Negara Bisa Jadi :D

Actually mau kasih judul Negara Amburadul. Tapi pesimistis banget, bok! Mending pakai kata yang terkesan lucu (gegara acara Indonesia pintar) plus katanya sih jauh dari kesan sok pintar en paling benar. Ya… bisa jadi bisa jadi bisa jadiii!

Ceritanya ini hari pertama gue ngantor. Stasiun penuh orang-orang bertampang manyun. Lumayan lama nunggu kereta commuter, pas ada pun cuma 6 gerbong. Can you imagine gimana jadinya? Betul! Semua orang mau cepat sampai tujuan, tapi isi kereta udah kadung kepenuhan.

Nah… di sini awal mula cerita Negara Bisa Jadi. Di gerbong khusus perempuan *Siapin nafas bantuan yak!

Bisa Jadi supaya lebih aman dari tingkah laki-laki brengsek, gue pilih lah gerbong paling belakang yang begitu pintu terbuka, jEng jEnggg… di depan pintu sudah ada beberapa LAKI-LAKI menghalangi jalan. Jangan lupa, ini di gerbong khusus PEREMPUAN! Belom lagi suara tangisan dua bayi yang memekakkan telinga. Makin gak karuan lah. Alhamdulillah sih, ada satu bapak muda yang gendong anaknya, sadar diri atau emang pas turun di stasiun Pondok Ranji. Yang jelas, pas doi turun langsung ada koor kecil khas perempuan alias ngedumel. “Nah gitu kek! Laki-laki masuk gerbong perempuan!”

Awalnya gue mencoba stay cool gak ikutan terpancing. Sayang, lagi puasa, coy! Eh tapi… setelah kereta berjalan, ke-stay cool-an gue ternodai! Pasalnya, ada satu laki-laki dewasa bertampang garang menyebar mimik sinis menakut-nakuti para perempuan yang bertajasus ria tralala, temanya: Laki-laki gak bisa diatur. Sumfeh… ngajak ribut banget tuh orang!

Tapi… namanya juga tinggal di Negara Bisa Jadi. Yaaa, bisa jadi mereka terburu-buru dikejar waktu. Gara-gara kereta gangguan, segala cara ditempuh termasuk naik gerbong perempuan. Alhamdulillah-nya cuma satu yang kayak gitu. Satu orang dengan takut-takut berujar, “Giliran cewek masuk gerbong cowok aja…” yang langsung ditangkis oleh beberapa perempuan. Heheee. Yang lain? Cuma pasang tampang bersalah. Heuw!

Gak cuma itu, perjalanan kami diwarnai juga dengan tangis kejer seorang bayi. Kasianan ibunya. Jilbaban ala akhwatus solihah gituh. Ketika ibu-ibu menebak-nebak buah manggis. “Haus kali anaknya, Bu. Susuin aja!” Si ibu lemas plus takut. Antara kasianan sama anaknya, gak enal sama penumpang lain, plus keukeuh gak mau nyusuin dengan kondisi ada laki-laki. Alhamdulillah tapi innalillah… disusuin juga si bayi en berhentilah tangis menggelegarnya. “Tuh kan, anaknya haus!” kata beberapa perempuan kesal.

Hffttt… gue turut prihatin *ala pak BeYe*. Soalnya bisa jadi tuh ibu mau nyusuin anaknya. Sayang, gerbong khusus perempuan dicemari laki-laki gak tau diri. Bukan, bukan kalian lho, para laki-laki yang membaca blog ini. Kalian mah baik-baik. Gue yakin!

Gak sampai di situ. Setelah terpancing dengan atmosfir yang ada. Tajassus gue en perempuan di sebelah melebar ke pihak KAI. “Pagi-pagi, kereta gangguan, gerbong cuma enam!”

Yap… fikir kami, bisa jadi mentang-mentang harga karcis turun. Kualitas pelayanan gak kunjung diperbaiki.

Begini nih tinggal di Negara Bisa Jadi. Kudu sabar-sabar, ya? 🙂

Iklan

4 comments

  1. elam · Agustus 16, 2013

    Iya, gue laki2 baik2… Tapi pernah gak sengaja duduk di gerbong perempuan. Soalnya lari buru2 ngejar kereta dan asal masuk gerbong. Agak lama baru sadar itu gerbong wanita, hehe… Untung pas lagi sepi…

    • Enje · Agustus 16, 2013

      ah, setengah baik kalo gitu. hahaaa. *piss, mbak Elam :p

  2. An Maharani Bluepen · September 21, 2013

    kebangetan banget si abang laki-lakinya, tu.. malunya dikemanain? 😦

    • Enje · September 21, 2013

      iya, orang kota udah aneh. pengaruh susahnya hidup di kota kali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s