#Laki

Wasiat Tukang Mie Ayam

Eh lupa deh… gue pernah cerita belum, sih, tentang mie ayam Gajah Mungkur dekat rumah yang insya Allah terjaga kehalalan dan kethoyyiban-nya? Kalau nggak salah, sih, bener gue belum pernah cerita. Makanya gue mau cerita. *haha, banci cerita!

Sampai sekarang gue masiiih haqqul yaqin kalau tukang mie ayam di seantero pinggir jalan itu nggak hijienis n jauh dari kata sehat kecuali satu tempat: mie ayam Gajah Mungkur di Ceger. Ayeee!

Sebetulnya gue sudah tau mie GM ini sejak kelas I SMA, karena penjualnya yang lumayan nyentrik. Bayangin, doi mulai gelar lapaknya ba’da Ashar. Nanti pas adzan Maghrib berkumandang, udah ditinggal gitu aja gerobak beserta isinya. Nah, pas adzan Isya lagi sepi pengunjung pun gitu. Doi bakal ngacir ke musholla dekat situ. Noted: dagangnya di pinggir jalan!

Awalnya gue fikir kualitas mie ayam GA nggak ada beda sama mie ayam pada umumnya. Tapi setelah beberapa kali nyicip lagi sambil ngobrol sama si Pakde, gue makinyakin taiye kalau mie GA sungguhlah terjaga kehalalan dan kethoyyibannya. Suleee!

Bukti pertama jelas tampak dari ketaatan si Pakde terhadap panggilan sholat. Gue saranin kalau mau ke sana jangan pas waktu sholat, deh. Dijamin lo nggak bakal nemuin si Pakde ini alias kudu nunggu doi selesai sholat dulu.

Bukti kedua… belum lama gue makan lagi di sana setelah beberapa tahun cuma tegur sapa sambil lalu aja sama si Pakde. Lupa awalnya ngobrolin tentang apa, eh tetiba doi masuk pembicaraan tentang Palestina, zionis Israel, partai * Sejahtera, sampai ujung-ujungnya tentang Khauf. Katanya, jadi pedagang mesti takut sama Allah. Katanya lagi, biar kata pembeli nggak liat proses pembuatan mie ayamnya, tapi Allah selau liat! T.T #laki banget ini yeesss.

“Insya Allah mie ayam saya sehat, Mbak. Mie-nya saya buat sendiri di rumah. Kerupuk pangsitnya juga. Daging ayamnya juga saya beli yang masih hidup terus dipotong sendiri di rumah. Biar ribet tapi kan yang penting berkah. Iya kan Mba?”

Eh bukan cuma itu dink. Ada lagi bukti ketiga… bahkan sampai detil-detil yang berkaitan sama behind the scene dagangannya juga diperhatiin lho sama doi. Sumprittt, #laki banget ini si Pakde.

“Kalau belanja juga kalau bisa nggak usah di supermarket lah Mba. Nggak jelas uangnya ngalir ke mana. Mending kita bantu pedagang di pasar-pasar. Saya kalau lagi kepepet aja belanjanya di supermarket A*adMart. Minimal saya tau itu punya orang Islam.”

Arghhh… yang kayak gini nih the real #laki. Kalau ketampanan jiwa dan raga para lelaki sudah dilalap sama para Nabi terdahulu (Muhammad SAW n Yusuf AS), maka Pakde ini lah salah satu dari sari pati dua hamba mulia tersebut yang kini tersisa. Mungkin nggak raganya, tapi cuma jiwanya.

Menurut Anis Matta, sudah habis #laki sempurna di zaman kini. Kalau ngeyel bin keukeuh mau dapetin yang sempurna jiwa dan raga… mimpi kali yeesss! *kalau kalimat yang terakhir, itu kata gue yeesss*

Kita hidup di zaman yang mau nggak mau harus mau memilih. Nggak ada lagi kata ‘dan’ hanya tinggal ‘atau’ yang tersisa. Jiwanya yang tampan atau raganya yang menawan. Kalau milih raga yang tampan, yaaa palingan cuma 5 tahun mempesonanya. Setelah itu end! Tapi kalau kita milih (dan semoga gue dapetin) yang jiwanya menawan seperti si Pakde, insya Allah daya pesonanya nggak lekang dimakan masa.

Okesip, met milih… πŸ˜‰

Setengah Aku

Penyanyi: ONAH
Lirik: Martil Ihseram

Dan terjadi kisah lama yang terulang kembali
Aku dan kamu terluka dari penggusuran rumit yang kita jalani
(mungkin) Dia ingin kita merasakan apa yang mereka (rakyat Palestina) rasakan
Dia ingin menyadari cinta di antara kita

Dengar laraku, hati ini memanggil blog lamaku
Karena setengah aku, blog-ku

Aku di sini menyadari, bahwa aku tak pernah sendiri
Karena kalian ada saat aku terjatuh
(mungkin) Dia ingin kita merasakan apa yang mereka (rakyat Palestina) rasakan
Dia ingin menyadari cinta di antara kita

Dengar laraku, hati ini memanggil blog lamaku
Dan setengah aku, blog-ku

Dengar lara kita, suara hati ini memanggil-manggil
Karena setengah kita, blog kita
Semua penggusuran ini menjadi takdir kita
Karena setengah aku, kalian…

*noted
1. Lagu ini dinyanyikan dengan mata yang disipit-sipitkan seperti orang kesilauan menantang matahari
2. Ddidedikasikan buat warga MP yang terkena gusur dan mba Mudhalifana Pia yang dengan baiknya mau mengurusi prosesi pindahan akibat gusuran

3. Wolesss aja yaaa… beneran cuma buat seru-seruan πŸ˜€

Friendsip

Dari beberapa depan leppy di belahan bumi sebelah sono, gue dengar cibiran kek begini: Njiieee… antara typo sama sok ngInggris padahal gak bisa itu… beda tipisss, njiieee… Judulnya si NJ kali ini friendsip kurang h di antara d sama s, njiieee…

Hayo ngaku, siapa yang udah mau mencibir duluan pas baca judul di atas?! Yang mau ngaku, gue doain biar ringan jodoh, njiieee… πŸ˜€

Demi kecepatan cahaya… judul di atas benar adanya, kok. Bukan typo atau apa lah. Soalnya ini tentang teman gue (friend) yang jempolan banget (sip). Noted: mentang-mentang lagi musim qurban, sip bukan sheep, yeesss…

Seperti kalian yang pasti punya teman baik, gue akhirnya juga dooonk! Walaupum gak tau apakah doi nganggap gue begitu juga. Yang jelas… kalau dekat doi senang! Njiieee…

Gak kayak teman pada umumnya, yang kadang mau bicara empat mata cuma pas ada maunya alias curhat (gue juga suka kayak begini. Hehe). Gue dan teman gue iniΒ  justru sebaliknya. Kalau kami ketemuan atau seringnya gue nyamperin doi di ‘singgasananya’, selalunya gak ada kepentingan apapun. Yaaa… cuma silaturahim aja gitu. Gak lebih gak kurang; pas mantabbb!

Tapi ada satu hal yang membuat gue sering gak absen mengunjungi doi saat ada aktivitas di sekitar ‘singgasananya’. Walau cuma 5menit waktu yang tersedia, gue jabanin dah bertandang ke tempatnya. Apa ituuu? Njiieee…

Hehe, bukan apa-apa. Cuma puas aja gitu. Gak perlu gue curhat panjang lebar, bahkan curhat pun kayaknya gue gak pernah, tapi doi selalu tau apa yang gue rasakan lewat obrolan tentang apa aja. Kali karena kemampuan cenayang yang doi bilang, yeesss…

Fyi: teman gue ini aslinya pendiam n filosofis abis. Sampai-sampai waktu pertama kali kenalan gue agak gak mudeng gitu dengarin doi ngomong. Cuma bisa senyum sama bilang ‘iya-iya’ doank gitu. Heheee.

Tapi semakin sering interaksi via dunmay maupun dunyat, cerita-ceritanya selalu kayak kambing tipe SUPERRR! Berbobot. Penuh hikmah yang gak perlu doi bilang, tapi bisa gue tangkap sendiri. Kalau kata iklan: hap hap… hap hap… πŸ˜€

Buat orang yang biasa dengerin cerita/curhatan orang lain, berteman sama orang kayak gini jadi rekreasi tersendiri. Ibarat seorang yang sudah berpenghasilan yang tipe gadgetnya senantiasa mengikuti perkembangan zaman, pasti punya kesadaran untuk berqurban donk yeesss. Mengubah posisi yang tadinya cuma penikmat daging jadi penyumbang daging *njiieee… perumpamaan yang nggak nyambung. :p

Janda Syria vs Duda Indonesia

Janda Syria vs Duda Indonesia

Seriusan. Dalam kehidupan nyata, gue lumayan suka bantuin jodoh-jodohin orang, walau banyak yang mencibir: ‘Ah, sendirinya aja belum nikah, sok-sokan mau jodohin orang lain. Mending cari buat diri sendiri dulu lah…’

Hehe. Biar deh… Prinsip gue: banyak jalan menjemput jodoh. Who knows kan kalau ternyata rejeki gue itu asalnya dari kenalan mereka yang gue jodohin πŸ˜€ *pamrih detected

Eh tapi, kali ini gue bukan mau jodohin janda Syria sama duda Indonesia, lho… Kalau yang ini mah gue belum punya pengalaman. Agak ngeri juga. Psikologi mereka juga pasti beda lah sama yang belum pernah nikah sama sekali. *och… sok tewuuu!

Ini beneran mau cerita tentang para janda di Syria yang belum lama gue dengar langsung dari orang Syria-nya n tentang seorang duda di Indonesia yang belum lama juga gue temui. Mereka tinggal di dua negara berbeda yang jauh pula, tapi punya kesamaan. Ihiirrr… apakah itu?

Akhir September kemarin, Syaikh dari Syria: Ghiyats Abdul Baqi’, bertandang ke kantor. Doi menceritakan gimana perjuangan rakyat Syria melawan kekejaman penguasa: Assad. Nggak ada satu orang pun yang berdiam diri melainkan semuanya turun ke jalan melawan sang tiran, termasuk juga para Janda!

As we all know… di mana ada perang, di situ pasti banyak janda lah yeesss. Bedanya, janda macam apa dulu, kan… Janda yang termewek-mewek sabab ditinggal suami-suami dan anak tercinta (kayak ada yang salah dengan kalimat ini :p), atau janda yang menatap lurus ke depan bahkan ikut serta angkat senjata.

Nah, di Syria… nggak ada tuh janda tipe pertama. Yang ada justru janda-janda tipe kedua yang tergabung dalam Mujahid Katibah: kumpulan para janda yang membantu perjuangan Syria melawan rezim Assad. Yeahhh… rock Mujahid Katibah!

Mereka ini nih janda-janda yang bangga akan status jandanya. Bangga menjadi janda dari suami dan anak yang syahid di medan jihad! Janda-janda yang lengan bajunya senantiasa tersingsing dalam membantu kaum Adam di medan perang. Masya Allah… akankah gue seperti mereka andai takdir memilih gue jadi janda? T.T

Di belahan bumi lain. Depok, tepatnya. Seorang duda dengan bangganya mengakui perannya menggantikan sang isteri di rumah mengurus anak kala isteri berjuang di ranah politik saban hari. Walau faktanya doi punya kesempatan yang sama dengan sang isteri untuk terjun di kursi panas Jakarta, tapi doi menolak!

Kok gitu? Yaiya… itu pilihan hidup yang sangat langka dari seorang suami. Katanya, ‘ayah jadi anggota dewan, ibu ngurus anak di rumah itu udah biasa. Tapi masyarakat butuh figur muslimah sukses & amanah di ranah politik. Biar Umi yang di sana. Abi urus anak-anak.’

Beuwhhh… sumprit dah. Seumur-umur, baru kali ini gue dengar pake kuping sendiri (bukan katanya si anu, katanya si dia, blablabla), laki-laki yang lapang dadanya kayak doi.

Mungkin selama ini kita sudah sering mendengar penuturan tentang hebatnya sang istri (almarhumah yang seorang penghafal Qur’an) mendidik anak-anaknya menjadi para penghafal Qur’an dan jarang menyebut-nyebut si suami dalam keberhasilan keluarga tersebut. Padahal peran sang suami pastilah besar juga terutama kelapangdadaannya menukar peran dengan sang istri, kan?

Oke… dapat kesamaan antara janda Syria n duda Indonesia yang gue sebut di atas? Egsagleh! Mereka nggak pernah nyalahi keadaan, tapi justru menoreh hasil di tengah keadaan yang mungkin bagi sebagian orang nggak ngenakin (perempuan turun berjuang dalam perang, laki-laki urus anak di rumah).

Buat yang masih burem calon istri/suaminya… moga bisa jadi pelajaran. Buat yang udah nemuin pasangan hidupnya… moga bisa jadi refleksi: apa yang udah kita lakuin di keluarga? Cuma mengeluh dan mengeluh di tengah masalah yang pasti menghampiri atau justru mampu menerima masalah dan menoreh hasil mencipta keluarga bermanfaat buat ummat.

Grrrhhh… lagi kenapa sih nih gue? Ngelantur aja pagi-pagi. Hehe, kali efek stress kereta mogok&jalanan macet gegara pengecoran jalan? Ah, gegara bis nya yang nggak kunjung dateng juga kali… -,-

Idola Syalala…

Percaya nggak percaya… masa ya, waktu jaman SMP, gue ngefans gitu sama rapper kulit putih asal Detroit Amerika: Eminem. Lagu pertama doi yang gue suka itu pas duet bareng Dido di lagu Thank You. Eyalah… merembet ke lagu doi yang lain: Slim Shady, I’m Sorry Mama & The Way I Am. Grrr… ada yang pernah dengar lagu ini?

Nah… namanya juga fans, selain mengagumi lagunya, biasanya kan bakal ngerembet juga ya mengagumi segala yang ada kaitannya sama doi. Ya cara berpakaiannya, ya parfum yang dipakai doi, ya ngoleksi posternya, dan ya ya lain termasuk menyukai tingkah lakunya.

Dan gue pun juga gitu waktu ngefans sama Eminem. Saking menggilai, gue pernah sekali bertingkah ala Eminem yang bicaranya sangat apa adanya alias doyan mencela. Gue inget banget korbannya itu teman SMP gue yang doyan kuncir rambutnya setinggi-tingginya. Sampai tercetus kalimat gini dari bibir gue: eh, kuncir rambut lo kayak pocong, tawuk! T.T

Masih terngiang ngiaaang banget sampai sekarang. Hix, maapin gue…

Pas SMA sampai kuliah beda lagi. Alhamdulillah, sejak SMA, salah satu kakak gue sering bilang gini: eh, Nur, lo tu ya jangan kayak anak Rohis kebanyakan. Ngakunya aktivis Islam, bahasa Arab pada nggak bisa. Juz 30 pada nggak ada yang hafal. Lo harus satu tingkat di atas mereka! (ini yang ngomong mantan anak Rohis)

Begitu terus sampai gue kuliahnya masih PP Ciledug-Depok. Awalnya sebel&tersinggung dia bilang begitu. Tapi lama-lama gue ngerasain efeknya, lho. Ajib!

Sampai di kampus, gue mulai familiar sama yang namanya ustadzah Yoyoh&Wirianingsih. Dan semakin guwede rasa penasaran gue sama dua orang itu dan keluarganya yang notabene para penghafal Quran, semakin didekatkan gue sama mereka dan hal-hal yang berhubungan.

Siapa yang sangka kalau gue bisa lumayan akrab sama dua anaknya Ustadzah Wiwik. Makan satu meja di hotel ternama di sekitaran Thamrin bareng mereka. Pun dengan si Ustadzah. Di beberapa kali moment, gue bisa bincang akrab empat mata. Lumayan, dapet wejangan buat nyemangatin diri ngafal Quran, gitu loch! Termasuk gue pernah tinggal di asrama putri yayasan yang diurus Ustadzah Yoyoh. πŸ˜€

Dapet nggak point of view-nya?

Yap. Ini tentang mengiodala. Nggak salah punya idola, asal kita bisa memilah. Sebisa mungkin pilih idola yang ada manfaatnya buat kita. Okeh.

Gue nggak bilang kalau idola yang baik itu cuma para penghafal Quran, lho… Mereka cuma salah satu aja idola terbaik. Hehe.

Boleh juga ngidolain tokoh-tokoh lain. Yang penting… membawa kebaikan buat hidup kita. Ya… walaupun kalau gue liat, para Chibi kok tingkah lakunya jadi aneh-aneh gitu, ya. Badan membesar, tingkah laku semakin mengecil (mirip anak kecil). -,- Begitu juga dengan little monster, elf, dan sejenisnya. Kalau mau ngefans sama yang kayak begini, ambil yang positifnya aja deh. Nggak usah sampe ngefans berlebihan. Ngerinya kita jadi bukti kebenaran hadits Nabi tentang lubang biawak yang sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta kita masuki mengekor orang Yahudi dan Nasrani. T,T

Cela yang Berlipat Ganda

Nobody’s perfect…
Nocompany’s perfect…
Nosystem’s perfect…

Yayaya. Gue sadar dan paham banget bahwa nggak ada satupun di dunia ini yang sempurna, termasuk juga Andra&The Backbone. Apalagi gue yang ibadahnya masih belang belentong begini. Masih jauhlah dari sempurna. Makanya nggak pantas lah mengeluh menuntut kesempurnaan dari mahluk lain (ngoyo dapet calon pendamping hidup yang perfect di segala sisi, misalnya :p).

Mengeluh itu tanda nggak bersyukur…
Mengeluh itu nggak akan mengubah kemalangan menjadi keberuntungan…

Yayaya. Gue juga sebenarnya nggak mau mengeluh. Apalagi di pagi hari dimulainya kembali segala aktivitas ini.

Tapi berhubung mengeluh alias berkeluh kesah itu sifatnya manusia, dan yang gue keluhkan ini sungguh berkait erat dengan hajat hidup orang banyak, maka… izinkanlah teman kalian yang jauh dari sempurna ini untuk mengeluh. Yayayaaa, boleh ya? (:

Kalian tau ini tanggal berapa? Buat yang baru mau gajian, pasti hafal betul kalau sekarang adalah tanggal muda; 1 Oktober 2012. Selamet dan jangan lupa traktirannya yeesss.

Begitupun dengan ParKer (bukan Spiderman, lho, tapi PARa pengguna KERreta). Bagi kami, inilah hari kelabu dalam hidup, karena sah sudah diberlakukannya tarif baru Commuter Line dari 6000 jadi 8000. Pengen nangis ngeraung-raung sambil guling-guling di hadapan Jokowi-Ahok, deh, rasanya. T,T

Bukan apa-apa… tapi banyak kenapa-kenapanya menurut gue yang mewakili perasaan pengguna ComLine Serpong-Jakarta. Menurut kami, pemberlakuan tarif baru sepertinya cuma cocok untuk pengguna ComLine Depok-Jakarta aja deh (maap ya, Parker Depok-Jakarta).

Iming-iming penambahan gerbong belum kami rasakan di hari pertama ini. Fasilitas AC atas konsekuensi nama KRL AC juga belum kami rasakan sejak tarif ComLine masih 6000. Pun dengan kenyamanan… boro-boro! Gerbong seiprit, AC nggak berasa, jumlah penumpang membludak. Can you imagine?

Belum lagi jadwal yang masih sering molor. Seperti pagi ini… belum hilang kekagetan atas harga baru, muncul lagi banyak kekagetan yang membuat jantung mau lari, emosi kian tak terkendali: kereta molor, gerbong belum ada penambahan, AC kurang berfungsi, kereta ugal-ugalan, penumpang kebanyakan, pintu kereta nyaris menjepit salah satu penumpang yang telat masuk saking banyaknya penumpang yang keluar di stasiun Palang Merah. Beneran CELA yang berlipat ganda buat pengelola perkereta apian Indonesia yaaa.

Ada geli di selaΒ  emosi, yang menjajahi alam fikir ini.

Kalau begitu, apa bedanya ComLine yang harganya naik terus sama Metro Mini? Metro Mini banyak cela sih lumayan wajar. Murah meriah gitu loch! Lah kalau ComLine…?

Hehe, maap cuma bisa ngeluh. Bingung mau protes ke siapa. Ke petugas jaga di stasiun Pondok Ranji, Tanah Abang atau Mangarai kan nggak mungkin. Mereka mana ngerti dengan segala kebijakan. Eh tapi mereka seharusnya bisa mendukung kebijakan dengan menunjukkan sikap paling ramah, ya… Ini mah juga kagak. Masih ada aja petugas yang nggak ngerti betapa menyejukkannya pelayanan yang baik bagi konsumen.

Kalau sudah kayak begini, tinggal satu harapan yang moga turun keajaiban di dalamnya: dinaikkannya uang transport dari tempat kita bekerja. Hehe, emang enak jadi orang gajian! :p