Curcolan Sang Tante

Gambar

Karena beberapa hal, jujur gue kurang suka sama yang namanya traveling atau being a traveler. Soalnya menurut pengalaman gue yang sehari-hari mesti menemani mamake yang sudah uzur, traveling itu bak pribahasa “Berenang-renang ke hulu, berakit-rakit ke tepian. Bersenang-senang dahulu, baru bersakit-sakit kemudian.”

Iya sih happy pake banget pas lagi traveling-nya, tapi pas sudah sampai rumah segalanya selalu jadi kacau balau. Fisik capek nggak karuan, rumah berantakan (karena banyak kakak en ponakan yang datang buat gantian ngurus neneknya), sama tingkah mamake yang “uring-uringan” (karena nggak biasa diurus sama anaknya yang lain). Intinya, endingnya nggak enak deh! Tapi karena satu hal gue jadi (mau nggak mau) suka traveling. Setahun dua kali aja sih, biasa menemani keponakan yang dari pondok buat refreshing. 

Berhubung tempat-tempat umum di Jakarta dsk sudah banyak yang kami jelajahi, liburan 50 hari tahun ini (begitu mereka menyebut liburan Ramadhan) kami putuskan untuk kabur ke Pulau Tidung! Nggak bisa bohong, sudah lama gue juga penasaran dengannya, walaupun nggak sampai ngebet juga sih mau ke sana. Cuma sekadar penghilang penasaran akibat sering dengar cerita teman-teman yang sudah pernah mampir ke sana.

Bermodal googling dan nekat, gue bawalah dua bocah itu dengan syarat: BS-BS, gue cuma menanggung makan + snack selama di sana. Bukan sombong, tapi biasanya kalo jalan-jalan gue yang nanggung semua-muanya. Berhubung ini perjalanannya nggak biasa, ya gue cuma bisa nanggung yang menurut gue masih bisa kantong gue tanggung. 

Tapi ternyata gue salah, sodara-sodari! Menanggung 5x makan dua anak pondok itu ibarat menanggung makan 10x orang yang sudah beberapa hari nggak makan! :p Sekali makan nggak cukup satu piring porsi standar, belum disebut makan kalo nggak makan nasi (walau cuma sarapan), sama jajannya nggak kira-kira, Men! Padahal sudah beli macam-macam snack dari Jakarta yang gue kira bakal tersisa, ternyata juga ludesss! 😀

Seneng sih nyenengin orang lain. Tapi masa masih belum hilang ini capeknya, mereka bahkan sudah ribut merencanakan mau ke pulau lain di liburan 10 hari akhir tahun ini. Wekawekawekaaa! Doain moga tante kalian punya rejeki  lebih lagi ya! 🙂

Tragis!

Beberapa hari lalu saat gue dan calon penumpang lain sedang diburu waktu menunggu krl di Stasiun Pondok Ranji, terjadi sebuah insiden memilukan yang membuat hati gue porak poranda sambil teriak pake pompom: In-do-ne-sia!

Insiden utamanya tentang pencopetan, sih. Jadi si copet bertattoo dengan tampang beler ini nyaris sakses menggondol dua hape canggih seorang embak bergaya ala-ala pekerja daerah Sudirman. Alhamdulillah kereta penuh banget, alhamdulillah juga si mbak keburu nyadar kalo tas-nya dibuka orang. Maka kembalilah barang yang membuatnya gemetar ketakutan setengah mateee itu. Maka terjadilah insiden tragis dan memalukan itu kemudian: anarkis!

Padahal saat dua menit lagi kereta tiba, cuma sedikit yang menaruh empati pada si mbak. Bantu nenangin atau miskolin enggak, lah cuma nontonin aja. Tapi pas copetnya ketangkap tangan, hape si mbak ditemukan di ujung celana pensilnya, baru deh pada berbondong-bondong ngeroyokin si copet. “Habisin!” “Sampah masyarakat!” “Kurang ajar!” “Iiihhh… nakal nakal nakal!”. Padahal kepala kereta sudah kelihatan di ujung sana. Heuw, asem!

Kenapa ya kita sukaaa banget melibatkan diri dalam kondisi dan situasi yang chaos. Contoh lain paling dekatnya ya masa-masa kampanye pemilu capres ini. Semua berlomba menyindir dan menjatuhkan lawan capres jagoannya. Nggak cuma grass root-nya aja, tokoh-tokoh besar pun juga sama aja. Posting satu foto yang bikin geger dunia persilatan karena menghina petinggi-petinggi Islam. Terus nggak gentle menghapus akun jejaring sosialnya. *if you know who I mean.

Duh… emang ya, paling gampang tuh jadi komengtator! Sebetulnya juga mau ikutan sok-sok jadi komengtator, biar gaya. Cuma berhubung gue nggak pinter-pinter banget bahkan mungkin emang nggak pinter, yaudin nonton aja. Lagian gue juga takut, hubungan dengan kalian jadi merenggang karena belain capres similikiti itu. Habis kepilih mereka gajinya gede, lah kita jadi diem-dieman aje.

Cuma satu manusia di dunia ini yang gue pede ngomongin tentang politik dengannya. Yoi, babak! Biarpun sering sotoy, sering beda, sering adu urat, tapi asyik! Setelahnya pasti langsung baikan. Ngeteh bareng, dibeliin jajan, sambil lanjut nonton berita. 😀

Dear, Amah Majidah!

Dear, Amah Majidah!

Sebetulnya kamu bukan teman dekatku,

Yaiyalah, secara kita terpisah bermil-mil jauhnya

Aku di Tangerang, kamu di Surabaya *apa Gresik, ya?

Tapi selain kita disatukan oleh Ciledug

Ciledug adalah kita, Kita adalah Ciledug

Kamu selalu di hati akoooh!

 

Dear, Amah Majidah!

Aku sebutkan namamu di blog ENJEKLOPEDIA

Bukan karena aku baik, bukan!

Tapi justru karena kamu duluan yg menanam kebaikan itu

Kamu nggak pernah absen memberi ucapan tahniah

Di hari lahir teman-teman

DENGAN CARAMU YANG SUPER ORIGINAL

Kadang dengan membuat video, 

Kadang dengan menyusun huruf dari koran

Kadang dengan berfoto di rooftop

Awesome deh pokoknya!

 

Dear, Amah Majidah!

Di hari lahirmu yang ke XX *sensor

Di Jum’at yang penuh berkah ini

Aku doain segala doa yang terbaik untuk kamu

Tapi bukan di blog ini

Nanti aja di hadapan Dia Yang Maha Mendengar Segala Doa

Biar rahasia, biar makin diijabah sama Dia

 

Dear, Amah Majidah!

Terakhir, dapat ucapan tahniah juga nih

Dari mahluk lain ciptaan Dia

Khusus buat kamu!

Moga kamu suka ya? Dan harus suka!

Karena cuma itu yang bisa aku buat di hari bahagiamu ini

Mencoba yang lebih kreatif, tapi gagal. Hiks.

Emang kamu deh jagonya buat-buat yang beginian

Image

Dear, Amah Majidah!

xoxoxo

 

Dari temanmu, 

Enje si butiran debu 🙂

Cerita Commuter

Pernah dengar anekdot: percaya nggak percaya, kaki para roker (rombongan kereta), lebih kuat dan lihai dibanding kaki atlit kungfu manapun!

Lah iya… kalo pernah merasakan naik kereta commuter di jam-jam orang berangkat/pulang kerja, kalian pasti merasakan betapa benar, lucu dan mengenaskannya anekdot tersebut. Hiks.

Gue nih tiap pagi ngerasain betapa makin terlatih dua kaki ini. Berdiri dengan satu kaki, berdiri dengan posisi badan miring 30°, berdiri dengan kaki tangan kepala en gembolan terpencar-pencar, berdiri dengan menahan berat badan orang di sekeliling saat kereta melewati “jalur setan” Bintaro… jadi lalap tiap pagi, booo’! 0,o.

Nah… untuk “jurus” yang terakhir gue sebutin, yakin bukan karena faktor mahluk dari dunia lain yang menjadi penyebab dua kali kecelekaan terjadi di tempat yang sama di Bintaro. Tapi karena emang kondisi rel yang menikung tajam! Can you imagine, kereta yang kelebihan banyak muatan saban pagi, mestilah membuat penumpangnya saling menjepit orang di kiri-kanan-depan-belakangnya saking besarnya tekanan akibat tikungan tajam itu. Pokoknya mau mandi sewangi apapun paginya, dijamin keringat mengucur deras di sekujur badan! Ditambah lagi bikin badan ngereteg malamnya! 😦

Terus gue juga perhatiin, di “jalur setan” itu ada dua jenis pekikan kala tubuh kami terhempas-hempas di gerbong yang penuh sesak mengikuti kemana posisi badan kereta:
1. Pekikan takbir, istighfar, “ya Allah!”
“Allahu akbaaar!” 
“Astaghfirullaaah!” 
“Ya Allah ya Allah ya Allaaah!”

Selain biasa terdengar dari mereka yang jarang bahkan baru pertama kali naik kereta commuter menuju Tanah Abang di jam orang berangkat kerja, pekikan ini biasanya terdengar di hari Senin-Selasa, saat orang masih terlena dengan euforia weekend kemarin en susaaah banget ngumpulin nyawa buat kerja. Heheee… bagus sih, tapi kadang kedengarannya lebay gitu. Belum lagi ditambah keluhan plus tatapan penuh curiga en dengusan kesal bikin kuping panas panas panas, kuping ini! -,-

2. Pekikan senang bin riang
Nah… ini kebalikan yang pertama. Pekikan model “Aaaakkk!” “Hihihiii” ” Tarik, Maaang!” ini biasa terdengar di hari-hari menjelang weekend: Kamis-Jum’at. Biar badan remuk dihimpit orang-orang segerbong, rasanya tuh happy happy happy!

Emang betul ye video yang biasa diputar di seminar motivasi divisi SDM. Pegawai kalo hari Senin ibarat beruang kutub baru bangun dari tidur. Malesnya poool! Sebaliknya, kalo di hari-hari Kamis en Jum’at ibarat penguin yang lari-larian kegirangan di atas dinginnya es. Soalnya besok libuuurrr!

Iya, kalian nggak gitu. Gue aja kali! 😛

Meme Kecele Kacang Mede

Ini kejadian nyata, saat pertama kali diajak teman ngantor ng-es krim duren di bilangan Bekasi Timur sana. Enak banget sih… tapi sial gue kecele! Sudah disimpen-simpen, disayang-sayang, sengaja disisain buat dimakan sebagai penutup… Pas dipapak, ternyata biji duren! O_o

Tapi gapapa sih, jadi ide buat bikin meme pertama gue. Hehe.

Image

Kei Fujiomi

Penggemar serial cantik komik-komik Elex, pasti pernah dengar tokoh komik Jepang yang namanya Kei Fujiomi. Gambarannya tuh cowok cool abisss, jago bela diri *berkelahi sih tepatnya, nggak bisa ngungkapin perasaan, yang justru jadian sama adik kelasnya yang super duper ceroboh en suka nggak sengaja bikin heboh, tapi baik hati: Chizumi. Pernah dengar kan cerita mereka? 😀

Ceritanya gue hari ini nggak sengaja mampir ke bursa buku murah Blok M Square. Nyari buku apa, lah larinya ke toko buku mana. Menit demi menit berlalu, ke beberapa toko nyari buku yang dicari malah nggak ketemu, maleslah akuuu. Hingga kaki ini melangkah ke toko-toko komik bekas beraneka judul, empat mata ini tertumbuk pada kata “Kyoko”. Kemudian gue gunakanlah mind palace demi mencari hal-hal yang berkaitan dengan kata tersebut. *ceilah terSherlock! :p

Sambil bergaya ala Sherlock–mata terpejam, jemari meraba udara, taraaa… Ketemulah yang gue cari: Chizumi Fujiomi! Komik serial cantik tiga seri karangan Kyoko Hikawa sensei, yang salah duanya pernah gue baca di jaman jahiliah dulu: Angin Musim Gugur en Golden Book.

Waktu itu sempat penasaran tingkat dewa mencari satu  komik sisanya. Bahkan sampai nelpon ke penerbitnya segala buat konfirmasi judulnya, en masih ada apa nggak? Berhubung di Gramed Bintaro en Blok M nggak ada, sudahlah gue hentikan pencarian maha nggak penting itu. Sampai pas sudah kenalan sama buku-buku Islam, gue putuskan untuk membuang dua komik itu. Bahayaaa, bikin melankolis bin cengeng! *kalo sekarang film roman Korea kali ye???

Mungkin semacam mau menuntaskan perasaan yang belum tuntas dulu *ceileeh, gue tanyakan ke pemilik toko perihal serial CF itu. Sumpah kaget banget, saat gue lupa judul komik yang gue cari, si Mas penjaga toko yang gue taksir sudah berusia 30 tahun ke atas itu malah dengan sigap membantu jawab: “Pastel Mood?”

Kyaaa… akhirnya setelah berbelas tahun nggak nemu judul buku ke-tiga serial CF, gue dapatkan jawabannya dari seorang penjaga toko laki-laki berusia kepala tiga! Youkatta neee’! 😀

Terus terus… tadi sengaja gue googling kata CF. Lah, ternyata banyak juga yang bahas tentang dua sejoli ini. Yah walaupun sudah pada jadi emak-emak, teteup, yeee, yang paling banyak dibahas en dikomen tokoh Fujiomi dengan segala pesonanya. *dasar ya cewek O_o. 

Lesson learned-nya mungkin dunia nggak perlu banget-banget dikejar. Satu saat nanti pas kita sudah lupa pernah mau mengejarnya, nanti dia bakal nyamperin sendiri. Sama satu lagi, gue setuju sih sama sosok Fujiomi. Kalo cowok itu emang nggak usah banyak omong. Cool saja lah. Dijamin jadi bahan omongan para gadis bahkan emak-emak! *trust me :p.

Endingnya nggak jadi beli sih. Soalnya kata mas-nya, baru kemarin ada yang nyari komik itu juga. Hiks… Hikawa sensei emang nggak ada matinye! O.o

Ke Timur Naik Kapal, Siapa Pernah?

CYMERA_20140601_112928<a

Kemarin bermodal nekad, gue dolanan ke Serang demi menghadiri milad #25thUmmi. Dengan navigasi dari dua orang teman via Whatsapp sajah, gue fikir pasti perjalanan akan lumayan berkesan. Sorang diri ke daerah yang sama sekali belum pernah dijejaki *walaupun masih di Banten juga, it must be sooo ah-mazing! Tapi nyatanyaaa… nggak sama sekali, sodara/i! Penghibur satu-satunya ya cuma akhirya gue bisa menjejakkan kaki di Rumah Dunia punya Oom Gol A Gong en mbak Tias Tatanka. Alhamdulillah… 😀

Mongomong tentang dolanan, ya… tiap orang pasti punya pengalaman dolanan yang paling mengasyikkan. Ada yang bilang, dolanan rame-rame bareng teman se-RT itu yang paling nggak bisa terlupakan.Ada juga yang bilang, yang penting bukan sama siapa melainkan ke mana. Ada juga yang bilang, ke mana en sama siapa nggak masalah, yang penting akomodasinya murmerrr! Itu sah-sah aja, right?

Kalo gue… pengalaman dolanan paling berkesan itu ya yang cuma berdua aja bareng mamake, naik kapal laut berhari-hari, nggak mikir biaya akomodasi! Sayang, cerita ini sudah berlalu 17 tahun yang lalu waktu gue kelas 3 SD, kala pesawat masih jadi angkutan mewah, Facebook mungkin masih belum terlintas di otak Mas Zuckerberg, aktivitas selfie pun masih belum ngetren. Belum dimasukin juga kata selfie di kamus Oxford edisi kala itu :p

Inget banget, waktu itu kami berdua pergi dibiayain kakak ke-dua untuk menjenguk kakak ke-lima yang ikut suaminya dinas di Ambon. 5 hari 4 malam kami harus bermalam di kelas Ekonomi kapal KM Dobonsolo. Kalo sekarang gue belum bisa dolanan ke daerah yang jauh-jauh apalagi sampai nyebrang pulau, alhamdulillah waktu kecil sudah ngerasain singgah ke Surabaya, Kupang, en Timor Leste *waktu itu namanya masih Timor Timur. Walaupun judulnya cuma transit beberapa jam, tapi lumayan bisa jalan-jalan ke pasar terdekat di Surabaya, sama turun menghirup udara sekitaran pelabuhan di Kupang en Timor Timur yang ruwet sambil belanja-belanji buah tangan khas sana. Yeay! 

Namanya juga naik kapal di kelas ekonomi. Udahlah ruangannya semacam bangsal dengan bale-bale tipis yang mesti berebut buat mendapatkannya, untuk ambil makan siang yang apa adanya juga mesti antri kayak di penjara-penjara, sama kamar mandinya itu lhooo yang jorok banget! *karbol menjadi senjata utama kalo mau masuk ke kamar mandi. Belum lagi pas kapal menepi di Surabaya, gelombang manusia naik ke kapal yang makin bikin sesak “bangsal” kelas ekonomi. Nasib jadi orang kismin! :p

Alhamdulillah… di Ambon kondisinya berbalik 180 derajat. Jauh dari kehidupan mengenaskan ala penumpang kapal kelas ekonomi KM Dobonsolo. Kami sempat plesiran ke Pantai Natsepa yang indaaah banget. Waktu itu di Jakarta lagi musim main congklak, maka gue bawalah batu-batu kecil di sekitaran pantai sebagai pengganti biji congklak yang sudah hilang-hilangin.

Satu lagi, makanan khas daerah timur salah satunya kan sagu ya? Bahkan makanan pertama yang gue dapat dari tetangga kakak aja olahan sagu yang panjang-panjang ala cheese stick tapi rasanya manis. Nah, jadi tempat tinggal kakak gue waktu itu dekat dengan pabrik pengolahan sagu. Adanya di tengah hutan, yang untuk ke sananya mesti nyebrangin sungai kecil berarus lumayan deras. Daaan… gue sukses dibawa ke sana sama teman-teman tanpa seijin kakak! It means, kami pergi ke sana mengendap-endap, tapi pulangnya malah bawa buah sirsak–hasil metik dari hutan–sebagai oleh-oleh! Terus jadi ketauan abis dari mana, terus diomelin :p *kalo sekarang itu macam acara Si Bolang kali yesss? Sekelompok anak main-main ke hutan dengan alam. Asyiiik!

Pokoknya suatu saat wajib banget dolanan lagi ke daerah timur Indonesia! 😀

*abis baca postingan mbak Tika tentang perjalanannya ke Kupang, envy setengah mati, maka jadilah tulisan random ini. 😀