Simple People

Anti kapitalis itu… beli beras di warung-warung kecil dekat rumah. Yeaahhh! Itu yang gue lakukan beberapa pagi yang lalu. Beli beras di warung tetangga yang orang Medan.

Kalau gue perhatiin, posisi penjaganya selalu begitu. Si ibu mertua duduk di bale-bale dikelilingi barang dagangannya, si mantu duduk di depan tivi yang agak menjorok ke dalam. Sebagai pekerja Jakarta yang senantiasa diburu waktu, gue berharap pagi itu dilayanin oleh si maantu. Maaf-maaf, kondisi si mertua yang sudah lumayan renta membuat geraknya nggak lagi gesit dan agak pelit senyum juga. Sayang amat sayang, tetnyata gue dialayanin sama ibu mertuanya. -,-

Waktu si mertua lagi nakar beras, gue kasihlah itu duit ke mantu yang berdiri setia di belakang mertua. Biar cepat selesai jual belinya gitu. Eh, si mantu malah nolak n ngasih isyarat sambil senyum tulus supaya duitnya gue kasih ke mertuanya aja. Apa-apaan ini?

Belum lagi waktu si ibu mertua ngembaliin duit gue yang proses berhitungnya lumayan makan waktu. Eh, si mantu lagi-lagi dengan senyum ikhlasnya menuntun mertua menghitung uang kembalian dengan benar. Hfffttt… hebat yak si mantu (:

Tetangga yang peduli itu… selalu want to know kabar tetangganya. Eh, itu sih kepo banget yak! Dan itu yang gue lakuin kala liburan panjang kemarin.

Ini tentang suami istri di depan rumah yang sukses bikin gue penasaran (nggak sampai) setengah mati. Mereka sudah punya 1 bayi. Yang kerja keluar rumah dari pagi sampai sore istrinya, sedang si suami cuma kerja santai di beberapa rumah dekat kontrakannya.

Kadang gue bertanya-tanya, kok bisa ya si istri nggak mempermasalahkan status pekerjaan mereka? Apalagi pas liburan kemarin mereka sering kongkow-kongkow di depan rumah gue. Hanya senyuman n candaan yang menghiasi wajah mereka. Nggak keliatan gitu tanda-tanda keretakan rumah tangga. *sok jadi detektif :p

Tante yang baik itu… yang mengoreksi
kekeliruan ponakannya termasuk dalam hal kesalahan menyanyikan sebuah lagu.

Ceritanya malam itu gue lagi duduk leyeh-leyeh sama beberapa keponakan. Sampai salah satu dari mereka nyanyi dangdut begini:

Hidup tanpa cinta bagai taman tak berguna…
Oh begitulah kata para bujangan…

Huwahaha, ngakak guling-guling gue dengar tuh bocah kelas 2 bernyanyi dengan pedenya. Padahal udah gue koreksi beberapa kali, tetep aja dia nyanyi dengan lirik ngawur bin ngaco! (:

Got the point?

Kalau mau disambung-sambungin sama judul di atas, menurut gue nyambung aja. Apalagi masih banyak kabel-kabel berserakan nggak tertata di langit Jakarta. Jaka sembung naik odong-odong… Nyambung dooonk! *maksa

Mereka itu para simple people yang hidupnya dibuat simple gimanapun kondisinya.

Si mantu tetangga gue bisa aja kan dia nunjukkin ekspresi ngeremehin ibu mertuanya di depan gue kayak kebanyakan mantu di sinetron Indonesia. Tapi dia tetap ikhlas, tulus ngadepin si mertua yang kayak begitu. Doi menyimpelkan hal yang menurut banyak perempuan adalah kerumitan hubungan dengan mertua.

Si istri di depan rumah gue juga. Bisa aja kan dia mengekspresikan ketidakpuasan atas profesi si suami kalau dibandingkan dengan dirinya. Masa iya perempuan yang kesana kemari mencari alamat, eh, mencari rejeki, sedang si suami kerja nyantai di dekat rumah? Sah-sah aja sih kalau penghasilan suaminya mencukupi kehidupan keluarga kecil mereka hingga si istri nggak perlu lagi ikutan banting tulang. Tapi, si istri juga sama. Menyimpelkan hal yang menurut banyak perempuan ujian tanggung jawab laki-laki. *sok banget ya gue 😀

Pun dengan keponakan gue yang masih dengan pedenya nyanyi walaupun liriknya ngaco begitu. Beda kalau orang dewasa yang nyanyi terus dikritik kesalahannya. Biasanya jadi nggak pede lagi ya nyanyi keras-keras. Apalagi kalau liriknya berbahasa asing. Dan itulah anak-anak, hidup mereka selalunua dibuat simple. Belum ngerti benar salah sih yeesss.

Beda sama kita (gue aja kaleee’!) yang seringnya suka menciptakan kerumitan. Katanya, menjadi pendidik (mentor) itu susah. Kudu mraktekin dulu ilmu yang kita kasih plus kudu soleh-ah dulu. Katanya, mumpung masih muda nuntut ilmu dulu sampai jenjang S-puter, soale kalau sudah berkeluarga bakal susah. Udah banyak fikiran n tanggungan. Katanya lagi, jangan berani berkeluarga sebelum mapan. Kalau berani… apa kata mertua?! Katanya pula, cewek itu menunggu walau harus menderita karena dia. Kalau ada cewek yang mulai duluan, pede amit tuh cewek!

Dllsb kerumitan yang sejatinya kita (dibilang, lo aja kali, Njeee!) buat sendiri. Hehe. Okelah, kalau lo juga sama kayak gue, ayo kita belajar jadi simple people kayak orang-orang di atas. Jangan salahin kalau ternyata di akhirat nanti amal kebaikan yang menurut kita segunung badar plus uhud, eh nggak ada apa-apanya karena kita beramal seorang diri, nggak ngajak yang lain. Jangan salahin kalau jodoh jauh kalau kita emang nggak mau pusing mikirin jodoh n lebih milih menghindar dengan sok sibuk n ngaku banyak tanggungan. Oke, go go go simple people! (:

*ngingetin diri sendiri*

Ikan Bawal Diasinin

Huwooo… kretek, kretek (ceritanya jari-jari pada bergeliat saking lamanya nggak update blog).

Holla, WP Mania… mumpung masih awal Syawal, izinkan teman kalian yang kuweren ini meminta maaf atas segala khilaf. Pasti baaanyak banget deh salah-salah nulis jurnal, salah komen, salah canda, dll kesalahan baik yang gue mulai duluan maupun sebaliknya. *kesannya punya Follower banyak banget yak di WP. Padahal orang baru* :p

Mongomong… gimana Ramadhan kemarin? Apa yang amat berkesan di 29 hari puasa plus berhari-hari pesta pora dengan makanan segala rupa? Yang jelas… kenyang tiada tara, yaaa (: *gapapa, manusiawi.

Buat yang sudah mulai Syawalan, gue ucapkan SELAMAT! Buat yang belum ganti puasa yang kudu diganti… sudah, lanjut puasa lagi saaanah! *ingetin diri sendiri*

Eiya, ada yang ngerasain nggak, kalau intensitas ngupdate blog gue (di rumah yang lama) nggak seperti biasanya? Nggak konsisten gitu. Tercatat cuma 2 jurnal yang gue tuliskan. Itu juga asal asalan. *siapa juga yang rajib merhatiin XD

Buat yang telah berhusnuzhon bahwa hilangnya gue dari peradaban blogger lebih dikarenakan kesibukan ibadah Ramadhan, tetoottt… big wrooong! Yang betul, niatnya mau konsen Ramadhan, makanya stop nulis. Eh kenyataannya nol besar. Ibadah biasa aja, nulis juga nggak. Haha, emang terlalu gampang ya cari-cari alasan buat berhenti nulis. Sampai-sampai Ramadhan dijadiin alibi. Hehe.

Makanya, ikan bawal diasinin… bulan Syawal ayo nulis lagi, Cynnn ^___^

*ini tulisan apa pulak? Jajal rumah baru!

Menjadi yang Pertama

Bukaaannn… ini bukan mau ngoceh tentang poligami. Hanyaaa… ini seperti kebanyakan perempuan di seluruh dunia: maunya dan senangnya menjadi yang pertama. #kode (:

Ini tentang profesi gue. Sebagai pencari berita yang mendadak dangdut menjadi pencari cerita, semakin kokoh hati gue bahwa menjadi numero uno itu… membahagiakan.

Apalagi konteksnya menjadi yang pertama dalam menyeleksi cerita yang masuk ke gmail gue. Kira-kira ada kali 300 cerpen yang memanggil-manggil minta dibaca. Dan kadang gue penuhi seruannya dengan ngegerutu, bermalasan, sampai ngantuk-ngantuk saking bervariasinya itu cerita. Yap, begitu mungkin gambaran salah satu aktivitas saban hari gue di tempat kerja sekarang. Terlihat sepele, yaaa? (:

Detik-detik menjelang “ujung”nya, membuka-buka kembali cerita yang sudah lolos dari jerat kemalasan gue membacanya, semakin gue terharu. Apalagi kalau teryata responnya positif. Banyak komenan yang menyatakan senang dengan cerita pilihan gue. Hmmm… berarti kan selera gue sesuai dengan selera pembaca. Dan yang paling penting, gue sudah menyajikan bacaan terbaik untuk remaja muslim bahkan yang non muslim. (:

Insya Allah kalau sudah “habis” masanya, kesenangan ini yang bakal gue inget terus setelah kesenangan ke sana ke mari bertemu orang baru di tempat dan kegiatan baru bernama meliput.

Oke, salam bahagiaaa! 😀