Knowing every Particular Object | Kay-Poh| Kepo

WPmania… gue mau sedikit pamer, eh, cerita nih tentang pengalaman paling kepo gue di suatu hari di akhir Maret 2013. Sumprit… gak bakal terlupa deh! Senangnya hingga malu-maluinnya. *iya, ada malu-maluinnya*

DaQu, 26/3. Hari itu di tempat itu… rasa-rasanya gue menjadi mahluk paling kepo sejagad, deh! Awal kaki turun dari ojeg, ini bibir udah ternganga-nganga dengan komplek PonPes yang modern abis, padahal letaknya di perkampungan abis. Keren lah pokoknya itu Ust. YM, yang udah mendirikan PonPes hingga kesohor di mana-mana. 

Hajat gue ke sana sebetulnya kebetulan jali! Kebetulan rumah gue di sekitaran Tangerang pinggir, kebetulan teman kantor lain rumahnya pada di kota, eh qodarullah gue diminta meliput pres kon Wisuda Akbar #OneDayOneAyat yang katanya sih menghadirkan seorang Syaikh penghafal Qur’an, imam masjid, juga mufasir dari Arab sanah. Yap, Syaikh Al-Ghamidi. Senang!😀

Okeh lanjut… Gedungnya kotak-kotak minimalis ala bangunan jaman sekarang. Dan… setelah melewati kantin DaQu yang lebih mirip kafe, gedung pertama yang gue lihat adalah gedung Al-Fatihah. Kemudian gedung An-Naml. Kemudian gedung Al-Maidah. Kemudian gedung… lupa! Yang jelas, semua gedung di sana diberi nama berdasarkan nama surat dalam Al-Quran.

Katanya sih acara dimulai pukul 15 sore. Tapi gue udah datang telat, acara belom dimulai juga. Jadilah masjid bernuansa hijau yang jadi sasaran utama (sholat dulu sebelum bertempur, Men! :p). Setelah ke-kepo-an pertama mengamati segala bangunan mulai kantin, gedung, cottage, aula, saung-saung. Ke-kepo-an kedua adalah perempuan-perempuan di dalam masjid. Orang pertama yang gue ajak berbincang adalah salah satu murid Ust. YM dari Jambi yang lagi proses menghafal Qur’an (dari tampangnya sih gue yakin tuaan dia dari gue). Kemudian murid lain dari Ambon en Yogya. Kemudian Wirda (putri pertama Ust. YM yang kini sudah menghafal 28juz!). Kemudian istri Ust. YM, Siti Maimunah. Kemudian sepatu Geox milik wartawan okezone.com. Eh, petugas dapur juga gue kepo-in deng!

Detik-detik menjelang dimulainya acara, para santri en seluruh penghuni PonPes udah disiapin berbaris dari depan gerbang hingga aula demi menyambut sang Syeikh. Alhamdulillah, berbekal kartu sakti mandraguna bernama kartu PERS, gue sukses beberapa kali mengambil gambar Syeikh en Ust. YM dari depan langsung! Yaaa… meskipun harus berburu bareng wartawan lain dengan kamera yang lebih canggih en mereka dari jenis kaum Adam –” *hiks, derita profesi!

Ini salah tiga contohnya: *pamer parahhh

Image

Image

Image

Terus… berlanjut ke-kepo-an ke-tiga, kepo yang sengaja dengan penuh kesadaran gue buat demi mendapat doa dari sang Syaikh, tepatnya. Waktu itu dibuka sesi tanya jawab buat para wartawan. Jujur dari rumah udah coba nyusun pertanyaan, en alhamdulillah cukup lama jeda gak ada satu pun yang mengajukan pertanyaan. Gak mau menyesal kedua kali setelah kemarinan menyiakan satu kesempatan berharga dalam hidup. Gue tunjuk tangan lah sebagai penanya pertama. 

Pertanyaan pertama: Ustadz, bla bla bla…

Pertanyaan kedua: Ustadz, bla bla bla…

Pertanyaan ketiga: minta doanya, Syaikh, supaya saya dan keturunan saya bisa jadi penghafal Qur’an seperti Syaikh. Hehe… *belum selesai pertanyaan ke-tiga gue ungkapkan, udah disambut dengan koor “Aamiin” dari seluruh santri yang ada di aula. Alhamdulillah🙂

Terus tiba-tiba si Ustadz YM nanya, “udah nikah?” *jederrr! gak kebayang bakal merembet ke bagian ini! -,,-

Karena ini dia nih puncak malu-maluinnya. Berhubung ditanya, gue jawab lah dengan polos, eh, jujur: “Belom, Ustadz. Sekalian minta doanya deh Ustadz, hehe.” Tiba-tiba aja yaaa… rame suara meng-huuu-kan jawaban gue. Syaikh yang gak ngerti bahasa Indonesia pun sampe tersenyum-senyum ke arah gue! Beneran deh, kalo gue nemu tempat buat ngumpet ,bakal ngumpet saat itu juga! u,u

Pas cerita ke seorang teman ihwal minta doa yang berbuntut gak enak itu juga malah dikewatain. Katanya, “Masa minta diberi keturuna yang penghafal Qur’an, tapi belom nikah! Bisa-bisaan aja itu mah!”

Hmmm… gue jadi bingung sendiri, apa yang salah minta doa minta keturunan yang penghafal Qur’an? Soalnya menurut gue, doa juga kudu visioner. Makanya kudu diminta dari sekarang (udah dari jaman kuliah sih mintanya :p). Tapi yaudin lah, kalo emang aneh doa kayak gitu, Allah gak pernah menyiakan doa hamba-hambaNya. Kan?😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s