[Serial Kukusan CR07] Tarung Nyanyi Sambil Nyuci

Duh duh… Telat dua hari dari janji kemarin buat menampilkan Serial Kukusan CR07 iap pekan ke-empat. Tapi apa boleh buat, *e kambing bulat-bulat. Masih dalam proses belajar nulis fiksi, nih. Setengah hidup ngerjainnya -,-“
Okd, here it is… ^___^
Mama… oh, Mama…
Aku ingin pulang…
Kurindu padamu…
Di pagi yang belum tanpak cerahnya. Matahari pun masih belum menampakkan batang hidungnya untuk menjalankan tugasnya menghangatkan bumi. Sebuah suara dengan ketinggian nada beroktaf-oktaf bak Markonah Carey, mengambang dari balik ruang mencuci kamar 03 dan 04. Membuat suasana ba’da subuh itu makin terasa dinginnya. Mendinginkan hingga ke aliran darah, aliran limpa, bahkan hingga ke tulang-tulang persendian! Bukan karena suhu hari itu yang nggak bersahabat, bukan. Justru suara itu yang membuat cuping para penghuninya meraung-raung gelisah! Mau lanjut tidur tapi hati nggak tenang, mau segera bangun pun pastinya akan makin menderita dengan suara melengking itu. Really-really bikin galauuu!
“Dewiii… Macih pagi, kecilin cedikit cuaranya, pliisss!” Peringatan pertama keluar dari suara baby milik Nanad alias Nadia, penghuni kamar 03. Tapi sayang, kayak-kayaknya peringatan dengan suara baby nggak empan, deh, membungkam mulut si Nayki Ardilla KW 3. 
Cincin emas berlian ia belikan dulu…
Untuk apa kalau ia tak cinta…
Gaun bersulam sutra ia berikan dulu…
Untuk apa kalau ia tak cinta…
“Kecilin suaranya donk, Cyynnn… Pliisss…! Jam 8 gue UAS, nih.” Ai yang punya nama panjang Aini Dia si Jali-jali, ikutan angkat suara. Menuntut haknya menikmati pagi dengan penuh kedamaian d detik-detik menjelang UAS.
“Duh… belom juga satu album. Pliisss, deh! Dangdut aja nggak kenapa-kenapa. Ya nggak, Dut? Sirik aja nih pada-pada.” Gantian Dewi menimpali protes Nanad dan Ai. Ceritanya berharap dapat dukungan dari teman sekamarnya, gituh.
Mama tolonglah diriku…
Dari belenggu cintanya…
“Ehm….” Endang yang punya nama beken Endang Gendut aka. Dangdut, berhenti sejenak dari aktivitas mengaji paginya. Dan… lumayan  efektif. Tanpa kata, hanya deheman, lagu-lagu yang bikin galau itu tak terdengar lagi hingga menit-menit berikutnya. Hanya sesekali terdengar senandung dengan volume super duper minim. 
Dan begitulah suasana saban Sabtu pagi di kamar 03 dan 04. Seluruh penghuni Kukusan dari kamar depan hingga belakang, bahkan mbak Ijah, mas Mahfud, dan dik Seifa-juru kunci Kukusan, paham betul kalau Dewi lah si Ratu nyanyi sejagad. Kualitas suara dengan cangkokannya yang meliuk-liuk tajam bak Elvi Sukaesih menyanyikan lagu Gula-gula, dan kemampuan menghayati lagu laiknya Ratu Pop era 90: Nayki Ardilla, patut diacungi empat jempol. Dan doi boleh berbangga hati, karena sekali waktu si Ai pernah memuji dengan menyuruhnya mengikuti kontes nyanyi tingkat nasional: Indonesian Dodol. Prok prok prok, kembang kempis dah hidung Dewi.
Eits, tapi itu dulu, ketika belum masuk satu penghuni baru di kamar belakang: Ega. Setelah masuknya Ega, mahasiswi tingkat 1 Fakultas Konomi (FK) penghuni kamar 8, yang kamar mandinya persis berada di belakang kamar mandi Dewi dkk, pamor Dewi mulai turun. Terkalahkan oleh suara seriosa Ega yang makin sering dipuji oleh Ai, Nanad, dan Endang. 
Oiya, fyi: lagu favorit Ega adalah Through the Rain milik Markonah Carey. Wa bil khusus bagian reff paling akhir lagu ini:
I can make it through the rain 
I can stand up once again on my own 
And I know that I’m strong enough to mend
And every time I feel afraid I hold tighter to my faith 
And I live one more day and I make it through the rain 
Nadanya setinggi bintang gemintang di angkasa. Meliuk-liuk bagai ular yang sedang kelaparan menangkap mangsanya. Ditambah lagi volume suaranya yang seakan-akan doi sedang berada di dalam dapur rekaman seorang diri. Seolah dunia milik Ega seorang. Huh, sungguh ter-la-lu! Beneran mirip sama Dewi. Bedanya, si Ega ini penghuni baru, gitu loh! Capek, kan?!
Oke, balik lagi ke Dewi. Actually, maksud mereka memuji-muji Ega, sih, biar Dewi berhenti dari hobi yang paling dicintainya: menyanyi, dan beralih ke hobi lain yang lebih bermanfaat dan berpahala namun masih berhubungan dengan dunia tarik suara: mengaji, misalnya. Bukan tanpa sebab, soalnya tiap kali nyuci, Dewi biasa melahap beralbum-album lagu Nayki Ardilla dan tak jarang ditambah dengan beberapa lagu jadul milik Benyamin Netanyaho’ dan Warsop, non stop selama kurang lebih dua jam tiap Sabtu pagi! Bisa bayangin seandainya Dewi melalui dua jam menyucinya dengan memurajaah hafalan Qur’an? Beuwh, bisa-bisa juz 30 nggak mau pergi dari meori dan selalu menempel di hati. Bahkan bisa merambah hingga juz 28 malah! Ya, nggak? 
Tapi ternyata, nggak disangka nggak dinyana, ya… strategi mereka salah besarrr! Bukannya sadar diri kalau suaranya sudah bukanlah yang paling sempurna, eh Dewi malah makin menjadi-jadi. Demi makin meningkatkan kualitas suara dan merebut kembali gelar Ratu nyanyi sejagad, nggak ada satu aktivitas pun yang dilaluinya tanpa menyanyi, kecuali pas tidur aja mulutnya bisa merapat dengan tenang. Jangan coba-coba berani menegur apalagi melarang, deh. Ibarat bangunin singa yang lagi ngorok: paling banter dikacangin, paling ekstrim: Hauuummm!
Eh tapi itu belum seberapa, ding! Masih ada lagi puncaknya, ketika suatu Sabtu pagi yang merupakan jadwal mencucinya Dewi sebelum balik ke rumah. Bak tsunami yang menerjang Aceh dan gempa yang meluluh lantakkan Jogja di Subuh hari. Jeledaarrr! Menjadi petaka besar bagi seluruh penghuni Kukusan, kala mereka tahu adanya persamaan antara waktu mencuci Dewi dan Ega. Owenje… Jadilah dua penyanyi gadungan ini bertarung nyanyi sambil nyuci. Yang satu mengandalkan cengkokan dan penghayatan khas-nya, yang satu lagi mengandalkan kemapuan seriosa dan lekukan tajam suaranya. 
Terjadi sahut-sahutan lagu beraneka genre selama kurang lebih setengah jam, yang dimulai dengan satu lagu milik Benyamin Netanyaho’ berjudul Nangke Lande. Salah satu lagu favorit Dewi:
Nangke Lande matengnya kena paku…
Dimakan gajeh giginya pade ngilu…
Ade jande lama nggak laku-lau…
Saban hari dia ngaca melulu…
Eh secepat kilat si Ega balas menyerang dengan lagu I’m Yours-nya Jason Ngeres. Kayaknya sih mau pamer kebolehannya dalam meliuk-liukkan suara mengikuti penyanyi aslinya, gituh:
No I won’t hesitate no more, no more
This cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours, I’m yours
Pletaarrr! Rupa-rupanya, Dewi nggak mau kalah mendengar suara yang berasal dari belakang ruang mencucinya. Dibalasnya lagu tersebut dengan bagian paling akhir  lagu If I Aint Got You-nya Alicia Kunci. Tujuannya cuma satu: menunjukkan kebolehan cangkokannya yang melegenda pada Egad an dunia!
Some people want diamond rings
Some just want everything
But everything means nothing
If I ain’t got you, yeah
If I ain’t got you with me baby
So nothing in this whole wide world don’t mean a thing
If I ain’t got you with me baby
Huwaaa… Cadas! Dibalas lagi suara Dewi dengan lagu Fighter-nya Christina Ahguegerah yang dinyanyikan dengan sepenuh tenaga oleh Ega. Maklum, lagu ini emang dinyanyikan mirip orang sedang kesurupan oleh penyayi aslinya.
’cause it makes me that much stronger
Makes me work a little bit harder
Makes me that much wiser
So thanks for making me a fighter
Made me learn a little bit faster
Made my skin a little bit thicker
It makes me that much smarter
So thanks for making me a fighter

Dan tahu siapa orang paling dirugikan dengan pertarungan sengit mereka? Yep, jelas banget para penghuni kamar 03 dan 04. Susah payah mereka menutup kuping, tapi apa daya, akal sehat Dewi telah tertutup rapat oleh egonya. Begitupun dengan Ega. Nggak dipedulikan lagi ketidaknyamanan para penghuni Kukusan yang lain. Untungnya peristiwa tragis itu segera berakhir setelah terdengar sebait nada sumbang dan dilanjutkan dengan batuk yang terus berulang. Parahnya lagi… Sayang sungguh disayang, suara batuk itu berasal dari tengorokan Dewi kala melantunkan lagu Ayah-nya Gita Ketawa da Nggak Ada Band di bagian:
La la laa
La la la laa la…
Uhuk uhuk uhuk…
Uhuk uhuk uhuk…
Uhuk uhuk uhuk…
Di seberang sana, Ega masih dengan semangat ’45 melanjutkan aktivitas nyanyi sambil nyucinya. Ia seperti bersorak sorai merayakan ‘kemenangannya’ mengalahkan Dewi dengan lagunya Queen.
We are the champions, my friends
And we’ll keep on fighting till the end
We are the champions
We are the champions
No time for losers
‘Cause we are the champions
Of the world…
Jelas Dewi merasa terpukul dengan kenyataan bahwa suara Ega memang lebih baik dari suara miliknya. Satu setengah jam hingga mencucinya selesai, Dewi hanya berdiam diri bin bermurung durja. Mulutnya terkunci, tapi hatinya menangis. Hanya Allah, cucian kotor, dan busa-busa sabun yang menjadi saksi bisu kesedihanya. 
***
Hingga tiga Sabtu pagi berikutnya, nggak terdengar lagi suara nyanyi-nyanyian yang mengganggu, baik dari Dewi maupun Ega. Bagi ketiga temannya, sebenarnya inillah moment yang paling mereka tunggu. Yang suka melanjutkan tidur, mengaji, dan belajar bada Subuh dapat melakukan aktivitasnya dengan sebebas-bebasnya. Namun mereka cukup prihatin dengan kekalahan Dewi. Doi lebih banyak diam setelah kejadian itu. Sedih banget, karena biar bagaimanapun, inilah yang paling bisa dibanggakan oleh doi. Nggak nyanyi ya bukan Dewi namanya.
***
Dengan penuh kesadaran, Dangdut, Ai, dan Nanad merasakan ada bagian yang hilang menginjak Sabtu pagi ke-empat pasca peristiwa nahas itu. Kirfikir, bangtimbang, suara Dewi-lah penyebabnya. Yep, mereka rindu akan suara Dewi. Teguran-teguran yang biasa meluncur dari mulut mereka. Dan keributan kecil antara mereka bertiga versus Dewi, yang kini mereka yakini, justru itulah salah satu moment yang membuat persaudaraan mereka semakin erat. 
Mereka bertiga berembuk, gambreng dilanjutkan suwit Jepang sih tepatnya, memutuskan siapa yang akan meminta Dewi untuk kembali kepada kebiasaannya di Sabtu pagi. Mereka sudah siap dengan segala konsekuensinya. Nggak ada lagi tidur nyenyak bada Subuh, nggak ada lagi waktu belajar paling asyik bada Subuh, dan nggak ada lagi waktu tenang membaca sekaligus menghafal Quran di Sabtu Subuh pagi. 
Malam Sabtu setelah Dewi merendam cucian yang akan dicucinya besok, Ai dan Nanad menyambangi kamar 04, menemani Dangdut mengutarakan maksud mereka. 
“Dew, lagi mau apa sih, Cyynnn?” Ai mencoba memulai dengan jurus basa-basi andalannya.
Tanpa kata, sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur, Dewi menunjuk Qur’an biru yang ada di genggamannya. Sebenarnya mereka sudah tahu maksud Dewi. Seperti yang diadukan Dangdut, belakangan Dewi mulai rajin mengulang-ulang hafalan Qur’an sebelum tidur walau tak terdengar suaranya. Ini kabar sangat bagus memang, tapi tetap aja, Dewi tanpa nyanyi bukanlah Dewi. Mereka bertekad untuk tetap menyampaikan hajatnya.
“Ehm, Dew… Sebenarnya… kita mau ehmmm… bilang ehmmm…,” terbata-bata Dangdut mencoba memulai pembicaraan.
“Duh, lama banget sih, Cyynnn…To the point aja ya, Dew. Actually kita tuh kangeeen berat sama suara lo yang every Saturday morning itu. Kalau mau dibuat perumpamaan, Sabtu pagi tanpa suara nyanyi-nyanyian lo, tuh, ibarat sayur tanpa garem, kunyit tanpa warna kuning, cabe rawit tanpa sensasi pedas, dan terasi tanpa bau! So…,” sengaja Ai menggantungkan kata-katanya dan menengok ke Nanad untuk melanjutkan maksud mereka.
“So… Sori-sori, nih. Kita mau bilang kalau… bica nggak Dewi nyanyi lagi pas nyuci becok? Nggak bakal kita tegur-tegur lagi deh… How, how, how?” Tanpa malu, Nanad melanjutkan kata-kata Ai.
Tiga menit dikeredongi kesunyian.
“Eyalaaahhh… Jadi kalian minta gue buat nyanyi-nyanyi lagi gitu tiap nyuci?” Dewi memecah keheningan.
“Of course, Sistha… Betooolll! Gimana, gimana, gimana?” Gantian Dangdut angkat suara.
“Orek, orek kalau itu yang kalian mau. Tapi perlu diingat, gue itu trauma aja loh sama nyanyi-nyanyi nggak jelas kayak gitu. Setelah gue “kalah” dari Ega waktu itu, hari Minggunya gue bener-bener kehilangan suara gue di rumah. Dan bukan cuma itu, selain nih tenggorokan sakit banget sampe ke ubun-ubun, gue pun jadi benci-benci gimanaaa gituh sama Ega. Padahal kan doi nggak salah apa-apa. Cuma songong doank mentang-mentang punya suara bagus. Eh, salah. Intinya, jahat banget kan gue?! Dan sekarang gue mau…”
Belum selesai dengan perkataannya, Ai sudah mengambil aih pembicaraan. “Jadi lo mau tobat dari nyanyi lagu-lagu ngak jelas pas nyuci, Cyynnn?” Omongannya terhenti ketika Nanad dan Endang memelototi dan menyikut pinggang Ai. 
“Eh salah, maksud gue… Jadi sekarang lo mau lanjutin nyanyi-nyanyi lagi, kan, Cyynnn?” Ai meralat paksa perkataannya barusan.
“Hahaha… Sebenarnya sih bener apa yang lo bilang sebelumnya, Ai. Gue mau tobat dari nyanyi-nyanyi nggak jelas. Tapi eh tapi… untuk mengobati kerinduan kalian pada suara emas gue, baiklah baiklah baiklah … Tunggu aja besok ya! Akan gue persembahkan suara terbaik gue buat kalian. Ada yang mau request lagu? Nayki Ardilla, Benyamin Netanyaho’, atau Warsop, nih?” goda Dewi iseng. Padahal tahu betul kalau ia dan teman-temannya beda selera dalam lagu.
Dan ketiga temannya agak deg-degan juga sih mendengar jawaban Dewi. Tapi demi persaudaraan mereka, apapun resikonya besok akan mereka terima dengan lapang hati selapang lapangan golf.
***
Kuharap kau bahagia…
Dengan gadis pilihan orang tuamu…
Biarlah kumengalah…
Demi keutuhan engkau dan dia…
Walau hati ini luka…
Sendiri lagi… Sendiri lagi..
Tanpa dirimu di sisiku…
Sendiri lagi… Sendiri lagi…
Sebenarnya Dewi sudah nggak niat nyanyi lagi. Tapi doi mau mengetes perkataan teman-temannya semalam. Benarkah mereka kangen dengan suaranya? Hmmm… Dan ternyata benar, hingga satu lagu Nayki Ardilla selesai, nggak ada tuh teguran-teguran seperti dulu-dulu. Ajib! Langsung aja ia menghibur teman-temannya dengan nada paling indah sepanjang masa. Murajaah juz 30!
‘Amma yatasaa ‘aluun…
‘Aninnaba-il ‘azhiim…
Alladzii hum fiihi mukhtalifuun…
Kalla saya’lamuuna tsumma kalla saya’lamuun…
Alam naj’alil ardho mihadaa…
Wal jibaala aw tadaa…
Satu kepala dengan ekspresi terkaget-kaget muncul dari balik pintu kamar 04. Dua suara keluar bersamaan dari balik pintu kamar 03.
“Dewiii… Are you there, Chyynnn?” Ai menepis penasarannya.
“Acik acik acik… Dewi udah tobat beneran kayaknya. Acik nih, nggak jadi tidur ah! Wa kholaqnaahum azwajaa… Waja’alna nawmakum tsubataa…” Nanad mengikuti murajaah surat An-Naba’ Dewi.
“Yeesss…Akhirnya temen gue tobat! Terima kasih, ya Allah. Waja’alnal layla libatsaa…” Dangdut nggak mau kalah.
Dan begitulah, Sabtu-sabtu berikutnya mereka isi dengan muraja’ah bersama, dengan Dewi sebagai instruktur. Good bye tidur bada Subuh. God bye dongkol bada Subuh…Dan welcome gelar Ratu Murajaah sejagad!
*eniwey, sudah cocok dapat gelar serial komedi, belum? Hheee… serial komedi dari KongHong!😛

8 comments

  1. avizena zen · Januari 30, 2012

    panjangnyaaa

  2. Rin Sakura · Januari 30, 2012

    ni cerpen atawa kumpulan album lagu2? -.-“

  3. nurjanah hayati · Januari 30, 2012

    Mba fazia: iya nih. Ikutin standar nulis di media halamannya🙂

    Mba rin: judulnya aje tarung nyanyi😛

  4. nurjanah hayati · Januari 30, 2012

    Anw… Panggilan buat mba rini selly:
    Hollaaa… Minta kripik pedesnya dunk😉
    Sepedes pedesnya ala Mak Ic*i, yow! Xiexie😄

  5. Rin Sakura · Januari 31, 2012

    blm di baca semua krn terlalu panjang, mang buat ikut lomba?
    1. untuk hikmah yg cuma 'itu' menurut gw 'bungkus'nya kelebihan.
    2. nape banyakan lagu bulenya ya (ketauan fave nya enje bgt :P)
    3. perhatiin deh susunan paragrafnya hampir sesudah tiap paragraf isinya syair lagu, gw jadi inget novel '5 cm' klo begini (bagian yg krg gw sukai dr 5cm)
    segitu dulu dah, cukup g? klo mang buat lomba temanya opo toh?

  6. nurjanah hayati · Januari 31, 2012

    Sip dah… Thanx kritikannya. Baca lg ya klw smpt. Kali ada yg meski dikritik lg🙂

    Ga… Ini proyek pribadi 2012 aja. Beljar nulis fiksi gituh…😉

  7. a rahmi · Januari 31, 2012

    ada bagian yg gua inget tuh je, nyruh lw ikut audisi *recall ke masa itu”

  8. nurjanah hayati · Januari 31, 2012

    Aheeyyy… Msh inget😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s