Saksikanlah, Dia Orang Baik!

Sesusah-susahnya move on, ini kayaknya move on yang paling susah dalam hidup gue: ditinggal orang baik dalam sekejapan mata! Saban sepi keingetan, dibawa ngerjain PR nulis pun susah konsen. Nyeseknya melebihi ditinggal orang yang sebelumnya sakit. Belum sempat minta maaf, belum sempat bilang terima kasih, belum sempat membalas segala kebaikannya, jebrettt! Ditinggal mati. Hffttt 😦

Empat hari sudah ditinggalkan dia dengan cara yang baik-baik. Waktu itu malam Jum’at, lagi ada pengajian ibu-ibu di rumahnya. Menurut penuturan para tetangga, sih, sebelum hari H pengajian, dia meminta mereka untuk hadir dalam pengajian spesial. “Datang ya ke rumah saya, pengajiannya spesial!”. Seharian itu juga, tanpa sepengetahuan kami saudaranya, dia menyiapkan segala macam makanan lezat yang gak habis-habis bahkan sampai dia meninggalkan kami semua. Ndilalah, siapa sangka sebelum pengajian dimulai, saat ustadzah yang memimpin baru saja hadir, saat dia baru saja menyerahkan daftar nama, pluk, dia tersungkur bersujud menghembuskan nafas terakhirnya. Walau sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, sebelumnya ustadzah meyakinkan kalau dia sudah gak ada. 

Kadang pas lagi eror, gue protes kecil-kecilan ke Allah. Kenapa mesti dia, ya Allah? Orang baik yang kebaikannya disaksikan oleh banyak orang, termasuk tetangga-tetangga. Kesehariannya gak lain kecuali memberi en memberi. Tiada hari tanpa memberi deh pokoknya. Sampai kami lupa untuk menyerap semua ilmu yang dimilikinya (terutama banget memasak). 

Kebaikan dia berasa banget sejak gue masih kecil. Walaupun sempat terpisah belasan tahun, dia gak pernah lupa dengan adik perempuan semata wayangnya. Waktu dia sekeluarga di Kalimantan, gak pernah berhenti ngajak gue main-main ke sana dengan jaminan free segala-galanya. Sayang, gue selalu nolak dengan alasan sibuk kuliah en organisasi. Kemudian tawaran sama diberikan ketika dia sekeluarga tinggal di Surabaya en gue menyanggupi. Alhamdulillah, tiga hari berasa dimanjakan banget dengan segala kebaikannya.

Kemarin, kurang lebih tiga tahun akhirnya kami terkumpul lagi. Kebaikannya ke gue gak pernah putus. Gak kehitung berapa lembar pakaian en jilbab yang dia beri. Gak kehitung berapa kali dia dengan rela mengantar gue menyelesaikan segala keperluan pribadi. Gak kehitung pula berapa makanan yang sering dia bawakan ke rumah. Tapi apa yang sudah gue balas? Kayaknya belum ada. Hiks. 😦

Kemarin gue buka-buka lagi obrolan via sms dengannya. Sedih, malu, sebal sama diri sendiri. Ternyata gue menghubungi dia kalau cuma ada perlunya. “Nanti tolong ke rumah, ya, jagain Mamak. Gue mau ngantor.” Itu semua. Tadi, kakak perempuan pertama juga mengadukan keluhan dia tentang gue, yang intinya gue kayak gak adil sama dia. Salah satunya ya itu, menghubungi kalau ada perlunya aja. Duh, maap maap…

Sesekali terlintas dalam fikiran, kenapa Allah begitu cepat mengambil dia dari kami, terutama gue. Allah sayang banget sama dia, sudah pasti. Allah juga sedang menegur atas lupanya kami berterima kasih kepadaNya kala dia mengeluarkan semua kebaikannya, padahal dia cuma perantara saja, kan? Nah, supaya dia gak jadi besar kepala, kami pun sadar akan kesalahan kami, diambil lah dia dari kami. Untuk jadi pelajaran bagi semua. 

Allah gak menguji kita melainkan sesuai, pas, gak lebih gak kurang, dengan kemampuan kita. Tapi dalam konteks ini gue akui masih susah. Berat ditinggal orang baik macam dia T.T

 

*melatih lagi buat mulai nulis*

Iklan

15 comments

  1. Iwan Yuliyanto · Desember 2, 2013

    Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un

  2. lazione budy · Desember 2, 2013

    Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un.

    Khosnul Khotimah, insya Allah.

  3. titintitan · Desember 2, 2013

    innalillahi wa innailaihi raji’uun..

    kakak, neng? yg suka ngejagain ibu waktu ke sinikah? TT

    • Enje · Desember 3, 2013

      iya, Mbak 😦

      • titintitan · Desember 3, 2013

        😦

        smoga khusnul khatimah, dilapangkan kuburnya.. dan neng enje khususnya bisa jd jariyah untuknya..

      • Enje · Desember 3, 2013

        aamiin…

  4. pitaloka89 · Desember 4, 2013

    Inalillahi wa inna’ilaihi ra’jiun…

    turut berduka…

    • Enje · Desember 4, 2013

      iya. tengkyu

  5. Teguh Puja · Desember 10, 2013

    Inalillahi wa inna’ilaihi ra’jiun. Semoga Allah memberi tempat terbaik ya di sisiNya. Aamiin.

  6. Joddie Palgunadi · Desember 19, 2013

    Sepertinya memang begitu.. banyak sekali yang ‘baik’ sepertinya malah terlalu cepat dipanggil olehNya. Mungkin tugasnya sudah selesai.. atau.. entahlah.. aku juga sering mengalaminya. Semoga saja kepergiannya selalu bisa menjadi inspirasi.. ^^

    • Enje · Desember 19, 2013

      iya, orang baik jauh dari huru har akhir zaman alias cepat dipanggil 🙂

  7. housewivegeek · Januari 8, 2014

    nangis bacanya :””””””'(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s