M-A MA… L-U LU… -,-

Kayak-kayaknya, baruuu banget tahun 2011, tepat di bulan September juga, gue update postingan tentang sekolah gue tercinta: Mane (yang penasaran bica baca di sini). Eh, tahun ini update postingan yang sama, dengan kedukaan yang nggak jauh beda. Bahkan lebih tragis, kayaknya.

Sempat meninggi hati ketika kabarnya ada anak Mane yang mati dibacok gegara tubir sama anak Hujut Hulup.

Kata gue, kali ini penyebab dari makin lamanya jam belajar yang pelajarannya kian mumet berlipet-lipet. Yaaa… tubir jadi semacam ajang pelampiasan jiwa remaja mereka yang terkukung oleh rumus&hafalan di dalam sekolah, gitu.

Kata gue juga, mangkanya ikut Rohis! Dijamin nggak bakal mau ngabisin waktu nongkrong-nongkrong di jalanan yang nggak jelas abis.

Kata gue lagi, ayo donk pihak sekolah, dukung terus segala aktivitas kerohanian yang digagas Rohis dan alumni.

Hmmm… alasan yang pertama sih patut diperhitungkan yesss. Tapi untuk alasan kedua dan ketiga, nggak pantaslah gue meninggi dengan ucapan begini. Harusnya lo malu, Nje!

Pasalnya, gimana emang kondisi Rohisnya? Yakin kalau banyak yang masuk Rohis bakal nggak ada yang namanya tubir-tubiran? Perasaan dari jaman kejayaan hingga terseok-seoknya, tubir mah jalan terus.

Yakin Rohisnya sudah mampu memikat hati anak-anak Mane yang notabene orkay-orkay&gaul-gaul?

Yakin Rohisnya punya banyak sumber daya alumni yang mau balik lagi dan punya mental badak yang tetap berdiri kala proker yang diajukan ditolak sekolah berkali-kali?

T.T

Nggak tau n nggak mampu jawab, yang jelas gue malu. Malu karena cuma bisa bicara tanpa beri solusi dengan terjun langsung ke ranah Rohis. Malu karena menomor sekiankan Rohis di bawah alasan aktualisasi&menghidupi diri. Malu karena belum mampu membuat “duplikat diri” yang mampu melanjutkan Rohis kini.

Alumni macam apa ya gue? Hheee. *tertawa getir

Iklan

Kalau Bukan Cinta, Lalu Apa Namanya?

Orang bilang, salah satu hakikat cinta atau mahabbah itu kayak lagunya mba Evi Tamala:
“ke manapun ada bayangmu. di manapun ada bayangmu. di setiap waktuku ada bayangmu. oh…”

Ada yang bilang lagi, cinta juga kayak yang dibilang Maia&Mican:
“aku mau makan kuingat kamu. aku mau minum juga ingat kamu. oh cinta, mengapa semua serba kamu…”

Bejibun ekspresi cinta yang mampu kita rangkai dan kita dendangkan saban hari. Sayangnya… ekspresi tersebut lebih sering kita tujukan buat lawan jenis sih ya. Nggak heran kalau kata cinta identiknya sama galau, melow, hingga e* kerbau! *halah, maksa banget yang terakhir.

Padahal, seandainya aja lagu-lagu itu maknanya dibuat lebih luas, Kamu-nya ditujukan kepada Allah&Rasul, gitu. Maka, penggalauan di atas dunia akan terhapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan&prikeadilan. Kemudian daripada itu… *ternyata gue masih hafal ya pembukaan UUD 45 :p

Balik lagi… sebenarnya gue pengen marah-marah terkait film Amerika, Innocence of Muslims (IOM), yang tiba-tiba mencuat di bulan September ini. Setelah akhirnya dengan sabar nonton film yang leletnya naujubile, mendadak gue merasa terhina tapi juga mau tertawa.

Terhina dengan penggambaran keji si pembuat film terlaknat akan sosok baginda Rasulullah. Tertawa dengan penggarapan film yang kalau ada nominasi sutradara, aktor, aktris plus film terburuk of the year, kayaknya tropi penghargaan itu pantes banget disematkan ke film IOM. Prok prok prok!

Keliatan banget bukan film yang tujuan dibuatnya untuk menghibur, mendidik, apalagi menginspirasi. Melainkan film ngelantur, yang dibuat bukan oleh orang cerdik, dan pastinya cuma buat memprofokasi!

Dan… selamet! Kalian sukses membangunkan ummat Islam yang selama ini pulas terttdur!

Selalunya begitu. Iya nggak? Kita itu paling benci, sakit hati, merasa disakiti ketika Islam&baginda Rasulullah dihinakan. Pembakaran al-Quran oleh pendeta gendeng. Karikatur pelecehan baginda Rasulullah di Denmark, Belanda&Prancis. Dan masih banyak lagi.

Gaung responnya lagi-lagi sama di seluruh dunia. Sebulan dua turun ke jalan. Plus menjadikan jejaring sosial untuk melaknat para pelakunya. Redup lagi reaksinya. Then… dinyalakan lagi aksinya oleh para pembenci itu.

Salah siapa? Salah mereka?

Ah, nggak juga. Sudah sunatullahnya begitu kayaknya. Para nabi dicaci, dihinai, bahkan dibunuhi! Nggak terkecuali Rasulullah junjungan.

Sekali-kali pantas kayaknya nyalahin diri sendiri. Memaknai lagi kata cinta kita terhadap beliau yang belakangan terejawantah lewat pembelaan brutal kita kala baginda Rasul dihinakan.

Sudah sesering dan sebanyak apa sholawat kita padanya setiap hari?
Perkara sunnah beliau yang mana yang sudah menjadi amalan rutin kita setiap hari?
Sedalam apa pengenalan kita akan siroh beliau, keluarga, serta para sahabat&sohabiyah?
Dan sudahkah kecintaan kita kepadanya melebihi kecintaan kita terhadap diri sendiri?

Argh… beneran nggak sanggup gue jawab. Mungkin betul, penyebab hinaan yang berulang terus tiap tahunnya, salah satunya karena gue yang belum menunaikan konsekuensi dari mencintai beliau.

T,T

*rangkaian kata aja nggak cukup untuk membuktikan penyesalan lo, Nurjanah!

Bukan Klinik To*g Fa*g

Gelo gelo gelo… emang fitnah lebih kejam dari fitnes, eh, pembunuhan, yesss! Masa iya orang keren kayak gue dibilang teroris?!

Yah, meskipun bukan secara langsung menunjuk gue, tapi organisasi yang gue geluti sejak SMA hingga kuliah (ekstrakurikuler yang berbasis di masjid). Tapi kan gue salah satu anggotanya. Meskipun juga dulu cuma anak bawang alias tim penghibur aja. Tetep aja gue merasa tersungging!

Oke, daripada gue meniru cara stasiun TV itu yang konon punya misi tersendiri menggembosi Islam, gue akan memakai cara yang lebih elekhan untuk membuktikan kalau gue dan kita semua bukan teroris, melainkan anak manis yang mencoba menjadi seorang agamis, selalu humoris juga selalu optimis walau kantong tipis. Yeah!

1. Dulu saya pakai jilbab kalau ke sekolah aja. Tapi sejak ikut Rohis, alhamdulillah sudah dengan sadar menutup aurat di hadapan yang bukan mahram.

2. Dulu saya anak pemalu, bahkan malu-maluin yang berdiri di depan kelas aja harus menutup muka dengan buku. Tapi sejak ikut Rohis, alhamdulillah diajarkan publik speaking.

3. Dulu saya nggak rajin baca Qur’an. Tapi sejak ikut Rohis, alhamdulillah jadi tau kalau selemah-lemah iman, para sahabat Rasul mengkhatamkan Quran minimal 1bulan.

4. Dulu saya sangat individualis. Punya ilmu cuma buat diri sendiri. Tapi sejak ikut Rohis, alhamdulillah diajarkan untuk terus berbagi. Hidup untuk bermanfaat bagi orang lain.

5. Dulu saya madesu. Nggak ngerti mau ngapain setelah lulus. Tapi sejak ikut Rohis, alhamdulillah bisa keterima di UI lewat jalan tol. Satu per satu cita-cita pun sudah tercapai.

6. Dulu saya rajin ngelawan ortu. Tapi sejak ikut Rohis, insya Allah pelan-pelan mampu mengerem untuk menghormati keduanya.

7. Dulu saya punya cita-cita untuk mengukir prestasi di bidang akademis hingga tingkat fakultas. Tapi sejak ikut Rohis, eh alhamdulillah tercapai hingga tingkat nasional. Memang Rohis memacu anggotanya untuk betprestasi!

8. Dulu saya cuma mau jadi mahasiswa SO (study oriented) biar bisa dapat IPK bagus. Tapi sejak “dijebak” ikut Rohis, alhamdulillah bisa jadi seimbang. Tetap berorganisasi dengan nilai akhir kuliah yang memuaskan.

9. Dulu saya mahasiswa berkekurangan. Tapi sejak ikut Rohis, alhamdulillah rejeki jadi lancar. Karena katanya, siapa yang menolong agama-Nya, maka akan ditolong oleh-Nya.

10. Dulu saya berharap dapat pasangan hidup anak Rohis. Dan sejak masuk Rohis, (insya Allah) akan dapat anak Rohis juga. *ini mah ngareb! :p

Bukan maksud hati mau umbar bin pamer kebaikan. Cuma mau membuktikan kalau Rohis bukan sarang teroris. Tapi justru Rohis sarang orang-orang yang mau dan akan menjadi “manis” dunia akhirat. (:

Sekian.

Waddeziiinggg

Mungkin sebagian dari kita bertanya-tannya, apakah waddeziiinggg itu, duhai Nj yang caem? *narsis di lapak sendiri, halal, kan?*

Hmmm… kalau diminta jawab, jujur gue juga bingung gimana mengejawantahkan waddeziiinggg dalam huruf, kata, hingga menjadi kalimat yang apik. Tapi yang jelas, kalau pake perumpamaan-perumpamaan, ya begini ini. Cekiprottt!

Waddeziiinggg itu… Lo janjian ketemuan sama seseorang yang baru dikenal via dunmay. On the spot di tempat ketemuan, tersiarlah kabar burung bahwa orang yang lo temuin itu adalah orang besar di masa dulu n sekarang. Apalagi ternyata fakta menyebutkan kalau tuh orang lebih muda dari lo, mantan aktivis kampus dengan segudang prestasi akademis, cakap rupa, baru lulus plus sudah punya 20 karyawan.

Maka waddeziiinggg di sini kurang lebih… ckckck, cewek mana yang nggak kelepek-kelepek dibuatnya?

Waddeziiinggg juga bisa berarti… Lo diundang menghadiri sebuah acara, di mana banyak pemuda hebat berkumpul di sana. Di tahun pertama lo pernah dekat dengan satu di antaranya. Tahun ke tiga lo pun dikasih kesempatan yang sama untuk berbincang lebih dalam dengan satu di antaranya. Nah, ada kesamaan di antara mereka berdua yang seharusnya bisa lo ambil pelajaran, walaupun waktu sudah nggak memungkinkan. Yap, mereka adalah pemuda dengan berbagai ide cemerlang, yang menghabiskan masa mudanya dengan kegiatan positif, hingga mereka bermanfaat buat ummat.

Then… waddeziiingg di sini kira-kira ekspresinya kayak begini: gue nyeseeeeelll banget. Kenapa dulu pas masih muda gue lebih doyan main-main n sok sibuk di organisasi? Plis give the second chance, God! T,T *nangis bombay meraung-raung di toilet*

Satu lagi, waddeziiinggg juga bisa seperti ini… Lagi-lagi lo dikasih kesempatan bertemu dengan seseorang (yang lebih tua beberapa tahun di atas lo). Faktanya, doi ini hebat. Ketika usaha kecil-kecilannya digusur paksa oleh aparat, eh nggak lama sudah mampu bangkit dengan usaha yang penghasilannya 5X lebih besar dari sebelumnya. Manalah orangnya low profile banget. Dan tau apa yang membuat doi mampu bangkit dengan penghasilan yang nggak sedikit? Jawabannya, inovasi dan berkumpul dengan komunitas orang sukses.

Nah, waddezing di sini maknanya mungkin agak ngenesss dari yang sebelumnya… tidaaakkk… gue benar-benar nggak ada apa-apanya! Orang-orang udah pada sukses dengan usahanya mengalirkan duit, gue masih duduk di depan kompi sambil nunggu “duit” ngalir saban akhir bulan. -,-a

Gimana… sudah dapat point-nya? Kalau sudah, tolong dibantu yaaa… prok prok prok, apa itu waddeziiinggg? 😀

*mengusir bengong di sepanjang Manggarai-Utan Kayu*

Agus

Wah… gak nyangka banget bisa ketemu lagi sama Agus setelah hampir 2tahun, kalau nggak salah. Ternyata, banyak yang berubah dalam diri Agus, kecuali satu: tinggi badannya. :p

Ah, tapi sebelum menguak siapa sebenarya sosok Agus, gue ingin bertutur dulu tentang proses menjelang pertemuan dengan si Agus yang super duper amat sangat really really nyebeliiiin -,-

Ceritanya semalem gue ketinggalan kereta yang jam 8.00 dan keretanya baru ada lagi 45menit setelahnya. Bah, timbang nunggu kereta malem-malem di stasiun yang menyeramkan, mending gue naik bis walaupun jadi rada jauh.

Naik TransJakarta lah gue. Sampai pas lagi buru-buru mau nyambung bis dari Blok M, eh ada mbak-mbak yang minta tolong untuk ikut riset mereka tentang salah satu produk pasta gigi. Duh, udah gue bilang rumah gue masih jauh n sudah terlalu malam, tetap aja mereka maksa. Kurang 3 responden lagi, katanya. Oke, berhubung gue orang yang baik, gue terimalah permohonan maksa mereka dengan hati yang agak dongkol (hehe, apanya yang orang baik coba? :p).

Proses riset memakan waktu kurang lebih 15menit. Setelah diminta menonton iklan pasta gigi yang sedang mereka riset, dimulailah sesi tanya jawab. Nah, satu pertanyaan yang paling gue ingat:
A: Mba memakai produk kami?
B: Nggak. Hehe.
A: Mba tau Unilever?
B: Tau (sinis)
A: Mba tau kalau produk kami adalah produk Unilever?
B: Tau (sinis)
A: Setelah tau kalau produk kami dari Unilever, mba mau memakai produk kami?
B: NGGAK!
A: Ooh… (tersenyum kecut)
*dia kira gue bakal terrayu kali yeeesss, kalau tau itu produknya siapa. Sok terkenal banget itu U*ilev*r! -,-

Then… mari bercerita tentang Agus. Pertemuan terakhir gue dengan Agus terjadi secara nggak sengaja waktu gue masih menjadi pengguna setia MM69 (ah, terpaksa juga dink). Setelah beralih ke kereta demi nggak bersitatap dengan macetnya Jakarta, gue seperti lupa akan sosok Agus.

Kalau kalian mengira Agus adalah korban cinlok gue, kalian salah besarrr! Pasalnya, hingga saat ini Agus nggak kenal siapa gue walaupun sebelumnya gue pernah menyapa dia duluan. Tapi gue yakin banget kalau doi sudah lupa.

Warna kulitnya masih tetap sama: keling, bahkan lebih keling. Tatapan bla hitam matanya masih tajam. Rokok yang diletakkan di atas daun telinganya juga masih ada seperti pertemuan terakhir kami. Bedanya, tinggi badannya sudah bertambah 30cm (pasti doi sudah baligh). Rambutnya dipakaikan bando (padahal nggak lebat-lebat aming). Dan yang makin bikin gue heran, kemuraman di wajahnya sudah sirna. Berganti dengan cengengesan yang selalu mambersamai pekerjaannya. Gue turut senang kalau doi senang. (:

Awalnya gue masih terbawa mood dongkol karena riset yang agak maksa tadi. Tapi setelah bertemu Agus n mendapat sedikit informasi tentang Agus dari orang yang duduk di samping gue (istrinya supir MM69), mendadak hati gue jadi berbunga-bunga sekaligus sedih. Kayaknya ini takdir baik di tengah rutinitas. Terima kasih, Mbak-mbak yang sudah memaksa ikutan riset kalian. Kalau gue nggak menuruti kemauan kalian, pasti gue nggak bertemu si Agus. 😀

Dari itu orang, gue jadi tau kalau umur si Agus ternyata sudah 15-an tahun, meninggalkan bangku sekolah sebelum tamat SD, setelah asik dengan dunia jalanan. Yap, Agus, seperti yang sering gue dan kalian temui di jalanan, adalah bocah korban kekerasan Jakarta. Mungkin doi nggak salah, hanya saja nasib memilihnya terlahir dari orang tua kalangan pinggiran Jakarta, yang mengharuskannya mencari nafkah demi bisa menyambung hidup di Jakarta dengan menjadi kernet MM69.

Kalau kalian nanti berkesempatan bertandang ke Jakarta dan naik MM69, pethatiin deh kernetnya. Kalau ada ABG pendek, keling, bermata tajam, berbando, memakai kaos plus celana jeans lusuh 7/8, sebatang rokok di atas daun telinganya, serta mimik muka yang lebih tua dari usianya… itulah Agus.

Tapi kalau nggak bertemu dengan Agus, tenang aja, masih banyak bocah serupa korban kerasnya Jakarta. Moga Allah memilihkan presiden sekaligus gubernur yang lebih peduli sama si Agus dan kawan-kawannya. 😦

Bika

Gua ingin berkoar tentang Bika
Dan percayalah ini hanya simbolik saja
Tentang pertemenan di antara kita
Di dunia nyata juga maya

Beribu syukur memiliki teman juga saudara
Mesti nggak ada pertalian dara(h)

Bingung dari mana gue harus memulainya
Yang jelas, kalian istimewa
Denga gaya yang berupa-rupa

Seperti kue bika dengan aneka rasa
Ada rasa original, pandan, durian, dan lainnya
Tapi dia tetaplah bika
Dengan tekstur berongga yang terjaga kekhasannya
Juga daun jeruk yang jadi aroma utama

Begitu kehadiran kalian di kehidupan gua
Aneka ras, tulisan, komenan juga surprisenya
Mewarnai dan mengisi hati sedemikian rupa
Menjadi TEMAN yang membekas di dada

Ah, kalau segala yang di dunia seimbang, katanya
Kayaknya yang nggak cuma gua
Yang belum bisa menyeimbangkan posisi kita
Dengan balasan atas kebaikan yang tersedia

Maaf belum bisa menjadi teman yang seharusnya
Yang belum menjaga laku, sikap, juga kata

Mungkin gue belum bisa membalas semua
Tapi selalu ada Dia yang nggak pernah lupa
Mencatat segala amal baik hambaNya

Nurjana(h)
*mendadak mellow mengingat kebaikan teman semua*
T,T