Si Cantik

Sama. Masih edisi postingan geli angkat tema-tema macam ini. Bukan gue banget! Tapi daripada ngebangke di inbox gmail karena ditolak sama yang minta tolong buatin, plus ditolak web annida-online.com, mending ditaro di blog sendiri aja. Masih belajar, Kakaaa’. Minta kritiknya yaaa…🙂

 

Namaku Maryam. Dalam diriku mengalir darah Yaman dari Papa dan darah Manado dari Mama. Can you imagine bagaimana jadinya pencampuran dua ras yang masyhur akan pesona fisiknya tersebut? Perfecto! Kulit benderang melingkupi sekujur tubuhku, bibir merah merona dari sananya tanpa polesan lipstick, sepasang alis berbaris rapi hampir menyatu, ditambah hidung mancung agak melengkung ke bawah, membuat tiap orang yang melihatku dijamin sumringah!

Sebagai bonus dari itu semua, sebagaimana yang dialami oleh kebanyakan orang cantik dan ganteng di muka bumi, perlakuan istimewa senantiasa kudapat dari orang sekitar. Ya dari Papa Mama, dari keluarga besar, dari guru dan teman di sekolah, hingga dari mereka yang baru pertama kali bertatap muka. Eeeh, ada satu lagi, dink: dari para lelaki. Ibarat jongos, mereka menuruti semua kata dan mauku. Ihiy… enaknya jadi orang cantik, kalian pasti iri!

Tapi STOP, STOP! Kalian yang secara fisik tak seberuntung diriku, tolong nggak usah iri segala lah. Karena kalau di dunia ini ada mesin yang bisa mengubah nasib, aku rela kok bertukar nasib dengan kalian. Sungguh, jadi orang cantik itu nggak seenak yang kalian angankan. Mungkin kalian melihat teman-temanku banyak, laki-laki yang mau menjadi pendamping hidupku pun harus rela mengantri untuk diseleksi. Tapi yakinlah, dari lubuk hati yang paling dalam, aku ingin menjadi orang yang biasa-biasa saja, yang dicintai dan dihormati bukan karena kecantikanku, tapi ya karena seutuhnya diriku!

***

Ini bermula ketika tiba masanya kelulusanku. Mungkin tau betul besarnya fitnah yang akan kuhadapi berkat kecantikan ini, baik Papa Mama maupun guru ngajiku bergerak cepat menyodorkan beraneka macam biodata laki-laki untuk menjadi pendamping hidupku. Yang pengusaha, yang bergelar S3 dari universitas ternama di Amerika, yang hafizh Qur’an, semua ada. Sayang, semua tidak kurang ganteng!

Guru ngajiku sampai capek sendiri dengan tingkahku yang pilah pilih ini. Katanya, “yang terpenting dari seorang laki-laki adalah agama dan tanggung jawabnya.” Katanya juga, “ketampanan akan sirna ditelan usia, tapi kesolehan kan terus bertahan.” Sudah tak terhitung berapa kali beliau melancarkan sindiran-sindiran itu di lingkaran pengajian kami, tapi hatiku masih juga belum bias menerima nasihatnya. Perlakuan berlebihan orang sekitar mungkin yang menjadikan hati ini begitu bebal. Kriteria nomor satu calon pendamping hidupku ya harus  ganteng, biar nggak jomplang denganku.

Dua tahun pasca kelulusanku dari kampus kuning di bilangan Depok, mungkin delapan kali aku menjalani proses pencarian jodoh melalui jalur ta’aruf. Tapi nahas, yang kudapat hanya kegagalan demi kegagalan. Padahal teman-teman satu lingkaranku yang (maaf) biasa-biasa saja wajahnya, satu persatu sudah menyalipku menuju pelaminan. Prosesnya pun cepat, sekali-dua kali ta’aruf langsung akad. Huh, gondok, deh!

Nggak mau kalah. Doa makin kuperkuat. Ibadah-ibadah sunnah makin meningkat. Ikhtiar juga makin berlipat-lipat. Kubuka pintu jodoh seluas-luasnya. Bukan cuma dari jalur orang tua dan guru ngaji, tapi juga dari keluarga dan teman-teman terdekat. Alhamdulillah, akhirnya ada juga yang sesuai dengan kriteriaku: ganteng!

Namanya Ferdi. Ikhwan asli Sunda teman kuliah kakakku di ITB dulu. Pertemuan pertama kami waktu itu benar-benar nggak disengaja, tepatnya di nikahan kakakku: Yusuf. Jauh-jauh dia datang dari tempat kerjanya di salah satu pertambangan di pedalaman Kalimantan. Ba’da itu, dia menyampaikan maksudnya untuk berkenalan lebih lanjut denganku, melalui kak Yusuf tentu. Walaupun kurang sreg dengan pemikiran Ferdi yang rajin mengikuti pengajian dari masjid ke masjid, tapi kak Yusuf menyampaikan juga amanah itu kepadaku. Tiga bulan kami berkenalan melalui online. Dari situ kutau, Ferdi ini bukan cuma ganteng, ibadahnya juga jempolan, rajin ikut pengajian sejak di bangku kuliah hingga kini, pintar, pula ulet dalam bekerja. Aaakkk… senang bukan kepalang deh saat akhirnya dia bilang ingin melamarku!

Aku ingat betul, waktu itu awal tahun baru, dia bersama kedua orang tuanya bertandang ke rumahku dengan membawa cincin sebagai tanda pengikat. Nggak menunggu waktu lama, satu bulan kemudian akad beserta resepsi pernikahan yang lumayan mewah di bilangan Thamrin, digelar. Mulai saat itu, aku resmi menjadi Nyonya Ferdi Muardi. Ihiy!

Tiga bulan pertama kami menjalani hubungan sah ini dengan LDR. Dua pekan sekali dia pulang ke Jakarta untuk melepas hasrat kangen penganten baru. Sehari-hari, kami habiskan dengan bercengkrama via telpon dan media sosial. Mengalay ala-ala pengantin baru, menunjukkan kepada penghuni dunia maya betapa bahagianya kami.

Nah, di sinilah semuanya bermula. Tak kusangka, saban aku menge-tag dia di status dan foto yang kubagikan, yang komen justru lebih banyak teman suamiku daripada teman-temanku. Yang lebih mengerikan… tak kusangka ternyata suamiku begitu populer di dunia maya. Dari 20 orang yang komen, bisa dipastikan 15-nya adalah teman suamiku dari jenis kelamin perempuan! Cemburu sangat-sangat aku dibuatnya. Hingga ketika suamiku akhirnya dirotasi ke kantor pusat di Jakarta. Awalnya aku senang bukan kepalang. Rasa was-was seorang istri terhadap suaminya yang jauh di mata bisa kuatasi–kukira. Sayang sungguh sayang, ketika di Jakarta pun dia lebih asyik dengan kegiatan pengajiannya yang berkeliling masjid itu. Sama saja, di sela-sela pekerjaannya dia lebih memilih bermalam-malam di masjid ketimbang pulang ke rumah. Seminggu sekali baru dia pulang untuk menemuiku. Uh, sebal sebal sebal! Lagi-lagi aku cemburu.

Alhamdulillah, nggak lama dia di Jakarta, akhirnya aku hamil. Di bulan-bulan awal kehamilan itu, ia memutuskan untuk menemaniku di rumah. Konsekuensinya, dia harus menerima perlakuan anehku akibat bawaan bayi. Ya ngidam mangga muda di pagi buta, ya dia mesti mandi berkali-kali dalam satu hari karena aroma badannya yang mengusik lubang hidungku, plus kecemburuanku yang kian tak terbendung! Tiap ada teman perempuan yang komen di statusnya, di dunia nyata aku jadi marah besar. Berprasangka ini itu yang membuatnya balik marah tak terkira. Katanya aku pencemburu parah. Katanya aku terlalu manja. Katanya aku membuatnya lelah. Sakit hatiku tak terperi mendengar omongannya.

Puncaknya ketika di bulan-bulan akhir, nafsu makanku tak terbendung. Berat badanku melesat tajam. Bukannya perutku yang makin membuncit, malah seluruh badanku yang memblendung. Jangankan orang lain, aku pun benci melihat tubuhku di depan cermin. Sirna sudah kecantikan yang kubangga-banggakan. Daaan… selama hamil itulah hubungan kami jadi kian merenggang. Suamiku berubah 180 derajat. Walaupun nggak lagi ikut pengajian keliling masjid, tapi dia begitu dingin. Di rumah, sedikit sekali kami berbicara. Jangankan menuruti pintaku, berbicara kepadaku saja jika hanya ada perlunya. Bete!

Tak tahan, kuputuskan minggat ke rumah orangtuaku. Kuharap dia akan menjemput. Fikirku. Sayang, hingga anak kami lahir, dia tak kunjung datang. Mama berpuluh kali menghubunginya tapi tak direspon barang sekali. Kakakku menyambangi kantornya, tapi ternyata sudah lama dia tak bekerja di sana. Di rumah kami pun barang-barangnya sudah tidak ada. Terdengar kabar dari tetangga, seminggu setelah kepergianku, dia pergi bersama seorang wanita cantik, tak kembali lagi sejak saat itu.

Hati wanita mana yang tak sakit? Ditambah berat badan ini yang tak kunjung menurun pasca kelahiran, hancur berkeping-keping sudah hatiku. Kecantikan yang kuperhatikan mati-matian ini tak ada gunanya jika suamiku saja pergi meninggalkan tanpa kata talak.

Alhamdulillah, aku masih punya Papa Mama dan kakak-kakak yang sangat perhatian. Ditambah teman-teman satu lingkaran dulu yang rajin menyambangi untuk menunjukkan empatinya. Semua sudah berkeluarga. Dikaruniai anak-anak yang sedap dipandang mata, dan suami yang setia pastinya. Ah… aku iri kepada mereka, Tuhan!

 

*NB: ini pure imajinasi kala deadline menghampiri, bukan pengalaman orang apalagi pengalaman pribadi. So… dilarang keras ciye ciye geje!🙂

18 comments

  1. lazione budy · Februari 11, 2014

    haha…, sama.
    ditolak Annida online? mending pasang di blog sendiri dah!
    pengalamanku jua nih.

    • Enje · Februari 12, 2014

      cuma pengen bilang melalui prolog di atas: walaupun saya bantu2 di redaksi Annida, kalo tulisan belom sesuai dgn standar mereka, ttp gak bisa lolos juga :p

  2. titintitan · Februari 11, 2014

    kereeen ^^

    • Enje · Februari 12, 2014

      masa sih? bagian mananyaaa? lah ini juga ditolak sama 2 pihak :p

      • titintitan · Februari 12, 2014

        kereen bisa bikin ginian. tin gakpunya nafas panjang untuk bikin cerita sepanjang iniiih ^^

        ;d

    • Enje · Februari 12, 2014

      ini ditolak di web annida-online.com soalnya halamannya masih kurang, Mbak. hik T.T

      semangat nulis yg panjang2 lagi😀

  3. xrismantos · Februari 12, 2014

    Wah takkira asli lho tadi. Hebat!! Yang kaya gini ditolak karena jumlah halaman kurang? Padahal…namanya cerpen kalo memang bisa tuntas dengan sedikit halaman kan ga masalah, yang penting kualitas, bukan kuantitas. Gapapa deh mungkin belum rejeki… keep up the good work🙂

    • Enje · Februari 13, 2014

      makacih makacih makacih. iya, SOPnya begitu di sana😀

  4. hai, aku Sekar · Februari 13, 2014

    cieee ciee, tante enje

    • Enje · Februari 13, 2014

      cie cie napeee, Kar?O_o

  5. faziazen · Februari 13, 2014

    membayangkan hidung mancung melengkung ke bawah ^^
    saya suka idenya mbak..intinya “pilih agamanya maka kau akan selamat” gitu kan?
    masih bisa diedit dan dikirim ke tempat lain mbak..
    saran saya: kurangi “tell” dan tambahkan “show” ..halah bahasaku..maksudnya penggambarannya bisa diperjelas gitu
    tetap semangat nulis ^^

    • Enje · Februari 13, 2014

      sip sip. iyak, masih belajar banget🙂

  6. liadisini · Februari 14, 2014

    Gw mah bisanya bilang suka/nggak sama cerita, nggak bisa nulis cerita. Susah bener ya ngarang ituh

    • Enje · Februari 16, 2014

      jadi… suka/nggak? *penting bgt sama penilaian manusia :p

      • liadisini · Februari 17, 2014

        huhu.. nggak suka.. sorry…

      • Enje · Februari 17, 2014

        okesip. kan kubuat yg lebih kece *tapi kapan tau :p

      • liadisini · Februari 17, 2014

        ya segera lah.. *maksa* :p

      • Enje · Februari 17, 2014

        gak janji deh yaaa *lagu Warkop :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s