[Serial Kukusan CR07] Tarung Nyanyi Sambil Nyuci

Duh duh… Telat dua hari dari janji kemarin buat menampilkan Serial Kukusan CR07 iap pekan ke-empat. Tapi apa boleh buat, *e kambing bulat-bulat. Masih dalam proses belajar nulis fiksi, nih. Setengah hidup ngerjainnya -,-“
Okd, here it is… ^___^
Mama… oh, Mama…
Aku ingin pulang…
Kurindu padamu…
Di pagi yang belum tanpak cerahnya. Matahari pun masih belum menampakkan batang hidungnya untuk menjalankan tugasnya menghangatkan bumi. Sebuah suara dengan ketinggian nada beroktaf-oktaf bak Markonah Carey, mengambang dari balik ruang mencuci kamar 03 dan 04. Membuat suasana ba’da subuh itu makin terasa dinginnya. Mendinginkan hingga ke aliran darah, aliran limpa, bahkan hingga ke tulang-tulang persendian! Bukan karena suhu hari itu yang nggak bersahabat, bukan. Justru suara itu yang membuat cuping para penghuninya meraung-raung gelisah! Mau lanjut tidur tapi hati nggak tenang, mau segera bangun pun pastinya akan makin menderita dengan suara melengking itu. Really-really bikin galauuu!
“Dewiii… Macih pagi, kecilin cedikit cuaranya, pliisss!” Peringatan pertama keluar dari suara baby milik Nanad alias Nadia, penghuni kamar 03. Tapi sayang, kayak-kayaknya peringatan dengan suara baby nggak empan, deh, membungkam mulut si Nayki Ardilla KW 3. 
Cincin emas berlian ia belikan dulu…
Untuk apa kalau ia tak cinta…
Gaun bersulam sutra ia berikan dulu…
Untuk apa kalau ia tak cinta…
“Kecilin suaranya donk, Cyynnn… Pliisss…! Jam 8 gue UAS, nih.” Ai yang punya nama panjang Aini Dia si Jali-jali, ikutan angkat suara. Menuntut haknya menikmati pagi dengan penuh kedamaian d detik-detik menjelang UAS.
“Duh… belom juga satu album. Pliisss, deh! Dangdut aja nggak kenapa-kenapa. Ya nggak, Dut? Sirik aja nih pada-pada.” Gantian Dewi menimpali protes Nanad dan Ai. Ceritanya berharap dapat dukungan dari teman sekamarnya, gituh.
Mama tolonglah diriku…
Dari belenggu cintanya…
“Ehm….” Endang yang punya nama beken Endang Gendut aka. Dangdut, berhenti sejenak dari aktivitas mengaji paginya. Dan… lumayan  efektif. Tanpa kata, hanya deheman, lagu-lagu yang bikin galau itu tak terdengar lagi hingga menit-menit berikutnya. Hanya sesekali terdengar senandung dengan volume super duper minim. 
Dan begitulah suasana saban Sabtu pagi di kamar 03 dan 04. Seluruh penghuni Kukusan dari kamar depan hingga belakang, bahkan mbak Ijah, mas Mahfud, dan dik Seifa-juru kunci Kukusan, paham betul kalau Dewi lah si Ratu nyanyi sejagad. Kualitas suara dengan cangkokannya yang meliuk-liuk tajam bak Elvi Sukaesih menyanyikan lagu Gula-gula, dan kemampuan menghayati lagu laiknya Ratu Pop era 90: Nayki Ardilla, patut diacungi empat jempol. Dan doi boleh berbangga hati, karena sekali waktu si Ai pernah memuji dengan menyuruhnya mengikuti kontes nyanyi tingkat nasional: Indonesian Dodol. Prok prok prok, kembang kempis dah hidung Dewi.
Eits, tapi itu dulu, ketika belum masuk satu penghuni baru di kamar belakang: Ega. Setelah masuknya Ega, mahasiswi tingkat 1 Fakultas Konomi (FK) penghuni kamar 8, yang kamar mandinya persis berada di belakang kamar mandi Dewi dkk, pamor Dewi mulai turun. Terkalahkan oleh suara seriosa Ega yang makin sering dipuji oleh Ai, Nanad, dan Endang. 
Oiya, fyi: lagu favorit Ega adalah Through the Rain milik Markonah Carey. Wa bil khusus bagian reff paling akhir lagu ini:
I can make it through the rain 
I can stand up once again on my own 
And I know that I’m strong enough to mend
And every time I feel afraid I hold tighter to my faith 
And I live one more day and I make it through the rain 
Nadanya setinggi bintang gemintang di angkasa. Meliuk-liuk bagai ular yang sedang kelaparan menangkap mangsanya. Ditambah lagi volume suaranya yang seakan-akan doi sedang berada di dalam dapur rekaman seorang diri. Seolah dunia milik Ega seorang. Huh, sungguh ter-la-lu! Beneran mirip sama Dewi. Bedanya, si Ega ini penghuni baru, gitu loh! Capek, kan?!
Oke, balik lagi ke Dewi. Actually, maksud mereka memuji-muji Ega, sih, biar Dewi berhenti dari hobi yang paling dicintainya: menyanyi, dan beralih ke hobi lain yang lebih bermanfaat dan berpahala namun masih berhubungan dengan dunia tarik suara: mengaji, misalnya. Bukan tanpa sebab, soalnya tiap kali nyuci, Dewi biasa melahap beralbum-album lagu Nayki Ardilla dan tak jarang ditambah dengan beberapa lagu jadul milik Benyamin Netanyaho’ dan Warsop, non stop selama kurang lebih dua jam tiap Sabtu pagi! Bisa bayangin seandainya Dewi melalui dua jam menyucinya dengan memurajaah hafalan Qur’an? Beuwh, bisa-bisa juz 30 nggak mau pergi dari meori dan selalu menempel di hati. Bahkan bisa merambah hingga juz 28 malah! Ya, nggak? 
Tapi ternyata, nggak disangka nggak dinyana, ya… strategi mereka salah besarrr! Bukannya sadar diri kalau suaranya sudah bukanlah yang paling sempurna, eh Dewi malah makin menjadi-jadi. Demi makin meningkatkan kualitas suara dan merebut kembali gelar Ratu nyanyi sejagad, nggak ada satu aktivitas pun yang dilaluinya tanpa menyanyi, kecuali pas tidur aja mulutnya bisa merapat dengan tenang. Jangan coba-coba berani menegur apalagi melarang, deh. Ibarat bangunin singa yang lagi ngorok: paling banter dikacangin, paling ekstrim: Hauuummm!
Eh tapi itu belum seberapa, ding! Masih ada lagi puncaknya, ketika suatu Sabtu pagi yang merupakan jadwal mencucinya Dewi sebelum balik ke rumah. Bak tsunami yang menerjang Aceh dan gempa yang meluluh lantakkan Jogja di Subuh hari. Jeledaarrr! Menjadi petaka besar bagi seluruh penghuni Kukusan, kala mereka tahu adanya persamaan antara waktu mencuci Dewi dan Ega. Owenje… Jadilah dua penyanyi gadungan ini bertarung nyanyi sambil nyuci. Yang satu mengandalkan cengkokan dan penghayatan khas-nya, yang satu lagi mengandalkan kemapuan seriosa dan lekukan tajam suaranya. 
Terjadi sahut-sahutan lagu beraneka genre selama kurang lebih setengah jam, yang dimulai dengan satu lagu milik Benyamin Netanyaho’ berjudul Nangke Lande. Salah satu lagu favorit Dewi:
Nangke Lande matengnya kena paku…
Dimakan gajeh giginya pade ngilu…
Ade jande lama nggak laku-lau…
Saban hari dia ngaca melulu…
Eh secepat kilat si Ega balas menyerang dengan lagu I’m Yours-nya Jason Ngeres. Kayaknya sih mau pamer kebolehannya dalam meliuk-liukkan suara mengikuti penyanyi aslinya, gituh:
No I won’t hesitate no more, no more
This cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours, I’m yours
Pletaarrr! Rupa-rupanya, Dewi nggak mau kalah mendengar suara yang berasal dari belakang ruang mencucinya. Dibalasnya lagu tersebut dengan bagian paling akhir  lagu If I Aint Got You-nya Alicia Kunci. Tujuannya cuma satu: menunjukkan kebolehan cangkokannya yang melegenda pada Egad an dunia!
Some people want diamond rings
Some just want everything
But everything means nothing
If I ain’t got you, yeah
If I ain’t got you with me baby
So nothing in this whole wide world don’t mean a thing
If I ain’t got you with me baby
Huwaaa… Cadas! Dibalas lagi suara Dewi dengan lagu Fighter-nya Christina Ahguegerah yang dinyanyikan dengan sepenuh tenaga oleh Ega. Maklum, lagu ini emang dinyanyikan mirip orang sedang kesurupan oleh penyayi aslinya.
’cause it makes me that much stronger
Makes me work a little bit harder
Makes me that much wiser
So thanks for making me a fighter
Made me learn a little bit faster
Made my skin a little bit thicker
It makes me that much smarter
So thanks for making me a fighter

Dan tahu siapa orang paling dirugikan dengan pertarungan sengit mereka? Yep, jelas banget para penghuni kamar 03 dan 04. Susah payah mereka menutup kuping, tapi apa daya, akal sehat Dewi telah tertutup rapat oleh egonya. Begitupun dengan Ega. Nggak dipedulikan lagi ketidaknyamanan para penghuni Kukusan yang lain. Untungnya peristiwa tragis itu segera berakhir setelah terdengar sebait nada sumbang dan dilanjutkan dengan batuk yang terus berulang. Parahnya lagi… Sayang sungguh disayang, suara batuk itu berasal dari tengorokan Dewi kala melantunkan lagu Ayah-nya Gita Ketawa da Nggak Ada Band di bagian:
La la laa
La la la laa la…
Uhuk uhuk uhuk…
Uhuk uhuk uhuk…
Uhuk uhuk uhuk…
Di seberang sana, Ega masih dengan semangat ’45 melanjutkan aktivitas nyanyi sambil nyucinya. Ia seperti bersorak sorai merayakan ‘kemenangannya’ mengalahkan Dewi dengan lagunya Queen.
We are the champions, my friends
And we’ll keep on fighting till the end
We are the champions
We are the champions
No time for losers
‘Cause we are the champions
Of the world…
Jelas Dewi merasa terpukul dengan kenyataan bahwa suara Ega memang lebih baik dari suara miliknya. Satu setengah jam hingga mencucinya selesai, Dewi hanya berdiam diri bin bermurung durja. Mulutnya terkunci, tapi hatinya menangis. Hanya Allah, cucian kotor, dan busa-busa sabun yang menjadi saksi bisu kesedihanya. 
***
Hingga tiga Sabtu pagi berikutnya, nggak terdengar lagi suara nyanyi-nyanyian yang mengganggu, baik dari Dewi maupun Ega. Bagi ketiga temannya, sebenarnya inillah moment yang paling mereka tunggu. Yang suka melanjutkan tidur, mengaji, dan belajar bada Subuh dapat melakukan aktivitasnya dengan sebebas-bebasnya. Namun mereka cukup prihatin dengan kekalahan Dewi. Doi lebih banyak diam setelah kejadian itu. Sedih banget, karena biar bagaimanapun, inilah yang paling bisa dibanggakan oleh doi. Nggak nyanyi ya bukan Dewi namanya.
***
Dengan penuh kesadaran, Dangdut, Ai, dan Nanad merasakan ada bagian yang hilang menginjak Sabtu pagi ke-empat pasca peristiwa nahas itu. Kirfikir, bangtimbang, suara Dewi-lah penyebabnya. Yep, mereka rindu akan suara Dewi. Teguran-teguran yang biasa meluncur dari mulut mereka. Dan keributan kecil antara mereka bertiga versus Dewi, yang kini mereka yakini, justru itulah salah satu moment yang membuat persaudaraan mereka semakin erat. 
Mereka bertiga berembuk, gambreng dilanjutkan suwit Jepang sih tepatnya, memutuskan siapa yang akan meminta Dewi untuk kembali kepada kebiasaannya di Sabtu pagi. Mereka sudah siap dengan segala konsekuensinya. Nggak ada lagi tidur nyenyak bada Subuh, nggak ada lagi waktu belajar paling asyik bada Subuh, dan nggak ada lagi waktu tenang membaca sekaligus menghafal Quran di Sabtu Subuh pagi. 
Malam Sabtu setelah Dewi merendam cucian yang akan dicucinya besok, Ai dan Nanad menyambangi kamar 04, menemani Dangdut mengutarakan maksud mereka. 
“Dew, lagi mau apa sih, Cyynnn?” Ai mencoba memulai dengan jurus basa-basi andalannya.
Tanpa kata, sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur, Dewi menunjuk Qur’an biru yang ada di genggamannya. Sebenarnya mereka sudah tahu maksud Dewi. Seperti yang diadukan Dangdut, belakangan Dewi mulai rajin mengulang-ulang hafalan Qur’an sebelum tidur walau tak terdengar suaranya. Ini kabar sangat bagus memang, tapi tetap aja, Dewi tanpa nyanyi bukanlah Dewi. Mereka bertekad untuk tetap menyampaikan hajatnya.
“Ehm, Dew… Sebenarnya… kita mau ehmmm… bilang ehmmm…,” terbata-bata Dangdut mencoba memulai pembicaraan.
“Duh, lama banget sih, Cyynnn…To the point aja ya, Dew. Actually kita tuh kangeeen berat sama suara lo yang every Saturday morning itu. Kalau mau dibuat perumpamaan, Sabtu pagi tanpa suara nyanyi-nyanyian lo, tuh, ibarat sayur tanpa garem, kunyit tanpa warna kuning, cabe rawit tanpa sensasi pedas, dan terasi tanpa bau! So…,” sengaja Ai menggantungkan kata-katanya dan menengok ke Nanad untuk melanjutkan maksud mereka.
“So… Sori-sori, nih. Kita mau bilang kalau… bica nggak Dewi nyanyi lagi pas nyuci becok? Nggak bakal kita tegur-tegur lagi deh… How, how, how?” Tanpa malu, Nanad melanjutkan kata-kata Ai.
Tiga menit dikeredongi kesunyian.
“Eyalaaahhh… Jadi kalian minta gue buat nyanyi-nyanyi lagi gitu tiap nyuci?” Dewi memecah keheningan.
“Of course, Sistha… Betooolll! Gimana, gimana, gimana?” Gantian Dangdut angkat suara.
“Orek, orek kalau itu yang kalian mau. Tapi perlu diingat, gue itu trauma aja loh sama nyanyi-nyanyi nggak jelas kayak gitu. Setelah gue “kalah” dari Ega waktu itu, hari Minggunya gue bener-bener kehilangan suara gue di rumah. Dan bukan cuma itu, selain nih tenggorokan sakit banget sampe ke ubun-ubun, gue pun jadi benci-benci gimanaaa gituh sama Ega. Padahal kan doi nggak salah apa-apa. Cuma songong doank mentang-mentang punya suara bagus. Eh, salah. Intinya, jahat banget kan gue?! Dan sekarang gue mau…”
Belum selesai dengan perkataannya, Ai sudah mengambil aih pembicaraan. “Jadi lo mau tobat dari nyanyi lagu-lagu ngak jelas pas nyuci, Cyynnn?” Omongannya terhenti ketika Nanad dan Endang memelototi dan menyikut pinggang Ai. 
“Eh salah, maksud gue… Jadi sekarang lo mau lanjutin nyanyi-nyanyi lagi, kan, Cyynnn?” Ai meralat paksa perkataannya barusan.
“Hahaha… Sebenarnya sih bener apa yang lo bilang sebelumnya, Ai. Gue mau tobat dari nyanyi-nyanyi nggak jelas. Tapi eh tapi… untuk mengobati kerinduan kalian pada suara emas gue, baiklah baiklah baiklah … Tunggu aja besok ya! Akan gue persembahkan suara terbaik gue buat kalian. Ada yang mau request lagu? Nayki Ardilla, Benyamin Netanyaho’, atau Warsop, nih?” goda Dewi iseng. Padahal tahu betul kalau ia dan teman-temannya beda selera dalam lagu.
Dan ketiga temannya agak deg-degan juga sih mendengar jawaban Dewi. Tapi demi persaudaraan mereka, apapun resikonya besok akan mereka terima dengan lapang hati selapang lapangan golf.
***
Kuharap kau bahagia…
Dengan gadis pilihan orang tuamu…
Biarlah kumengalah…
Demi keutuhan engkau dan dia…
Walau hati ini luka…
Sendiri lagi… Sendiri lagi..
Tanpa dirimu di sisiku…
Sendiri lagi… Sendiri lagi…
Sebenarnya Dewi sudah nggak niat nyanyi lagi. Tapi doi mau mengetes perkataan teman-temannya semalam. Benarkah mereka kangen dengan suaranya? Hmmm… Dan ternyata benar, hingga satu lagu Nayki Ardilla selesai, nggak ada tuh teguran-teguran seperti dulu-dulu. Ajib! Langsung aja ia menghibur teman-temannya dengan nada paling indah sepanjang masa. Murajaah juz 30!
‘Amma yatasaa ‘aluun…
‘Aninnaba-il ‘azhiim…
Alladzii hum fiihi mukhtalifuun…
Kalla saya’lamuuna tsumma kalla saya’lamuun…
Alam naj’alil ardho mihadaa…
Wal jibaala aw tadaa…
Satu kepala dengan ekspresi terkaget-kaget muncul dari balik pintu kamar 04. Dua suara keluar bersamaan dari balik pintu kamar 03.
“Dewiii… Are you there, Chyynnn?” Ai menepis penasarannya.
“Acik acik acik… Dewi udah tobat beneran kayaknya. Acik nih, nggak jadi tidur ah! Wa kholaqnaahum azwajaa… Waja’alna nawmakum tsubataa…” Nanad mengikuti murajaah surat An-Naba’ Dewi.
“Yeesss…Akhirnya temen gue tobat! Terima kasih, ya Allah. Waja’alnal layla libatsaa…” Dangdut nggak mau kalah.
Dan begitulah, Sabtu-sabtu berikutnya mereka isi dengan muraja’ah bersama, dengan Dewi sebagai instruktur. Good bye tidur bada Subuh. God bye dongkol bada Subuh…Dan welcome gelar Ratu Murajaah sejagad!
*eniwey, sudah cocok dapat gelar serial komedi, belum? Hheee… serial komedi dari KongHong! 😛

Kumbang-kumbang di Taman ~syalalalalalala

Apakah ada yang ngefans berat sama lagu Kumbang di Taman milik Elvi Sukaesih? Yah, sayangnya gue enggak…

Atau apakah ada yang ingin mengajak gue mendendangkan lagu tersebut saat ini? Oh, maaf… Bukan selera gue. #mintaditimpuk

Justru saat ini (seperti yang bisa kalian tebak) gue mau M3: Meracau Malam-malam tentang kumbang di taman. Dan yang perlu digaris bawahi setebal mungkin, pembahasan kali ini asli nggak ada sangkut pautnya sama lagu Mpok Elvi. Cuma kebetulan sama judul aja. Sueerrr! #padahalmahnyontek 😛

Kalau versi dangdutnya, ini lagu berkisah tentang hubungan percintaan cewek n cowok, tok. Right? Nah, kali ini justru gue mau menawarkan versi cinta yang lain, salah satu aktivitas mencintanya para pecinta di Galaksi Cinta. Cinta antara seseorang dengan temannya.

Kok bisa?

Ya bisa lah, masa ya bisa donk! Kan aktor cakep namanya bukan Boim Lebon, melainkan Baim Wong! *maaf, Bang Boim 😛

Semasa SMA, gue ini kuper ajah, lho. Mainnya lebih sering cuma sama teman sebangku (karena emang nggak punya teman banyak). Sama teman teman di Rohis pun nggak ada yang dekat banget. Huh, payah deh… Malu maluin! o_O

Untungnya, pas kuliah sudah ada kemajuan. Yippiii!
Berawal dengan bermain sama teman-teman yang semazhab (nggak pede bergaul), kemudian perlahan merambah berteman dengan teman dari yang beda mazhab (anak gahol?). Dan alhamdulillah, terbawa sampai sekarang: mencoba nggak terikat dengan satu atau sekelompok teman. Malah menclak menclok ke satu orang atau kelompok ke yang lain.

Walaupun kadang suka bingung sendiri kalau ditanya siapa teman dekat gue. Apakah salah satu dari teman dugem, ltq, kantor, kuliah, atau SMA? Yang jelas gue mencoba mencari yang terbaik di posisi yang pas.

Maksud, kalau punya masalah A, gue coba mencari jawabannya di orang A. Kalau lagi suka dengan sesuatu yang disebut B, gue mencoba mencari yang sama sama suka B. Kalau lagi mumet dengan orang C, gue berlari ke yang kira kira bisa memecahkan masalah gue dengan orang C. Dst.

Nah, ini yang gue maksud dengan kumbang-kumbang di taman. Kita kumbangnya, teman-teman kita adalah bunga-bunga di dalam taman yang beraneka. Eiya, kondisinya bisa fleksibel sih. Sekarang kita kumbang, dalam waktu yang sama kita adalah bunga buat teman kita.

Balik lagi ke kumbang benaran… Waktu kumbang menghisap sari di bunga, mereka milah milah sari bunga sambil marah-marah, nggak yak? Hmmm, menurut gue sih nggak.

Then, kalau lagi nemplok ke bunga mawar yang beda dengan bunga lain semisal bunga melati, apakah kumbang bakal bilang, “woooy, mawar… Tolong yeay, sari lo tuh kurang enak. Tolong ya buat yang lebih enak, donk!”

Kayaknya nggak juga deh, yeesss… Ada juga tanpa banyak kata, mereka bakal cari sari terbaik di bunga yang lain.

Dan yang paling penting, antara kumbang dan bunga terjadi simbiosis yang saling menguntungkan atau bahasa Zimbabwe-nya: simbiosis mutualisme. Kumbang menghisap sari demi mengisi perutnya, bungapun butuh kembang untuk membantunya melakukan proses perkawinan.

Hheee… Kirfikir, beda banget yak sama kita. Gue sih, tepatnya. Kalau teman nggak sesuai dengan yang gue harapkan, jadi gondok sendiri. Bahkan berbuntut ngacangin sampai timbul “gesekan-gesekan kecil”.

Dan itu yang kadang memaksa gue buat menclak menclok dari satu teman ke yang lain. Kalau lagi nggak klop sama yang satu, beralih sementara ke yang lain. Atau seperti si kumbang benaran, mencari bunga lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan kala itu. Dan besok, ketika sudah sama sama sesuai kebutuhan mereka, balik lagi deh ke bunga yang kemarin ditinggalin.

Eh, eh… Bukan maksud cuma berteman saat butuh doank, lho, yeesss. Bukan deh. Tapi lebih kepada suasana hati hari ini lagi tune in sama yang mana.

Misal, sebagai seorang yang sejak kecil tunggal di Jakarta, kadang gue butuh teman teman yang belum lama tinggal di mari. Kenapa? Karena aura keluguan n kerendah hatian mereka sudah luput dari anak anak Jakarta kebanyakan. Makanya, gue butuh teman teman seperti ini. Buat jadi guru kehidupan yang meluruskan tingkah gue.

Hhaaa, meracaunya bablas sampai pagi gini. Yah pokoknya gitu deh intinya. Kudu berteman dengan siapa aja. Dan gue lagi belajar juga, lho… Emang kadang sulit banget buat mengajukan pertemanan duluan ke mereka yang nggak semazhab sama kita. Tapi terus dicoba dan dicoba. Karena mereka juga manusia, right? Paling banter dicuekin doank, kok. Hheee.

[Serial Kukusan CR07] Perkenalkan…

Holla, MPmania…
Tanpa banyak cing cong dan babibubebo, demi terus belajar mengembangkan kemampuan menulis fiksi, dengan ini gue mau loncing serial fiksi, ah… Judulnya: 
KUKUSAN CR07
Yang insya Allah akan terus update tiap pekan ke-empat saban bulannya sepanjang 2012. Doakan biar istiqomah, yeesss… ^__^
Tulisan ini diangkat dari kisah nyata (dengan sedikit bumbu) berdasarkan pengalaman gue menjadi anak kost bersama tiga orang teman selama hampir dua tahun. Suka duka, senang susah, campur jadi satu di serial bergenre (yang maunya) komedi ini. Yah, semacam nostalgila lagi ke masa-masa imut dulu, deh!
Awalan, sebelum memperkenalkan empat tokoh utamanya, gue mau mengajak kalian menyelami makna judul serial di atas dulu, yeesss. Kalau bahasa orang Zimbabwe-nya: filosopi. 
Terdiri dari dua kata dan dua angka: Kukusan dan CR, 0 dan 7. Apaan tuh maksudnya? Cekidot!
1. Kukusan: Anak UI pasti tau banget deh, di mana sih kawasan kost-an paling murah se-kampus kuning ini? Yep, Kukusan Kelurahan (disingkat: Kukel) lah jawabannya. Sebuah kawasan dengan “pintu gerbang” sepanjang 300 meter yang cukup down to earth (apa dah?) karena dipenuhi dengan pepohonan yang lebih mirip hutan belantara sepanjang kanan kirinya. Kalau siang sih bagus, kelihatannya asri, adem, rindang. Tapi kalau malam, beuwh… ngeri ngeri ngeri! Not recommended banget deh jalan sendirian keluar masuk gerbangnya. Segala hal buruk bisa terjadi. So, beware!
Dan intinya, para tokoh kita ini ngekost di daerah Kukel. Alasannya sudah sangat gamblang gue sebutkan di paragraph sebelumnya: murah meriah, bow! Nggak perlulah disebut nominalnya, yang jelas dengan harga segitu mereka sudah dapat fasilitas kamar yang sangat luas untuk dua orang, kamar mandi di dalam, ruang santai beserta tivi dan kursi malasnya, dapur, air minum, serta garasi motor. Lumayan banget, kan?
2. CR: Merupakan singkatan dari kata Cantik dan Rusuh. Beneran ini fakta bukan opini! Sejak menyandang gelar penghuni baru hingga menjadi penghuni tertua, kerusuhan mereka belum ada yang menandingi! Kecantikannya? Hheee… Boleh donk meghibur diri sendiri, walau faktanya belum ada satupun di antara mereka yang memasuki tahap rumah tangga hingga prolog ini dipublish. Hhii… High quality jomblo rupanya!
3. Angka 0 dan 7: Cuma penjumlahan aja sih. Jadi tiap dua kamar di kost-an ini dihubungi oleh satu pintu di tengah di mana terdapat dua kamar mandi dan satu tempat untuk mencuci serta menjemur pakaian di antara keduanya. Nah, empat tokoh ini menempati kamar 03 dan 04, yang kalau dijumlah sama dengan berapa? Yep, 07! 
So, yang nyangka serial ini ada sangkut pautnya dengan striker Real Madrid: Christiano Ronaldo… tettooottt, really really BIG WRONG, Mamen!
Nah, kalau tiga poin di atas disatukan, maka didapatlah kesimpulan judul serial ini: Kumpulan muslimah cantik tapi rame, yang ngekost di bilangan Kukusan Kelurahan kamar 03 dan 04. Tarraaa… Cerdas, yak, filosopinya?! #cerdasdariHongkong! ^__^
Then… Kenalan sama empat tokoh utamanya, yukyakyuk…
Dewi
Tolong jangan tertipu sama nama, ya, plisss! Karena walaupun namanya Dewi, tapi kelakuan lebih mirip kucing garonk! Kalau ngomong volumenya nggak bisa dikecilin, kalau udah nyanyi berasa dunia milik doi seorang, ekspresif pula di tiap gerak tubuhnya! Tapi si shio kelinci ini amatlah disenangi oleh hamper semua penghuni kost Kukusan (kecuali yang nggak senang) karena keceriannya yang tak pernah padam barang semenit.
Endang
Teman satu kamar Dewi di kamar 04 yang tingkahnya seperti termaktub dalam lirik pembuka lagu mahasiswa: Katakan hitam adalah hitam, katakana putih adalah putih. Nggak ada abu-abu dalam kamus hidupnya. Eh, tapi aslinya nggak ding. Doi ini doyan banget berbagi kisah tentang apa aja. Dan kalu sudah ketawa, nggak bisa direm, gitu. Mirip sama si rambut panjang yang gelantungan di pohon nangka saban malam. Hi hi hi hi hi hi hi hi…Kelupaan: berhubung si Endang ini berbody big size, jadilah doi beken dengan nama Dangdut alias Endang Gendut 😛
Nadia
Biasa dipanggil Nanad. Kebalikan dari Endang, doi justru mirip banget sama bayi. Mulai dari cara jalannya, bicaranya, cara tidurnya, sampai cara makannya… unyu unyu banget dah! Doi ini PNS wanna be, lho…! So, bisa ditebak gimana keseharian kuliahnya? Betoool berkali-kali… serius, bow! Walaupun masih doyan nonton sinetron juga sih kadang. Hheee
Ai
Teman satu kamar Nanad di kamar 03 yang kelakuannya nyaris mirip sama Dewi. Rame! Satu ciri khas dari doi adalah kecuekannya yang super duper over! Whatever dunia mau bilang apa, ini cara gue! Dan agak agak sedikit loading lama juga sih kadang. Hheee.. Tapi overall asik bangetlah ini orang.
Wokeh, sekian dulu prolognya. Mudah-mudahan serial ini ke depannya mendapat tempat di hati MPman MPwati semua. Dan met berharap-harap cemas menantikan serial ini… d^___^b
#Hheee, who you, Nje?! 

-el yang Bikin Sebel!

MPman MPwati… Apa hayooo akhiran -el yang bikin sebel? Yang jelas bukan nasi timbel, sambel, apalagi pecel! Kalau itu mah bukannya bikin sebel malah bikin ngilel! #maksabanget.com

Wokeh, menurut gue, akhiran -el yang bikin sebel adalah… Engingeng… Tarraaa… Degdeg, degdeg, degdeg… Label! Yep, biasa kita menyebutnya labeling, berhubung agak agak ng-Inggris ng-Inggris gemanaaa getoh, maka buat kali ini aja kita gunakan kata nge-label. Walaupun act alasannya biar judulnya berrima el-el aja sih. Hhiii.

Menurut (bukan psikolog) Enje Bisono, labeling itu ada dua jenisnya. Pertama labeling buat diri sendiri, misal: “Gue tuh paling nggak mudeng sama yang namanya matematika. Ibarat minyak dan air yang nggak bakalan bisa bersatu mau diapain aja” atau “Gue tuh nggak pantes banget disandngin sama doi yang solehnya nggak ketulungan. Malu ah, ntar dibilang nggak pernah ngaca lagi!” (konteksnya “didatengin” ikhwan soleh), dllsb yang senada. Dan yang kedua labeling buat orang lain. Misal, “Dia kan atong aka. Akhwat sepotong. Jilbabnya aja masih tipiiisss banget, dadanya kemana mana, lekukan tubuhnya juga nyata banget. Nggak syari dah pokoknya!” atau, “Si Markonah itu orangnya emang begitu dari lahir. Nggak asik buat dijadiin teman”, dllsb yang senada.

Yang pasti, keduanya lebih banyak mudhorotnya ketimbang manfaatnya. Nggak percaya?!

Bayangin nih, ketika kita ngelabel seseorang berdasarkan lebar kali panjang jilbabnya, so pasti alam bawah sadar kita akan terus merekam itu sampai ajal menjemput. Si Markonah itu Atong si Munaroh itu Atung (akhwa tanggung) si Marhamah itu Amil (akhwat militan). Bah, jahat amat! Padahal kan semua manusia berproses… Kalau sekarang jilbabnya masih belum menutup dada, sangat mungkin setelah tahu ilmunya doi bakal menjulurkan jilbabnya. Yang jilbabnya sekarang panjang, bisa jadi juga besok doi mendekin jilbabnya karena merasa sudah bukan bagian dari jamaah X, Y, atau Z. Yang ini lebih aneh lagi. Lo kira jilbab panjang cuma buat orang orang tertentu?! o_O

Begitu juga ketika kita ngelabel diri sendiri. Dudul lah, nggak cantik lah, males lah, nggak bisa matematika lah.. Maka bisa dipastikan juga alam bawah sadar kita bakal merekam itu hingga akhir hayat. Kita nggak bakal maju saking sibuk dengan banyaknya label negatif dalam diri. Virus pesimis pun bakal merajai diri. Duh duh… Kasian amat! Mending terima diri apa adanya sambil pelan pelan “nambal” yang negatif, kan? Jadi bikin pede berlipat lipat, optimis merajai diri, dan yang pasti makin heppiii!

Ah, banyak omong yak gue? Sok sok nggak pernah ngelabel diri dan orang lain aja… Hheee, tenang, Mamen. Justru karena gue abis ngelabel diri sendiri, makanya jadi tulisan ini. Peribahasan: sambil nyelam ngambil mutiara. Mengingatkan diri sendiri di blog biar dibaca yang lain. Kali kali ada yang beloman pernah dengar tentang penyakit ngelabel ini.

Dan lagian ya, namanya juga manusia-gue, elo, kita semua-yang dikaruniai otak buat berfikir dan hati buat merasa. Cuma berhubung tarikan untuk berfikir dan merasa ke semua yang berbau negatif lebih sering diasah, jadi deh sering ngelabel!

Ah, nggak perlu berpanjang kata lagi. Mari sama sama kita sembuhin penyakit ini dari dalam diri. Pelan pelan sajaaa… #RatrikotakModeOn ^__^