Dul

Dul-Vicky. Dari awal dua berita ini mencuat, gue lebih tertarik sama berita Dul ketimbang Vicky, yang di dunia perfacebookan en pertwitteran justru kalah pamor sedikittt. Kecurigaan gue, selera humor en budaya mengolok-olok di negara kita sudah begitu akut. Dunia nyata yang bikin sutires, menjadikan dunia maya sebagai pelampiasan. Pelepas penat. Kenyelenehan Vicky dalam berbahasa pun begitu digandrungi, yang anehnya di satu sisi dicaci maki, tapi di sisi lain malah diikut-ikuti. Duh, jadi gak ada beda kan antara yang gila en yang waras?

Ok. Balik ke Dul aja, lebih asoy, banyak pelajaran yang bisa diambil buat para calon orang tua.

13 tahun sudah nyetir mobil ditemani teman sebaya lewat tol habis pulang antar pacar di daerah Bogor. Memakan korban sampai 6 nyawa (hari ini katanya bertambah 1 lagi korbannya yang meninggal)! Gila banget, ya? Saking gak habis fikirnya, semalam gue nge-stalk akun Al El Dul, tiga remaja awal ini.

Dari stalking singkat itu, kesimpulan gue emang si Dul paling eksis en “bengal” di antara abang-abangnya, dengan twit yang beraneka, lebih berisi en berani ketimbang fakta usianya. Kalo dibilang Dul ini cetakan Ahmad Dhani banget-banget, ya emang begitu kenyataannya. Secara fisik juga pemikiran. Cinta musik (pengagum Nirvana), blak-blakan bahkan dalam perkara agama. Can you imagine, bocah 13 tahun sudah bisa ngetwit tentang kondisi toleransi beragama di Indonesia “itulah Islam di Indonesia”, kafir mengkafirkan sesama muslim “orang yg mengkafirkan orang lain bla bla bla”, twit dengan redaksi “…menyetubuhi tuhan…”, hingga twit foto tentang bahasan “orang dewasa” via instagrmnya. Aduh, Dul!

Eh tapi jangan salah. Untuk perkara sholat, puasa, tarawih, doi juga gak ketinggalan. Bisa dicek di akun twitternya.

Gak sedikit yang menyalahkan Ahmad Dhani atas kecelekaan Dul. Udahlah hak asuh anak dikuasai, semua materi diberi, gak becus juga mendidik anak. Tapi mesti hati-hati juga sih yang menuding-nuding begitu (termasuk gue). Soalnya si Dul ini bukan cuma satu. Bisa jadi salah satu teman atau saudara kita juga ada yang seperti si Dul. Intinya masih buwaaanyak lah Dul lain di Indonesia. Korban perceraian, segala yang diminta dituruti, salah gaul dibiari.

En seperti biasa, pemerintah (daerah) cukup reaktif dengan membuat program jam malam untuk anak sekolahan. Yah moga aja sih gak hhcf alias hot hot chicken feses. Moga bisa terealisasi!

Finally… gue bersyukuuur punya ortu yang berkekurangan en galak untuk beberapa hal. Bahkan walau tau anaknya udah bisa bawa motor sejak SMP, tapi dilarang keras punya motor en mengendarainya. Bersyukur juga ortu gue bisa mempertahankan rumah tangganya hingga salah satu di antara mereka diambil nyawanya. Pacaran… mana boleh? AlhamduliLlaaaaaaah 😀

Semua Indah?

Errr… sedikit berdebu kayaknya ini blog. Cuma dikunjungi tanpa diisi. Ibarat rumah yang ditinggal penghuninya, diliat sekali-sekali tanpa diberesi. Yah begini jadinya. Sepiii!

Bukan apa-apa en kenapa-kenapa. Dua minggu belakangan lagi merasakan euforia menuntut ilmu. Bangun pagi-pagi sekali, nyicil kerjaan, siapin sarapan buat mamake, desak-desakan di kereta en bermacet-macet ria di ibukota, belajar, pulang, ngicil kerjaan lagi. Jomblo senenggg!

Capeknya tergantikan sama ilmu yang didapat. Belom lagi pengajarnya yang kece badai. Teman-temannya yang beraneka rupa. Jadi bingung, mau share di blog yang bagian mana? Semuanya indah sih! 😀

Tapi berhubung hidup itu mesti memilih. Satu atau dua, pilih aku atau dia yang engkau suka *jadi nyanyi, di antara kesenangan-kesenangan itu gue memilih dosen favorit; pak Fahmi, sebagai hal yang paling menyenangkan.

Bukan karena ganteng atau apa lah yang sifatnya tampak. Ya walaupun gak dipungkiri doi ini ganteng, haha. Tapi kecakapan doi dalam mengajar itu yang TOP. Cerdas plus humoris! Jadi hilang deh semua capek di pagi hari. Yeay!

Eh wait wait… ternyata masih ada satu hal deng yang membuat gak semuanya indah. Mengganggu keindahan-keindahan yang ada. Of course virus Vicky yang bikin eneg. Yaellaaaah!

Gue menghimbau kepada WPmania yang soleh/ah ganteng cantik, plisss STOP menulis status dengan bahasa yang hancur lebur. Cukup satu Vicky aja di Indonesia, biar gak terkenang di anak cucu kita nanti akan pernah bobroknya bahasa kita. Kalo bahasa gaul oke lah, tapi kalo bahasa yang berantakan gak jelas, kan, bikin malu! Gue sebagai editor kadang-kadang turut prihatin. Wth! O.o