seorang reporter yang biasa ketemu tokoh atau orang beken… Biasanya, setelah ketemu atau mewawancarai mereka, kan, ada impres tersendiri yang nggak semua bisa ditulis dalam berita hasil liputan, tuh… Daripada dibiarin mengendap gitu aja, mending dituangin dalam sebuah blog, right?

So, sejak jadi reporter yang hampir tiap detik nggak pernah jauh-jauh dari internet, perlahan gue mulai mendeklarasikan diri sebagai seorang blogger aktif. Yeeaaah! Thanks, internet… “Dirimu” membuat semangat gue sebagai seorang blogger “XLangkah lebih maju”. Yeaaah, lagi!

Yah, biar kata ini blog isinya kebanyakan curcolan sepanjang perjalanan dari satu tempat ke tempat lain sebagai seorang reporter, tapi banyak pelajaran yang gue selipin walauupun sedikit. Kata beberapa teman, sih, blog ini kayak permen jadul: manis asam asin, ramai rasanya! 

And you know… Di sepanjang perjalanan pulang pergi ngantor lah gue biasa menghabiskan waktu bersama internet. Cari-cari inspirasi bahan tulisan dan ngupdate blog hampir tiap hari. Oh, indahnya hidup ini!

Beneran deh, internet makin membuat gue “XLangkah lebih maju” sebagai seorang reporter dan blogger. Terima kasih bertubi-tubi, interneeeet! 😀

*ditulis dalam perjalanan menuju liputan ke Depok 😉

(Berasa) Naik Kapal Titanic!

PROLOG:
Hallohaaa, MP Mania… Bener-bener kanggen kalian semua deeeh! Do you? 😉

Kalau ada yang rajin merhatiin, pasti bertanya-tanya… “Kok belakangan si Nj kurang aktif nge-blog, sih? Notes noraknya itu lho… Jarang berseliweran di inbox gue!” atau jangan-jangan ada yang H2C menanti postingan notes gue? Hayooo, ngaku hayooo…! *minta digeplak ya lo, Nje?!

Orek, dengan segala kerendahan hati gue mau mengungkapkan fakta knapa kenapa kenapanya deh buat kalian semua teman-temanku tercintah!

Kira-kira satu minggu menjelang tanggal muda, itu berarti kala itu masih tanggal tua… Jederrr! Pulsa paket internean gue yang ngakunya unlimited, itu habis, Sodara-i! And you know, betapa hampa hari-hari gue tanpa barang yang satu ini. Ibarat koboy yang punya senapan laras panjang (baca: Smartphone) tanpa peluru di dalamnya (baca: pulsa internet). Sediiih? Buanget! Ngenes, tepatnya…

Apalagi sepanjang perjalanan rumah-kantor kantor-rumah yang lamanya biasanya sama dengan satu notes gue… bener-bener mati gaya! Fyuuuh…

Kok nggak pake laptop n disave di flash disk, then diposting pake fasilitas internet kantor sembari kerja?

Duh, buat apa gue punya smartphone kalau ujung-ujungnya pake internet kantor? Lagian, enakan nulis sekali duduk langsung posting! Adrenalin kayak berpacu dengan tiap putaran roda bis yang gue tumpangi. Sampe rumah udah harus posting. Ihiiiyyy!

Nah, begitu kurang lebih prolog tulisan kali ini. Mudah-mudahan sedikit menghibur kekecewaan kalian terhadap diri gue ini. And… Ada yang jauh lebih penting dari prolog ini (masalahnya, adakah yang mengatakan bahwa prolog di atas penting atau bahkan lumayan penting? o_O), yakni pengalaman pertama gue (berasa) naik kapal Titanic. Bener-bener amazing deh… Penderitannya! 😛

Eniwey… Kalau gue sebut kata Titanic, kata apa yang berseliweran di benak kalian? Kapal raksasa, Ros, Jack, atau kaum bangsawan?

Yep, nggak ada yang salah. Cuma ada satu hal yang harusnya nggak boleh terlupa: ditempatkannya orang miskin nan papa di tempat paling bawah kapal dalam jumlah yang banyak pula. Bak ikan teri yang ditaro dalam satu ember. Ckckck…

Nah, itu dia yang bakal gue share di tulisan kali ini. Tepatnya pengalaman gue naik gerbong pertama kereta ekonomi non AC jurusan Pdk Ranji-Tanah Abang, yang suasananya persis seperti lantai paling dasar kapal Titanic. Bejubel n nggak manusiawi! Yang ngebedain mungkin cuma satu: nggak adanya sosok bertampang Jack, sepanjang mata ini memandang. *Hiks… Nje kurang beruntung!

Lazimnya, sebobrok-bobroknya kereta di negeri kita, kan masih ada bangku, yeesss? Tapi dalam gerbong kereta yang gue juluki kereta Takpanik, bangkunya bener-bener NIHIL, booow! Yang ada hanyalah hamparan manusia yang duduk ngedeprok beralaskan koran bekas. Hanya di depan pintu yang tak berpintu aja yang nggak ada orang duduknya.

Udah gitu, bukan hanya hampara manusia duduk aja. Aneka barang dagangan pun tumplek jadi satu di dalamnya. Ada rambutan, opak yang segede-gede gaban, empek empek, cabe merh keriting, bawang putih, payung, sampai sapu lidi! Belum lagi para pedagang asongan yang maksain hilir mudik di antara para penumpang yang duduk.

Gue yang memutuskan nggak ikut-ikutan duduk dan tetap berdiri di dekat pintulah yang sepertinya paling merana. Selain harus rela berbagi jalan dengan para pedagang, menghirup asap rokok dari para mahluk paling oon sejagad raya, gue juga harus menyeimbangkan badan kala belokan atau jungglengan menghampiri. Satu-satunya jalan agar seimbang, mau nggak mau ya harus memegang bahu orang di depan gue. Huwaaa… Ampuni hambaMu ini, ya Allah o_O.

Tapi overall, gue melihat kehiupan lain Jakarta di tempat ini. Merekalah orang-orang pinggiran Jakarta yang gigih mencari rejeki sejak pagi. Walaupun hanya menjual barang-barang atau makanan orang kecil, tapi semangatnya kudu diacungin dua jempolll!

Belom lagi banyolan khas orang pinggiran yang sebenarnya menurut gue nggak lucu lucu banget, tapi suasana yang membuat bibir ini mesem mesem ngedengernya. Misal: waktu gue baru aja masuk ke gerbong itu, beberapa orang udah “menyambut” dengan sok SKSD-nya:

“Masuk, Teteh… Mau beli apa? Semua ada di sini. Cabe merah, ada. Bawang putih, ada. Empek empek, ada. Payung juga ada… Dipile dipile dipile…”

Eeaaa, ini kereta apa pasar, sih? (batin gue)

Eiya, gebong ini juga lebih humanis ketimbang busway yqng tiap malam gue naiki. Kalau di busway, hampir seluruh penumpangnya doyannya nunduk memandangi dan sok sibuk sama BB masing-masing. Kalau di sini… Orang-orangnya kayak udah akrab satu sama lain. Ngobrol sampai terbahak-bahak, saling “menggoda” alias ceng-cengan, sampai mencipta permainan layaknya anak SD: saling lempar koran bekas alas duduk yang dibuntel-buntel jadi bola-bola kertas. Yang keimpuk nggak ada tuh yqng cemberut. Semua happy happy aja ketawa ketiwi. Hhiii, kayaknya gue mau ikutan main aja dah. Keliatannya seru banget!

Buat yang udah sumpek sama rutinitas kehidupan Jakarta, kayaknya penting buat sekedar refreshing sekaligus memuhasabahi diri betapa masih beruntungnya kehidupan kita. Apalagi buat yang bercita-cita mau jadi pemimpin, rasain deh kehidupan rakyat kecil di tempat-tempat kayak begini.

Cuma satu yang gue sesalkan sampai kereta berhenti di stasiun Tanah Abang… Bener-bener nggak ada sosok bertampang Jack di mari! 😛

Jamaah Ki Patkai…

Generasi 80-90 pasti kenal beudh dengan salah satu tokoh utama dalam film Kera Sakti: Ki Patkai. Panglima Tian Fang nan rupawan yang berreinkarnasi (atau dikutuk, yah?) menjadi mahluk setengah manusia setengah (maaf) babi. Beruntungnya, walaupun ditakdirkan berburuk rupa, doi ini menjadi orang pilihan yang ditugaskan menemani Tong Sam Cong mengambil kitab suci ke Barat. Buntungnya, doi divonis akan mengalami kegagalan cinta higga akhir hayatnya. Hmmm, kasian kasian kasian…!

Ah, actually nggak penting banget ngomongin Ki Patkai. Karena biar bagaimanapun, doi ini hanyalah tokoh fiktif belaka, menurut gue. Yang paling penting justru walaupun hanya tokoh fiktif, doi ini punya banyak banget jamaah di Negari gue tercinta. Noted: bukan fans atau penggemar, melainkan jamaah. Amazing!

Nah, nah, nah… siapa sih yang dimaksud dengan Jamaah Ki Patkai? Apakah kumpulan orang buruk rupa seperti doi? Atau orang yang kegantengan dan kedudukannya telah sirna sabab kesombongannya? Atau mereka-mereka yang memuja daging (maaf) babi secara berlebihan?

Baiklah baiklah baiklah, untuk menjawab semua rasa penasaran MPman MPwati, akan sedikit gue paparkan tentang Jamaah Ki Patkai, yang kehadirannya nggak kalah meresahkan dari jamaah Ahmadiyah dan aliran sesat lainnya. (lebay lo, Nje!)

Jamaah Ki Patkai sebenarnya hanyalah satu istilah yang disematkan kepada mereka-mereka yang terjangkiti “Sindrom Ki Patkai” atau SKP. Satu sindrom terbaru yang dialami kebanyakan muda-mudi Indonesia, dengan motto:

“Dari dulu, beginilah cinta… Deritanya tiada akhir…”

Beeuuuh, ngenes sangad, yeesss…
Tapi inilah motto yang mereka junjung bersama, yang sadar atau nggak, mungkin kadang kita juga menjadi bagian dalam jamaah ini. Kalau kalian nggak mau mengakui, orek… gue ngaku deh, gue emang pernah terjangkiti SKP.

Eniwey, sudah mulai mudeng kah dengan pembahasan Jamaah Ki Patkai? Intinya sih, cinta selalu membawa derita ketika sedikit saja bagian dari keping cinta tak sesuai dengan yang mereka harapkan. Sebaliknya, cinta bukanlah derita kala ia cocok dengan yang dimau.

Misal: ketika baru aja mau memulai proses perkenalan, cinta kita ditolak oleh pujaan hati yang sudah lama dinanti dan selalu hadir dalam mimpi. Buat para jamaah ini, saat itu juga dunia seakan runtuh. Matahari nggak akan pernah muncul lagi mulai besok. Tuhan sudah nggak sayang sama kita, karena nggak memberi apa yang kita pinta. Parahnya, sampai muncul statement: Elo-Gue-End… Gue benci elo!

Ada juga yang menyatakan sudah siap untuk memulai proses perkenalan dengan siapa saja, katanya. Tapi ketika yang diberi nggak sesuai dengan kriteria dari lubuk hati… Tidaaak! Mimpi apa gue semalem? Gue ini lelaki solih, masa dijodohin sama wanita begajulan kayak nih orang?! Casing doang muslimah, kelakuan mah musibah! Eiya, ini putus asa dan merasa bisa hidup dengan kaki sendiri (sudah mapan), akhirnya memutuskan untuk hidup menyendiri selamanya aja. Na’udzubillah…

Menurut (bukan) dokter yang (sok-sokan) meneliti fenomena ini, Enjewati, ketika kita membicarakan SKP, maka muaranya adalah persepsi salah para pemuda-pemudi tentang cinta. Contohnya kecilnya dari penggunaan kata ‘jatuh cinta’ saja. Walaupun keliatannya sepele, tapi jelas sangat berpengaruh dalam laku kita tentang cintaAda pengharapan berlebih kepada si objek cinta kita di dalamnya. Dan ketika pengharapan itu jauh dari angan dan bayangan kita, hukumnya selalu sama: kita akan jatuh terperosok dalam nelangsa cinta.

Apalagi ditambah dengan makin maraknya lagu cengeng seputar ‘patah hati’ di kancah musik tanah air. Seperti: Dewi kaulah hidupku, aku cinta padamu sampai mati. Oh Dewi belahlah dadaku… Atau lagu Terlalu sadis caramu… Makin menjadi-jadi lah nelangsa cinta dalam hidup kita. *Huh, lebai banget nggak seeeh?

Maka dari itu, masih menurut (bukan) dokter Enjewati, sudah saatnya kita mengganti kata ‘jatuh cinta’ dengan ‘bangun cinta’ kala hati terpaut dengan someone. Insya Allah, ketika ‘bangun cinta’ yang ada, nggak akan pernah ada lagi rumus jatuh terperosok dalam nelangsa cinta. Yang ada justru terbang mengangkasa di langit cinta. Yeeaaah!

Karena kita terus mengupayakan membangun kualitas diri demi memantaskan mendapatkan cinta yang terbaik menurut-Nya. Dan ketika cinta itu tak berbalas, yaudin… yang penting kita akan selalu bangun dalam suasana cinta.

Cinta ditolak oleh pujaan hati? Yakini dengan pasti, bahwa ada pengganti yang lebih-lebih dari doi.

Dihadapkan kepada yang nggak sesuai dengan kriteria hati, awalnya mungkin kita anggap ujian. But, hidung siapa (baca: who knows?) kalau ternyata ada happy ending di mengakhiri?

Dan hapus kata kapok dalam melakukan proses perkenalan saking seringnya gagal. Karena cinta itu misteri. Akan indahnya pada masanya pasti. Yang penting terus aja bangun cinta dalam diri!

Bukan begituh?

Hheee… hanya tulisan ngelindur menjelang tidur ^___^