Saya atau Gue, Anda atau Elu?

Belum lama nemu blog anak kuliahan semester awal yang sudah rajin ngeblog sejak di bangku SMP. Tau apa yang bikin gue tercengang? Meh, penggunaan kata sapa ke pembacanya itu lho… bukan lagi kamu apalagi elu, melainkan ANDA! Guenya mungkin yang serba telat sadar akan banyak hal kali ya? Saat seorang anak SMP sudah selangkah lebih maju menulis menggunakan bahasa baku, gue masih begini-begini aja dari awal ngeblog. :p

Tapi tiap orang pasti punya pertimbangan masing-masing ya, termasuk menggunakan kata sapaan yang polite atau impolite di blog-nya. Kalau diliat dari kontennya sih bisa jadi itu anak emang dari awal mau membranding dirinya sebagai seorang yang serius, menebar tulisan yang bermanfaat, sarat informasi bagi sesama. Kemudian nyaman dengan gaya yang begitu. *hidupmu lurus betul, Dek!

Begitu juga gue, waktu pertama kali awalnya mau nulis hal-hal baik dengan kata sapaan yang baik juga menurut kebanyakan orang. Nulisnya nggak jauh-jauh dari tema dakwah dengan kata sapaan aku-kamu. Kalau nggak percaya, coba cek tulisan-tulisan awal di blog ini *rajin amat, tulisannya macam anak Rohis banget deh. Hehe. 

Sampai kemudian gue nulis tentang kesedihan ditinggal mati seorang keluarga yang nggak disangka nggak dinyana diklik sampai ribuan kali! Waktu itu masih ngeblog pakai platform MP, tulisannya melooow banget. Beberapa hari kemudian gue baru tau kalo tulisan itu dibaca sama beberapa keluarga, bahkan keluarga jauh! Maka dari itu lah sodara-sodari, gue mulai banting setir menggunakan kata gue-elu ketimbang aku-kamu. Bukan apa-apa, soalnya sama kakak-kakak yang cowok biasa pakai kata gue-elu walaupun jarak umur kami terlampau jauh. Fikir gue, daripada mereka bertanya-tanya, sejak kapan adek gue ber-aku-kamu, sejak kapan, Tuhan??? Mending gue sadar diri duluan aja. :p

Dan menurut gue, buat yang masih nggak konsisten menggunakan kata saya-aku-gue en anda-kamu-elu, segeralah ambil langkah. Selain biar rapi en enak dibaca, juga biar jelas masuk ke blok mana blog kalian di hati para pembaca. Barat kah, atau Timur kah? Atau malah blok Sudra? Terserah deh, suka-suka, yang penting konsisten di dunia nyata sama maya. 😀 *ntms juga sih ini bab konsistennya*

Kalau kata Teh Nicky Astria:

Bernyanyi kita bernyanyi asal saja suka suka

Bergoyang kita bergoyang asal suka sama suka

Jangan ada sedih yang tersimpan dalam hati

Jangan ada sesal yang terpendam dalam dada

Lupakan saja segala kegagalan

Kita ikuti bisik kata nurani 

Iklan

Penikmat vs Pengamat Film

Film Korea, oh, film Korea! Sepertinya gue sedang kena ketulah karenanya. Dulu sejak jaman akhir kuliah selalu bilang gak pernah bisa suka nonton film Korea, en emang nggak pernah penasaran sama drama Korea terbaru yang berepisode-episode itu. Lah sekarang kok malah jadi rajin nonton! :p

Inget banget, film Korea berseri-seri pertama en terakhir yang gue tonton cuma Boys Before Flower. Waktu itu namanya juga masih remaja, nontonnya masih pakai emosi belaka. Kesal sejadi-jadinya kalau tokoh utamanya berantem, patah hati, dll. Sebaliknya, ikutan berbunga-bunga kalau tokoh utamanya lagi akur, diperlakukan bak Cinderella oleh si dia. Geli banget deh kalo mengenang jaman-jaman norak dulu. Hehe.

Alhamdulillah, habis nonton film itu kayak ada perasaan bersalah. Rasanya cuma menghabiskan waktu aja buat kisah cinta-cintaan orang lain, di dunia fiktif pula. Sampai awal tahun 2014 gue masih nggak terpengaruh dengan euforia film Korea yang jadi pembicaraan banyak remaja muda sampai dewasa Indonesia. Kiri kanan depan belakang ngomongin tentang film Korea, gue masih bodo amat. Fikir gue, nggak update juga nggak bakal masuk neraka. Paling dibilang kudet aja.

Belakangan, semangat gue buat nonton film lagi naik-naiknya. Kalau ngantor, selalu minta tolong didonlotin film-film komedi sama orang IT kantor. Sekali, dua kali, akhirnya minta didonlotin lagi dan lagi–walau jadi agak nggak enak hati. Yang tadinya cuma bergenre komedi, mulai melebar ke segala film lain termasuk dorama Jepang. GTO, News No Onna, en film-film jadul lain yang mengedukasi. 

Nah, ketulah ini bermula ketika gue tau teman sekelas ada yang rajin donlot film juga. Pas bilang gue sukanya nonton film-film bergenre komedi, dia langsung menawarkan beberapa judul film Thailand. Ba’da serah terima flashdisk, emang betul lho film Thailand itu lucu-lucu. Pokoknya biarpun film-nya bukan bergenre komedi, kalo nonton orang Thailand yang ganteng-ganteng ngomong pakai bahasa Thailand, bawaannya mau ketawa aja. Selain kosa katanya yang sama sekali nggak bisa gue cerna, logatnya itu lho, bikin speechless jadinya! 😀

Kedua kali gue nyerahin flashdisk ke dia, mulai dimasukin film-film Korea. Awalnya dia meyakini bahwa film Korea bagus-bagus, kemudian gue setujui dengan syarat bukan yang berepisode-episode, cukup yang movie durasi 2 jam aja. 

Hasilnya emang betul, keren abis film-film Korea. Salut gue… Apapun genrenya, total banget deh penggarapan filmnya. Temanya juga. Walaupun tentang percintaan, tapi idenya nggak biasa. Alurnya dibuat maju mundur yang bikin lo wajib mikir sepanjang film. Maaf ya, beda banget sama kebanyakan film Indonesia. 😦

Di atas semua itu, gue bersyukur banget baru senang nonton film Korea di usia-usia segini. Di saat cerita-cerita romantis nggak lagi membekas di hati en kehidupan sehari-hari *halah*, di saat logika selalu berkata bahwa hidup nggak seindah film-film Korea, en yang pasti di saat sudah mengenal lebih dalam dunia tulis-baca. Kalau dulu aktivitas membaca en menonton paling cuma jadi sesuatu yang dinikmati, sekarang pasti dari awal buat barrier duluan sebagai pengamat. Ih, kok begini sih alurnya? Ih, idenya kenapa bisa kayak begitu? Ih, harusnya nggak begini! Dan ih, ih, ih lain yang ujungnya selalu memberi penilaian. Kalau bagus, dengan senang hati gue promosiin ke kanan kiri. Kalau nggak bagus, dengan sangat menyesal juga bakal gue bilang ke depan belakang, “nggak rekomen banget tuh film!”

Okesip, marilah kita lanjutkan waktu luang ini dengan nonton film! 😀