Behind d Story…

Ada kali sebulan gak update blog. Tapi sungguh, my fans, ada alasannya kok gue vakum cukup lama di dunia per-blog-an. Begini ceritanya!

Dua pekan lalu, seorang redaktur majalah remaja Islam menyambangi gue via whatsapp (nama majalahnya: Annida :p). Katanya, mungkin gue bisa bantu-bantu buat cerpen roman untuk majalah itu. Fyi, biasanya gue kurang excited gituh kalo nulis fiksi-fiksian. Butuh kesabaran ekstra merangkai tiap katanya, booo’! But… kali ini beda. Tanpa tapi, gue terima challange yang cuma dikasih waktu kurang lebih lima hari itu. “Ok. I’ll try!”

Waktu itu diminta temanya yang mirip-mirip kisah Ali-Fatimah. Lah… tiga hari difikir-fikir, cerita yang berkembang di otak malahan kisah Muhammad Saw en Khadijah. Gubraks!

Inspirasinya dari sebuah novel yang baru banget gue baca, ide ceritanya dari pengalaman beberapa orang. Tadaaa… Sabtu malam mulai nulis, Minggu bada Maghrib kelar dengan sekali revisi. Senin udah di-acc pimred. Alhamdulillah!

Gak banyak teman yang gue minta jadi pembaca pertama *biar pada beli majalahnya gituh. Dan responnya lumayan lah buat nubie macam gue. Tapi sedihnya, ada juga yang nyeletuk, “Enak dooonk… nulis buat majalah sendiri, lancar jaya gak pake dirijek rijek!” Hiks, dia gak tau prosesnya yang berdarah-darah! T.T

Emang sih, gue sendiri terheran-heran, kok bisa secepat ituh prosesnya, responnya juga positif? Makanya, sampai kini gue gak mau mengakui kalo cerpen ini tercipta karena kejagoan gue dalam meramu cerita fiksi *pede deh lu!, tapi banyak faktor yang mendukungnya.

Sejak penawaran langka ini datang, gue buka-buka lagi novel en segala buku yang bertema cinta-cintaan. Plus sengaja juga nongkrongin bioskop tr*ns tv sampai larut malam demi mencari alur en sudut pandang yang kece.

Nah… masalahnya pas udah hari ketiga, masih juga tuh belum tergambar jelas alur ceritanya mau gimana, tokohnya siapa aja, pakai sudut pandang orang ke berapa, plus happy atau sad ending? Jebrettt! Kayak ada yang menggerakkan. Langsung gue menyengaja sedekah buat memancing kemudahan. Gak cuma itu, di tiap sholat juga gue minta sama Allah supaya dilurusin niatnya en dituntun tangan ini cuma untuk nulis cerpen yang manfaat buat pembaca, tanpa menggurui. Belum lagi bantuan dari redaksi yang dengan rela rela mengkritik ending cerita, yang awalnya kurang greget pake banget.

Sayang sungguh sayang, sepanjang prosesnya, mood gue lagi kurang baik. Jadi deh hasilnya sad ending. Heheee. Ba’da itu gue jadi mikir akan dua hal. Pertama, gimana ya kalo Allah nyiptain manusia sesuai dengan mood-Nya? Praise be to Him, salah satu sifat wajib-Nya mukhallafatu lil hawadisi (berbeda dengan semua makhluk). Jadi, Allah itu Maha Baik, gak kayak manusia. Kedua, gimana seandainya tokoh-tokoh itu tiba-tiba menghampiri gue di kehidupan nyata en menuntut perihal nasib buruk mereka di sepanjang cerita. Duh, maap banget-banget!

Buat yang penasaran gimana ceritanya, insyaa Allah nantikan di majalah Annida next edition ya! 😀

Iklan

Dear, (Calon) Anak Ibuk…

(Calon) anak ibuk… Tulisan ini ibuk buat khusus buat kalian yang tercinta kelak. Iya sih, ibuk belum tau siapa bapak kalian. Belum tau siapa kakek nenek dari calon bapak kalian. Tapi atas nama cinta, gapapa kan ibuk nulis ini jauh-jauh hari, mungkin juga jauh-jauh tahun, sebelum hadirnya bidadara/i dunia ibuk? 🙂

Ibuk suka menulis. Bercerita sih, tepatnya. Tapi sungguh, ibu lebih suka mendengarkan. Yang menggelikan dan meresahkan, biasa ibu tumpahkan dalam tulisan. Nah, ketika ibuk memutuskan membuat surat ini, ibuk sedang merasa tidak berdaya terhadap dunia. Betapa mengerikan, ibuk yang keimanannya gak seberapa ini ditakdirkan hidup di zaman yang katanya mendekati akhir zaman.

Satu per satu teman seperjuangan ibuk mundur demi mencari kesempurnaan golongan juga tauladan. Ibuk berusaha menjaga kesucian dengan gak ikut-ikutan pacaran pun dipandang aneh nian. Sementara para pengusung hubungan yang paling dibenci Allah en Rasul-Nya; sesama jenis, makin gencar menuntut pengakuan.

Di belahan bumi lain saudara-saudara kita dijajah fisik mereka oleh pemimpinnya sendiri. Para pemimpin jama’ah Islam-nya pun disebut teroris. Di sini? Gak jauh beda, bahkan lebih mengerikan, duhai (calon) anak ibuk. Penjajah sudah dengan antengnya masuk ke dalam rumah-rumah dalam bentuk kotak segi empat bergambar nan bersuara. Mencuci fikiran kami dari nilai-nilai Islam. Allahumma… ibuk bisa apa?

Di tahun ke-tiga ibu kmencurahkan segala rasa dalam blog ini, ibuk ingin berpesan kepada (calon) yang sedap dipandang mata milik ibuk, melalui tulisan ini. Ibuk takut masa-masa kalian tumbuh nanti jangan-jangan lebih dahsyat dari zaman ibuk kini. Tapi ibuk yakin, selama kalian berdekat-dekat dengan Qur’an dan sunnah, kalian pasti selamat. Dekati juga komunitas orang-orang yang selalu berusaha menuju kesolehan diri dan sekitarnya, supaya kalian makin teguh dalam kebaikan.

Ibuk gak menuntut kalian untuk melulu berdiam diri di masjid. Tapi keluarlah! Ajak yang lain untuk kembali pada Qur’an dan sunnah juga berjama’ah. Insyaa Allah itu yang akan menjemput keberkahan dalam hidup kalian.

Ah, ibuk cerewet ya? Gapapa, daripada ibuk cerewet saat usia kita terpaut jauh yang itu lebih menyebalkan di telinga kalian. Lebih baik ibuk sampaikan ini ketika saat membacanya, usia kita belum terpaut jauh. Lebih enak untuk didengar, kan?

Pokoknya ketika kalian sudah pandai membaca, akan ibuk tunjukkan tulisan ini, tanpa ibuk hapus komen teman-teman yang mungkin mengatakan ibuk kalian sedang menggalau, bermimpi, gila, dan sebagainya.

Ohiya, tenang… ibu gak akan memaksa kalian untuk lebih awal pandai membaca, kok. Nikmati saja nanti masa kanak-kanak kalian. Masa emas, kata orang-orang kebanyakan. Kalau sudah waktunya kalian mau belajar membaca, akan ibuk tunjukkan ini pada kalian!

Dari (calon) ibuk dan sahabat kalian! 😀

5 Oktober 2010-7 Oktober 2010

(Masih) Wiwid Pakai D

“Aku yakin kamu mampu membersihkan kunci surga itu dari aneka kotorannya,” katamu siang itu.

Dear Fellas… masih ingat cerita gue tentang seorang teman yang berketerbatasan tapi semangat hidupnya berkobar-kobar?! Itu lhoooo, yang inisial namanya W, yang pergi begitu aja tanpa kabar tanpa cerita. Aaakkk… nyebelin deh pokoknya! *tapi ngangeninnn, hehe.

Dan taukah… lebih “nyebelin” lagi, kemarin siang gue tiba-tiba dipertemukan lagi dengan perempuan sanguin sejati itu! Beneran ulahnya si takdir ini mah–i mean gak ada yang kebetulan. Gue yang pagi itu berangkat dengan kedongkolan segunung bromo *kayak pernah ngerasain naik gunung ajah!, ditambah sinis dengan garis hidup, siangnya berbalik laksana deretan pulau es di kutub utara yang meleleh oleh efek global warming. Kyaaa!

“kamuuu…”

“kamuuu…”

“Ih, kayak ketemu belahan jiwa lagi nih, akhirnyaaa!” dengan kelebayan khas, lo membekukan pertemuan gak sengaja itu. Ok, lo emang lebay en gue suka! Sayang, selanjutnya menyedihkan!

“Gimana kabar ibu?” Duh, kenapa tema ini sih yang mesti diangkat? Halloooh, gak ada yang lain? Astaga, lupa gue! Yang membuat lo en gue nyambung, kan, emang tema ini. Garis hidup kita sama. Bungsu penjaga ortu!

“Kamu tau, ibuku udah meninggal juga, tepat 1 tahun 8 hari sejak kematian bapak,” ah, telak deh gue. Sedongkol apa pun ini hati, gak bisa diabaykan! Sesuai gerutuan gue kemarin-kemarin. Ya Allah… susah nerima nasihat dari orang yang gak bernasib sama. Akhirnya, Dia pertemukan orang yang gue pinta. Semacam teguran dengan cara yang halus?

“Pokoknya kamu gak boleh menyesal kayak aku. Aku ini orangnya ekspresif. Semauku. Nah, kamu jangan kayak gitu. Ok!” Ok, dengan senang hati gue biarkan lo yang jadi ratu pembicaraan. Ayo, ngomong lah yang banyak. Nasehatin hati gue yang bebal ini.

“InnaLlaha ma’ash shoobirin. Eh, apa innaLlaha ma’anaa, ya? Coba deh buka kamus, kamu kan lebih ngerti. Mana tuh yang bener? Hehe,” Dannn… lo masih gak berubah, ya? Bukan cuma fisik, tapi selera humor! Gilak!

“Tapi kalo kamu sama kaya aku–ekspresif, aku saranin kamu segera tobat! Allah Maha Penerima Tobat, kata Ustadz YM, istighfar yang banyak.” Iya, gue emang perlu banyak-banyak tobat. 

“Sini, mana flashdisk kamu? Aku punya artikel bagus.” Uh, baiknyaaa!

“Kita itu sama, dititipin kunci surga yang gak semua orang mendapatkannya. Aku yakin kamu mampu membersihkan kunci surga itu dari aneka kotorannya. Tetap SEMANGAT ya! Yang ikhlas!” Bagus, lo sukses bikin gue nangis di antara lalu lalang para pengunjung perpustakaan.

Kau malaikat turun dari surga di hadapanku. Eeeaaa! 🙂

 

 

Tamasya Malam Jum’at

Sumfeh, judulnya gak kece marece! Dibilang kolor, eh, horor, gak ada horor-horornya. Dibilang ala-ala traveler, jauuuhhh! Jadi, buat para sufi (suka film) en traveler sejati, ini bukan bacaan yang kalian banget banget. *jadi nyesel ya udah nge-klik? :p

Ini tentang tamasya pakai tanda kutip, gue en ibu-ibu muda RT 001/12 di lingkaran pengajian saban malam Jum’at. Eh sok alim ya gue, posting tulisan kayak gini? Biarin, hehe.

Bukan apa-apa, soalnya ada seorang kenalan yang pernah bilang, “Gue pengen deh ngaji di tempat lo ngaji. Pasti ilmu yang didapat cetar membahenol, ya?” Terus gue cuma bisa diam sambil mesem-mesem. Atau perkataan ustazah di lingkaran malam Jum’at ini. “Kamu ngajinya saya pindahin ya jadi Kamis siang, sama kelompok yang lain. Soalnya di sini masih dasar banget. Kasian kamunya.” Terus gue keukeuh nggak mau dipindah. Gak rela untuk pisah sama ibu-ibu muda ituh.

Ibu-ibu muda yang pengajiannya pasti dibuka dengan majelis fulus (kolekin uang kas, uang tabungan, en kocok arisan), berlangsung dengan lalu lalang bocah-bocah minta jajan, en diakhiri dengan makan gorengan sambil omongin keluarga en dagangan. Eh satu lagi, sesi favoritnya baca yasin plus tahlilan!

Jujur kalo ditanya motivasi, gabungnya gue dengan lingkaran ini sejak sebelum ramadhan kemarin bukan buat nimba ilmu. Itu mah bisa dicari di buku en tanya-tanya ke Syaikh Google *sombooong. Cuma menyalurkan kebutuhan mendasar sebagai mahluk homo homini socius aja sih *apa coba ini artinya? hombreng dari klan apa pulak?. Ya begituh, intinya gue gak bisa gak punya teman. Hidup cuma buat cari duit, ngejar karir, berangkat pagi pulang malam, gak kenal tetangga. Hiks, bukan gue banget. 😦

Alhamdulillah, waktu udah lumayan lowong. Dapat juga sih ilmu dari ibu-ibu muda itu yang secara ekonomi bisa jadi pas-pasan. Tapi mereka selalu happy-happy aja tuh. Gak pelit waktu untuk sekadar kumpul-kumpul barang dua jam di majelis macam begini. Yah, walaupun dengan tingkah yang beraneka. Namanya juga manusia. Gak ada yang gak punya cela. 🙂