Menyoal Selfie (Nggak Pake) Sukaesih

Alhamdulillah… beberapa hari lalu dapat kiriman buku GRATIS dari seorang penulis di Lampung sana. Dari dikirimnya buku itu, dia nggak minta apa-apa kecuali dua: endorse plus foto selfie bareng si buku. Oke fine!

Untuk permintaan pertama, insya ALLAH gampanglah. Soalnya sebelum buku itu dikirim ke penerbit, gue juga diminta baca plus kasih komen draft kasarnya. Jadi sudah tau gitu buku ini berkisah tentang apa, tinggal cari-cari sedikit insight yang bisa jadi bahan endorse.

Nah, untuk permintaan ke-dua, ini yang bikin berat: selfie! Banyak alasan sebetulnya gue kurang suka aktivitas yang kebanyakan orang masih gagal paham tentangnya. Karena menurut kamus Oxford, 2013, selfie/selfy: A photograph that one has taken of oneself, typically one taken with a smartphone or webcam. Jadi, foto diri sendiri yang difotonya minta tolong orang lain, nggak masuk kategori selfie, ya, dude! :))

Okey balik lagi ke alasan gue kurang suka selfie-selfiean, yang kalo diekstrak macam kulit manggis menghasilkan tiga poin:
1. Muka gue nggak selfie-able
Imo, ada beda antara muka anak jaman sekarang en anak yang masih ngerasain serunya nonton film Kera Sakti, Kring-kring Olala en Esmeralda secara berjama’ah. Kalo anak jaman sekarang, tuh, mukanya selfie-able anet! Mau selfie dengan berbagai mimik muka termasuk monyongin bibirpun mereka tetaplah ketjeh. Sedang kami *gue aja kali?!* para pendahulu mereka terbagi menjadi dua kubu: yang lumayan selfie-able en udah mending nggak usah sok nyelfie. Sialnya, gue termasuk dalam kubu kedua. Huh!

Tuhan, bukan hamba nggak bersyukur dengan nikmat wajah berstektur rembulan di malam purnama yang kalo lagi bersinar tampak begitu banyak lubang maupun benjolannya… hanya saja ya gitu deh. Ngenes kalo dipaksain nyelfie! Pernah sekali gue iseng nyelfie bertiga teman, dengan posisi gue di tengah sebabai pemegang kamera. Astagah, ini muka apa kue onde? Bulat sempurnah dengan wijen yang terserak di seluruh permukaannya! Sejak itu gue sadari, mending nggak usah gaya-gayaan nyelfie daripada malu-maluin diri. Heee.

2. Selfie itu butuh skill khusus
Yap, selfie itu bukan sembarang aktivitas, lho! Dalam satu waktu kalian harus membagi keja otak menjadi dua: berpose sekeceh mungkin plus mengatur angle kamera supaya hasil foto kece maksimal!

Katanya kaum wanita itu mahluk multi-tasking, makanya pada jago selfie ketimbang kaum pria. Tapi kayaknya pengecualian buat gue, deh. Berekspresi depan kamera dengan mimik rupa-rupa aja susyeh, apalagi ditambah sulitnya ngatur angle kamera. Pun hape yang sekarang sudah ada kamera depannya *pamer, kayaknya baru sekali dua secara sadar gue pake yang hasilnya minta dihapusin banget. Heuw, padahal sebagaimana kebersihan merupakan sebagian dari keimanan, selfie kan sebagian dari keeksisan, ya? Hamba kan juga mau dibilang eksis, Tuhan! Hiks.

Tapi ya… biarpun berharap sekali aja seumur hidup gue bisa foto selfie dengan hasil kece maksimal, kok, gue paling nggak nahan ya kalo liat cowok nyelfie? Antara geli sama males. Apalagi kalo secara nggak sengaja nangkring di home IG/FB, rasanya mau gue delete aja dah, walau kegantengannya sekaliber Benedict Cumberbatch!

Iri? BUKAN!!! Cuma menurut gue kekerenan mereka turun aja sekian persen kalo masih punya waktu buat nyelfie *sorry to say :p. Sebaliknya, kekerenan mereka bakal menanjak sekian persen kalo fotonya candid aka difotoin orang tanpa sepengetahuannya.

Ohiya gue lupa, selfie kan hak setiap manusia, ya? Jadi gue nggak berhaklah komen begini di foto selfie kaum laki-laki: ih, ngapain, sih? Nggak ada kerjaan lain apa, ya? Tapi gue punya hak donk buat meminta kepada Tuhan supaya jodoh gue bukan dari kalangan mereka yang suka selfie. Aamiiin.

3. Ternyata selfie itu masih menimbulkan pro dan kontra
Namanya juga wanita, suka sama segala hal yang indah-indah termasuk berfoto seorang diri dengan mimik yang cantik tapi nggak kayak Zaskia Ghotic, yekan? Nah, kata seorang ustadz, yang jadi masalah adalah kalau keindahannya diumbar ke semua penduduk dunia. Kalau yang sudah berkeluarga bisa jadi sumber perang dunia ke-tiga, buat yang masih jomblo bisa jadi menurunkan harga pasar. Kok?

Iya, sepintas mungkin kita dupuji-puja. Tapi paling buruknya, foto kita discreen capture, terus disave, terus diprint, terus dipejeng di kamar orang kurang ajar di luar sana. Bahkan lebih kejam daripada itu: muka kita disunting en ditempel sama body cewek lain. Gile lu, Ndrooo!

Untuk poin ke-tiga ini, gue sbanyak bersyukur sama Allah atas wajah gue yang pas-pasan hingga menyebabkan ketidaktertarikan pada aktivitas selfie. Mari sama-sama kita ucapkan: Alhamdu-liLlaaah… 😀

*tulisan paling nggak mutu sedunia. nggak usah dibaca, buang-buang waktu

Iklan

Saringan Jempol

Jumu’ah Mubarok! *ala akhwat solihat
Happy Friday! *sok nginggris
Jum’at Istimewa! *ter-Abdur
😀

Gaes, dulu waktu masih muda pernah dengar tebak-tebakanan tentang ayakan, ayakan apa yang paling guweeede sedunia? Yap, jawabannya ayakan gajah, katanya. Haha, lumayan ucul, ya? :p

Kini, kala usia terus merangkak mendekati kepala 3, twit war sudah nggak bisa dielakkan, jadi kepikiran tebakan tentang ayakan, ayakan apa yang paling mengerikan sedunia hingga akhirat? Yap, jawabannya ayakan jempol. Hehe, lumayan nggak ucul, ya? Emang bukan mau ngelucu, sih, melainkan ngingetin diri sendiri betapa horor bin mengerikan jempol ini kalo sudah ketemu partner in crime-nya: gadget.

Dulu di jaman Rasulullah pernah kejadian haditsul ifki (berita bohong) yang menimpa ummul mukminin Aisyah ra. Waktu itu oleh orang munafik (Abdullah bin Ubay) beliau digosipkan telah berzina dengan seorang sahabat bernama Shofwan. Jeng-jeeeng, Madinah pun gonjang-ganjeng! Berita itu makin membesar en terusss membesar akibat gosip yang disebarkan dari mulut ke mulut, bahkan orang mukmin pun turut serta dalam penyebarannya. Rasulullah sampai dibuat pusing karena ini. Hft, can you imagine, kayak apa kejadiannya?

Yang jelas sampai turun wahyu dari Allah untuk mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya, jelas di surat An-Nur dari mulai pembukaan surat. Ada beberapa poin yang Allah wanti-wanti kepada orang mukmin, yang menurut gue poin-poin itu masih banget relevan dalam kehidupan kita sekarang, 14 abad kemudian setelah al-Qur’an diturunkan. Huwooow, amazing!

Kadang suka bingung *kalo lagi khilaf malah ikutan, sama yang gampang nyebar berita negatif yang tersedia di dunia maya secara cuma-cuma. Ya tentang presiden anu, capres gagal itu, hingga menteri yang begitu. Padahal sudah jelas di kitab suci kita disebutkan, kalo ada berita yang nggak jelas kebenarannya, apalagi yang menimpa saudara sesama muslim: harus ada saksi yang menyaksikan kejadian itu en berbaik sangka semampunya selama berita itu masih simpang siur.

Boleh jadi, kita lagi masuk dalam masa di mana satu aktivitas (sembarangan share berita tanpa diayak kebenarannya) kita anggap remeh, nggak bakal diperhitungkan sebagai keburukan di sisi Allah, padahal justru persoalan besar di sisi Allah. Ih, serem, kan?

Mangkenye, kurangin yuk kebiasaan gampang ngeshare, apalagi yang sifatnya provokatif. Mending share berita yang baik-baik macam Oom Benedict Cumberbatch yang baru banget ngelamar cewek di usianya yang sebentar lagi memasuki kepala 4 *tapi teteup kece kok, Oom!*. Alhamdulillah, berkurang satu populasi berondong tua di dunia! Udah, buruan akad, Oom! #akurapopo #ikhlasbanget 😀

Nggak nyambung banget deh isi sama ending tulisan? Yoben! :p