Kumbang-kumbang di Taman ~syalalalalalala

Apakah ada yang ngefans berat sama lagu Kumbang di Taman milik Elvi Sukaesih? Yah, sayangnya gue enggak…

Atau apakah ada yang ingin mengajak gue mendendangkan lagu tersebut saat ini? Oh, maaf… Bukan selera gue. #mintaditimpuk

Justru saat ini (seperti yang bisa kalian tebak) gue mau M3: Meracau Malam-malam tentang kumbang di taman. Dan yang perlu digaris bawahi setebal mungkin, pembahasan kali ini asli nggak ada sangkut pautnya sama lagu Mpok Elvi. Cuma kebetulan sama judul aja. Sueerrr! #padahalmahnyontek😛

Kalau versi dangdutnya, ini lagu berkisah tentang hubungan percintaan cewek n cowok, tok. Right? Nah, kali ini justru gue mau menawarkan versi cinta yang lain, salah satu aktivitas mencintanya para pecinta di Galaksi Cinta. Cinta antara seseorang dengan temannya.

Kok bisa?

Ya bisa lah, masa ya bisa donk! Kan aktor cakep namanya bukan Boim Lebon, melainkan Baim Wong! *maaf, Bang Boim😛

Semasa SMA, gue ini kuper ajah, lho. Mainnya lebih sering cuma sama teman sebangku (karena emang nggak punya teman banyak). Sama teman teman di Rohis pun nggak ada yang dekat banget. Huh, payah deh… Malu maluin!o_O

Untungnya, pas kuliah sudah ada kemajuan. Yippiii!
Berawal dengan bermain sama teman-teman yang semazhab (nggak pede bergaul), kemudian perlahan merambah berteman dengan teman dari yang beda mazhab (anak gahol?). Dan alhamdulillah, terbawa sampai sekarang: mencoba nggak terikat dengan satu atau sekelompok teman. Malah menclak menclok ke satu orang atau kelompok ke yang lain.

Walaupun kadang suka bingung sendiri kalau ditanya siapa teman dekat gue. Apakah salah satu dari teman dugem, ltq, kantor, kuliah, atau SMA? Yang jelas gue mencoba mencari yang terbaik di posisi yang pas.

Maksud, kalau punya masalah A, gue coba mencari jawabannya di orang A. Kalau lagi suka dengan sesuatu yang disebut B, gue mencoba mencari yang sama sama suka B. Kalau lagi mumet dengan orang C, gue berlari ke yang kira kira bisa memecahkan masalah gue dengan orang C. Dst.

Nah, ini yang gue maksud dengan kumbang-kumbang di taman. Kita kumbangnya, teman-teman kita adalah bunga-bunga di dalam taman yang beraneka. Eiya, kondisinya bisa fleksibel sih. Sekarang kita kumbang, dalam waktu yang sama kita adalah bunga buat teman kita.

Balik lagi ke kumbang benaran… Waktu kumbang menghisap sari di bunga, mereka milah milah sari bunga sambil marah-marah, nggak yak? Hmmm, menurut gue sih nggak.

Then, kalau lagi nemplok ke bunga mawar yang beda dengan bunga lain semisal bunga melati, apakah kumbang bakal bilang, “woooy, mawar… Tolong yeay, sari lo tuh kurang enak. Tolong ya buat yang lebih enak, donk!”

Kayaknya nggak juga deh, yeesss… Ada juga tanpa banyak kata, mereka bakal cari sari terbaik di bunga yang lain.

Dan yang paling penting, antara kumbang dan bunga terjadi simbiosis yang saling menguntungkan atau bahasa Zimbabwe-nya: simbiosis mutualisme. Kumbang menghisap sari demi mengisi perutnya, bungapun butuh kembang untuk membantunya melakukan proses perkawinan.

Hheee… Kirfikir, beda banget yak sama kita. Gue sih, tepatnya. Kalau teman nggak sesuai dengan yang gue harapkan, jadi gondok sendiri. Bahkan berbuntut ngacangin sampai timbul “gesekan-gesekan kecil”.

Dan itu yang kadang memaksa gue buat menclak menclok dari satu teman ke yang lain. Kalau lagi nggak klop sama yang satu, beralih sementara ke yang lain. Atau seperti si kumbang benaran, mencari bunga lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan kala itu. Dan besok, ketika sudah sama sama sesuai kebutuhan mereka, balik lagi deh ke bunga yang kemarin ditinggalin.

Eh, eh… Bukan maksud cuma berteman saat butuh doank, lho, yeesss. Bukan deh. Tapi lebih kepada suasana hati hari ini lagi tune in sama yang mana.

Misal, sebagai seorang yang sejak kecil tunggal di Jakarta, kadang gue butuh teman teman yang belum lama tinggal di mari. Kenapa? Karena aura keluguan n kerendah hatian mereka sudah luput dari anak anak Jakarta kebanyakan. Makanya, gue butuh teman teman seperti ini. Buat jadi guru kehidupan yang meluruskan tingkah gue.

Hhaaa, meracaunya bablas sampai pagi gini. Yah pokoknya gitu deh intinya. Kudu berteman dengan siapa aja. Dan gue lagi belajar juga, lho… Emang kadang sulit banget buat mengajukan pertemanan duluan ke mereka yang nggak semazhab sama kita. Tapi terus dicoba dan dicoba. Karena mereka juga manusia, right? Paling banter dicuekin doank, kok. Hheee.

13 comments

  1. Mudhalifana "pia" Haruddin · Januari 26, 2012

    Hati2 Pilih2 teman, karena teman jg bisa menjerumuskan kita.
    Nurje, kok bhs zimbabwe mulu? Org2 zimbabwe yg bca ini bs protes, hihi. Ganti kek, kenya, liechtenstein, bushman, ato yg laen.
    N, emang ada lgx mpok Elvy kumbang di taman? Setau ak siy itu lguny ade irma *jiaaahh

  2. nurjanah hayati · Januari 26, 2012

    Yep, sepokat. Kudu hati2, tp ga ada salahnya minimal kenalan sama yang nggak bner (kayak gue bener aje)😉

    Hhaa… Keturunannya orang Zimbabwe ya, Mbak?😛

    Ada kok… Search dah di yutub. Lagu dangdut jadul😀

  3. Rin Sakura · Januari 26, 2012

    #masih mikir

  4. nurjanah hayati · Januari 26, 2012

    kelamaan mikirnya.

  5. li4h Lia · Januari 26, 2012

    Sepakat sama Pia, Kumbang-Kumbang bukan lagunya Nenek Elvy. Dese udah tua banget, gak akan kubilang Mpok :p
    Iya sih Nje, klo ketemu sm yg rada2 gemmana geto, maunya menghindar. Abis suka makan ati gitu. Trus alasan yg dipake pasti “jangan berteman dg yg tidak baik”.
    Tp sebagai mantan orang tidak baik, gw jg ingat sama teman2 yg selalu percaya kalo there's a piece of diamond in me that has not been polished, ini bahasa Lithuania, Nje :p )dan mereka selalu berbagi pandangan baiknya sama gw tanpa takut gw jauhin. Dulu sih, gak begitu ngaruh omongan orang2 baik itu. Tp lama2 ya ngaruh juga kok. Jadi sama teman yg masih kurang baik, gw mestinya gak capek mencereweti mereka ya. Gak tau kapan hidayah akan dikasih, mestinya gw gak boleh membuat mereka tanpa informasi. Yg penting udah dibilangin/dicontohin, selanjutnya terserah mereka.
    Ih, komen aja panjang amat, mana belibet lagi ngomongnya :p
    Sekian curcol sayah :))

  6. nurjanah hayati · Januari 26, 2012

    masa dah? aye inget banget, dulu sering nyanyiin itu lagu pake cangkokan khas nyak elvi. hheee.

    iye, panjang amat nih komenan. jadi satu postingan ini mah. hheee.

    ciyeh, udah tobat, Mbak? #eeaaa

  7. Mudhalifana "pia" Haruddin · Januari 26, 2012

    lagunya gini yah nurje 'kumbang-kumbang di taman, jangan kau merayuuu..uuu,
    Kumbang2 di taman, jangan kau menggodaaaa..aaa”??

  8. nurjanah hayati · Januari 26, 2012

    mbak Pia: iya, betooolll😛

  9. Mudhalifana "pia" Haruddin · Januari 26, 2012

    Bukan lgux Elvy S, nadanya itu jiplakan lagu padang pasir, dan dipopulerkan oleh ade irma.

  10. nurjanah hayati · Januari 26, 2012

    owh… aye dulu dengarnya si Nyak Elvi yg nyanyiin. hheee…

  11. dwi wahyuni · Januari 26, 2012

    lagi ngomongin kumbang apa ngomongin elvy sukaesih yaa??😀

  12. nurjanah hayati · Januari 26, 2012

    Hhaaa, jadi OOT emang. Tp jd seru. Ternyata aye sering sotoy markotoy. N yg paling sering ngoreksi adl mba Pia. Alhamdulillah… Matur nuwun sanget

  13. nurjanah hayati · Januari 26, 2012

    Ketinggalan: Matur nuwun sanget, mbak pia😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s