Krisis 1/4 Abad

Baru banget tau, ternyata ya… ada lho satu penyakit yang menghantui manusia berumur 20-an macam gue *kemane aje looo?!. Kurleb penderitanya tuh fresh graduaters, para nubie di dunia kerja atau remaja dewasa yang stuck sama kerjaannya. Mungkin kalian ada yang sedang mengalami juga. Atau buat yang belum mengalami, menurut Mbah G sih pasti tiap orang bakal mengalami ini. Jadi… watch out sama yang namanya Quarter Life Crisis. Hihihihiii! *nakutin ala si Kunti :p

Semua bermula pas salah satu dari sms pals gue *ala-ala pen pals gitu* bertanya begini, “Minta solusi handal donk yang lo tau terbukti mengatasi Quarter Life Crisis?”

Sejujurnya gue baru beberapa hari ini tau apa itu QLC. Oh, thank, mate, gara-gara lo gue jadi merasa bego, terus jadi kepo, akhirnya dapetin nice info tentangnya. Buat yang belum tau, nih gue sebutin ciri-ciri kalo kalian terkena QLC:

1. Selalu dihantui sama pertanyaan macam: “Ih, hidup gue kok gini banget ya?” “Kok gue nggak bisa sehebat teman-teman gue sih?” “Sebetulnya gue mau jadi apa sih?” dll pertanyaan serupa yang nyerempet sama banding-membandingkan diri dengan orang lain.
2. Sering memilih menghabiskan waktu sendiri. Juga merasa ditinggal sama teman-teman se-gank yang sudah pada nikah.
3. Pengen melakukan ini itu banyak sekali, lalala aku sayang sekali Doraemon *jadi nyanyi :p. Intinya tiba-tiba pengen melakukan hal-hal gila di luar aktifitas rutin. Misal: pengen traveling keliling dunia nggak balik-balik atau mau jadi TKI di Saudi biar bisa haji en umroh secara cuma-cuma.
4. Sering takut gagal, walhasil stuck aja di tempat. Nggak lebih maju, malah mulai lagi dari titik 0.
5. Dll yang bisa kalian tanya sendiri sama Mbah G. Oke!

Udah jujur aja, pernah mengalami salah satu bahkan semua poin di atas pasti, kan? Sip… nggak usah bingung, sedih, apalagi sampe nangis di pojokan sambil garuk-garuk tembok. Ibarat tangga, kita tuh lagi melalui salah satu anak tangga transisi bernama QLC. Sekali lagi, tiap orang pasti melalui anak tangga ini. Penyikapannya aja yang beda. Ada yang lebay macam Jupe, eh, queen drama. Ada yang selalu bilang aku rapopo padahal dalamnya rapuh porak poranda *ini kok gue banget ya? hehek, ada juga yang santai kayak di pantai yudadababaiii. Semua itu… PILIHAN!🙂

Balik lagi, agak lama gue bales sms itu. Bingung juga, booo’, diminta solusi untuk masalah yang kita sendiri butuh solusinya. Doi juga pasti sudah googling tentang ini, so nggak mungkin juga donk gue kasih solusi hasil copast-an dari si Mbah G. Kirfikir… kayaknya ada satu hal yang walaupun sedang terkena QLC, gue selalu bisa happy kalo lagi bergelut dengan hal ini.

Jengjenggg… dededededeeeddd… jawabannya adalah… MEMBERI! Yak, gue selalu yakin, manusia dikatakan hidup kalo dia terus dalam posisi memberi. Eh tapi memberi bukan cuma identik dengan uang, sih. Ikut organisasi sosial, ngajar tanpa dibayar, mengurus seseorang atau sesuatu yang butuh perhatian kita, sharing hal-hal positif di blog juga masuk dalam kategori memberi *imo.

Gue selalu takjub dengan kata-kata Sayyid Quthb yang ini: Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Tapi orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.

Bahasa planet Jupiter-nya, hiduplah bukan cuma buat mikirin diri sendiri. Insyaa Allah nggak ada waktu buat mikirin hal remeh temeh dalam hidup, banding-bandingin diri dengan orang lain, dll yang kian memperparah QLC dalam diri kita.

Intinya sih… Enjoy your life with giving en caring, Pals! *talk to the wall :p

17 comments

  1. mhilal · Agustus 23, 2014

    Pernah terpikir solusi memberi ini. Tapi saya tetap musti berterima kasih. Tulisanmu memantapkan pikiranku🙂

    • Enje · Agustus 23, 2014

      yuk, masama. go bloging!🙂

  2. j4uharry · Agustus 23, 2014

    Klo ditambah sama syukur gimana mpok??

    • Enje · Agustus 23, 2014

      iya itu pasti. tapi syukur itu masih ngawang kayaknya. kalo memberi kan termasuk bagian dari kita bersyukur🙂 *cmiiw

      • j4uharry · Agustus 23, 2014

        Wah bener bener (y)

  3. nazhalitsnaen · Agustus 23, 2014

    Weeeeeh jadi gejala gini udah ada kajiannya toh…well beberapa tanda emang kerasa gitu nih… bahasan yang mencerahkan.. jazakillah sudah berbagi🙂

    • Enje · Agustus 23, 2014

      sip, mas Nanas. semoga cepat sembuh😀

  4. titintitan · Agustus 24, 2014

    makjleb ki.

    • Enje · Agustus 24, 2014

      lagi ngomong dpn kaca ceritanya gue :p

  5. izzatunnisa · Agustus 24, 2014

    waa ka enje… gaya tulisannya ka enje banget. makasi sharingnya ka, aku bakal sering blog-walkin kyny ni

    • Enje · Agustus 25, 2014

      Mamah… duh, banyakan ngaconya ini blog. gak rekomen ditengokin sering2 :))

  6. Icha SF · Agustus 25, 2014

    huwaaa mba enje..hiks hiks..

    • Enje · Agustus 25, 2014

      halooo Icha… kamu temennya Nay ya di Edward? :))

      • Icha SF · Agustus 25, 2014

        temennya nanay iyah, tp gak kerja di edwar (without D), yg kerja disana Pak Suami😀

      • Enje · Agustus 25, 2014

        hooo…

        haha, kirain ada hubungannya sm Edward Cullen. heheee, ngeles.

  7. lee na · Agustus 26, 2014

    Hik… hikk… trnyata gw kena penyakit itu toh… selama ini… baru tau namanya…

    • Enje · Agustus 26, 2014

      yap. sama. gue jg baru tau, Ceu🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s