Lagi-lagi Tentang Syukur

Beberapa hari lalu seorang anak mengadu begini ke gue: “kata Mamah itikaf cuma kerjaan pengangguran. Sama nggak bener, soalnya ngajarin anak kecil bergadang. Emang iya, Cik?”

Deg. Gusar setengah mati gue mendengar aduan si anak. Sekaligus kasihan juga sama si ibu. Plus bersyukuuur banget dengan takdir hidup gue yang mempertemukan dengan mereka yang biasa saling mengingatkan untuk beritikaf di 10 malam terakhir Ramadhan *walaupun pada faktanya gue jarang itikaf :p

Nah, karena itikaf identik dengan Lailatul Qadar, agak loncat sedikit ah baca buku Fi Zhilalil Qur’an-nya Oom Sayyid Quthb, langsung masuk ke bab surat Al-Qadr. Nggak papa kan? :))

Semua kita tau betul, seperti judulnya, surat ini membahas tentang malam agung saat Al-Qur’an diturunkan. Allah menyebut malam saat Al-Qur’an diturunkan dengan lailatul qadr, atau malam kemuliaan, atau malam penentuan en pengaturan.

Inilah malam yang Allah janjikan lebih baaaik dari seribu bulan dalam hitungan manusia! Di malam ini langit en bumi menjadi penuh sabab hilir mudiknya para malaikat juga Jibril untuk mengatur segala urusan. Malam ini, memakai kata ‘salaam’ di ayat terakhirnya, karena ia dipenuhi dengan kesejahtetaan hingga terbit fajar. Ah-mazing, bukan?! 😀

Mau sekece apapun informasi yang beredar turun tenurun di masyarakat kita tentang malam ini *terutama banget tentang tanda-tandanya yang kebanyakan simpang siur, tetap nggak akan pernah bisa menggambarkan betapa agungnya ia.

“Pada malam ini diputuskan aturan bijaksana tentang segala urusan… Pada malam itu ditetapkan takdir-takdir yang lebih besar dari takdir-takdir individu. Yakni takdir-takdir seluruh ummat, negara dan bangsa. Bahkan lebih banyak dan besar lagi…” ~Oom Sayyid

Seribu sayang… kayak ibu di atas, banyak dari kita yang melupakan kemuliaan lailatul qadr ini. Mungkin karena kebodohannya (nggak mau buka-buka lagi Al-Qur’an) en kepicikan pandangannya (segala hal cuma dikaitkan dengan materi materi en materi aja). Padahal masih kata Oom Sayyid, ketika seseorang melupakannya, dia telah kehilangan nikmat Allah yang paling indah dan membahagiakan yang dikaruniakan Islam kepadanya. Bahkan kehilangan ini nggak pernah bisa tergantikan oleh semua kekayaan materi yang bisa direngkuhnya. Ia akan tetap sengsara sekalipun berlimpah sarana kehidupan! Na’udzubillah… 😦

Makanya Rasulullah membuatkan jalan bagi kita supaya kenangan akan keagungan lailatul qadar terus terpatri di hati: “Siapa yang bangun pada malam qadar karena iman dan ikhlas maka dosanya yang telah lalu diampuni” (HR. Bukhari-Muslim)

Bersyukur masih dipertemukan dengan teman, kakak-kakak en adik-adik yang nggak pernah capek mengingatkan tentang keutamaan lailatul qadr en supaya mengisi malam-malam akhir Ramadhan dengan ibadah. Soalnya ada juga yang secara ilmu en pemahaman tentang lailatul qadr sudah ngelotok, tapi masih enggan buat sedikit aja berusaha supaya bertemu dengannya dalam keadaan terbaik.

“Sesungguhnya pengetahuan teoritis semata-ata tentang berbagai hakikat ini tanpa dukungan ibadah dan tanpa melalui jalannya, tidak akan mampu mengokohkan berbagai hakikat ini dan tidak akan mampu menggerakkannya hingga menjadi motivasi yang kuat dalam kehidupan pribadi dan kehidupan jama’ah.”

Ya Allah, terima kasih… :))

Iklan

Surat Cinta Untuk Kekasih

Siapa tau rasanya ditinggal kekasih hati dalam jangka waktu lama tanpa kabar tanpa berita? I Dunow. Tapi berdasar pengalaman saudara gue yang suaminya menghilang tiba-tiba sejak sepuluh tahun lalu… was-was, bingung, sedih, suuzhon, semua terblend jadi satu. Belum lagi omongan cemacem dari kanan kiri yang bikin kuping panas. Nggak terungkap lagi deh perasaan kehilangannya. Hiks.

Ini juga yang pernah dialami baginda Rasulullah saw dulu, ketika dalam jangka waktu yang lumayan lama wahyu nggak kunjung turun, Jibril pun nggak juga datang menemui. Ditambah lagi ejekan-ejekan “Muhammad telah ditinggalkan Tuhan-nya” yang dilontarkan kaum kafir Quraisy. Makin menjadi-jadi kesedihan Rasulullah.

Padahal kan wahyu, pertemuan dengan Jibril, en komunikasi dengan Allah merupakan bekal utama beliau dalam dakwah-nya yang bertabur onak serta duri *ceileh bahasanya*. Ialah sebaik-baik bekal, minuman penyegar, penyemangat yang amat dibutuhkan Rasulullah dalam menghadapi kesulitan, penolakan, en pembangkangan orang-orang Quraisy yang bebal itu.

Tapi seperti yang Allah janjikan di atas Arsy-Nya sejak menetapkan penciptaan, rahmat en kasih sayang Allah jauuuh lebih beeesar dibanding kemurkaan-Nya. Maka turunlah surat Ad-Dhuha, sebagai bukti cinta-Nya kepada sang kekasih.

Yippiii… mau lanjutin ah nulis hasil baca tafsir Fi Zhilalil Qur’an yang sempat terhenti karena kemalasan kemarin-kemarin. Mumpung semangat sepuluh malam akhir Ramadhan lagi menghampiri, gaspolll, ah! 😀

Seperti banyak surat lain di juz 30, Allah dalam surat ini juga memakai sumpah sebagai bingkai/pembuka surat. Walau bingkainya cuma dua ayat, tapi lebih dari cukup lah untuk mengiringi hakikat surat ini: penghibur hati kekasih yang sedang lara.

Demi waktuh Dhuha. Dan demi malam apabila telah sunyi. (1-2)

Saat waktu pagi identik dengan ingar bingar para pencari nafkah. Saat waktu malam identik dengan kegelap gulitaan yang menakutkan bagi sebagian jiwa. Tapi Allah mengambil waktu dhuha yang jernih en waktu malam yang sunyi sebagai sumpahnya. Kebetulan? Jelas BUKAN! Allah menggambarkan keduanya dengan lafazh yang tepat sebagai bingkai dari hakikat surat cinta ini yang dilanjut dengan:

Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada pula benci kepada kamu. Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik dari permulaan. Dan kelak Rabbmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi ridha. (3-5)

Aaakkk… ini tuh nenangin banget kata-katanya! Apalagi setelah sekian lama nggak terjadi komunikasi! Kayaknya sekelas suami yang pandai berpuisi pun nggak bisa menandingi kalimat ini deh *sotoy tapi bener. Selain penuh keakraban, penuh cinta, juga sarat pengingat akan negeri akhirat! Well… itu kan inti kehidupan kita? Dekat maupun jauh, bersama maupun berpisah dengan sang kekasih, tujuan akhirnya ya menyambangi “akhir” aka negeri akhirat yang notabene lebih baik dari kehidupan dunia.

Bedeweh, apa buktinya Allah nggak meninggalkan, nggak benci, en bakal memberi karunia-Nya kepada Rasulullah saw? Langsung dibeber di ayat berikut dalam bentuk ajakan untuk mengenang lagi berbagai kebaikan-Nya, dengan cara yang indah! :))

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. (6-8)

Saat menjadi yatim, Allah buat hati semua mahluk bersimpati kepada Rasulullah, tak terkecuali pamannya yang padahal hingga akhir hayatnya nggak mau mengikuti dakwah beliau. Saat dulu Rasulullah adalah seorang yang fakir, Allah perkaya beliau dengan sifat qona’ah, juga memperkaya dengan hasil usaha beliau en harta Khadijah sang istri. Pula saat tumbuh dewasa dalam lingkungan jahiliyah yang kacau balau keyakinan maupun prilakunya, Allah beri hidayah kepada Rasulullah dengan wahyu! Yang terakhir ini nih bukti cinta paling besar Allah kepada Rasulullah, bahwa Dia nggak pernah meninggalkan sang kekasih apalagi membencinya. Ah, indah bener, yeee!

Nggak ketinggalan surat ini juga berisi surat cinta kepada pengikut Rasulullah. Wasiat Allah kepada semua manusia agar berbuat baik kepada sesama terutama mereka yang lemah.

Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. (9-10)

See… Islam itu nggak melulu tentang sholat, ngaji, dzikir, en ibadah-ibadah antara hamba dengan Tuhan-nya langsung, Broh! Tapi Islam juga tentang peduli kepada sesama, terutama kepada anak yatim en orang yang meminta-minta. Bahasa buku agamanya, harus seimbang hubungan vertikal en horizontal-nya, ya? 😀

Terakhir, Allah tutup surat ini dengan perintah untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah yang bertubi-tubi walau banyak yang nggak kita sadari *misalnya nikmat Islam en iman.

Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (11)

Langsung praktek, ah. Alhamdulillah… bisa update blog lagi. Alhamdulillah… masih diikutsertakan dalam tiap agenda kebaikan di bulan baik ini. Alhamdulillah… punya keluarga yang sadar beragama. Alhamdulillah… bisa jadi tempat curhat ponakan yang lagi pada puber. Alhamdulillah… masih dikasih kesempatan masuk ke sepuluh malam terakhir Ramadhan. Alhamdulillah tiada hingga deh pokoknya! :))

Palestina Adalah Kita

Guys, mungkin banyak dari kita yang lupa atau emang nggak mau ingat, betapa ketika Indonesia baru merdeka dan membutuhkan pengakuan dari luar akan kemerdekaannya, Negara-negara di Timur Tengah lah yang paling dulu menyatakan kemerdekaan kita, tak terkecuali Palestina yang saat itu padahal mereka belum merdeka. Adalah Mufti Palestina, Syeikh Amin Al-Husaini yang habis-habisan mendukung kemerdekaan Indonesia.

Pun ketika presiden pertama kita menggelar Konferensi Asia Afrika tahun 1955 silam, beliau mengundang Palestina tapi tidak dengan Israel. Kata beliau, “Israel adalah penjajah, sedang Indonesia tidak mengakui penjajahan di negeri manapun!”

Seperti mau melanjutkan perjuangan founding father kita dalam membela Palestina, Jum’at kemarin, masyarakat Indonesia dari berbagai elemen masyarakat berbondong-bondong memenuhi bundaran HI untuk mengutuk kebiadan si bangsa kera zionis Israel, yang lagi-lagi berulah: membunuhi penduduk Gaza. Laknatullah ‘alaihim!

Sebetulnya ada beberapa ormas/lembaga yang secara terpisah mengadakn aksi serupa. Diawali dengan masyarakat dan pendukung capres nomor satu beserta partai koalisi, mahasiswa, Front Pembela Islam, kemudian beberapa LSM yang memang sudah lama concern terhadap masalah kemanusiaan. Dan gue… ikut yang pertama, dooonk! 😀
Di aksi yang siang ini, hadir beberapa tokoh nasional macam Hidayat Nur Wahid, Anis Matta, Jazuli Juwaini, Marwah Daud Ibrahim, Nurjanah Hulwani, Akbar Tandjung, Abu Rizal Bakrie, dan nggak ketinggalan Prabowo Subianto sang capres nomor satu. Mereka semua menggelar orasi mengecam kebiadaban zionis Israel yang telah membunuhi penduduk Gaza terutama anak-anak dan wanita yang tak berdosa.

Jujur ya, sesusah-susahnya gue menitikkan air mata, nyatanya di aksi ini air mata gue tumpah juga. Apalagi diselingi dengan pemutaran nasyid-nasyid bertemakan perjuangan rakyat Palestina dari Izzatul Islam dan Shoutul Harokah yang dinyanyikan bersama-sama oleh para pendukung Palestina yang hadir. Mbrebes miliii! T.T

Ada juga penggalangan dana yang dikerahkan oleh relawan KNRP sepanjang orasi berlangsung. Semua yang hadir berlomba untuk memberikan infaq terbaik untuk membantu rakyat Palestina. Dari atas panggung, Prabowo Subianto dan Abu Rizal Bakrie mendeklarasikan menyumbang 1 MILIAR dari hartanya untuk Palestina. Pliss nggak usah bilang riya atau pamer, niat orang nggak ada yang tau kecuali Allah. So, biar Allah yang menilai niat mereka. Tugas kita adalah menandingi infaq mereka. Sudah sebanyak apa kah bantuan yang kita berikan? Jangan bilang cuma baru bisa bantu doa! O_o

Dari semua orasi dari tokoh-tokoh nasional itu, ada satu orasi yang paling berkesan buat gue. Mungkin karena nama kita sama, jadi lebih meresap kata-katanya. Heheee.
Perkataan ini datang dari Ustazah Nurjanah Hulwani yang merupakan anggota dewan dari fraksi PKS. Beliau mengaku sudah 2x ke Gaza yang katanya adalah bumi ukhrowi, bumi perjuangan. Hanya di sana, penderitaan mampu diolah jadi kelezatan.

Kata beliau, ada tiga cara yang bisa kita lakukan untuk membantu rakyat Palestina:
1. Diri kita adalah media. Bantu sebarkan sebanyak dan sesering berita-berita tentang penderitaan rakyat Palestina.
2. Bantu dana dan jangkau semua jaringan yang kita miliki untuk turut serta bantu rakyat Palestina.
3. Berjuang bersihkan diri kita agar jangan sampai doa-doa kita untuk mereka terhalang oleh kemaksiatan dan dosa-dosa kita. *ini bagian paling makjleb!

Well… ini menjadi bukti bagi kita yang hidup 60 tahun setelah kemerdekaan, bahwa sejak dahulu hingga sekarang memang akan terus ada ikatan yang luar biasa antara Indonesia dengan Palestina. Nah, buat yang cuma bisa mengecam melihat kebiadaban zionis Israel terhadap rakyat Palestina, apalagi yang cuma diam seribu bahasa, ya saalam, jangan-jangan kita bukan orang Indonesia?

2 Padahal 1

Jujur ya, sebetulnya mau kasih judul: Berlawanan Tapi Tetap Serasa Serasi. Berhubung lagi hangat isu copras capres, lebih seru kayaknya kalo kasih judul di atas: 2 Padahal 1. Semoga pada nggak anarkis di kolom komen, ya? Karena sesungguhnya tulisan ini nggak ada nyambung-nyambungnya dengan copras capres. Justru ini adalah lanjutan tulisan (sok) anak soleh. Ihiy! :))

Tentang surat keempat yang gue baca dari buku Fi Zhilalil Qur’an-nya Sayyid Sabiq. Surat Al-Lail, membeber 2 hal yang berlawanan, walau pada kenyataannya dari awal hingga akhir dia berpadu dalam satu keserasian en keserasaan: seluruh surat menggambarkan dua hal yang saling berlawanan, baik bingkai (pembuka, sumpah Allah) maupun yang dibingkai (hakikat surat).

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang. Dan penciptaan laki-laki dan perempuan. (1-2)

Allah mengawali surat ini dengan bersumpah atas nama waktu (malam en siang) serta fenomena di dalamnya. Pula bersumpah dengan penciptaan mahluk yang walau beraneka ragam rupa bentuknya tapi hanya terbagi dalam dua kelompok: LAKI-LAKI en PEREMPUAN *sepakat ya, bahkan Allah nggak mengakui manusia jenis ketiga (XX / YY)!

Ini seperti tantangan buat mereka yang nggak mengakui keberadaan Tuhan, yang meyakini kalau dunia en seluruh alam raya terjadi dengan sendirinya karena proses alami alias kebetulan. *cc: kamu!

Sumpah Allah menggunakan waktu malam dan siang ini menunjukkan dengan sangat pasti bahwa di sana ada Tangan lain yang mengatur orbit ini dan mempergilirkannya dengan sangat teratur, kontinyu, cermat. ~Oom Sayyid

Begitu juga dengan penciptaan en penentuan mana yang akan lahir sebagai bayi laki-laki, mana yang akan lahir sebagai bayi perempuan. Kebetulan? Of course NOT!

Tidak ada lain kecuali di sana pasti ada Tuhan Maha Pengatur Yang menciptakan laki-laki dan wanita untuk suatu hikmah yang telah digariskan dan tujuan yang telah diketahui. Karena itu, tidak ada celah bagi kebetulan dan tidak ada tempat bagi spontanitas dalam sistem alam wujud ini sama sekali. *kalian tau ini perkataan siapa? Ya jelas penulisnya dooonk. Bukan gue banget gayanya! :p.

Lanjut ke pembahasan 2 Padahal 1.

Sesungguhnya usaha kalian memang berbeda-beda. (4)

Ada pendukung capres yang anarkis, ada yang santun walau cuma segelintir *eh, fokus2!. Maksudnya ada dua tipe usaha manusia digandeng dengan kemudahan bagi Allah dalam melaksanakan tiap usahanya.
1. Mereka yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa. Juga membenarkan adanya pahala yang terbaik (yakni sorga). Maka kelak baginya telah disiapkan jalan yang mudah. (5-7)
2. Mereka yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka kelak baginya telah disiapkan jalan yang sulit. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila telah binasa. (8-11)

Ngeri ngeri ngeriii! Beruntung kalo kita masuk dalam golongan pertama. Tapi kalo kita masuk dalam golongan kedua… bahkan Allah janjikan akan memudahkan en melancarkan kita kepada jalan yang sulit! Walau pada kenyataannya di dunia ini kita berjaya, kaya raya, berbalut bahagia kapan saja, tapi pada hakikatnya kita sedang dimudahkan kepada jalan yang sulit, yakni neraka jahannam! Na’udzubillah… T.T

Kemudian di penggalan surat bagian akhir yang intinya 2 Padahal 1:

Maka Kami memperingatkan kalian dengan neraka yang menyala-nyala. (14)

Di bagian ini Allah peringatkan kita tentang neraka yang menyala-nyala en ada dua golongan terkait dengannya:
1. Mereka yang akan masuk ke dalamnya. Yakni mereka yang mendapat predikat orang yang paling celaka, karena mereka mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). (15-16)
2. Mereka yang akan dijauhkan darinya. Yakni mereka yang mendapat predikat orang yang bertaqwa, karena mereka menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, bukan karena membalas budi kepada orang lain. Justru karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Mahatinggi. (17-20)
Ohiya, sebelum membeber tentang neraka serta siapa-siapa aja yang akan dimasuklan en dijauhkan darinya, Allah mendahuluinya dengan: Sesungguhnya KEWAJIBAN Kami-lah memberi petunjuk. Dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat maupun dunia. (12-13)

Pertama Allah sudah menetapkan atas diri-Nya untuk menjelaskan petunjuk bagi fitrah dan kesadaran manusia dengan mengirim para Rasul-Nya yang menjelaskan ayat-ayat suci-Nya (baiknyaaa!). Kedua Allah menetapkan satu ketetapan yang pasti tentang hakikat kekuasan-Nya. Dia-lah yang menguasai akhirat maupun dunia. Jadi jadi jadi… kalo kita menjauhi-Nya, mau en bisa lari ke mana kita??? Nggak ada.

Okesip, sebagai penutup, moga kita masuk dalam bagian dari ayat penutup surat ini, ya….

Dan kelak ia benar-benar mendapat keridhaan. (21)

Kalo kata Oom Sayyid: Keridhaan yang terlimpahkan ke dalam hati. Keridhaan yang memenuhi jiwa. Keridhaan yang mengalir di sekujur tubuh. Keridhaan yang memancar ke segenap eksistensi kehidupan. Keridhaan yang menyenangkan…

Moga Allah juga ridha dengan siapapun calon pemimpin yang akan bertanding di pemilu besok. Thenkies sudah mau capek-capek baca sampai akhir. Moga manfaat. Salam 1 Jari indONesia! *apa sih malah kampanye? :p

Mikirrr! :))

Tontonan emang mencerminkan usia ya? *Dandy! I’m growing older! :p* Buat yang tumbuh di era 90-an, pasti ingat betul dengan ost film kartun Jepang: Sailor Moon.

“Ku kan bermandi cahaya bulan, yang cemerlang di malam yang terang. Memang telah lama kurasakan, ini keajaiban alam.”

Menurut gue lirik ini kece. Di tengah rutinitas kehidupan manusia yang berulang, si pengarang lagu mampu meresapi kecantikan cahaya bulan yang ajib itu dengan pengandaian ingin mandi dengan cemerlangnya cahaya bulan di malam yang terang. *apa sih openingnya? :p

Sebagai seorang muslim, mestinya kita nggak boleh kalah dalam menghayati kehadiran en peran pemandangan Ciptaan Allah. Soalnya… di surat Asy-Syams Dia telah bersumpah dengan segala pemandangan alam raya yang ada, sebelum berfirman tentang hakikat jiwa manusia.
Kalo kata Oom Sayyid, sumpah Allah menggunakan pemandangan alam raya dan berbagai fenomenanya seolah-olah bingkai bagi hakikat besar yang terkandung dalam surat ini: hakikat jiwa manusia, berbagai potensi fitrahnya, peran manusia pada urusan pribadinya, dan tanggung jawabnya berkaitan dengan tempat kembalinya (akhirat).

Bahasa gampangnya dari bingkai, ada lho kaitan atau hubungan antara hati manusia dengan pemandangan alam raya beserta fenomenanya. Ciyus!

Yap, ini masih edisi tulisan (sok) anak soleh. Hasil baca buku Fi Zhilalil Qur’an gue selama Ramadhan, yang kali ini masuk bab surat Asy-Sayms. Moga nggak bosan! :))

Oke lanjut. Mungkin karena kehadiran pemandangan alam raya en fenomenanya yang terus berulang kali ya, jadi kita suka nggak ngeh gitu bahkan abai dengannya? Makanya Allah secara parsial, singkat, bersumpah dengannya. Kayak mau mengingatkan kita, “Perhatikan, renungkan nilai-nilai dari fenomena alam yang terjadi!”. Kalo kata Cak Lontong: MIKIRRR!

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari…
Siapa yang nggak suka pagi hari? Mungkin cuma yang terjebak rutinitas ditambah macet en crowdednya ibukota yang nggak suka bahkan benci. Hehe. Tapi tetap aja pagi hari di weekend itu sesuatu! Udaranya menyenangkan en menyegarkan. Pancaran sinarnya menghangatkan, jernih, indah banget!

Coba tanya fotografer, kapan waktu terbaik buat sesi pemotretan di outdoor? Ya pagi hari dooonk! *sama sore hari juga sih :p. Intinya pagi hari banyak manfaatnya. Bahkan buat anak bayi baru lahir sekalipun *dijemur biar nggak kuning.

Dan bulan apabila mengiringinya…
Banyak seniman yang meminjam bulan sebagai objek utama dengan penggambaran karakteristiknya yang lembut, halus, indah, jernih, menentramkan. Kayak ada ikatan khusus antara bulan dengan hati manusia sejak zaman Fir’aun bahkan sebelumnya.

Karena bulan punya bisikan-bisikan dan isyarat-isyarat kepada hati. Juga punya pujian dan tasbih kepada Tuhan Maha Pencipta. Hati yang peka nyaris dapat mendengarnya pada cahaya bulan yang mengembang. << Dan tentu yang barusan bukan perkataan gue, melainkan penulis buku Zhilal ini. Heheee.

Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupnya…
Maksudnya siang menampakkan hamparan keindahan bumi. Sebaliknya, malam menyembunyikannya.

Begitu banyak dampak nyata adanya siang bagi kehidupan kita. Sayang, karena dia selalu berulang, kadang bahkan seringnya kita lupa akan keindahannya. Begitu juga dengan malam. Hiks.

Dan langit serta pembinaannya…
Sebagai orang awam, kata langit di benak kita mungkin kontennya cuma sekadar yang kasat mata aja. Awan, matahari, bulan, bintang, planet. Padahal di atas langit bumi masih ada berlapis-lapis langit lagi, yang semuanya tertahan kokoh di atas sana, ditahan oleh tangannya Allah. Andai nggak ada yang menahan, binasalah kita karenanya!

Dan bumi serta penghamparannya…
Tanah yang subur, sayur mayur, bunga-bunga cantik, hewan ternak, lautan luas, gunung yang kokoh… semua adalah hamparan bumi yang Allah ciptakan untuk kehidupan kita.

Maka benarlah jargon MIKIRRR! ala Cak Lontong yang lagi in sekarang. Apalagi Allah melanjutkan ayat di atas dengan hakikat jiwa manusia. Sudah semestinya kita mikir en bertanya-tanya, ada apa gerangan?

"Dan jiwa serta penyempurnaannya (penciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (7-10)

Allah memperlakukan kita sebagai orang dewasa yang punya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Dia memberi kita potensi, kemampuan berfikir untuk mengetahui mana yang baik, mana yang buruk. Yang di sisi lain, kita punya tanggung jawab yang mesti diemban atas setiap pilihan kita. Yang berbuat baik ada surga, yang berbuat dosa ada neraka.

Tapi sekali lagi betap baiiiknya Allah. Dengan memberikan kebebasan plus tanggung jawab, Dia nggak lantas membiarkan kita terombang-ambing di dalam kebebasan itu. Justru Dia membantu kita dengan berbagai risalah-Nya yang memberikan kepada kita berbagai timbangan yang tetap akurat, yang memberikan kepada kita isyarat-isyarat keimanan dan bukti-bukti petunjuk di alam en diri kita, hingga kita mampu melihat kebenaran dalam bentuknya yang nyata. Contohnya ya Rasul-rasul utusanNya en Al-Qur'anul karim. Siapa yang menaati Rasul-Nya en berpegang teguh pada Al-Qur'an, dijamin nggak bakal tersesat!

Pertanyaannya… sudahkah kita meniru Rasulullah saw di berbagai sisi kehidupan? Sudahlah kita membaca, mentadaburi, en mengamalkan Al-Qur'an?

Di momen Ramadhan ini, kita sama-sama menuju ke sana yuk! Ya Allah, istiqomahkan, plisss… :))

JYMLS

Ini bukan sembarang rangkaian huruf alfabet, loh! Tapi ini masih di edisi tulisan (sok) anak soleh selama Ramadhan. Setelah meneguk indahnya pembahasan surat Al-Fajr di Fii Zhilalil Qur’an, tiga hari ini gue lanjut ke pembahasan surat setelahnya: Al-Balad. Iya, betul, butuh tiga hari buat menguliti tiap keindahan kata-katanya! 😀 *fyiiuuuh

Seperti kebanyakan surat lain dalam Al-Qur’an, rima surat Al-Balad ini sungguhlah canggih. Diawali dengan rima d-d-d, kemudian n-n-n, terus h-h-h sampai selesai. Ini yang membuat Al-Qur’an menjadi enak didengar telinga. Keindahannya melebihi syair manapun. Meminjam gaya Oom Sayyid: mampu mengetuk-ngetuk senar hati manusia yang mendengarnya, walau singkat tapi ndalem alias makjleb!

Sejujurnya gue lebih ngena dengan pembahasan yang bagian harta dan manusia. Tapi penting juga diketahui kalo ayat ini dibuka dengan sumpah Allah menggunakan kota Mekkah sebagai yang disumpahi, digandeng dengan penegasan bahwa Nabi Muhammad tinggal di dalamnya.

Intinya sih Allah memuliakan rumah ibadah-Nya. Dengan menyebutkan Mekkah sebagai tempat tinggal Nabi pilihan-Nya itu, makin jadilah kemuliaan serta kehormatan kota Mekkah. Di sisi lain, Allah menghinakan orang-orang kafir Quraisy yang justru menyakiti Rasulullah dan para pengikutnya di tempat yang dimuliakannya. Padahal mereka mengaku sebagai penjaga baitullah pula keturunan Ismail dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Huh, minta diunyeng-unyeng deh mereka itu!

Okesip lanjut ke pembahasan tentang manusia en harta. Pernah nggak sih kita-baik cuma sekadar membatin atau mengungkap langsung melalui lisan ini bilang, “Duh, sori, gue sudah sedekag banyak hari ini. Jadi nggak bisa bantu.” Pernah pernah pernah? Gue sih pernah, mungkin kalian lebih sering. Heheee, kidding.

Nah, Allah pun menyebutkan laku manusia yang suka begitu di 1/4 surat hingga akhir surat ini. Kepanjangan kalo ditulis ayatnya, jadi gue kasih kode nomor ayatnya aja ya? QS. Al-Balad: 4-20. Beuh… panjang, ya?

“Apakah manusia menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya? Ia mengatakan: Aku telah menghabiskan harta yang banyak. Apakah ia menyangka, bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?” (4-7)

Ini dia permulaan ayat yang gue maksud. Kita suka mengelak kalo diajak kepada kebaikan en pengorbanan (konteksnya harta) *oke gue doank, lo nggak*. Padahal Allah Maha Berkuasa atas semua hamba-Nya. Kalo dia berkehandak memiskinkan dalam sekejap meski sebanyak apapun hartanya… Fayakuun, Jadilah! Padahal juga Allah Maha Melihat segala yang lahir dan tersembunyi. Dia Tahu banget apa yang kita sedekahkan, dan apa motivasi kita dalam bersedekah. Beda banget deh sama penglihatan manusia yang cuma bisa melihat apa en seberapa besar sedekah kita.

Bisa jadi sedekah kita yang ini karena si dia, bisa jadi sedekah kita yang itu karena nggak enak sama atasan, bisa jadi sedekah kita yang ono biar begini biar begitu. Manusia nggak tau, tapi Allah Maha Tau! T.T

That’s why kita perlu banget sedekah lagi en terus. Karena kita nggak tau sedekah yang mana yang Allah terima. Okesip, #notetomyself.

Ditambah lagi Allah telah menegaskan anugerah-anugerah, nikmat-nikmatnya kepada kita di ayat selanjutnya:

“Bukankah Kami (Allah) telah memberikan kepadanya dua buah mata. Juga lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (8-10)

Mestinya sedekah-sedekah kita adalah sebagai tanda syukur atas beribu bahkan berjuta nikmat yang telah Dia berikan kepada kita *kali ini bukan gue aja, tapi elo elo elo juga! :p

Dua buah mata dengan segala kerumitan bagian-bagiannya supaya kita bisa melihat ayat-ayat-Nya en mengambil pelajaran darinya. Lisan en dua buah bibir yang nggak bertulang tapi bisa menjadi pedang kalo salah digunakan. Ditambah kemampuan mengenali baik buruk benar bathil petunjuk kesesatan yang Allah berikan CUMA kepada manusia, supaya kita nggak salah dalam melangkah. Ya ampun… baiknyaaa! 😀

“Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya) itu ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan. Atau memberi makan pada hari kelaparan. (Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat. Atau orang miskin yang sangat fakir. Dan ia termasuk orang-orang yang beriman, serta salig berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. (11-18)

Wokey, ayat di atas berbicara tentang JALAN YANG MENDAKI LAGI SUKAR (JYMLS) *ini loh maksud judul tulisan anak soleh yang kedua! :p. Bukan kehebatan kita mendaki gunung terjal nan tinggi, bukan! Tapi seperti yang disebut di atas. Abu Bakar mungkin bisa diteladani. Gimana kala dakwah Islam masih kecil, beliau sudah membebaskan 7 budak termasuk Bilal. Masyaa Allah… nggak murah, lho! Kalo kita mungkin mikir-mikir seribu kali? 😦

Oke perbudakan sudah nggak ada di kehidupan sekitar kita. Tapi orang yang kelaparan, anak yatim, orang miskin masih baaanyak di negeri yang katanya kaya raya ini. Dan di bulan mulia ini, moga hati kita tergerak untuk lebih memperhatikan mereka ya… :))

Wait… ternyata belum selesai sampai di situ pembahasan tentang JYMLS. Seperfek apapun poin-poin di atas kita jalankan, semua nggak akan ada nilainya kalo nggak dilandasi dengan keimanan kepada Allah. Pula kita diminta untuk SALING menasehati dalam kesabaran en kasih sayang. Seperti kutipan penutup pembahasan surat ini:

“Kesabaran merupakan unsur sangat diperlukan bagi keimanan secara umum, dan bagi menempuh jalan lagi sukar secara khusus. Sedangkan saling berpesan untuk bersabar menetapkan satu derajat di atas derajat kesabaran itu sendiri. Yaitu derajat soliditas Jama’ah Mukmin, saling berwasiatnya untuk memenuhi kesabaran, dan saling kerjasamanya untuk melaksanakan berbagai beban keimanan. Sehingga Jama’ah tersebut terdiri atas anggota-anggota yang saling berbagi rasa.”

Akhirul kalam, sebagai langkah pertama menempuh JYMLS, terimalah salam soliditas ini:

Salaamualaikum. Dear, Mblo… Sabar, ya! Dibully itu emang nggak enak. Sakitnya tuh di sini *nunjuk dada. Tapi jangan patah arang. Teruslah menebar kebaikan! :))

Mengejar (Mas) Sabar & (Mas) Syukur

Dahsyat nian emang Ramadhan, ya? Mendadak orang-orang jadi pada soleh karenanya, booo’! Di jalan banyak yang baca Qur’an, di medsos bertebaran quote-quote nasehat tentang puasa, di tempat umum juga lumayan banyak yang memakai pakaian lebih rapi. Senangnyaaa! 😀

Nggak bisa bohong, gue pun menjadi bagian dari orang-orang mendadak rajin ibadah itu. Mencoba memperbaiki diri, berharap bisa terus kebawa di bulan-bulan berikutnya *alasan pertamanya sih sebetulnya iming-iming pahala yang dijanjikan berlipat-lipat itu. Wekawekawekaaa!

Jadi di bulan ini ceritanya gue sedikit memotivasi diri untuk melanjutkan baca buku Fii Zhilalil Qur’an, karya Oom Sayyid Quthb. Beeeuh… kece ya bacaan gue? *amit-amit

Men… itu tuh buku kitab tafsir terindah yang memadukan antara tafsir dengan sastra! Saking bagusnya, butuh kesungguhan en kesabaran ekstra biar paham tiap kata demi katanya. Bahasa gampangnya: membuat dahi berkerut bahkan kusut sepanjang membacanya, gitu! Tapi kata seorang teman, kalo lo sudah hanyut dalam 1 bukunya, buku-buku lanjutannya tuh makin terasa kerennya. *oke percaya, walaupun gue masih belum bisa hanyut di satu buku yang sudah dibeli sejak 2012 silam. Hiks.

Baru di hari kedua gue dengan semangat tertatih-tatih mulai membacanya. Dan tadi pagi mengulang baca lagi di tafsir surat yang sama: Al-Fajr. Tuh kan bener… baru terasa indahnya pas baca kedua kalinya!

Btw… ada satu bagian yang paling membuat gue terkesan. Yakni pemahaman tentang ujian yang kebanyakan dari kita mungkin masih salah *kita??? gue aja kali! :p

Tapi pemaparan bagian awal surat ini juga keren pake banget, sih. Sebelum Allah menenangkan hati orang Islam yang ditindas oleh petinggi-petinggi kafir Quraisy dengan menggambarkan betapa lebih keji lagi polah orang-orang yang menolak dakwah Nabi mereka (kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Fir’aun), Allah Yang Maha Menguasai siang dan malam membuka surat ini dengan bersumpah memakai waktu fajar.

Pertanyaannya… kenapa Allah bersumpah dengan waktu fajar (Wal fajr aka Demi waktu fajar)? Nggak usah bertanya pada rumput yang bergoyang, nih gue tulis ulang kata-kata indah mufasir sekaligus sastrawan yang akhir hayatnya berujung di tiang gantungan itu:

“Demi (waktu) fajar.” Saat di mana kehidupan bernafas dengan mudah, gembira, senyum, ramah, penuh kasih sayang, dan sejuk. Sementara alam wujud yang masih mengantuk mulai bangun perlahan-lahan. Seolah-olah napasnya adalah munajat, dan geliat pembukaannya adalah do’a!

Allah… indah nian! Merugilah mereka yang mengawali hari-hari puasanya dengan tidur ba’da sahur! #ntms :))

Then… markijut ke pembahasan yang paling gue sukai. Yang paling menyentil kuping ini. Dan yang paling menggedor-gedor hati yang bebal ini.

“Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka ia berkata, ‘Rabbku telah memuliakan aku.’ Adapun bila Rabbnya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka ia akan berkata, ‘Rabbku menghinakan aku.’ (QS. Al Fajr:15-16)

Well… ayat ini dulu ditujukan kepada orang-orang jahiliyah Mekkah yang masih menganggap harta en tahta adalah segala-galanya. Yang persepsi tentang kelapangan dan kesempitan ya seperti yang Allah tegaskan di atas. Kalo dikasih nikmat, anggapannya kemuliaan dari Allah. Tapi giliran disempitkan rezekinya, menganggap Allah sedang menghinakannya.

Udah jujur aja, mungkin kadang kita masih berfikiran serupa. Menganggap rezeki yang berlimpah, pasangan hidup yang sedap dipandang mata, jabatan yang mentereng adalah kemuliaan yang Allah berikan kepada kita. Tanda bahwa Allah menjadikan kita orang-orang pilihan. Sebaliknya, pas pendapatan kita segini-segini aja, jodoh nggak kunjung datang, penampilan nggak sebening akhwat ini en ikhwan itu yang membuat kita nggak pede *atau jadi ditolak terus? :p* kita sebut Allah sedang menghinakan kita. Eh, nggak sampe seekstrim itu sih, tapi pasti pernah lah protes kecil-kecilan sama Allah. Ya, kan kan kannn? “Ya Allah kok gini banget sih?” misalnya.

Padahal sejatinya… baik kelapangan ataupun kesempitan, dua-duanya adalah ujian dari Allah. Camkan itu baik-baik, Esmeralda!

Kalo kata Oom Sayyid: Nilai seorang hamba di sisi Allah tidak terkait dengan kekayaan dunia yang ada pada dirinya. Keridhaan Allah atau kemurkaan-Nya tidak bisa ditandai dengan pemberian atau tidak adanya pemberian di dunia ini. Karena Allah memberi rezeki kepada orang shalih dan thalih. Allah juga menahan pemberian kepada orang salih dan orang thalih. SESUNGGUHNYA ALLAH MEMBERI DAN MENAHAN PEMBERIAN UNTUK MENGUJI. APA YANG MENJADI UKURANNYA ADALAH HASIL UJIAN TERSEBUT.

Gimana kita banyak-banyak bersyukur di kala lapang, dan gimana kita sabar dengan sesabar-sabarnya (shabran jamiilan) itulah nilai diri kita yang sesungguhnya di mata Zat yang nggak pernah menilai dari sisi lahiriyah belaka.

Sooo… mari kita kejar si syukur kala lapang menghampiri, en mengejar si sabar kala sempit menyambangi. Biar nanti Allah panggil kita dengan panggilan paaaling lemah lembut bin bikin tersanjung, seperti termaktub di akhir surat ini:

“Wahai jiwa yang tenang… Kembalilah kepada Rabbmu denan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Surga-Ku.” (QS Al Fajr: 27-20)

Ya Allah… mau dooonk dipanggil kayak begitu T.T

*okesip, ini tulisan anak (sok) soleh edisi Ramadhan. Gapapa ah, daripada sok tholeh! 😛