Whistle Blower ~Suami Idaman

Yang ngeklik ini postingan, gue jamin pada ketipu sama judulnya :p. Gue nggak maksud bahas the real whistle blower aka Susno Duadji (maap ya para pecinta politik). Gue juga nggak maksud bahas kriteria calon suami idaman gue (maap ya para fans Enje). Tapi gue mau bahas tentang engingeng… *tebak-tebak buah manggis

Seseorang yang kulitnya legam akibat panggangan sang surya. Giginya sudah tanggal beberapa. Rambutnya cepak cepak gimana. Semangat hidupnya seperti anak muda. Gembolannya banyak aja. Senyumnya selalu merekah. Dan yang pasti, peluit merah selalu melekat di bibir hitamnya.

Hey hey siapa diaaa?😀

Sudah hampir enam bulan kami bertatap muka, hingga bertegur sapa sekedarnya. Sayang gue masih belum tau siapa siapa siapa… Siapa namanyaaa? -,-

Karena ke-khas-annya yang saban pagi meniup pluit merahnya tiap ada kereta menuju Tanah Abang yang masuk ke jalur dua Stasiun Pondok Ranji, lah, gue menyebutnya Whistle Blower.

Bukan cuma niup pluit pertanda kereta akan tiba. Sering kali doi ini menjadi pelengkap petugas informasi, memberitahu penumpang apakah kereta yang akan lewat rangkaian panjang atau pendek.

Ada lagi keunikan Whistle Blower ini. Profesinya sebagai penjaja tissue, masker, permen dan mainan anak yang digendong di bahu kanannya menggunakan plastik bening super gede tak membuatnya menjadi manusia apatis yang nggak peduli kondisi sekitar. Di plastik bening gembolannya sering doi selipkan muka halaman surat kabar ibukota dengan headline yang super duper lebayyy. Misalnya gini: Astaghfirullah, Jakarta Tenggelam Banjir!. Dan masih ada dua headline lain yang gue lupa redaksionalnya.

Dulu gue fikir doi ini cuma mangkal di St Pondok Ranji saban pagi. Tapi ternyata gue salah, Bray! Beberapa kali gue ketemu doi malam sekitar setengah 9 di St Tanah Abang. Walaupun semangatnya sudah satu-satu. Senyumnya nggak lagi mengembang seperti biasa, tapi kegigihannya mondar mandir menjajakan barang dagangannya (plus koran malam) jelas masih terlihat.

Sampai kemarin pagi, ketika ada kesempatan untuk berbincang sambil nunggu kereta, gue tanyakanlah perihal jam kerjanya.

“Tiap hari dagang sampe malam, ya, Pak?” gue nanya.

“Iya, Neng. Soalnya kalau bulan puasa Bapak nggak kuat dagang lama-lama. Capeknya berasa. Makanya digenjot tiap hari sebelon puasa,” kata tuh Bapak ramah.

Alahayyy. Boleh juga ditiru alasan nih bapak. Kejar setoran sebelum ramadhan. Biar ramadhan nanti nggak disibukkan sama kerjaan duniawi, mending tenaganya disimpan buat ibadah aja.😀

Alhamdulillah, kayak ada yang ngasih semangat lebih saat kesadaran nyambut ramadhan hadir di waktu yang sangat lambat. Thanks to my Whistle Blower! (:

Hoiya, nyangkut sama frasa kedua judul postingan ini; Suami Idaman. Kalau kata seorang ustadzah, tankihur rijal lil itsna: agamanyanya dan akhlaknya. Nah, poin akhlak yang salah satu turunannya gigih mencari nafkah, sepertinya sudah sukses melekat dalam diri Whistle Blower. Jangan mau kalah, ya, para MPman!😀

5 comments

  1. Iwan Yuliyanto · Juni 27, 2012

    Bapak pedagang itu sudah menerapkan prinsip fokus dg goal-nya, baik goal untuk keluarganya maupun goal prestasi beribadah kepada-Nya.

  2. li4h Lia · Juni 27, 2012

    *nunduk malu*

  3. nurjanah hayati · Juni 27, 2012

    Fightforfreedom: yap. Banget (:

    Mba liah: *ngikut*

  4. Rin Sakura · Juni 27, 2012

    suka banget sama yg begini, sementara pedagang lain klo puasa suka masih ngebul (baca:rokok), seperti suatu ketika beli roti bakar di deket kostku pas adzan maghrib penjualnya ON TIME pergi ke masjid, subhanallah🙂

  5. nurjanah hayati · Juni 28, 2012

    Iya. Bnr2 malu ya -,-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s