Mengejar (Mas) Sabar & (Mas) Syukur

Dahsyat nian emang Ramadhan, ya? Mendadak orang-orang jadi pada soleh karenanya, booo’! Di jalan banyak yang baca Qur’an, di medsos bertebaran quote-quote nasehat tentang puasa, di tempat umum juga lumayan banyak yang memakai pakaian lebih rapi. Senangnyaaa!😀

Nggak bisa bohong, gue pun menjadi bagian dari orang-orang mendadak rajin ibadah itu. Mencoba memperbaiki diri, berharap bisa terus kebawa di bulan-bulan berikutnya *alasan pertamanya sih sebetulnya iming-iming pahala yang dijanjikan berlipat-lipat itu. Wekawekawekaaa!

Jadi di bulan ini ceritanya gue sedikit memotivasi diri untuk melanjutkan baca buku Fii Zhilalil Qur’an, karya Oom Sayyid Quthb. Beeeuh… kece ya bacaan gue? *amit-amit

Men… itu tuh buku kitab tafsir terindah yang memadukan antara tafsir dengan sastra! Saking bagusnya, butuh kesungguhan en kesabaran ekstra biar paham tiap kata demi katanya. Bahasa gampangnya: membuat dahi berkerut bahkan kusut sepanjang membacanya, gitu! Tapi kata seorang teman, kalo lo sudah hanyut dalam 1 bukunya, buku-buku lanjutannya tuh makin terasa kerennya. *oke percaya, walaupun gue masih belum bisa hanyut di satu buku yang sudah dibeli sejak 2012 silam. Hiks.

Baru di hari kedua gue dengan semangat tertatih-tatih mulai membacanya. Dan tadi pagi mengulang baca lagi di tafsir surat yang sama: Al-Fajr. Tuh kan bener… baru terasa indahnya pas baca kedua kalinya!

Btw… ada satu bagian yang paling membuat gue terkesan. Yakni pemahaman tentang ujian yang kebanyakan dari kita mungkin masih salah *kita??? gue aja kali! :p

Tapi pemaparan bagian awal surat ini juga keren pake banget, sih. Sebelum Allah menenangkan hati orang Islam yang ditindas oleh petinggi-petinggi kafir Quraisy dengan menggambarkan betapa lebih keji lagi polah orang-orang yang menolak dakwah Nabi mereka (kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Fir’aun), Allah Yang Maha Menguasai siang dan malam membuka surat ini dengan bersumpah memakai waktu fajar.

Pertanyaannya… kenapa Allah bersumpah dengan waktu fajar (Wal fajr aka Demi waktu fajar)? Nggak usah bertanya pada rumput yang bergoyang, nih gue tulis ulang kata-kata indah mufasir sekaligus sastrawan yang akhir hayatnya berujung di tiang gantungan itu:

“Demi (waktu) fajar.” Saat di mana kehidupan bernafas dengan mudah, gembira, senyum, ramah, penuh kasih sayang, dan sejuk. Sementara alam wujud yang masih mengantuk mulai bangun perlahan-lahan. Seolah-olah napasnya adalah munajat, dan geliat pembukaannya adalah do’a!

Allah… indah nian! Merugilah mereka yang mengawali hari-hari puasanya dengan tidur ba’da sahur! #ntms :))

Then… markijut ke pembahasan yang paling gue sukai. Yang paling menyentil kuping ini. Dan yang paling menggedor-gedor hati yang bebal ini.

“Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka ia berkata, ‘Rabbku telah memuliakan aku.’ Adapun bila Rabbnya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka ia akan berkata, ‘Rabbku menghinakan aku.’ (QS. Al Fajr:15-16)

Well… ayat ini dulu ditujukan kepada orang-orang jahiliyah Mekkah yang masih menganggap harta en tahta adalah segala-galanya. Yang persepsi tentang kelapangan dan kesempitan ya seperti yang Allah tegaskan di atas. Kalo dikasih nikmat, anggapannya kemuliaan dari Allah. Tapi giliran disempitkan rezekinya, menganggap Allah sedang menghinakannya.

Udah jujur aja, mungkin kadang kita masih berfikiran serupa. Menganggap rezeki yang berlimpah, pasangan hidup yang sedap dipandang mata, jabatan yang mentereng adalah kemuliaan yang Allah berikan kepada kita. Tanda bahwa Allah menjadikan kita orang-orang pilihan. Sebaliknya, pas pendapatan kita segini-segini aja, jodoh nggak kunjung datang, penampilan nggak sebening akhwat ini en ikhwan itu yang membuat kita nggak pede *atau jadi ditolak terus? :p* kita sebut Allah sedang menghinakan kita. Eh, nggak sampe seekstrim itu sih, tapi pasti pernah lah protes kecil-kecilan sama Allah. Ya, kan kan kannn? “Ya Allah kok gini banget sih?” misalnya.

Padahal sejatinya… baik kelapangan ataupun kesempitan, dua-duanya adalah ujian dari Allah. Camkan itu baik-baik, Esmeralda!

Kalo kata Oom Sayyid: Nilai seorang hamba di sisi Allah tidak terkait dengan kekayaan dunia yang ada pada dirinya. Keridhaan Allah atau kemurkaan-Nya tidak bisa ditandai dengan pemberian atau tidak adanya pemberian di dunia ini. Karena Allah memberi rezeki kepada orang shalih dan thalih. Allah juga menahan pemberian kepada orang salih dan orang thalih. SESUNGGUHNYA ALLAH MEMBERI DAN MENAHAN PEMBERIAN UNTUK MENGUJI. APA YANG MENJADI UKURANNYA ADALAH HASIL UJIAN TERSEBUT.

Gimana kita banyak-banyak bersyukur di kala lapang, dan gimana kita sabar dengan sesabar-sabarnya (shabran jamiilan) itulah nilai diri kita yang sesungguhnya di mata Zat yang nggak pernah menilai dari sisi lahiriyah belaka.

Sooo… mari kita kejar si syukur kala lapang menghampiri, en mengejar si sabar kala sempit menyambangi. Biar nanti Allah panggil kita dengan panggilan paaaling lemah lembut bin bikin tersanjung, seperti termaktub di akhir surat ini:

“Wahai jiwa yang tenang… Kembalilah kepada Rabbmu denan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Surga-Ku.” (QS Al Fajr: 27-20)

Ya Allah… mau dooonk dipanggil kayak begitu T.T

*okesip, ini tulisan anak (sok) soleh edisi Ramadhan. Gapapa ah, daripada sok tholeh!😛

4 comments

  1. Chrismana"bee" · Juli 2, 2014

    Subhanallah,… mbak aku kok kepingin bukunya, tapi takut ga bisa ngerti, ini aja kalo gak diterangin gitu kayaknya ga ngerti

    • Enje · Juli 3, 2014

      ayooo dibaca. dicicil aja bukunya. heheee

      beneran bagus. cuma ya mesti sabar :))

  2. Pena Alitnya Noeroel · Juli 2, 2014

    Muatannya keyyyeeen banged, Mbak EnJe ^_^d
    terima kasih atas sharingnya, dan bagi saya pribadi, mengejar Mas Ikhlas itu yang paling susah >_<

    • Enje · Juli 3, 2014

      masamaaa…

      ayooo dikejar! :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s