Memilih Jurusan Sesulit Memilih Pasangan

Ajegileee… Geje banget si Enje, malem-malem ngegalau tentang memilih pasangan! Ckckk.. Emang pernah? Mana nyanding-nyandingin sama memilih jurusan pula… Emang ada kaitannya apa ya? Jaka Sembung bawa gitar… Nggak nyambung, jreeeng!😄

Buat yang udah gatel mau menghinakan ke-geje-an gue, gue terima dengan lapang jidat… Tapi buat yang pernah ngalamin betapa nggak enaknya salah milih jurusan, mari-mari, mari kia rapatkan barisan. Bukan untuk meratapi kebodohan diri, bukan… Justru untuk meluruskan apa iya hidup kita jadi sengsara cuma gara-gara salah milih jurusan? Ow… Of kors not!

Ok, balik maneng ke judul…
Actually itu bukan perkataan gue. Cuma perkataan guru bimbelnya adek kelas yang menurut gue amat sangat super depay lebay! Much more banget! Masa sih sampe segitunya? Gue aja yang udah berpengalaman dalam hal salah milih jurusan, fine fine aja dah. Happy malah!

Kok bisa? Ya bisa-bisa ajah…

Jujur sejak milih bangku SMP sampe milih bangku universitas, gue masuk dalam mazhab manut-manut. Maksud, kalau kakak bilang di sini oke, gue ikut dan percaya aja. Toh mereka nggak bakalan memilih yang nggak oke buat adiknya, fikir gue dulu.

Tapi ternyata gue salah. Jalan hidup gue bukan di sini kayaknya. Dua tahun pertama di fkm ui bener-bener berasa lama banget. Beberapa pelajaran eksak ece-ece yang diulang terus dari SMP, nilainya nggak karuan. Kimia yang di SMA gue pernah jadi jawara, nggak bisa dibanggain lagi. Biologi yang dulu gue lumayan enjoy, mendadak ngejelimet. Apalagi fisika yang dari dulu nilai gue suram… Makin suram! Tidaaak, gue salah milih jurusan!

Untung gue ikut-ikutan Rohis, lomba-lomba di tingkat fakultas sampe nasional (pamer!) dan beberapa kali ikut siaran temen di radio UI. Empat tahun jadi lebih berwarna-warni. Mujarab sangat membuat ge lupa akan rangkaian rantai karbon nilai-nilai pelajaran yang berbau IPA. Hhee, disorientasi banget, yeesss…

Akhirnya ketika masa memilih jurusan tiba, gue bertekad nggak mau ngulang kesalahan yang sudah beranak pinak ini. I hate IPA. Cukup sampai di sini deh berIPa-IPA ria. Gue putuskan untuk mengambil jurusan yang minim mata kuliah IPA dan bertabur mata kuliah IPS. Untuk menghormati para dosen yang telah berjasa hingga gue menjadi seperti sekarang ini (emang udah jadi apa sih gue?), gue samarkan deh nama jurusannya. Bukan apa-apa, karena kala dibuat survey… Mungkin cuma 1/2 dari 10 oran yang tau atau minimal pernah denger nama jurusan gue. Mereka cuma tau gizi, k3, kesling, mrs, dll. Jurusan gue? “belom pernah denger, tuh! Emang ada ya?”. Sedih!

Eiya, bukan cuma orang-orang yang gue temui yang bilang katak begitu. Kakak gue pun sama bingungnya dengan jurusan itu dan menyayangkan pilihan gue. Untungnya, setelah lobi beberapa hari doi pasrah. Terserah deh gue di jurusan apa juga, yang penting lulus jadi PNS. Eeaaa… Ini sih pinsipna kartu seluler jaman sekarang: sarat dan ketentuan berlaku!

Dua tahun belajar di jurusan yang nggak boleh disebut namanya ini, lumayan bikin otak seger. Nggak ada tuh yang namanya “udah ketentuan dari sononya”, yang ada kita diskusi dan santai-santai. Hhee. Belajar komunikasi, sosiologi, psikologi, antropologi dan ilmu-ilmu lain yang berhubungan dengan tingkah laku manusia emang enak banget yeesss… Walaupun dikait-kaitin juga sama dunia kesehatan. *yaeyalaaa… Namanya aja FKM: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Bukan Fakultas Komunikasi Massa. Hhee.

Empat tahun gue tutup dengan husnul khotimah, alhamdulillah. Hanya saja, kakak gue masih inget dengan janji gue untuk jadi PNS. Mau nggak mau, dengan setengah hati gue ikut-ikutan hanyut dalam euphoria tes CPNS. Ada kali tiga tes gue ikutin, alhamdulillah lagi nggak ada satupun yang lolos. Aheeyyy! *maafkan adikmu yan satu ini, Kakak…*

Iseng-iseng gue mencoba menjalin cita-cita yang sempa terkubur dalam-dalam: jadi reporter teve atau penyiar radio. Gue jajal ngelamar di sebuah majalah sambil terus istikhoroh dan berdoa: ya Allah, mudh-mudan ini adalah jalan yang terbaik buat hamba dan orang-orang sekitar. Kalau Kau ridho, permudahkan jalannya, ya Allah. Kalau Kau nggak ridho, pilihkan jalan lain, tapi masih jadi reporter juga ya, ya Allah. *doa yang maksa*

Dan tarraaa… Gue dipanggil! Apakah ini berarti Allah ridho? Insya Allah yang terbaik lah yeess, karena Kan ritual minta ridho-Nya lumayan kenceng.

Sampe sekarang alhamdulillah enjoy-enjoy aja. Kecuali satu: gelar “karyawan” yang masih nempel nggak mau pergi. Sebagai manusia biasa yang doyan berkeluh kesah, kadang nggak mensyukuri juga sih. Tapi gue punya jurus ampuh biar makin bersyukur.

Gelar Jurnalis yang melekat pasti dalam diri sepertinya membanggakan juga. Apalagi punya kartu sakti mandraguna: kartu pers, yang memungkinkan gue buat memasuki hotel-hotel berbintang dan tempat-tempat high class lain yang nggak semua orang bisa ke sana. Bisa icip-icip kuliner dari luar juga tanpa perlu pusing-pusing mikirin gimana bayarnya. Bisa refreshing seing-sering kalau lagi pusing. Bisa ketemu, ngobrol, dan foto-foto mereka sampe eneg. Dan lain-lain enaknya jadi jurnalis.

Tapi kok dari tadi curcolin perjalanan pendidikan dan kerjaan gue terus, yeesss? Mana curcolan tentang memilih pasangan-nya? Apa yang mau dihubungin n dibandingin, coba?

Hhee, jelas aja ada hubungannya, dooonk!
Gue mau menyangkal statement super duper lebay: Memilih Jurusan Sesulit Memilih Pasangan”. Gue udah buktiin tuh, biar kata salah milih tempat belajar, gue happy-happy aja di dunia kerja! Apanya yang sesulit milih pasangan?

Jelas-jelas keduanya beda jalur. Beda mazhab. Beda aliran. Beda dunia! Yang satu jelas rumitnya, karena buat seumur hidup. Salah milih bisa bernasib tragis seperti hampir 80% artis Indonesia, yang doyannya kawin cerai. Makanya kudu bener-bener biar nggak salah pilih. Lidiniha dulu baru yang lain (Limaliha, Lijamaliha, Linasabiha *bener nggak tuh bahasa Zimbabwenya?). Kalau Lidiniha-nya nol besar, tanggung sendiri akibatnya!

Nah kalau yang satu lagi, rumit bin sulit juga sih… Tapi masih lebih lentur. Kalau terlanjur salah milih jurusan, kan bisa banting setir milih kerjaan yang kita senangi. Bukan beg beg begetoh?

Ya nggak gitu, dooonk… Masa kuliah mahal-mahal, kerjanya nggak nyambung dengan yang dipelajarin di kampus? Meding nggak usah kuliah aja sekalian kalau gitu. Kursus lebih murah!

Itu dia masalahnya. Banyak dari kita yang masih menjadikan pendidikan sebagai batu sandungan ketimbang batu loncatan. Bukan kata gue nih, lagi-lagi kata orang, dan orangnya adalah milyuner wanita Indonesia: Merry Riana.

Maksud, kalo kuliah di jurusan X, kerja juga kudu di ladang X. Dalihnya, udah ngelotok ilmunya, empat tahun belajar di kampus. Walaupun setengah hati juga jalaninnya.

Beda kalau orang yang menjadikan pendidikan sebagai batu loncatan. Kuliah di kampus Y, kerja di mana aja, yang penting sesuai passion! Nggak peduli meski kudu baning setir.

Lagian, nyari kerja sekarang kan susah buanget! Mending kalau jurusan yang kita ambil sesuai dengan passion kita, lah kalau kasusnya kayak gue (disetir keluarga) atau baru nyadar di tengah jalan kala ternyata jurusan yang diambil bukan kita banget, atau jurusan yang kita ambil banyak peminatnya hingga peluang bekerjanya sedikit, giimana dooonk?

Mau tetap ngoyo kerja sesuai jurusan yang kita ambil? Wah, itu si nambah susah hidup yan udah makin susah! Mempersempit celah rejeki juga!

Gue yakin banget dah sampe sekarang, kalau passion itu di atas seglanya. Mau gaji guede banget tapi nggak sesuai passion, cuma jadi robot! Nggak kan langgeng biasanya (itu sih gue, yeess). Sbaliknya, gaji pas-pasan tapi sesuai passion, hidup terasa bergelora. Hhee, apa dah?! Ya intinya, paling enak melakukan hal yang kita senangi dan dibayar pula.

Kalau sesuai passion, mau kuliah di jurusan A, kerja meleset jauh di jurusan Z. No problemo sangato, deeeh! Right?

Eniwey, dari tadi gue koar-koar tentang passion terus, yeesss… Apa sih artinya?

Gue jawab: Silakan cari di kamus bahasa Zimbabwe!😄

23 comments

  1. Rin Sakura · November 4, 2011

    sperti biasa, tulisannya enje puanjang dan geje, bentaran dulu ah bacanya, ni di tandain dulu😀

  2. nurjanah hayati · November 4, 2011

    Biar geje yang penting eksis. Ixixixix😛

  3. avizena zen · November 4, 2011

    passion is something that you really like inside your heart..

    keingat buku “your job is not your career”

    kalo gak nyambung ya gak pa-pa..selama dinikmati..
    yang penting senang🙂

  4. rifa' muhamad · November 4, 2011

    Baca sambil mengambil hikmah*

  5. nurjanah hayati · November 4, 2011

    Mbak Fazia: eh eh eh… udah dapet kamus bahasa Zimbabwe ya, Mbak? *kidding
    yep, yang penting heppiiii…🙂

    Rifamuh: emang itu motto blog ini (insya Allah): tetap ada hikmah walau sambil ketawa ketiwi😀

  6. avizena zen · November 4, 2011

    dan mengamalkan ilmu..agar semakin bermanfaat ^_^

  7. Rin Sakura · November 4, 2011

    ok sudah di baca n ini kripik eh kritiknya
    1. seseorang menulis sesuatu biasanya akan lebih berani untuk mengeksplore terhadap sesuatu yang emang sdh dia jalani ataupun sesuatu yg dia tahu ilmunya dan terlihat jelas di sini enje lbh bnyk mengeksplore mslh pemilihan jurusan dibandingkan dengan pemilihan pasangan, means enje BELUM pengalaman (piss ^_^v) dlm hal ini.
    2. dalam hal memilih jurusan sy lebih suka mengandaikan dengan hal ini 'andai nasi sudah jadi bubur, maka jadikanlah ia bubur ayam spesial yg super lezat' artinya bukan menggantikan si bubur ini dengan jenis makanan yg lain tp mengolah yg sdh ada dengan memanfaatkan bahan2 yg sudah ada. (bingung kan? cek no 3 dulu dah :D)
    3. sy setuju untuk mengikutsertakan si passion dlm hal ini (meskipun yg dalam bhs Zimbabwe sy blm faham artinya :D) tp sperti cerita bubur ayam di point no 2 tadi gimana klo si passion di gabungkan dgn bahan2 yg salah jurusan tadi. yah walaupun g tau jls jurusannya enje apa, dan kerjanya di jurnalis jg g tau pasti bagian mana (intinya komentator yg sok tahu :D) alangkah baiknya klo ilmu FKM nya bisa dimasukkan k dlm kerjaan, jd g ilang total yah kali aja bisa jadi pemberi info pada masyarakat ttg kesehatan walaupun cuma sedikit (cuma saran dari komentator yg sok tahu ^_^v)
    4. and fyi jurusannya g sesuai2 amat dan jg masih mencoba membuat bubur ayam super lezat itu🙂 #toss
    5. btw ada bhs Zimbabwe yg lain tuh —> Limaliha, Lijamaliha, Linasabiha, mgkn pembaca harus di kasih kamus Zimbabwe gratis y kali2 aja ada yg g ngerti😀
    6. maap komentarnya panjang, sengaja lg pengen cucol d lapak orang😀

    last but not least enjekerenabezteoppebegetemakinngefansdah😀

  8. Diah Pitaloka · November 4, 2011

    Kaya'nyah yg dibahas itu.. Salah milih jurusan doang,hehe.
    “Yg terbaik itu yang Allah pilihkan untukmu..” jadi mending istikhoroh tiap ngambil keputusan, apapun itu..
    Cpns yaak,Diah baru disuruh skali tes ama ortu. Waktu itu kepepet,karna camer pengen calon mantunyah kerja,eh lolos.. Dulu jg salah jurusan tp,justru slalu dimudahkan di bidang ini, hoho.

  9. nurjanah hayati · November 4, 2011

    rin: hedeeeh, ini mah panjang amat…
    1. Yep, makanya nggak mau bahas yang beloman ngerti2 amat😛
    2. Markimabu >> Mari Kita Makan Bubur🙂
    3. Hhee, paling praktekin buat diri sendiri. itu pun ga sering. *parah
    4. Kapan kita makan bubur bareng jadinya?😛
    5. Tolong yang orang Zimbabwe, segera diterbitin itu kamusnya🙂
    6. bukan kali ini kali curcol2an di lapak orang😛

    aye cuma nulis apa yang dirasain aja kok. ga lebih, hhee… jadi biasa2 aja. masih banyak bloger lain yang lebih wokeh😀

  10. nurjanah hayati · November 4, 2011

    Mbak Fazia: beda dah komenan isteri ustadz, udah tersibghoh banggetz😀
    sepakat sepakat sepakat… hhee.

    Ummi Diah: hhee, lagi2 cuma nyari sensai doank angkat judul ttg #kode2an. hhee.
    oh, jadi Ummi sekarang pns? dimana dimana dimana?🙂
    manteb dah kalau dilancarin. pertanda Allah ridho keknya, yeesss😀

  11. avizena zen · November 4, 2011

    malu dah dipanggil istri Ustadz🙂 aku ya begini2 aja

    tes pns dimana aja?

  12. Rin Sakura · November 4, 2011

    kan mo nyaingin enje yg selalu buat artikel yg panjang😛
    yesssss yg pasti mulai skrg kykna wajub bin kudu curcol d lapaknya enje ^_^V

  13. nurjanah hayati · November 4, 2011

    wooot? isy isy isy… ngelapak, bayar!😀

  14. nurjanah hayati · November 4, 2011

    mbak fazia: ah, merendah banget nih isteri Ustadz🙂

    depkes, tangerang, jakarta😀

  15. Diah Pitaloka · November 4, 2011

    Yg salah jurusan tapi jadi kaput fakultas,hoho.

    Nape aye jadi dipanggil ummi mulu yaak?Hahah.

    Baru masuk tahun ini kok, walimah jg tahun ini. Di depok kerjanyah.

  16. rifa' muhamad · November 4, 2011

    izin share ya🙂

  17. nurjanah hayati · November 4, 2011

    Ummi diah: jgn dibocorin donk yg itu mah… Ntar aye menurunkan harkat dan martabat Nurani😦

    Dibilang… Lumayan disorientasi waktu itu. Klw mata kuliah biasany cm 2 sks per minggu, rohisnya 10 sks hhee, parah rapah😄

  18. nurjanah hayati · November 4, 2011

    Ummi diah: jgn dibocorin donk yg itu mah… Ntar aye menurunkan harkat dan martabat Nurani😦

    Dibilang… Lumayan disorientasi waktu itu. Klw mata kuliah biasany cm 2 sks per minggu, rohisnya 10 sks hhee, parah rapah😄

    Abis waktu ketemu terakhir lg isi, kan calon ummi😉

    Wuih, rejekinya pol yeesss tahun ini🙂

  19. nurjanah hayati · November 4, 2011

    Rifa: sila🙂

  20. Heru Nugroho · November 4, 2011

    Si mpok, dah kayak ngelenong di marih. . . -.-'

    petinggi fkm harus betawi yak?
    Temen aye anak beji depok betawi murni, jadi ketua angkatan.😀

  21. nurjanah hayati · November 4, 2011

    Tsaqqif: ayo tunjukkan kemampuan bermain ketoprak-mu!

    Hipotesisnya: anak betawi emang bakat jadi pemimpin!😄 *ujub

  22. 1st nas · November 5, 2011

    DO what you LOVE and LOVE what you DO…he

  23. nurjanah hayati · November 5, 2011

    nas: like🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s