Mental Pemenang

Alhamdulillaaah banget! Beberapa hari belakangan kita menyaksikan dua kemenangan besar di muka bumi Indonesia en dunia. Pertama kemenangan capres nomor urut 2 di sidang sengketa pemilu MK. Kedua kemenangan Palestina atas zionis Israel yang akhirnya memenuhi gencatan senjata HAMAS! *rugi bandar kali yeee!

Buat relawan en pendukung pak Jokowi-JK, so pasti seneeeng pake banged deh ya? Congrat, Brader en Sistah!😀 Pula kita ummat Islam di seluruh dunia atas kemenangan Palestina, hari-hari belakangan sosial media beneran penuh suka cita. Yeeaaay!

Eh tapi tunggu dulu, jangan terlalu senang dulu. Soalnya ternyata Islam yang sempurna ini punya aturan juga lho dalam menyikapi kemenangan. Agak aneh sih aturannya, tapi kalo difikir-fikir bagus juga buat kehidupan kita yang seringnya jumawa. Heuw… apakah itu???

Yak, ISTIGHFAR!

Aturan ini jelas tertulis dalam surat an-Nashr ayat terakhir. Saat datang kemenangan dari Allah, manusia pun pada berbondong masuk ke dalam agama Allah… “fasabbih bihamdi Rabbika wastaghfirHu”. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan MEMOHON AMPUNLAH KAMU.

Kok beristighfar? Bukannya bertasbih en bertahmid aja sudah cukup?

Ternyata nggak, Pal. Justru penting banget kita beristighfar atas setiap kemenangan yang menghampiri. Soalnya manusia itu amat dekat dengan sikap sombong, padahal kenyataannya siapalah kita? Cuma manusia yang terbuat dari tanah, yang Allah tiupkan ruh kepada kita. Plus bekal akal untuk berfikir, hati untuk menimbang baik buruk, en raga yang sempurna untuk makin tunduk kepada-Nya.

Tapi kenyataannya, tiap diberi kemenangan kita selalunya lebih dahulu hanyut dalam gegap gempita. Merasa usaha kitalah yang mendatangkan si kemenangan. Titik, nggak ada faktor lain. Sadar nggak sadar, bibit-bibit kesombongan menyelinap perlahan ke dalam hati kita, lho. Duh, ini gue banget! –”

Padahal lagi… sejak jaman Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw, istighfar sudah menjadi hiasan kala kemenangan datang.

Ya Nabi Yusif as dengan doanya, “Ya Rabbku, sungguh Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkanku sebagian ta’wil mimpi. Rabb Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih.” (QS. Yusuf:101)

Ya Nabi Sulaiman as saat melihat singgasana ratu Saba’ sebelum kedua matanya berkedip, “Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.” (QS. An-Naml:40)

Ya tunduknya Rasulullah saw saat memasuki kota Mekkah, yang penduduknya pernah menyakiti, mengusir, bahkan menolak dakwah beliau dengan pembangkangan yang maha. Saat kemenangan di depan mata… justru Rasulullah menundukkan diri kepada Allah di atas tunggangannya sambil memperbanyak tasbih, pujian, en istighfar.

Beristighfar sudah menjadi semacam adab yang diajarkan oleh para Nabi, saat kemenangan menghampiri. Itulah jalan menuju ummat manusia terangkat martabatnya, bersinar en berkibar di atas muka bumi, pula mencapai keagungan, kekuatan, en kebebasan. Seperti yang ditulis Sayyid Quthb di epilog tafsir surat An-Nashr. :))

Fyuuuh… sudah ah, berat amat kayaknya tulisan gue kali ini ya? Okedeh, gue timbang dulu, kali aja bisa dikiloin di tukang loak. Mayan dapet duit! *ending yang merusak! Ya Allah, istighraf istighfar :))

bacaan: you know lah.

2 comments

  1. mhilal · Agustus 31, 2014

    Jadi begitu ya cara menghindari euforia. Sip, sip. Nice post. Trims ya….🙂

    • Enje · Agustus 31, 2014

      in my opinion sih gitu. boleh ditambahin kalo ada🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s