Lagi-lagi Tentang Syukur

Beberapa hari lalu seorang anak mengadu begini ke gue: “kata Mamah itikaf cuma kerjaan pengangguran. Sama nggak bener, soalnya ngajarin anak kecil bergadang. Emang iya, Cik?”

Deg. Gusar setengah mati gue mendengar aduan si anak. Sekaligus kasihan juga sama si ibu. Plus bersyukuuur banget dengan takdir hidup gue yang mempertemukan dengan mereka yang biasa saling mengingatkan untuk beritikaf di 10 malam terakhir Ramadhan *walaupun pada faktanya gue jarang itikaf :p

Nah, karena itikaf identik dengan Lailatul Qadar, agak loncat sedikit ah baca buku Fi Zhilalil Qur’an-nya Oom Sayyid Quthb, langsung masuk ke bab surat Al-Qadr. Nggak papa kan? :))

Semua kita tau betul, seperti judulnya, surat ini membahas tentang malam agung saat Al-Qur’an diturunkan. Allah menyebut malam saat Al-Qur’an diturunkan dengan lailatul qadr, atau malam kemuliaan, atau malam penentuan en pengaturan.

Inilah malam yang Allah janjikan lebih baaaik dari seribu bulan dalam hitungan manusia! Di malam ini langit en bumi menjadi penuh sabab hilir mudiknya para malaikat juga Jibril untuk mengatur segala urusan. Malam ini, memakai kata ‘salaam’ di ayat terakhirnya, karena ia dipenuhi dengan kesejahtetaan hingga terbit fajar. Ah-mazing, bukan?!😀

Mau sekece apapun informasi yang beredar turun tenurun di masyarakat kita tentang malam ini *terutama banget tentang tanda-tandanya yang kebanyakan simpang siur, tetap nggak akan pernah bisa menggambarkan betapa agungnya ia.

“Pada malam ini diputuskan aturan bijaksana tentang segala urusan… Pada malam itu ditetapkan takdir-takdir yang lebih besar dari takdir-takdir individu. Yakni takdir-takdir seluruh ummat, negara dan bangsa. Bahkan lebih banyak dan besar lagi…” ~Oom Sayyid

Seribu sayang… kayak ibu di atas, banyak dari kita yang melupakan kemuliaan lailatul qadr ini. Mungkin karena kebodohannya (nggak mau buka-buka lagi Al-Qur’an) en kepicikan pandangannya (segala hal cuma dikaitkan dengan materi materi en materi aja). Padahal masih kata Oom Sayyid, ketika seseorang melupakannya, dia telah kehilangan nikmat Allah yang paling indah dan membahagiakan yang dikaruniakan Islam kepadanya. Bahkan kehilangan ini nggak pernah bisa tergantikan oleh semua kekayaan materi yang bisa direngkuhnya. Ia akan tetap sengsara sekalipun berlimpah sarana kehidupan! Na’udzubillah…😦

Makanya Rasulullah membuatkan jalan bagi kita supaya kenangan akan keagungan lailatul qadar terus terpatri di hati: “Siapa yang bangun pada malam qadar karena iman dan ikhlas maka dosanya yang telah lalu diampuni” (HR. Bukhari-Muslim)

Bersyukur masih dipertemukan dengan teman, kakak-kakak en adik-adik yang nggak pernah capek mengingatkan tentang keutamaan lailatul qadr en supaya mengisi malam-malam akhir Ramadhan dengan ibadah. Soalnya ada juga yang secara ilmu en pemahaman tentang lailatul qadr sudah ngelotok, tapi masih enggan buat sedikit aja berusaha supaya bertemu dengannya dalam keadaan terbaik.

“Sesungguhnya pengetahuan teoritis semata-ata tentang berbagai hakikat ini tanpa dukungan ibadah dan tanpa melalui jalannya, tidak akan mampu mengokohkan berbagai hakikat ini dan tidak akan mampu menggerakkannya hingga menjadi motivasi yang kuat dalam kehidupan pribadi dan kehidupan jama’ah.”

Ya Allah, terima kasih… :))

3 comments

  1. Alam · Agustus 2, 2014

    Oh oh oh Sayyid Quthb..😀

    • Enje · Agustus 4, 2014

      ciyeee fans garis kerasss😀

  2. Iwan Yuliyanto · Agustus 2, 2014

    Ada-ada saja si mamah anak kecil itu. Kudu diluruskeun …
    Tetap semangat mengejar Lailatul Qadr. Semoga kita bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s