Disorientasi Book Fair

Mumpung lagi HOT pembahasan tentang Jakarta Book Fair (JBF), gue mau curcol sedikit, ah, tentang kedudulan gue dan book fair. Ini penting untuk kalian yang mempunyai masalah sama dengan gue kala book fair terlaksana: kantong tirisss! Gue nyebutnya dengan sindroma book fair ngenesss.

Nggak tau kenapa, menurut pengamatan ngasal gue (boleh percaya boleh nggak) kok ya book fair selalu terlaksana saat dompet lai tiris-tirisnya (apa gue yang kere mulu, ya?). Apalagi pas zamannya kuliah dulu, mau terlaksana di awal, tengah, maupun akhir bulan, rasa-rasanya kantong pas tiris mulu gitu (berarti emang jelas: gue kere mulu, ya? -,-).

Kalau nggak salah inget, seumur-umur kenalan sama dunia per-book fair-an, cuma dua kali gue ke book fair bawa duit mencapai digit lima. Pertama waktu bisa nyari duit sendiri. Bawa duit 150ribu bisa bawa pulang kira-kira 8 buku. Sesuatu banget deh! Kalau yang kedua hampir sama. Bawa duit 200ribu, pulang-pulang bawa sekitar 6 buku berukuran tebal n hard cover. Sayang semuanya buku titipan orang. It means, ke book fair cuma buat gaya-gayaan duank. Heheee.

Sisanya ya itu tadi, paling banter bawa duit 50ribu. Beli 1-2 buku. Heh, sayang baget yak? Apalagi di tiga book fair terakhir yang gue ikutin: Islamic Book Fair (IBF) n Jakarta Book Fair (JBF). Ketiganya menunjukkan satu grafik kemolorotan gembolan sepulang dari book fair. Kalau nggak percaya, nih gue beberkan khusushon buat kalian, MPmania tercinta *apa deh…

1. IBF 2011
Ini pertama kalinya gue ke book fair karena tuntutan profesi. Jadi, ada nggak ada duit, mau nggak mau kudu ke book fair. Waktu itu dapet tugas buat ngeliput bedah bukunya dua penulis Lingkar Pena Publishing House (LPPH). Satu niatan (licik) membayang-bayang di otak gue: Gimana caranya ke book fair kala itu nggak jadi sia-sia? Gue lihat moderator yang tak lain dan tak bukan adalah bang Boim Lebon, memegang beberapa tumpuk buku di tangan kirinya. You know what I did next? Yep, jiwa-jiwa PPG (Para Pencari Gretongan) gue membludak-bludak. Gue harus dapetin buku itu! Ha-rus! Ha-rus! Ha-rus! Dan seperti biasa: MESTAKUNG membersamai tiap hamba yang punya mimpi membara, tekad membaja, dan ikhtiar tiada tara. Satu buku sukses gue bawa pulang. 😀

2. IBF 2012
Ini lebih rempong lagi. Pas nggak ada duit, perusahaan tempat gue bekerja membuka stand di sana. Gue pun jadi pengisi acara di panggung utama. Ada kali 4 hari berturut-turut gue bolak-balik kantor-istora-rumah. Gue jadi hafal banget peta stand IBF di lantai 1-2 dan sukses mengantarkan gue menjadi guide selama beberapa jam, nemenin temen beli buku, baju, jilbab, kaos kaki, hingga manset. *kadang suka bingung, ini Islamic Book Fair apa Islamic Baju Fair, ya? -,-
Tau berapa buku yang sukses gue dapatkan (noted: bukan beli)? Cuma dan hanya 1, sodara/i! Sebuah buku tentang editing dan dnia penerbitan, yang gue dapatkan secara cuma-cuma karena menjawab pertanyaan di panggung utama. :p

3. JBF 2012
Roman-romannya ini nih klimaksnya. Book fair di mana segala disorientasi terus berulang selama tiga hari berturut-turut. Masih sama temanya: ke book fair karena tuntutan profesi. Sumpah gue akui, acara panggung book fair tahun ini keren jaliii! Gue jadi semangat dan ketagihan untuk ngeliput lagi dan lagi walau kantong tak mendukung. Yah, walaupun susahnya kudu puasa mata (nggak gampang mau) dan puasa mulut (nggak gampang ngiler).
Sebagai bukti betapa disorientasi-nya aktivitas gue di JBF selama 3 hari kemarin, berikut gue tampilkan beberapa fotonya:

1. Badung ke Sarung: novel terbitan Bukune yang gue dapat di tumpukan buku seharga goceng. Beneran deh, jauh-jauh dari Utan Kayu ke Istora Senayan cuma merogoh 5ribu rupiah. Dan faktanya this was the only one that i bought. 😀 

2. Beli majalah ini juga di JBF? Ya nggak dooonk! Lah gue juga nggak ngerti ini majalah tentang apaan?! -,- Yang jelas nih majalah gue dapatkan di panggung utama saat MC melemparkan pertanyaan ke hadirin. Waktu itu gue bela-belain ninggalin satu stand di sekitaran panggung utama demi menjawab pertanyaan dari MC, yah ternyata hadiahnya cuma beginian. Zoooong!

3. Masih di hari pertama di panggung utama. Biasa lah… prinsip hidup seorang PPG: pantang pulang sebelum dapetin gretongan. Heheee. Ini boneka produk Hello Bleu, brand milik duo craftypreneur dari Jogja. Waktu itu mereka menjadi salah satu pengisi acara. Kata moderatornya, yang nanya bakal dapet hadiah! I bet you know the end of this story :p

4. Aaarrrggghhh… Tidakkk! Ini dia disorientasi yang kebangetan di JBF kemarin. Masa yaaa… pagi-pagi gue (dan para hadirin lain) diajak nari poco-poco sama trainernya -,- Tapi nggak apa deh, soalnya kata doi, tari poco-poco itu menyeimbangkan otak kanan dan kiri! So, keep enjoy my 2nd day at JBF (:

4. Dua hari kemarin cuma beli 1 buku seharga 5ribu, alasannya karena tanggal tuwir. Eh giliran sudah tanggal muda, nggak ada 1 pun buku yang dibeli. Melainkan beli yang ini niii:

5. And… this is my last “stupid adventure” at JBF. Kalau yang ini namanya disorientasi penghilang frustasi. Heheee. Malem-malem nonton Pandji n kang Soleh Solihun di atas panggung utama. Sumpah gokil abisss! Alhamdulillah nggak cuma terbahak-bahak, masih ada hikmah meskipun dari blogger sekaligus comic “gokil” macam mereka. Kang Soleh yang rada mesum tapi sepertinya punya obsesi buat jadi seorang ustadz, Pandji yang serius menjadi penggiat cinta Indonesia di kalangan remaja. Dua jempol!

Okedeee, MPmania… intinya, kalau nggak punya duit berlebih, fikir-fikir lagi deh kalau mau ke book fair. Cukup gue aja yang disorientasi dan tolong jangan ditiru, yaaa! *siapa juga yang mau niru?! :p

Gue berharap, semoga ada cerita lain lagi di book fair mendatang yang lebih sesuai dengan tema untuk dishare di sini (baca: belanja buku di pesta buku). Aamiin ^__^

Whistle Blower ~Suami Idaman

Yang ngeklik ini postingan, gue jamin pada ketipu sama judulnya :p. Gue nggak maksud bahas the real whistle blower aka Susno Duadji (maap ya para pecinta politik). Gue juga nggak maksud bahas kriteria calon suami idaman gue (maap ya para fans Enje). Tapi gue mau bahas tentang engingeng… *tebak-tebak buah manggis

Seseorang yang kulitnya legam akibat panggangan sang surya. Giginya sudah tanggal beberapa. Rambutnya cepak cepak gimana. Semangat hidupnya seperti anak muda. Gembolannya banyak aja. Senyumnya selalu merekah. Dan yang pasti, peluit merah selalu melekat di bibir hitamnya.

Hey hey siapa diaaa? 😀

Sudah hampir enam bulan kami bertatap muka, hingga bertegur sapa sekedarnya. Sayang gue masih belum tau siapa siapa siapa… Siapa namanyaaa? -,-

Karena ke-khas-annya yang saban pagi meniup pluit merahnya tiap ada kereta menuju Tanah Abang yang masuk ke jalur dua Stasiun Pondok Ranji, lah, gue menyebutnya Whistle Blower.

Bukan cuma niup pluit pertanda kereta akan tiba. Sering kali doi ini menjadi pelengkap petugas informasi, memberitahu penumpang apakah kereta yang akan lewat rangkaian panjang atau pendek.

Ada lagi keunikan Whistle Blower ini. Profesinya sebagai penjaja tissue, masker, permen dan mainan anak yang digendong di bahu kanannya menggunakan plastik bening super gede tak membuatnya menjadi manusia apatis yang nggak peduli kondisi sekitar. Di plastik bening gembolannya sering doi selipkan muka halaman surat kabar ibukota dengan headline yang super duper lebayyy. Misalnya gini: Astaghfirullah, Jakarta Tenggelam Banjir!. Dan masih ada dua headline lain yang gue lupa redaksionalnya.

Dulu gue fikir doi ini cuma mangkal di St Pondok Ranji saban pagi. Tapi ternyata gue salah, Bray! Beberapa kali gue ketemu doi malam sekitar setengah 9 di St Tanah Abang. Walaupun semangatnya sudah satu-satu. Senyumnya nggak lagi mengembang seperti biasa, tapi kegigihannya mondar mandir menjajakan barang dagangannya (plus koran malam) jelas masih terlihat.

Sampai kemarin pagi, ketika ada kesempatan untuk berbincang sambil nunggu kereta, gue tanyakanlah perihal jam kerjanya.

“Tiap hari dagang sampe malam, ya, Pak?” gue nanya.

“Iya, Neng. Soalnya kalau bulan puasa Bapak nggak kuat dagang lama-lama. Capeknya berasa. Makanya digenjot tiap hari sebelon puasa,” kata tuh Bapak ramah.

Alahayyy. Boleh juga ditiru alasan nih bapak. Kejar setoran sebelum ramadhan. Biar ramadhan nanti nggak disibukkan sama kerjaan duniawi, mending tenaganya disimpan buat ibadah aja. 😀

Alhamdulillah, kayak ada yang ngasih semangat lebih saat kesadaran nyambut ramadhan hadir di waktu yang sangat lambat. Thanks to my Whistle Blower! (:

Hoiya, nyangkut sama frasa kedua judul postingan ini; Suami Idaman. Kalau kata seorang ustadzah, tankihur rijal lil itsna: agamanyanya dan akhlaknya. Nah, poin akhlak yang salah satu turunannya gigih mencari nafkah, sepertinya sudah sukses melekat dalam diri Whistle Blower. Jangan mau kalah, ya, para MPman! 😀

Kalau Galau Jangan Diumbar Lah Yau

Setiap orang pasti pernah galau. Iya nggak sih? Kalau ada yang nggak pernah, dipertanyakan, tuh, manusia apa malaikat yak?? Soalnya gue yang keren kayak begini aja masih suka galau! *lah :p

Ya ditolak si doi, ya mau nembak tapi tabungan cekak, ya ditinggal duluan sama gebetan, dan ya ya lainnya yang menjadi musabab seseorang mengalami kegalauan. Pasti semua orang pernah galau! *ceritanya ngeyel

Nah, kalau ada yang keliatannya nggak pernah galau, mungkin beda penyikapannya kali ya… Ada yang tiap galau melanda, seluruh manusia kudu tau. FB, Twitter, MP semua jadi corong publikasi kondisi hatinya deh pokoknya. Tapiii… ada juga yang sebaliknya. Disimpan serapat dan sesunyi mungkin. Sampai-sampai tembok kamarnya pun nggak menPadahal kenyataannya di dalam ‘kamar’ yang lain ada yang bergumuruh dan menyambar berkali-kali. Heheee, petir, kaleee’!

Tapi kayaknya sedikit banget tipe manusia kedua ini, ya? Apalagi jamannya udah internet buat rakyat, tipe orang pertama merajalela di dunia maya. Bahkan konon mengalami peningkatan yang cukup signifikan kalau gue perhatikan. Pun para kaum Adam yang terkenal dengan rasionalitasnya, mereka terbawa arus galau. Emosinya mudah ketebak dari apa yang mereka ketik (nulis satus, ngetwit, komen RT). Jadi gimanaaa gituh keliatannya. Bikin ilfil? Boleh dibilang iyeesss. :p

Semua mendadak jadi pujangga (bahasa halusnya) dan gombalers (bahasa kasarnya) maya. Kata indah nan berbunga-bunga meluncur lancar dari balik dua jempol di tiap tulisannya. Hufttt… capedey!

Perasaan cinta udah seperti barang murahan yang semua friends n follower berhak tau. Argh, gimana ini?! Gue jadi nggak antusias lagi kalau omong tentang cinta gegara pengumbaran rasa cinta secara massal.

Sedikit curcol, dulu gue juga pernah nulis status beraroma galau. Untungnya langsung ditegur sama kakak kelas. Buru buru deh gue delete. Heheee. Dan sejak saat itu (kalau nggak khilaf) gue takut mengumbar kegalauan di dunia maya. Paling banter nyelipin di blog, buat gue jadikan pelajaran.

Bagaimana dengan MPmania? Gue sih yakin, penghuni MP mah keren-keren. Rait? Oiya, saling ngingetin yeee kalau masih suka mengumbar kegalauan. ^___^