Tentang Menjadi Ibu

Ibarat sebuah cerpen, 12 Ramadhan tahun ini kayaknya puncak klimaksnya deh. Di mana sang tokoh utama yang tak lain dan tak bukan gue sendiri sedang bersua dengan akumulasi konflik maha dahsyat dalam salah satu keping hidupnya tentang menjadi seorang ibu. Ciyeeeeh bahasanya😄.

Mnurut kebanyakan perempuan yang sudah menikah: perempuan baru akan menjadi perempuan yang sesungguhnya kalau sudah merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu. Hmmm… berarti sekarang gue perempuan jadi-jadian, dooonk? -,-

Ah, bukan itu yang mau gue muntahkan kali ini (semoga puasa hamba nggak batal, ya Allah). Emang gue belum menjadi ibu dan nggak tau pastinya kapan bakal jadi ibu (putus asa?). Dan gue nggak sepakat dengan statement di atas. Bahkan sempat gue kepikiran nggak mau jadi ibu. Eh tapi cuma pikiran sekejap duank deng.😀

Bukan apa-apa… Belakangan gue suka merhatiin tingkah beberapa ibu muda terhadap anak-anaknya. Kalau boleh gue simpulkan, mereka seperti nggak menikmati perannya sebagai perempuan yang sesungguhnya: menjadi ibu.

Kasus pertama dari seorang kenalan yang cantiknya naujubilleee! Gue haqqul yaqin lo lo pada kaum Adam bakal ngelirik kalau berpapasan dengan doi. Sampai gue ketemu doi pas bawa anaknya, sejak saat itu lah kecantikannya seperti terkikis di mata gue. Galak banget sama anaknya!

Kasus kedua kira-kira dua minggu menjelang Ramadhan di atas kereta. Seorang ibu di samping gue, tangan anaknya kejepit pintu antar gerbong KRL AC. Waktu itu dia nggak ngeh kenapa anaknya nangis nangis kekejeran. Sampai ada seorang bapak yang ngasih tau perihal tangan anaknya yang kejepit. Duuaaarrrr… bukannya dielus atau ditiup tangannya yang sakit, dibujuk biar nggak nangis lagi, eh malah cacian dan pukulan di paha si anak yang diberi. Heh -,-

Nggak berbeda sama ibu ke-dua. Kasus ketiga juga begitu. Udahlah anaknya kepeleset di pintu warung pinggir jalan, eh malah dicaci dan dipukul kaki anaknya. Untung masih sodaraan, masih bisa gue omelin pelakunya. :p

Nah, kasus keempat ini lah klimaksnya. Saat lagi asik asik berjibaku dengan kain pel n lantai tadi pagi, dari kontrakan depan rumah terdengar suara jeritan seorang anak SD. Mengaduh-aduh kesakitan sambil menggedor-gedor pintu dan rengekan ampun ditujukan ke sang ibu.

“Ampun, Mah… Sakit, sakit… Ampun…”

Sebagai orang Indonesia yang katanya orangnya ramah-ramah (apa terlalu mau ikut campur?), beberapa tetangga termasuk gue sampai keluar rumah menelisik ada apa gerangan? *bahasanyaaa :p* Cuma suara sang anak tanpa amarah sang ibu yang kami dengar sampai seorang bapak teriak dari luar berusaha melerai, baru deh terdengar suara amarah seorang perempuan.

“Emang lo gua apain ampun ampun begitu, hah? Malu maluin gue aja lo! Keluar!” Jedug! (suara sesuatu terbentur tembok)

Et dahhh… Ngeri ngeri ngeriii ngedengernyao_O

Awalnya gue seneng banget pindah ke rumah yang sekarang. Selain karena lokasinya yang masuk gang, mayoritas tetangganya berasal dari suku X yang terkenal dengan kelembutannya. Ternyata yaaa… orang kalau sudah marah nggak kenal suku. Tetep aja serem. Maafkan gue saudara Betawi sesuku yang telah menganggap kalian dan keluarga gue sebagai suku yang kasar dan cablak. Sekali lagi maaf…

Dari empat kasus di atas, gue jadi bingung sendiri. Ini kenapa jadi begini ya? Orang tua yang wajib dihargai dan diperlakujan lemah lembut sama anaknya, kok begitu??? Emang sih, semua pengorbanan yang ortu terutama ibu berikan nggak akan pernah bisa terbalas dengan apapun. Tapi bukannya satu kekasaran yang diterima anak bakal teringat terus di alam bawah sadar anak sampai dia dewasa? Gimana ini…?

Apalagi pernah gue tanya ke satu anak teman dan beberapa keponakan. Sayangan mamah atau papah? Lah jawabannya satu suara: papaaaah! Mamah galak, marah-marah terus. Ah jadi kepikiran, jangan-jangan entar anak gue ngomong begini juga? Tidaaaaaakkkk -,-

Padahal seorang ibu 10x lebih besar pengorbanannya. Dari mulai di dalam rahim sampai anaknya menikah dan keluar dari rumah ninggalin dia. Aw aw awww… jadi complicated begindang ya kalau dipikir-pikir.

Apa karena peran bapak yang lebih sering di luar rumah dan karena jarang ketemu anak-anaknya ya jadi mereka lebih akur gitu? Atau karena peran ibu yang setiap saat selalu membersamai anak, hingga bisa seenaknya? Atau karena anak zaman sekarang yang bandel-bandel? Kayaknya sih karena semua. Heheee.

Tapi gue pernah sharing sharing sama seorang ibu yang karena alasan ekonomi doi nggak jadi FTM (full time mother). Bahkan doi membenarkan perannya itu. Jadi menurutnya, seorang perempuan nggak seharusnya tujuh hari dalam seminggu 1×24 jam berada di rumah bersama anak-anaknya. Sesekali dalam seminggu, perlulah tugas urus anak diambil alih sama kaum bapak. Soalnya biar bagaimanapun perempuan juga manusia yang butuh mengaktualisasikan diri. Nggak mesti kerja, yang penting ada waktu dia bersama orang lain melakukan hal positif kayak bakti sosial, ikut kajian, ngajar, dllsb. Yang jelas kudu keluar rumah asal nggak kelewatan. Soalnya lagi, kata seorang ibu yang bukan FTM tadi, kalau ibu keluar rumah, rasa kangen dan sayang sama anak akan semakin menjadi seberapa bandel pun anaknya. Beda sama FTM (apalagi yang karena tetpaksa), tiap hari ngeliat tingkah nakal anak kan stress juga yaaa.

Heheee, bukan maksud hati mengajak kepada ajaran kaum feminis. Atau bukan juga sok bener sendiri dan menjamin gue nggak akan melakukan seperti yang dilakukan ibu-ibu di di atas. Bukan… Justru ini ngingetin diri sendiri, kalau tiba masanya gue jadi ibu… mudah mudahan tulisan ini jadi pengingat. ^___^

Okesip, lanjut lagi Ramadhannya! Maaf sudah mengalihkan ibadah kalian… (:

15 comments

  1. Mudhalifana "pia" Haruddin · Agustus 1, 2012

    Kalo di sini, ada budaya kalau anaknya jatoh atau ngebuat salah, pasti langsung di-“belai” mesra (kasarnya dipukulin). Ada yang bilang, biar ngusir setan atau jin yang ganggu, tapi ada juga yang bependapat biar anaknya kapok dan gak ngulangin lagi. Tapi, ya itu, terkadang bisa sampai sadis benget “ngajarinnya”.

  2. nurjanah hayati · Agustus 1, 2012

    waduh, parah banget ya itu?
    gak jauh beda sih sama di isni. aneh aja. udah jatuh tertimpa tangga pulak itu si anak. na'udzubillah -,-

    emang bener kata seorang Ustadzah di mari: semua perempuan bisa jadi istri, tapi gak semua perempuan bisa jadi ibu. makanya tarbiyah (dalam arti yg sebenarnya) madal hayah ^___^

  3. Nessa- Chica · Agustus 1, 2012

    kalo diliat-liat ya njeee (dari pengamatan orang-orang deket ane), mereka kek gak siap buat punya anak….

    kalo di bilang masala ekonomi kadang gak juga
    buktinya tetangga ane, walo boleh dibilang kurang berada tapi sama anak tu bener-bener dijaga…..

    dijaga dari fitnah, dijaga dari di bully temennya

  4. Nessa- Chica · Agustus 1, 2012

    eh tapi ane inget cerita mbak mala yang ketemu ibu-ibu ikhwah di IBM…
    waktu anaknya nangis mo minta sesuatu, si ibu malah nyubit anaknya tapi matanya liat orang sekeliling (mungkin berharap gak diliat orang)

    eh untung keliatan sama mbak mala. angsung deh si ibu di sampirin dan dirangkul trus mbak mala bilang, “anaknya jangan digituin, kan kasian..” (kurang lebih bahasanya githcu)

    hehehehee….mbak mala ternyata pahlawan

  5. nurjanah hayati · Agustus 1, 2012

    uni Nessa: iya betul. lebih ke mental sih yaaa… (:
    gampang jadi istri bukan berarti gampang jadi ibu. perlu belajar juga sebelum jadi ibu (: *mudah2an bisa praktekin tulisan*

  6. Fazrie Maulidya · Agustus 1, 2012

    semoga ibu2 itu segera mendapat pecerahan. Disiplin anak tidak selalu harus dengan kekerasan. Kadang orang tidak bisa membedakan antara keras dengan tegas.
    Semangat nj… ada waktunya naluri menjadi ibu itu keluar. Semoga saya nanti juga bisa menjadi ibu yg baik.😀

  7. nurjanah hayati · Agustus 1, 2012

    Sip. Aamiin (:

  8. li4h Lia · Agustus 1, 2012

    Postingan yg memicu helaan napas panjang ya Nje?
    Dari masih remaja dulu galauku ya soal anak-orangtua gitu. Apa emg itu cara Allah mendidik kita ya? Dikasih tau kasus2 tak ideal biar gak usah mengulangi kesalahan yg sama? Tp yg ada mah super ngeri gitu mbayangin jd ibu.
    Ya Allah, jadi ibu ato enggak, pengennya jadi orang baek deh.

  9. nurjanah hayati · Agustus 2, 2012

    Banget Mba. Aplg klw lg sendirian auka kebayang2;; apa gue nanti kyk mereka ya? -,-
    Hrs jadi ibu dooonk! :S

  10. li4h Lia · Agustus 2, 2012

    Aamiin semoga kita semua bisa jadi ibu sholihah😀

  11. nurjanah hayati · Agustus 2, 2012

    like banget! (:
    mar-atush sholihah wa ummul madrasah (:

  12. Fazrie Maulidya · Agustus 2, 2012

    ih nj top deh..

  13. nurjanah hayati · Agustus 3, 2012

    top apenyeee? cuma curcolan duank -,-

  14. Rin Sakura · Agustus 4, 2012

    iyup #angguk2

  15. nurjanah hayati · Agustus 6, 2012

    ditangkep anggukannya (:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s