Sudah Hambar Tak Selalu Meski Bubar

MPmania, hollaaa… Ada yang tau nggak, apa hayooo, persamaan antara hambar dan bubar? Yap, cerdas sekali. Sama-sama berakhiran -ar!

Huwehehe… Biar kata nggak salah, tapi bukan itu point of view-nya, yeesss. Yang gue maksud di sini, keduanya sama-sama menyimpan makna lumayan negatif ~> membakar! *Ini konteksnya hubungan dua insan lho yeesss…

Bukan cuma antara laki laki dan perempuan, suami istri, tapi juga antara kita dan teman kita, kita dan bawahan, kita dan atasan. Ketika cinta perlahan memudar, vis misi tak lagi bertemu di satu akar, biasanya akan muncul rasa hambar dan nggak sedikit yang menyudahinya dengan jalan pintas: bubar. Iya nggak sih? Apa cuma kesotoyan gue aja dalam menerawang? Hheee, piisss ^__^v

Tapi biarlah, selama sotoynya di lapak sendiri n bukan di lapak orang lain, insya Allah nggak menurunkan ke-keren-an yang sudah gue bangun selama ini, rait? *minta ditimpuk (;

Wokeh, balik lagi ke land of sotoy gue. Intinya, hambar dan bubar itu seringnya kita sikapi layaknya bayi kembar siyam. Kalau ada hambar, mesti lebih milih ngelanjutin ke bubar. Simpel, nggak perlu pusying pusying dan capek capek ngeluarin energi serta perasaan demi hilangnya si hambar.

Duh, makin jelimet yeesss? Tenang… Lanjut lagi aja bacanyq, biar kabur jelimetnya. Hheee.

Padahal kalau difikir-fikir, masih ada lagi jalan tengah di antara kedua kata itu yang bisa kita pilih kala hambar menghampiri. Sama sama berakhiran -ar, bedanya satu kata ini menyimpan makna yang lebih positif. Yap, sabar! Meletakkan sabar di antara hambar dan bubar… Not bad kayaknya.

Yah, meskipun sama sama kita tahu, yang megang tali kekang sabar tak lain dan tak bukan adalah hati. Nggak bisa dilihat, cuma bisa dirasa. Makanya susah banget buat diimplementasiin di kehidupan sendiri. Apalagi kalau lagi curhat sama seseorang, eh tuh orang cuma bisa bilang sabar. Gondoknya ampyun ampyun, kan, yeesss? Kayak nggak ada kata lain selain sabar aja. Be patient, kek! Ishbir, kek! Saga-bagar, kek! *hheee… ngelawak!

Yang penting coba dulu buat sabar kalau sedang hambar dengan si Marimar atausi Abrar (#eh). Perkara makin hambar atau nggaknya, itu urusan nanti. Usaha dulu dah kita… Biar hubungan hambar nggak selalu diikintilin sama bubar. Lebih lebih kalau bubarnya kita dengan si dia berkaitan dengan hajat hidup orang banyag. Kan bisa berabeee. Iyeesss nggak?

So, mari belajar menyelipkan Sabar di tengah-tengah hambar dan bubar!

*ingetin diri sendiri XD