MM Kembar, oooh…

Gerammm! Gue beneran gerammm! Kali ini nih puncaknya. Makanya mau nggak mau, suka nggak suka gue kudu nulisin tentang modus mm kembar yang belakangan makin mematikan usaha perwarungan rakyat kecil dan merugikan gue sebagai konsumen. *nggak tau ya kalau selain mm kembar juga ada yang melakukannya… cuma share pengalaman pribadi, gitu loch!*

Oke, kali ini gue nggak bakal nyalahin semakin banyaknya jumlah mm kembar itu, pun sebetulnya mau nyalahin. *Pernah ditegur gitu sama para pro mm kembar (mungkin salah satu dari pemilik mm kembar)*. Menurut mereka bukan mm kembar itu yang salah, melainkan pemerintah yang nggak memberikan modal buat rakyat kecil untuk membesarkan usahanya menjadi layaknya mm kembar, seperti yang sudah dilakukan pemerintah luar negeri. Haha, kalau mm kembar sudah bak kacang goreng yang dihambur-hambur hingga gang-gang n sedikit demi sedikit menjalari budaya konsumerisme plus senang main ke mm-isme, masa nggak boleh nyalahin mm kembar, sehhh?! *no offense, suwerrr!

Balik lagi ke geramnya gue yang sudah sampai puncak pas nggak pake turun ke Cipanas (efek baru balik dari mampir-mampir ke Puncak Pas «norak). Udah berapa kali gitu (kalau nggak salah yang ke-4), gue kena modus mm kembar.

Empat kali gue tertipu di mm kembar tempat yang berbeda. Ini yang gue inget loch… bisa jadi lebih akibat belum ngehnya gue dengan modus ini, kan?

Jadi ceritanya, eh, faktanya terdapat perbedaan harga gitu antara di rak sama yang tertulis di struk belanja. Bahkan yang terakhir selisihnya sampai 600rupiah!

Gue terlalu pelit bin perhitungan bin lebay? Ah biarin. Soalnya ini terkait kejujuran, Meeen! Hal paling fundamental yang wajib ada pada manusia maupun sistem (kata direktur PT X). Makanya kudu diluruskan. Biar orang Indonesia yang lebih bangga jajan atau belanja belanji ke mm kembar jadi ngeh kalau sebenarnya kita dirugikan!

Tiga kali sempat gue mempertanyakan ke spg yang bersangkutan (penjaga kasir). Bagaimana bisa ada beda antara harga di rak sama di struk? *yang terakhir nggak gue tanya lagi. Udah bete duluan!*

Dan taukah… cuma 1 dari 3 spg yang minta maaf atas kesalahan tersebut dan merelakan mm tempat dia bekerja yang menanggung selisih tersebut. Sisanya cuma memasang tampang sedikit merasa bersalah dengan dalih yang di rak adalah harga lama dan belum diganti. Kesalahan tersebut yaaa konsumen (gue) yang menanggung. BAH!

Buat para pemilik mm kembar, ayo lah kedepankan kejujuran. Gue nggak mau tau apakah ini kenakalan para spg layaknya MD merugikan nasabah dan Citibank tempatnya bekerja (tapi kayaknya nggak mungkin) atau betul ini murni permainan kalian. Malu lah sama pedagang kecil di stasiun-stasiun yang dengan gentle mematok harga jauh dari yang seharusnya. Ibarat kata sama-sama mengambil hak orang lain, tapi beda cara. Yang satu terang-terangan, yang satunya lagi… *isi sendiri* Apa kata duniaaa?

Tapi gue berbaik sangka aja lah. Nggak semua mm kembar bertingkah begitu insya Allah. Kali gue lagi apes. Mampir di mm kembar yang nakal. Moga Allah ampuni ketidakjujuran kalian.

Dan buat WPmania… mari kita budayakan terus kejujuran dan gerakkan kembali jajan di warung Ucok, Pak Markojim, Mang Asep, Bu Joko, Mpok Markonah tetangga kita! (:

*Tolong dikoreksi kalau ada yang salah dari tulisan ini. Beneran cuma menumpahkan keapesan pribadi yang sering terjadi. Mohon maap kalau ada pemilik mm kembar yang tersinggung… :D*

Sepasang Bidadari

Semalem gue mimpi emak gue meninggal! Kayak beneran gitu kejadiannya, sampai-sampai pas bangun dada gue berpacu kuat n seluruh raga jadi berkeringat.
Kalau nggak salah berarti betul, bangun nggak pake ngantuk n ngulet dah hari ini. Haha.

Alhamdulillahnya semua cuma dalam mimpi dan emak masih ada, utuh, sehat wal afiyat di sebelah gue! Fyuuuh… pasti sedih banget yak, udahlah nggak punya bapak, eh ditambah nggak punya emak pula. Akan seperti apa kehidupan hamba tanpa sepasang bidadari, ya Allah…

Nah, WPmania pernah dengar istilah Sepasang Bidadari? Yang pernah baca buku 7 Keajaiban Rezeki-nya Ippho Right, pasti tau!

Kata doi, salah satu dari tujuh yang akan menciptakan keajaiban rezeki kita adalah doa n support dari Sepasang Bidadari. Sebenarnya makna dari sepasang bidadari yang dimaksud yakni ibu n pasangan hidup kita. Berhubung pasangan hidup gue masih gelap (sudah terang sih di lauhul mahfuzh), bolehlah mengganti Sepasang Bidadari dengan ibu n bapak. 😀

Dan gue percayaaa banget akan teori Sepasang Bidadari dan Keajaiban Rezeki ini.

Seperti pagi tadi. Entah sudah untuk yang ke berapa kali ketika  telat berangkat ngantor, eh ada kereta di jadwal yang nggak seharusnya! Sempat menohok dan ngedumel sendiri sih pas kereta yang mau ditaiki melaju di depan mata. “Yailah… udah minta doain sama emak biar dapet kereta, eh nggak dapet juga! Masa kudu nunggu 1/2jam lageh?!” keluh gue pada takdir.

Eeeeh… nggak disangka nggak dinyana, ya, jam 9 pas yang seharusnya nggak ada jadwal kereta lewat, malah ada! Ihiyyy, ini namanya salah satu keuntungan tinggal di negara yang perkeretaapiannya masih carut marut.

Itu baru hal-hal sepele. Masih banyak hal-hal besar yang gue dapat ketika segala sesuatunya minta doa restu emak. Dan itu juga baru emak. Waktu bidadari gue yang satu lagi masih ada, kejaiban rezekinya lebih-lebih. Berlimpah ruah nggak pake tumpah!

Salah satunya dukungan babeh terhadap aktifitas di luar rumah. Inget banget, waktu babeh masih ada, gue mau ikutan aksi solidaritas Palestina (kalau nggak salah tahun 2009). Dengan mudahnya doi memberi izin. Bahkan menyediakan berbagai informasi terupdate tentang Palestina dari berita di tivi (maklum, doi ini paling demen nongkrongin channel berita). Walaupun kadang suka nyinyir juga sih, “Percuma teriak-teriak kalau PBB sama Amerika masih diem aja!” Grrrhhh -,-

Eh tapi dukungan kayak gitu juga rezeki, kan, yeesss? Walau bentuknya bukan materi, punya babeh yang dukung aktifitas anaknya n melek informasi… si babeh luar biasaaaa! *pake gaya Ariel Noah*

Padahal beberapa hari yang lalu, kala kesabaran ngurus emak yang sudah uzur entah ke mana, sempat gue mengajukan pertanyaan dudul, “kenapa harus ada masa tua sih ya Allah? Kenapa nggak umur manusia dibatesin sampai 50 atau 63 aja deh kayak Rasul.” Duh, parah banget yak gue!

Tapi setelah semalem dikasih mimpi itu, bak kera sakti yang ditampar oleh tangan besar sang budha: sakittt! Gepeng! Bahwa semandiri-mandirinya seorang manusia, tetep butuh doa n ridho ortu buat dapetin ridho rhoma, eeeeh, ridho Allah. :p

Argh… bersyukur bersyukur bersyukurrr! Bersyukur selagi masih punya bidadari. Pertanda masih mulus jalannya pintu rezeki. Aamin.

Cinta dan Mereka yang Gila Jiwanya

Teman gue sedang jatuh cinta! Dan seperti kebanyakan orang melankolik gara-gara cinta, jiwa teman gue jadi terganggu karenanya. Kasian ya…

Sebetulnya gue sudah kehilangan selera untuk nulis tentang cinta-cintaan dua anak manusia *karena faktor U kali ya*. Sudah habis lah masanya untuk membincang tentang cinta yang identik dengan dunia remaja itu. Yaaa, kalaupun masih merasakan cinta-cintaan sama lawan jenis, cukuplah disimpan dalam hati. Nggak perlu diumbar, apalagi menjadi layaknya orang idiot ketika berhadapan dengan si doi.

Tapi siaaal sungguh sial, cinta teman gue pada pujaan hatinya ini sukses  membuat gue tercenung dan gatal untuk nggak membaca-baca lagi definisi cinta dan anak-anaknya dari buku Serial Cinta milik Anis Matta.

Dan betul aja, ada yang salah dengan definisi, gagasan cinta versi teman gue, yang terejawantah dalam emosi dan tindakannya.

Kalau menurut Anis Matta, saat cinta adalah saat kegilaan jiwa. Saat cinta menghampiri jiwa, gue elo dan kita semua pasti menjadi gila! Tak terkecuali para orang hebat dalam Islam.

Cinta kepada Allah telah membuat jiwa Umar bin Khaththab menjadi ‘gila’. Itu terbukti ketika beliau menjadi khalifah yang adil. Menjadi pelayan sesungguhnya untuk ummat.

Cinta kepada jihad telah membuat si pedang Allah, Khalid bin Walid, juga menjadi ‘gila’. Panggilan perang lebih ia pilih ketimbang tidur bersama seorang gadis di malam pertama.

Pun dengan Hasan al-Banna. Cintanya kepada dakwah telah membuat ia ‘gila’. Kedai ke kedai ia masuki, jiwa pemuda ke jiwa pemuda ia tarbiyahi tanpa menggugurkan kewajibannya sebagai pemimpin di rumah. Sampai akhirnya, kegilaannya  membuat takut raja Farouk. Dan membuatnya wajib melumatkan si ‘gila’.

Sungguh jauuuuh berbeda dengan kegilaan karena cinta yang dialami teman gue. Maksud hati mau menunjukkan rasa cintanya, malah cap idiot yang didapat. Hmmm… apa yang salah?

Yah, mungkin karena definisi dan gagasan tentang cintanya yang berbeda. Para pecinta sejati akan tumbuh dalam dirinya sense of giving yang besar untuk yang dicintainya. Apapun yang membahagiakan pujaan hatinya akan dilakukan. Sebaliknya, yang membuat kesal pujaan hati akan dia tanggalkan.

Yang nggak kalah penting, nggak perlu lah si pujaan hati melihat ‘aksi gilanya’. Karena para pecinta sejati selalu bekerja dalam diam. Bukan banci aksi yang maunya terlihat ‘seksi’ di mata sang pujaan hati.

Kalaupun ‘aksi gila’ dalam diamnya nggak direspon oleh pujaan hati, bukan masalah. Karena lagi-lagi baginya cinta itu adalah aktifitas memberi. Bukan masalah kepada siapa ia harus memberi, tapi lebih kepada bagaimana ia bisa terus memberi. That’s why… nggak akan pernah ada kamus ‘sayap patah karena cinta’ dalam hidupnya.

Marimari… walau sudah pasti gila jiwa kita karena cinta, mari tebarkan kegilaan yang membawa kebaikan untuk diri dan dia atau mereka yang kita cintai. Okesip!

*ngelantur sepanjang Tanah Abang-Utan Kayu*