Pilah-pilih Ekspresi

Sejak kembali lagi dengan aktivitas berpagi-pagi di Jakarta, ada satu pelajaran yang gue dapatkan dari jalanan: memilih ekspresi! Ini penting. Sepenting lo memutuskan untuk berpartisipasi di Pemilu April nanti. Kalau nggak mau Indonesia terus dijajah berbagai kalangan en kepentingan, lo harus memilih satu di antara belasan partai yang ada. Mau partai berlambang padi diapit bulan sabit, partai duren, partai buah naga, terserah. Yang penting ikutan nyoblos, okeee? *lah kok jadi nggak asik begini pembukaannya? :p

Tapi kesimpulan gue, emang mesti begitu kalau di jalan. Kita harus berani memilih ekspresi! Kayak belum lama ada motor yang nyusruk *yaelah bahasanya!* dari arah berlawanan angkot yang gue tumpangi. Sudahlah nyaris tertabrak angkot, nyenggol gerobak tukang ikan segar sampai dagangannya tumpeh-tumpeh, pasang tampang nyolot pula! Sungguh, si bapak yang ubannya sudah melebat itu melakukan kesalahan yang berlipat-lipat, en dia memilih untuk sok merasa paling benar dengan ekspresi nyolotnya itu. Seram, sih, tapi orang jadi pada nggak simpatik!Β 

Atau belum lama ketika perjuangan naik kereta dari Pondok Ranji menuju Kebayoran dimulai. Alhamdulillah, berkat Allah SWT melalui perjuangan keras, gue keangkut juga di KRL pkl 7.00 yang terkenal sebagai jam-jam penuh! Nah, masalahnya ada satu ibu berseragam en bersematkan pin korpri di dada kirinya yang dengan sotoy teriak-teriak “Masuk ke dalam, donk, Pak, dalem masih kosong, tuh!” Nahas, kesotoyannya itu dibalas oleh banyak orang dari dalam kereta. “MAU MASUK KE MANA LAGI? KERETA UDAH PENUH BEGINI”

Tau apa balasan dari si ibu sotoy?Β 

“Lu pada biasa aja donk ngomongnya, nggak usah bentak-bentak gue begitu!” *Kemudian ngeluyur sih ke peron belakang. Mungkin sebel, mungkin dongkol, mungkin juga mokal. Hihi.

Mbatin gue sih, si ibu baru sekali naik kereta dari Pondok Ranji di pagi hari. Rasanya pengen bilang begini aja: Bu, naik kereta jam segini ibarat milyaran sperma yang berjuang menghampiri sel telur. Ngak usah banyak cingcong, bergerak aja terus supaya bisa terangkut. Ganbatte! *Ish… jadi ngelindur!

Intinya sih, si ibu memilih ekspresi yang sudahlah sotoy, nantangin orang pula! Lagi-lagi membuat orang nggak simpatik. Kasiman!

Then… beberapa hari lalu, gue pun punya pengalaman pribadi tentang memilih ekspresi. Pagi itu hujan lumayan menderas. Anehnya, kendaraan pada melaju dengan kecepatan lumayan. Susay payah gue nyebrang, hingga dua langkah lagi menuju pembatas jalan, satu motor Vespa ngebut nyaris menabrak gue. Saat itu, segala bayangan akan kematian berkelebat di fikiran alias gue takut mati! Padahal kenyataannya cuma ujung jempol gue aja yang kelindes. Pas sadar, merasa bersalah padahal kayaknya sih nggak salah, berulang-ulang gue pilih kata “maaf” dengan tampang agak memelas. Tau hasilnya? Si pengendara Vespa merasa bersalah, seorang bapak dari dalam mobil di depan gue pun menenangkan gue berkali-kali, “Nggak apa-apa kok, Mbak. Nggak apa-apa. Lanjutin aja nyebrangnya, yaaa.”

Dari jalanan, mari kita bawa pelajaran ini ke dunia maya, terutama di musim jelang pemilu kayak sekarang. Betapa yang suka nyebar status, link, gambar dengan “ekspresi” meninggi, sotoy, nyolot, nggak disukai sama banyak orang. Kenapa enggak sih kita pilih “ekspresi” santun biar terbangun rasa cinta di antara sesama, demi Indonesia yang harmoni? πŸ˜€Β 

Β 

#ngelindur

Kata Mamak, Tangan Gue Adem. Uhyeah???

panci

“Hei kawan dengar-dengarlah ceritaku
Kupunya kebun yang indah
Kebun yang tumbuh di halaman rumahku
Kupelihara setiap waktu…

Kuambil penyiram kebun dan bungaku
Kusiram semua kebunku
Merah putih kuning ungu
Indahnya kebunkuuu…”

Anak gaul era 90an pastilah pernah nempel di memorinya lagu di atas (Kebunku) yang dilantunkan oleh penyanyi cilik nan centil; Meissy. Eh tapi alhamdulillah sudah gedenya doi keren banget, ya? Jilbaban rapi, dokter, en segala punya cita-cita bantu berobat orang miskin. You rock, Duuude!

Nah… seperti lagu Meissy, belakangan ceritanya gue lagi keranjingan nanem-nanem. Awalnya padahal cuma iseng nawar tanaman bunga Ajisai (Panca Warna) di pasar Mayestik yg super duper cuwaaantik. Dengan bunganya yang bergerombol warna biru seukuran konde Bude Waljinah, dari harga 60 ribu jadi 25 ribu kan lumayan ya? Gue beli lah.

Sampai rumah mindahin si Ajisai (gue memanggilnya si Panci Warni) ke pot besar sekalian nanem lagi daun pandan punya almarhumah kakak yang sudah nyaris mati gegara dimakanin kambing di pekarangan rumahnya. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, tarraaa… numbuh, booo’! All praises to Allah πŸ™‚

Kata mamak, sih, tangan gue adem. Cocok buat nanem-nanem, gitu. Agak kurang yakin, beberapa hari kemarin gue jajal lagi. Cabe rawit yang sudah kering di dapur, gue kumpulin bijinya, coba ditanam satu pot sama si pandan. Juga beli tanaman melati di pinggir jalan seharga 10 ribu aja. Ndilalah juga numbuh buh buh! πŸ˜€

Apakah ini berarti tangan gue beneran adem? Ah, masih nggak mau percaya sama istilah tangan adem. Yang gue yakini selain posisi tanaman di pojok kanan rumah yang sudah pas *selalu cukup terpapar sinar matahari pagi en terhalang teriknya matahari petang, mungkin juga karena kebiasaan mengajak bicara tanaman-tanaman itu yang coba gue tiru dari kebiasaan ustadzah Yoyoh Yusroh (Allahu Yarham) semasa hidupnya. Jadi saban pagi en sore, intro aktivitas nyiram-menyiram tanaman adalah menyapa mereka dengan sebaik-baik sapaan: salaamu’alaikum. Setelah itu baru deh gue ajak ngomong mereka sambil diguyur air. “Halooo, cantik… numbuh yaaa. Kita hijaukan bumi. Sama beri warna-warnamu yang cantik.” Endingnya baru ngajak zikir bareng sambil dinyanyiin. πŸ™‚

Yah… biar bagaimanapun mereka kan juga mahluk hidup ciptaan Allah, ya? Pun kita nggak bisa mengerti segala aktivitas mereka, sejatinya mereka selalu berzikir. Itu pasti.

Sudah beli tanah, nih. Mau nanem jahe, kunyit, tomat, dll. Lagi rajin juga searching bunga-bunga warna lain di sepanjang jalan. Moga nanti tumbuh juga. Aamiin. Masih belajar, Kakaaa. Doain yaaa! πŸ™‚

*Pamer yang positif nggak papa kali ya? Nggak ada yang tersinggung juga, kan? Hehe.

IBF 2014… WAH!

Islamic Book Fair aka IBF, selalu punya cerita! Termasuk juga tahun ini πŸ™‚

Yak… akhirnya kemarin siang diputuskan, Ahad ini dolanan ke IBF ngajak ponakan. Kalo nggak biar ponakan gue yang masih bocah-bocah pada suka baca–mau banget menularkan minat baca gitu, males amat weekend ke sana. Penuh, bok! Ah, tapi terbalaskan sudah derita kepanasan plus empet-empetan selama 3 jam!Β 

Pertama, ikut soft launching buku Lapis-lapis Keberkahan Ustadz Salim A Fillah di Selasar. Eh cuma dapat ekornya aja sih, tepatnya di sesi jawaban ustadz atas pertanyaan terakhir salah seorang audience. Doi membeber tentang doa. Terutama buat kita-kita yang gampang mutung kalo doa nggak kunjung dikabulkan oleh Allah ta’ala. “Malu lah sama kesabaran nabi Ibrahim yang doanya baru dikabulkan beribu-ribu tahun kemudian, kalo kita baru berdoa sekali dua tapi belum dikabulin sudah malas berdoa lagi! Lagian, inti berdoa itu bukan kapan dikabulkannya, tapi keberkahan di tiap penantian pengabulannya.” Ah, iya juga 😐

Doi juga membeber perkataan Imam Al Bashri tentang dosa yang menghalangi rizki. Nggak ngerti sih nyambungnya apa sama pembahasan sebelumnya tentang berdoa, tapi bahasannya keren! Menurut Imam An Nawawi, makna perkataan tersebut bukan secara eksplisit mengurangi rizki kita. Karena selama seseorang masih hidup, rizkinya akan terus mengalir. Nanti ketika kita mati. itu yang menandakan sudah selesai rizki kita di dunia.  Justru poin perkataan tersebut lebih jleb lagi. Maksud dosa menghalangi rizki adalah diputusnya kemesraan dengan Allah untuk bangun tahajud, melaksanakan shaum sunnah, sholat di masjid, berdakwah, dll yang baik-baik. Walau cuma sepuluh menit di forum tersebut, tapi ngena banget! 😐

Kedua, walaupun bukfer kali ini ada embel-embel Islam-nya, tapi dari awal gue cuma ngincer buku-buku mas Tasaro sama mbak Ifa Avianty. Niatnya cari buku teranyar mereka, lah malah dapat buku-buku jadul yang diobral habis-habisan! Di stand Gema Insani nemu “Satire Metropolis Penyemangat Jiwa” mbak Ifa terbitan 2007 seharga 10 ribu *tipis sih, tapi yang penting bukunya mbak Ifa. Yang lebih kece lagi en bikin gue terbelalak kaget hingga terus-terusan mengkonfirmasi ke bapak penjaga stand (bukan stand penerbit, cuma toko buku yang kayaknya kurang terkenal), gue temukan novel fantasi “Nibiru dan Kesatria Atlantis” mas Tasaro GK terbitan 2010 seharga… 25 RIBU! Duh duh… sudahlah hard cover, setebal Harry Potter seri ke-tujuh pula! Terharuuu! T.T

Ketiga, sejujurnya cuma dua buku itu yang gue bakal baca. Tapi ini mata kebangetan jelalatan. Liat yang murah karya penulis atau penerbit ternama, diambil. Ya buat si ini, buat si anu, buat ponakan yang ono. Tekorrr… tapi senang! πŸ˜€

Keempat, nah ini! Pas lagi macet-macetnya, takdir mempertemukan gue dengan guru ngaji jaman SD di PAYISC Al-Azhar. Kan keren banget! Setelah 18 tahun berlalu, eeeh ketemu lagi. Nggak nyapa sih, cuma saling senyum-senyuman aja. Duh, payah! Nyesel nggak memperkenalkan diri en foto bareng 😐

Kelima, masa di sekitaran panggung utama, ada satu stand namanya “Gen AMPM”. Itu standnya salah satu calon presiden 2014 gitu. Gue aja bingung, kok bisa? Kalo penasaran, ke sana aja. Nanti dapat pin sama brosur tentang sepak terjang beliau gitu. Anyway, keren sih! Jadi makin yakin buat dukung. Hehe.Β 

Keenam, sepanjang perjalanan Blok M-Cipulir, gue buka salah satu buku berjudul Ensiklopedi Pengetahuan edisi Flora & Fauna biar ponakan nggak bete di jalan. Alhamdulillah, satu buku selesai kami lahap bareng. Walaupun agak-agak berisik sendiri jadinya di bis, tapi ponakan excited bangettt! Bahkan pas diceritain lagi ke ortunya di rumah, masih nempel juga apa yang kami baca. Padahal gue sudah lupa-lupa ingat.Β 

Buat yang punya adik/ponakan, gue saranin di IBF mampir ke stand penerbit Tiga Serangkai. Beneran buku-buku anaknya keren plus murmer jali! Bocah-bocah juga pasti pada senang bacanya.

Maap numpang curcol, sudah lama nggak nyampah di mari. Nggak usah dikomen, geje begini. :p