Fans Rilis Book Signing di JBF

Gambar

 

Pernah dalam hidup gue, berada dalam satu acara di mana gue duduk satu jajaran di bangku depan dengan pembicara-pembicara hebat. Gue? Cuma jadi slider alias yang menghandle video en musik sepanjang acara berlangsung. Sedihnya, pas gue curhatin ke seorang teman responnya malah begini, “Sama donk. Aku juga, Ka, pas acara dimulai, orang-orang udah pada masuk ruangan. Aku sendirian aja di depan meja registrasi. Hiks, nyepam banget ya kita di sini?!” *ini komentar anak baru lulus SMA, jadi maklum kalo bahasanya ceplas-ceplos begini. :p

Di satu sisi gue setuju, di sisi lain mencoba berdamai dengan keadaan. “Kalo gak ada slider, acara pasti krik-krik. Kalo gak ada yang nerima tamu, nggak ada yang menjamu, acara macam apa ituuu?”

Tadaaa… kemudian beberapa minggu dari acara waktu itu, sepertinya Tuhan dengan segala kebaikannya mau menghapus kesedihan gue *pukpuk, Enje!. Ndilalah diminta sama founder @muslimah_talk untuk bedah buku #SalehaIsMe punya mereka di stand Qultum Media di Jakarta Book Fair. Oiya, fyi, gue ikutan nulis juga sih di buku ini, tapi nggak banyak. Cuma secuil bin seiprit. Alias dikiiit bingit!

Walaupun nggak nolak, awalnya berberat hati juga sih. You know lah perasaan cewek. Gue takutnya ada perasaan-perasaan negatif di hati penulis-penulis lain yang nulis lebih banyak di buku itu. Tapi kayaknya, eh, ternyata mereka baik-baik aja. Never mind. Soalnya faktor jarak juga yang nggak memungkinkan mereka datang ke JBF.

Terus yang gue nggak nyangka en nggak nyana. Bak kejatuhan duren runtuh di siang bolong, setelah acara bedah buku digelar juga book signing 20 eksemplar buku SIM. Wew… ini apa-apaan, deh? Siapa lah gue juga? Lagi, awalnya gue nolak. Tapi baik founder MT maupun penerbit meminta dengan sangat supaya tanda tangan gue turut membubuhi halaman pertama buku yang konon sudah masuk cetakan ketiga, Sodara-sodari! *abaikan kata meminta dengan sangat :p

Begonya gue… terus foto gue lagi tanda tangan buku SIM gue pejeng di Instagram @enjeklopedia. Makin-makin lah perasaan bersalah gue. Beberapa sejawat menganggap gue keren, hebat, manteb. Duh, andai mereka tau kenyataannya! 😦

Pokoknya kalian yang menganggap gue keren, wajib baca klarifikasi ini ya! Kalo keberadaan gue di sana cuma aji mumpung. Gayanya doank bedah buku, padahal mah audience-nya nggak sampe 10 orang. Itu juga pembeli sama SPG yang diminta dengerin secara paksa (mudah-mudahan mereka nggak merasa terpaksa yeee?) buat stay di stand penerbit QM.

Jadi, maap atas salah sangka kalian. :))

Iklan

Kursi Pengocok Emosi

Ada kursi di Metro Mini, kalau gue duduk di sini, seringnya emosi gue terkocok tiada henti. Kadang sampai bikin kering gigi, kadang ada aja yang bikin envy, kadang ada juga sih yang bikin tekanan darah jadi meninggi. Huhi, di manakah kursi ini???

Yak. Kursi paling depan tepat di samping si supir, ini kursi pewe versi gue. Selain aman dari gangguan pengamen berandal yang seringnya cuma menyumbang teror daripada menyumbang suara, kursi ini pas banget kalo lagi dalam kondisi capek *buat tidur-tidur ayam, gitu! Tapi wait, wait… ada lagi alasan utama yang bikin gue nyaman kalo duduk di kursi ini. Pokoknya kalo bis lumayan kosong, kursi ini yang gue jadikan inceran.

Ibarat lagi di depan tivi kehidupan dengan layar segede alaihim gambreng, lo bisa melihat realita Jakarta dari kursi di samping supir ini. Banyak tema human interest yang disajikan secara cuma-cuma dari balik muka kaleng Metro Mini *salah deng, bayar dulu 3ribu ke kernetnya :p

Mulai dari betapa liarnya tingkah pengemudi Metro Mini yang kalo difikir-fikir kadang jadi pengantar maut saking nggak ada belas kasihannya sama keselamatan jiwa penumpang; atau pemandangan keseharian pengamen jalanan saat mereka ngumpul-ngumpul di belakang “panggung”; atau pemandangan para pengguna jalan kelas tiga (pejalan kaki en pengendara sepeda) yang terrampas haknya; atau kadang kalo kalian beruntung bisa menyaksikan seorang bapak mengantar si anak ke sekolah sambil digendong belakang, digamit manja, en dibuat tertawa bahagia entah dengan kata-kata macam apa. *kalian makin gagah, Pak! 😀

Tapi ada minusnya juga sih duduk di kursi ini. Kalo lagi apes, selain asap rokok yang menyesakkan hidung dan hati, kadang bisa (nggak sengaja) nguping obrolan supir en teman/kernetnya. Ngenes, obrolannya nggak jauh-jauh dari cewek berpenampilan seksi di sepanjang jalan, si Anu (supir) yang suka curang, polisi mana yang bisa disogok duit, en merutuk-rutuk kondisi jalanan Jakarta yang kian amburadul.

Tapi overall sih enak-enak aja kecuali asap rokok brengsek itu. Sisanya lo bisa baca buku dengan nyaman tanpa ada tatapan aneh en dorongan akibat sesaknya manusia di jam-jam berangkat en pulang kerja.

Okesip. Udah gitu aja. Maap, tulisan ini cuma buat angkoters. Yang naik kendaraan pribadi pasti nyesel baca tulisan ini. Iya kan? 🙂

Tapi gue tetap cinta naik kendaraan umum, sebagai wujud kecintaan terhadap bumi. Yeeaaah! *pret :p

Muda Kembali, Rasanya…

Senang senang senang tak terhingga deh pokoknyah. Hari ini gue merasa muda kembali masa! Sebabnya? Sepele aja. Bukan karena nongkrong-nongkrong sama teman semasa sma/kuliah di mall, bukan juga jalan-jilin happy ke tempat baru, apalagi menantang diri dengan menjelajahi eksotika alam Indonesia. No! Mimpi kali yeee yang terakhir? 😀

Ini beneran tentang kembali berasa muda karena bermain dengan anak-anak muda sekitar 5-7 tahun di bawah gue, en kedudukan kita sama adanya. Bukan antara kakak en adik kelas gitu. Biarpun tetap kata ‘kakak’ masih melekat. Tapi nggak apa, karena esensinya bukan panggilan melainkan kegiatan!

Jadi tadi siang di perjalanan berjarak 15menit jalan kaki, gue bersama dua teman yang masih unyu-unyu itu, melihat seseorang naik moge sekelas Byson en Vixion. “Suka deh ngeliat motor gede. Gagah!” celetuk salah satu di antara mereka, yang sebut saja namanya Mawar. Satunya lagi sebut aja Melati.

Nah ini. Ini yang bikin gue kembali muda. Dari satu celetukan, merembet ke celetukan khayalan-khayalan yang bikin ngikik sepanjang jalan.

“Sama orang yang naik motornya suka juga nggak?”

“Ya tergantung. Buka dulu helm-nya.”

“Eh pas dibuka helmnya ternyata bang Bokir!”

“Eh parah main fisik!”

“Pas dibuka helm-nya, terus dia nanya, ‘Mbak, Mbak… ke Mampang lewat mana ya?'” *dipraktekin dengan logat yang medok parah.

“Yang keren sedikit donk. Pas buka helm, terus dia nanya, ‘Excuse me… do you know Mampang?'” *bahasa Inggrisnya dilafalkan dengan logat yang medok parah.

“Eh sama pas dibuka helm-nya, ternyata poninya polem. Dilempar poninya pake gaya slow motion!”

Hahaaa. Imajinasinya sampe tumpeh tumpeh yaaa? Tapi jangan salah, biar begitu mereka solehah banget. Gue banyak belajar deh dari mereka intinya. 😀

Makacih ya Allah…

Tukang Gali Tanah

Pernah nggak di lembaran-lembaran hari kalian, mbayangin pengen gali tanah sedalam-dalamnya terus ngumpet di sana? Pakai alat ya galinya, bukan pakai tangan. Biar ada beda sama si doggy *plak!. 

Bisa jadi beberapa dari kita pernah. Penyebabnya aja pasti yang beda-beda. Ada yang karena ujian kehidupan yang menurutnya nggak kunjung mencapai klimaks, udahan kek, ya Allah. Ada juga yang sebabnya cita-cita nggak kunjung tercapai padahal sudah berbagai cara dilakoni. 

Well… malam ini secara bertubi-tubi dengan cepat sekali rasanya gue mau menggali tanah sedalam-dalamnya, terus menggali sampai bagian bumi paling bawah. Terusss en terus! *lebay banget sih lu! Anyway, gali tanah itu lebih sering berarti mau menghilang dari dunia nyata pula maya. Bip! *hilang

Apa sebab? Sepele katanya. Bukan karena ujian kehidupan yang nggak kunjung reda atau cita-cita yang juga nggak kunjung tercapai. Bukan. 

Pernah gue beberapa kali merasakan hal serupa, tapi dengan penyebab yang lebih elit. Ketika merasa gagal dalam memimpin orang-orang yang mesti dipimpin, ketika satu kerjaan yang gue kerjain rasanya nggak pernah optimal, ketika nggak bisa berbuat apa-apa dengan aneka berita menyeramkan tentang anak-anak, ketika hubungan dengan keluarga sedarah begitu dingin tapi berlaku sebaliknya dengan teman. Rasanya mauuu banget gali tanah dalam-dalam.

Lah kali ini cemen banget penyebabnya. Cuma gara-gara akibat googling akhirnya gue tau betapa hebatnya seorang teman, padahal selama ini gue merasa lebih di atas dia. Sama nggak lama berselang seseorang pamer segala hal yang sengaja banget  ditujukan ke gue. Kemudian gue mau terjun ke dalam tanah yang sudah digali tadi. Buuuuuummm…!

Nggak ngerti, untuk satu hal ini kadang gue salah menyikapi: minder. Penyakit yang kata seseorang sudah membelah diri beranak pinak dalam diri gue, hingga  menjadi penghalang buat melangkah maju. Melihat yang ilmunya lebih di atas, minder. Melihat yang hartanya di atas, minder. Melihat yang kedudukan sosialnya wah di mata manusia, minder. Ujung-ujungnya buat barrier, mundur perlahan, gali tanah!

Hiks, ini namanya ujian juga sih sebetulnya. Tapi ujian yang dibuat-buat sama diri sendiri. Musykilah! O_o

Ketjup Kering

Moshi moshi… Belum lama dunia merayakan Hari Ibu Internasional kan ya? Telat sih, tapi bodo amat. Di Jumat yang penuh cinta ini gue mau nulis tentang sosok yang penuh ciiinta! Yap, ibu!

Kalau nonton film tentang keluarga, apa sih yang paling kalian suka? Kalau gue pasti momen-momen saat orang tua mencium muka si anak atau sebaliknya. *nanya sendiri jawab sendiri. Hehe* Apalagi kalo anaknya sudah pada remaja en dewasa, tapi masih pada nggak canggung mencium ortu mereka. Menurut gue sesuatu banget gitu. Bikin iri!

Soalnya seinget gue, sejak beranjak remaja hingga di bangku kuliah en dunia kerja nggak pernah gue mencium pipi/kening mamak babak gue. Paling cium tangan pas pergi ke en pulang dari aktivitas di luar. Itu wajib.

Sama, seinget gue lagi mereka berdua pun nggak pernah melakukan hal macam itu ke anaknya di usia-usia gue kala itu. *pas masih kecil walau gue nggak ingat, pasti pernah lah ya. Bisa jadi sering malah mereka menciumi anak bungsunya ini.

Eh tapi bukan berarti mereka nggak sayang sama gue lah. Pasti sayang, cuma caranya aja kali yang beda. Mereka mungkin belum tau pentingnya sentuhan verbal dari orang tua ke anak. Mungkin juga canggung. yang efeknya gue pun juga jadi nggak terbiasa dengan itu. Dan kalo gue perhatiin, ini juga terjadi di beberapa keluarga di Indonesia kayaknya. *eh, apa gue yang sotoy? :p

Seperti merespon kengirian gue, kayaknya Allah lagi memberi apa yang bikin envy sejak dulu. Alhamdulillah, sejak mamak gue kena stroke en sekarang mesti bed rest karena osteoporosis, hilang sudah rasa canggung buat mencium doi. Bahkan bukan cuma mau berangkat atau pulang dari aktivitas di luar, doi mau makan, bangunin buat sholat, lagi nonton bareng. Suka banget gue cium-ciumin mukanya yang makin kayak bayi itu 😀

Tapi tolong jangan berbaik sangka banget deh ya. Gue nggak berbakti-bakti amat kok sama doi. Kalian pasti pernah dengar, betapa susyeeeh ngurus ortu yang sudah uzur. Apalagi ngurusin kotorannya. Bikin ngeluh sepanjang hari. Apalagi juga, makin gue gembor-gemborkan perkara urus ortu ini, biasanya makin naik kadar ujiannya. Haha. Mending diam-diam aja en mengheningkan cipta aja sebetulnya. Yuk marih!

Udah gitu aja. Sekali lagi jangan terprovokasi karena tulisan ini, hingga kalian mengelu-elukan gue sebagai anak berbakti. Jangan, nanti kalian menyesal! :p

Sherl vs John

Gambar

 

Apa-apaan dua sejoli ini dijuduli VS? Iya, emang nggak seharusnya gue bentur-benturkan mereka dengan kata VS. Mestinya kan CS, ya? Tapi plis, jangan emosi dulu ya, Sherlockians. Gue cuma mau nanya…

Di antara dua tokoh itu, dalam berteman kalian lebih suka jadi siapa? Atau yang lebih mirip dengan karakter kalian yang mana sebagai seorang teman?

Sebagai nubie penonton Sherlock versi BBC tapi nggak gape jadi pengamat film,  gue kok ngerasanya lebih suka jadi Sherlock, ya? Bukan, bukan… bukan karena gue merasa cerdas tingkat dewa macam Sherlock. IQ gue di bawah 100, kok! Justru karena gue mau banget punya teman macam John Watson en gue benci punya teman macam Sherlock, that’s why gue lebih suka jadi Sherlock-nya aja. :p

Gimana nggak enak jadi Sherlock? Orang dikintilin terus sama John sebahaya apapun kondisinya. Padahal kadang Sherlock nggak pernah menganggap dirinya teman dari siapapun. Padahal juga Watson suka dijadiin kelinci percobaan dari pemecahan kasus yang mereka hadapi. Padahal lagi kemampuan analisis Watson suka direndahin saking terlalu biasa. 

Di balik kekaleman John, cuma orang nggak waras yang mau berbagi kamar sama orang nggak waras macam Sherlock, yang haus banget sama kasus, yang di kulkasnya tersimpan jari-jari en kepala manusia, yang di kopi paginya ada mata manusia mengambang di dalamnya, yang punya hobi nembakin dinding di malam buta kalo lagi bete nggak ada kasus, en yang susah ditembus sisi-sisi pribadinya kalo dia nggak membuka terlebih dulu. 

Dan yang pasti, gue paling nggak suka penampilan gue dikulitin sama orang lain apalagi teman. Gila, cuma dalam satu kejapan mata di kali pertama pertemuan mereka, kehidupan John terburai sempurna di otak Sherlock. Ya kerjaannya yang dulu sebagai dokter angkatan perang di Afghanistan, ya henpon John yang nggak lain adalah pinjeman dari sodaranya, ya terapi yang dijalani John. Huh, nggak sopan! *pukpuk John!

Pokoknya, gue mesti punya teman setia macam John selama hayat masih dikandung badan! Dan sekali seumur hidup gue mesti pergi bertandang ke Baker Street sana. Titik! *boleh donk mimpi :p

Udah gitu aja update blog kali ini. Cuma mau mencontoh John yang rajin update blog. Sejujurnya, kangen masa-masa apa aja bisa jadi bahan update blog. Di mana en kapan aja nggak kehabisan ide buat nyampah di blog ini. Sekalian kali aja ada yang merasa kehilangan dengan absennya gue beberapa pekan di dunia perblogan. Hehe.

“Do you miss me? do you miss me? do you miss me?” #terMoriarti :p