Penikmat vs Pengamat Film

Film Korea, oh, film Korea! Sepertinya gue sedang kena ketulah karenanya. Dulu sejak jaman akhir kuliah selalu bilang gak pernah bisa suka nonton film Korea, en emang nggak pernah penasaran sama drama Korea terbaru yang berepisode-episode itu. Lah sekarang kok malah jadi rajin nonton! :p

Inget banget, film Korea berseri-seri pertama en terakhir yang gue tonton cuma Boys Before Flower. Waktu itu namanya juga masih remaja, nontonnya masih pakai emosi belaka. Kesal sejadi-jadinya kalau tokoh utamanya berantem, patah hati, dll. Sebaliknya, ikutan berbunga-bunga kalau tokoh utamanya lagi akur, diperlakukan bak Cinderella oleh si dia. Geli banget deh kalo mengenang jaman-jaman norak dulu. Hehe.

Alhamdulillah, habis nonton film itu kayak ada perasaan bersalah. Rasanya cuma menghabiskan waktu aja buat kisah cinta-cintaan orang lain, di dunia fiktif pula. Sampai awal tahun 2014 gue masih nggak terpengaruh dengan euforia film Korea yang jadi pembicaraan banyak remaja muda sampai dewasa Indonesia. Kiri kanan depan belakang ngomongin tentang film Korea, gue masih bodo amat. Fikir gue, nggak update juga nggak bakal masuk neraka. Paling dibilang kudet aja.

Belakangan, semangat gue buat nonton film lagi naik-naiknya. Kalau ngantor, selalu minta tolong didonlotin film-film komedi sama orang IT kantor. Sekali, dua kali, akhirnya minta didonlotin lagi dan lagi–walau jadi agak nggak enak hati. Yang tadinya cuma bergenre komedi, mulai melebar ke segala film lain termasuk dorama Jepang. GTO, News No Onna, en film-film jadul lain yang mengedukasi. 

Nah, ketulah ini bermula ketika gue tau teman sekelas ada yang rajin donlot film juga. Pas bilang gue sukanya nonton film-film bergenre komedi, dia langsung menawarkan beberapa judul film Thailand. Ba’da serah terima flashdisk, emang betul lho film Thailand itu lucu-lucu. Pokoknya biarpun film-nya bukan bergenre komedi, kalo nonton orang Thailand yang ganteng-ganteng ngomong pakai bahasa Thailand, bawaannya mau ketawa aja. Selain kosa katanya yang sama sekali nggak bisa gue cerna, logatnya itu lho, bikin speechless jadinya!😀

Kedua kali gue nyerahin flashdisk ke dia, mulai dimasukin film-film Korea. Awalnya dia meyakini bahwa film Korea bagus-bagus, kemudian gue setujui dengan syarat bukan yang berepisode-episode, cukup yang movie durasi 2 jam aja. 

Hasilnya emang betul, keren abis film-film Korea. Salut gue… Apapun genrenya, total banget deh penggarapan filmnya. Temanya juga. Walaupun tentang percintaan, tapi idenya nggak biasa. Alurnya dibuat maju mundur yang bikin lo wajib mikir sepanjang film. Maaf ya, beda banget sama kebanyakan film Indonesia.😦

Di atas semua itu, gue bersyukur banget baru senang nonton film Korea di usia-usia segini. Di saat cerita-cerita romantis nggak lagi membekas di hati en kehidupan sehari-hari *halah*, di saat logika selalu berkata bahwa hidup nggak seindah film-film Korea, en yang pasti di saat sudah mengenal lebih dalam dunia tulis-baca. Kalau dulu aktivitas membaca en menonton paling cuma jadi sesuatu yang dinikmati, sekarang pasti dari awal buat barrier duluan sebagai pengamat. Ih, kok begini sih alurnya? Ih, idenya kenapa bisa kayak begitu? Ih, harusnya nggak begini! Dan ih, ih, ih lain yang ujungnya selalu memberi penilaian. Kalau bagus, dengan senang hati gue promosiin ke kanan kiri. Kalau nggak bagus, dengan sangat menyesal juga bakal gue bilang ke depan belakang, “nggak rekomen banget tuh film!”

Okesip, marilah kita lanjutkan waktu luang ini dengan nonton film!😀

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s