2014 in review

masih sepi, tapi nggak papa. semangat! terima kasih semuaaa yg sudah pada main. Hiphiphurahuraaa! 😀

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Kereta bawah tanah New York City mengangkut 1.200 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 5.800 kali di 2014. Jika itu adalah kereta bawah tanah NYC, dibutuhkan sekitar 5 perjalanan untuk mengangkut orang sebanyak itu.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Iklan

Cogan

Kemarin nggak sengaja nonton acara tivi “Beriman” (Berita Islam Masa Kini) bareng kakak pertama. Iya, nggak sengaja. Pas kakak lagi chanel walking, pas berhenti di Trans. Pas ada Teuku Wisnu bawain acara itu. Wow, itu si Unu jenggotnya nggak kira-kira ya lebatnya? 😀

Ah, fokus fokus. Bukan itu inti tulisan kali ini. Melainkan kegantengannya yang mempesona. *sama ajah, hah!

Salah satu bahasan Beriman kemarin keren booo’! Tentang baca surat Yasin tiap malam Jum’at. Ini keren mengingat antara Yasinan sama kehidupan mayoritas Muslim Indonesia sudah kayak Danang sama Darto. Susah dipisah, yato?

Padahal sudah berbusa-busa gue ngasih tau si Kakak tentang derajat kesohihan mengkhususkan Yasinan tiap malam Jum’at, teteup aja nggak digubris. Ya gue dibilang baru ngaji kemarin sore, ya sok kepinteran, ya wahabi, dll. Tapiii… giliran kemarin Teuku Wisnu yang ngomong, langsung diiyain. Heuw! *kunyah remote tivi*

Kadang kepikiran hal-hal nggak penting, enak kali ya jadi orang ganteng/cantik? Perkataannya pasti ada aja yang bela walau kadang dipertanyakan kebenarannya. Apalagi kalo si empunya juga masuk dalam golongan brainy, makin diaamiinkan lah tiap perkataannya. Macam OSD, Dian Sastro, Enje.

Buat yang kurang ganteng/cantik, nggak usah bersedih hati apalagi bermuram durja. Teruslah berbuat baik walau kadang sering mengalami penolakan.

Orang cantik juga bukan untuk didewain pula dimusuhin. Rangkul mereka untuk kerja-kerja kebaikan. Insya Allah jadi magnet tersendiri yang bisa menarik animo masyarakat kini.

Tadinya mau nulis tentang teman-teman sekitar tapi takut dibilang dengki. Mending tentang diri sendiri! *berasa cantik, hah! :p

Hati yang Patah

Patah hati itu seperti spasi dalam kalimat. Karena nggak semua yang bersatu itu baik adanya~

Kamu, iya kamu. Kapan terakhir kali hatimu patah karena seseorang/sesuatu yang nggak mungkin terjamah? Hapah… kemarin?!! Ceritanya mau balapan sama anak SD jaman sekarang, yesss? Awas, jauh-jauh sama tiang sutet! :p

Hah, sudah umur segini masih ngomongin tentang patah hati. Sungguh terlalu! Yabetul, biar kata patah hati seringnya terjadi di dunia ABG en anak SD, banyak juga cerita patah hati pada mereka yang usianya lebih jauh di atas gue aka ABG tua. Uh, sayang sekali, kakaakkk…

Gue sih nggak mau menjudge cuma mau nyinyir, hehe. Beberapa waktu lalu di beranda FB liat artikel yang dishare seorang teman bertulis kurleb begini: Patah hati? Mendakilah!

Iseng sekaligus penasaran, gue baca. Hrrr… setuju juga. Bahwa alam mengajarkan tentang melepaskan en mengikhlaskan. Cuma jadi kepikiran, kalo patah hatinya di tanggal tua gimana tuh? Masa iya mau diganti sama mendaki pohon teh sambil teriak “pucuk pucuk pucuk”? *sumpah garink, hah!

Jadi menurut gue, nggak usah terlalu lebay lah menghadapi kondisi hati yang patah. Yang kita butuhkan cuma satu: beli lem korea! Eh salah, maksudnya sedikit merenung, bahwa apa yang terbaik menurut kita belum tentu baik bagi Dia. That’s it! En nggak bisa bohong, itu susah banget emang.

Tapi ini nggak berlaku kalo dari awal perkara hati kita nggak diserahkan ke pamiliknya (baca: Allah). Suka-suka diri sendiri mau dibawa berlabuh kemana, apalagi kalo sudah kepentok umur. Yang lewat di depan mata diembat juga walau penampakannya macam Jere*i Te*i. Ih kan serem!

Atau nggak, opsi lainnya mungkin ngeblog ajalah. Sudahlah gratis, merangsang otak juga buat berpikir (walau isinya cuma curhatan, ngerangkai kata juga perlu mikir kan?), sama siapa tau ada seseorang yang bisa bantu bangkit dari patah hati. Ya, siapa yang tau? :p

Goooblog-ers! *nah, kan, terbukti spasi begitu berarti. Hihi.

image

Rekayasa Mimpi

Ah, jaman sekarang bukan cuma cinta aja yang bisa direkayasa macam lagu dangdut Oma Camelia Malik, tapi ternyataaa mimpi pun bisa direkayasa! Percaya? Jangan!

Semalam dengan sangat menyesal gue nonton film jadul The Inception yang dibintangi aktor dengan derajat kebeningan masih di bawah Oom Benedict: Leonardo Dicaprio *sorry to say, hehe. Eh kenapa gue bilang menyesal? Karena niat awal nonton film ini adalah demi ngabisin file-file film yang belum ditonton di laptop en cari-cari inspirasi buat ngelanjutin semangat nulis yang mati di tengah jalan. Sesimpel itu niatnya, lah tapi kok sepanjang 2.5 jam gue dibuat mikir keras yang bikin laparrr??? Dan guepun jadi ternganga-nganga sendiri di malam hari. Tidaaakkk… itu ide buat film mungut di manaaah?! Ini penyesalan pertama!

Buat yang jauh lebih kudet dari gue, film ini tentang pencuri ide (Dicaprio) yang beraksinya lewat mimpi. Nah loh kok bisa? Ya bisa aja, namanya juga film. Suka-suka yang nulis cerita donk. Saking sudah ekspertnya si pencuri, dia ditantang sama mantan orang yang pernah dia curi dalam mimpi buat melakukan hal sebaliknya: menanam ide/persepsi melalui mimpi (incepsi) ke rival bisnisnya, dengan iming-iming bisa balik ke kampung halamannya dengan aman tanpa ancaman suatu apa (fyi: si pencuri ini pernah dituduh bunuh istrinya sendiri yang bunuh diri gara-gara cinta mati sama suaminya en membuat dia jadi buronan di negaranya sendiri).

Demi bisa ketemu lagi sama dua anaknya, kerja samapun disetujui. Tapi sayang, proses insepsi ini ternyata rumit banget hingga butuh proses mimpi dalam mimpi sebanyak 3 TINGKATAN!!! Jadi lo mesti ‘tidur’ en mimpi sambil di dalamnya menjalankan aksi lo. Terus setelah selesai di situ lo tidur en mimpi lagi buat jalanin aksi selanjutnya dengan orang yang sama en tempat berbeda. Terus setelah selesai di situ lo tidur en mimpi lagi buat ngelanjutin apa yang udah dimulai. Gile banget, kan? Once more, pliss tell me… itu ide mungut dari manaaah???!

Kebiasaan gue sebelum, sepanjang en sesudah nonton film tuh suka googling buat cari tau lebih jauh tentang cerita film. Sialnya, film ini sukses bikin gue penasaran hingga tingkat patung Liberty setelah selesai menontonnya, yang bikin gue akhirnya gagal lanjutin nulis malam itu. Nah, ini penyesalan kedua.

Sampai gue nemuin artikel yang menyatakan rekayasa mimpi macam film ini sangat mungkin terjadi di zaman sekarang en sudah ada penelitiannya di barat sana. Huwadezig! Dan… tau apa yang gue lakukan setelahnya? Sepagi sebelum tidur gue mencoba mau merekayasa mimpi supaya begini-begini. Such a fool? Iya banget. Hasilnya juga dudul. Alih-alih terekayasa mimpi gue, malah mimpi ketemu orang-orang gengges yang di alam nyata secara semena-mena menggengges kehidupan gue. Ah, mungkin gue terlalu tersepona dengan acting si isteri Dicaprio yang selalu menggengges kehidupan mimpi suaminya. Hah, dan ini dia penyeselan ketiga gue! :p

Senggaknya ada 3 pesan yang gue tangkap di film ini: Jangan sampai kita terjebak masa lalu (move on, dude!), kesolidan tim di atas segalanya, sama apapun kondisinya hidup kita berlomba sama waktu en nggak boleh diam di tempat.

Sekian.

Ucok

25 Desember. Nggak tau kenapa pas buka FB ngeliat satu tema sama yang ditulis penghuninya, jadi keingetan mantan tetangga dari sebelum sekolah sampe duduk di bangku SMP belasan tahun lalu.

Namanya Arif, biasa dipanggil Ucok oleh kami teman sepermainannya karena emang cuma keluarga dia yang orang Batak satu-satunya di Gang Jelawe tempat tinggal kami. Seluruh keluarganya memanggilnya Ucok kecuali mamaknya, ka Beti, yang setia dengan panggilan Arif *In my opinion, sih, dari tampang en logat mereka sekeluarga yang Batak abisss, emang si Arif ini lebih cocok dipanggil Ucok. Karena kalo Arif identiknya justru dengan suku Jawa yang doi nggak ada tampang sama sekali. Piss, Cok! 😀

Fyi juga, keluarganya Ucok ini satu-satunya penganut agama Kristiani di lingkungan tempat tinggal kami. Tapi biar begitu, kehidupan bertetangga kami rukun-rukun aja bahkan pake banget. Nggak kayak sekarang yang kita gampang banget pecah belah *dikira gelas?* cuma karena hal ini itu.

Seinget gue juga, keluarganya Ucok ini cukup rutin ngadain–apa ya namanya dalam Islam? Mungkin semacam tahlilan dengan dihadiri keluarga besarnya dari mana-mana. Padahal dulu daerah kami merupakan gang sempit yang rumahnya rapet-rapet. Tapi nggak peduli, itu kebebasan beragama keluarganya meskipun jadi yang minoritas. Dan kami para tetangga tetap menghormati. Oiya, waktu Opung aka neneknya Ucok meninggal, kami para tetangga juga ramai melayat ke rumahnya.

Yaelah… era-era 90an selain lagu en filmnya yang ngangenin, kerukunan antar umat beragamanya juga nggak ketinggalan ngangenin, ya?! Sampingkan perbedaan, utamakan kerukunan. Yosh!

Ilmu Mungkin

image

Kemarin nonton film temanya tentang ayah en anak, judulnya Miracle In Cell No. 7. Ada yang pernah nonton? Gue jamin yang sudah pasti pada nangis ya? 😀

Bukan mau ngereview film sih. Cuma mau ngereview tentang nama asli gue: Nurjanah, yang ternyata adalah pemberian bapake.

Setelah beberapa bulan ini bergulat sama nama salah satu surat di Qur’an yang mirip nama gue: An-Nur, tumbuh bermekaran berjuta-juta bunga syukur atas nama yang tertera di KTP gue.

Emang sih nggak ada satupun dalam Qur’an kata Nurjanah yang berarti cahaya surga. Paling banter ya “Nur”-nya aja yang juga jadi nama panggilan gue di keluarga besar.

Nggak ngerti dapat ilham dari mana si bapake memberikan nama ini ke anak terakhirnya. Mungkin dari pak Ustadz? Yang jelas sih pasti bukan dari hasil searching di Qur’an. Karena membacanya aja beliau kesulitan.

Tapi seperti judul tulisan ini: Ilmu Mungkin. Yah mungkin bapake berharap anaknya ini jadi anak santun seperti yang tergambar dari keseluruhan surat An-Nur. Walau beliau belum tentu tau juga apa yang terkandung dalam surat tersebut. Sekali lagi, namanya juga Ilmu Mungkin. Ya nggak?

Gue juga baru tau sih belakangan, setelah secara eling cabaca surat ini berbilang hari en bulan. Betapa santuuun banget ajaran-ajaran yang ada di dalamnya. Baik pelajaran buat laki-laki, perempuan, anak, juga buat seorang pengikut Rasulullah saw.

Lengkapnya, surat ini diawali dengan larangan perzinahan en menuduh orang lain berbuat zina kalo nggak punya bukti. Silakan langgar larangan ini kalo mau dapet jodoh yang pezina juga. Hehe. Di tema ini juga diceritain kisah ketika Aisyah ra dituduh berzina dengan seorang sahabat yang berita itu jadi bahan obrolan seseantero Madinah. Menurut kita ngegosipin orang itu kadang sepele ya? Padahal di sisi Allah itu persoalan yang amat besar. Heuw!

Kedua, nggak boleh bagi seorang muslim memasuki rumah orang tanpa ijin. Bahkan kalo orangnya nggak ijinin masuk ya kita wajib pulang dari rumah itu. Nggak boleh juga bagi seorang anak masuk ke kamar orang tuanya tanpa izin di 3 waktu, kecuali diawali dengan ketuk pintu.

Nggak ketinggalan juga bagian/ayat yang paling sering dijadiin dalik tentang aurat cewek. Lebih tepatnya sih perintah menutup aurat bukan cuma buat cewek, tapi juga buat cowok. Buat yang belum mampu nikah *ngerasa miskin atau jodohnya masih nyangkut di mana tau* wajib buat jaga kesucian diri kita salah satunya dengan jaga pandangan *iya gue tau, ini kadang susah apalagi kalo ketemu yang beningnya semena-mena macam Benedict Cumberbatch. Kedip aja susah! –”

Terakhir, buat kita yang ngaku mengimani Rasulullah, mesti tau juga adab meminta izin dalam organisasi/perkumpulan. Ini tamparan keras buat yang sering bolos ngaji tapi tanpa kabar tanpa berita. Atau nggak yang katanya izin tapi dalam bentuk kalimat ngabarin, “Ustadzah, izin nggak ngaji ya. Lagi di luar kota, nih.” Hehe.

Kalo dikaitin sama nama surat ini, sih, ada beberapa ayat yang emang ngebahas tentang perumpamaan nur/cahaya-Nya Allah yang diberikan kepada yang Dia kehendaki. Tau nggak gimana perumpamaan cahaya Allah? Bahasa yang dipakai tingkat tinggi, booo! Kayak yang sudah gue bahas di tulisan sebelumnya. Qur’an banyak memakai balaghoh/kalimat indah en nyastra salah satunya untuk perumpamaan cahaya Allah:

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS: An-Nur Ayat: 35)

Ngerti? Sama. Masih burem gue juga. Mungkin ustadz/ah yang baca tulisan ini bisa tolong bantu jelasin? 🙂

Menyambung nama yang disematkan bapake ke gue, semoga gue bisa jadi anak beliau yang jauh dari perzinahan, jauh dari suka menuduh en bergosip, jauh dari perilaku mengumbar aurat en melepaskan pandangan kemanapun gue suka, jauh dari kebanyakan izin dari pengajian, en semoga dapetin nur/cahaya Allah. Aamiin.

Btw, apa arti nama yang diberikan orang tua kalian? Pasti bagus-bagus ya arti en harapannya? Yuk dishare 🙂

Lagi-lagi Tentang Ibu

Hah, sebel sebel sebel *sambil mukul-mukul bahu tetangga di sebelah*… padahal niatnya hari ini en beberapa hari ke depan urung update blog karena satu dan lain hal, sebut aja UAS yang bikin was-was en proyek yang bikin mewek. Hiks. Tapiii… gara-gara blog walking ke rumah mayanya Mario, jadi gatel buat nulis! *tetberkatilah Anda (bukan) Om Mario teguh! 😀

Biar kata hari ini seluruh penduduk bumi merayakan Hari Ibu, jangan kira ya gue bakal meracau tentang mahluk bernama Ibu dengan berbagai alasan.
1. Ibu gue nggak main internet, percuma juga ngucapin di sini.
2. Kami bukan tipe anggota keluarga yang biasa mengucap kata-kata selamat di momen-momen penting kecuali lebaran.
3. Faktor U. Dimana ucapan selamat nggak lebih penting dari bakti en keikhlasan ngurus beliau tiap harinya. Takut gitu nggak sesuai antara ucapan selamat di dunia maya en di kehidupan nyata. Yang penting sekarang justru belajar kian hari kian sabar membersamainya. Yosh!

Btw ya, katanya nggak mau meracau tentang Ibu, tapi kenapa jadi ngomong panjang kali lebar kali tinggi tentang beliau gini? *telen clodi mamake*

Tulisan ini sebetulnya cuma mau berbagi sedikit tentang pengalaman perginya gue ke pasar Cisarua kemarin.

Jadi ceritanya gue nemenin adik kelas seksi konsumsi beli stok sayur mayur lauk en buah buat acara kami. Di pasar yang super duper becek disertai bau amis en bising antara penjual pembeli supir angkot yang lalu lalang nyari carteran, gue nyaris kehilangan uang yang walau cuma puluhan ribu tapi begitu berarti buat orang yang sudah resign macam gue *irit-irit kakaakkk! :p

Waktu itu baru aja naik angkot carteran dengan berjinjing-jinjing kantong plastik super besar *maafkan saya yang nggak kuasa buat diet kantong plastik di waktu itu, wahai bumi*. Gue baru tersadar duit yang gue pegang di tangan bersama hape, raib! Mau dicari juga nggak mungkin, cuma bisa ketawa sedikit atas keteledoran diri sambil ngikhlasin. Yaudin, kalo masih rejeki entar juga ada balik. Walau kenyataannya nggak mungkin karena angkot sudah ninggalin pasar. En pasar juga penuh banget kondisinya.

Ndilalaaah, di penginapan, salah satu dari seksi konsumsi yang ikut ke pasar ngabarin kalau uang gue nggak sengaja kecampur sama uang buat belanja di dia. Yeeeaaay, alhamdulillah! *sebar dinar jika mampu* 😀

Sering juga gue gitu. Beberapa kali kehilangan uang hape kartu atm dompet, terus gue relain. Nggak mau terlalu ambil pusing, gitu. Lah… malah balik nyamperin itu barang!

Jadi makin percaya sama rumus ini: letakkan dunia di tangan, jangan di hati! 🙂

Tapi untuk saat ini, salah satu hal yang mungkin gue nggak bisa rela kehilangannya adalah: IBU. Udahlah nggak punya bapak, suami *numpang curcol*, nggak punya ibu pulak! Bakal kayak apaaah nasib gue?! Nggak ada yang doain en doanya manjur banget lagi dah. Hiks.  Cepet sembuh donk, Mamakeee!

Udah ah. Tuh kan malah ujung-ujungnya ngomongin tentang Ibu lagi. Mainstream amat gue! :p

Ya Lathif

Pasti pernah ya dalam hidup kita, berdoa sama Allah dengan memelas-melas sambil rutinin ibadah wajib en sunnah sebagai penukar dengan pengabulan hajat yang kita pengenin banget itu. Eh… nahasnya nggak kunjung dikabulin! Pernah ya?

Terus, apa yang lo lakukan atas ketetapan-Nya yang menurut lo nggak adil tersebut? Jawaban anak soleh pasti: yah, mungkin ini yang terbaik dari-Nya. Insya Allah akan dikabulin di waktu yang pas mantab.

Berbanding terbalik sama anak yang nggak soleh, kurang soleh, en yang galau (kadang soleh kadang nggak): Tuhan, kenapa doa hamba tak kunjung Kau kabulkan? Apa salahku, apa salah ibuku, hatiku dirundung pilu! *doa apa nyanyi*

Gue jujur kadang masuk dalam kategori galau yang kadang soleh kadang nggak. Kalo lagi soleh ya bisa nerima, tapi kalo lagi nggak soleh ya mencak-mencak sendiri jadinya. Hah!

Tapi alhamdulillah kadang sih dikasih petunjuk gitu setelahnya. Ini loh alasan-Ku kenapa nggak/belom terkabul doa-doamu. Aku Maha Tau, kamu nggak!

Kayak belom lama dalam waktu yang bersamaan, orang-orang terdekat dirundung satu masalah, yang kalo pas lagi waras gue suka kepikiran, lah ini kok kayak nyambung sama apa yang gue pinta, sih? Alhamdulillah, nggak kejadian sama gue!

Bukan gue bahagia dengan masalah yang menimpa orang lain, lho. Cuma sebagai manusia kan kita wajib memetik pelajaran dari kejadian di sekitar, ya? Biar jangan sampe jatoh di lobang yang sama, gituh.

Menurut gue, itu cara Allah paling keren dalam mentarbiyah hamba-Nya. Sebetulnya Dia perhatiaaan banget sama doa-doa kita, en kalo menurut-Nya saat pengabulan yang tepat nggak sekarang, Dia tunjukin kenapa-kenapanya pake cara yang ajib. Tapi syaratnya: dimaksimalin fungsi akal yang sudah dikasih, sama disediain hati yang lapang buat terima kebenaran. Maka betullah asma al-Lathif yang disematkan pada-Nya.

Oh, andai gue bukan anak kadang soleh, pasti lebih sering dikasih petunjuk kenapa-kenapanya dari Zat yang Maha Lembut. Yosh, mangattt!

*di atas kerasnya bangku tronton, en bisingnya sirine*

Met Hari Bahasa Arab Sedunia! :)

image

يا صديقي ويا صديقتي… هل تعلمون ان هذا اليوم هو يوم العالي للغة العربية؟

Manteman… pada tau nggak kalo hari ini, tiap tanggal 18 Desember, PBB menetapkan sebagai Hari Bahasa Arab Sedunia?

Jujur ya, gue juga baru tau. Padahal sudah sejak 1973 ditetapkannya. Heuw!

Nah, sebagai bukti kecintaan terhadap bahasa Arab, mau sedikit posting pake bahasa Arab, ya, khusus hari ini? Tapi ini juga cuma nyalin sih pelajaran di kelas tadi tentang pelengkap hadits nomor 12 di Hadits Arba’in.
ها هو ذا!

في صحيح ابن حبان عن ابي ذر، قال النبي:
“كان في صحف ابراهيم عليه السلام: علي العاقل ما لم يكن مغلوباعلي عقله ان يكون له ساعات:
۱. ساعةيناجي فيها ربه
۲. وساعة يحاسب فيها نفسه
۳. وساعة يتفكر فيها صنع الله
۴وساعة يخلو فيها لحاجته

وعلي عاقل ان لا يكون ظاعنا الا لثلاث:
۱. تزود المعاد
۲. او حرفة المعاش
۳. او لذة في غير محرم (…الخ)

Iya, gue tau banget kalo lo jadi bengong-bengong sendiri liat tulisan Arab gundul di atas, kecuali yang nggak bengong-bengong. Gue juga, kok, kalo nggak nyontek buku nggak bakal bisa baca. Wakakak! :p

Intinya nih ya, di kitab Nabi Ibrahim tertulis begini:

Orang berakal yang nggak terkuasai/tertawan oleh nafsunya, dia menjadikan hidupnya jadi beberapa waktu:
1. Waktu untuk bermunajat kepada Tuhan-nya
2. Waktu untuk bermuhasabah/menghitung dirinya
3. Waktu untuk bertafakur atas ciptaan Tuhan-nya
4. Waktu untuk memenuhi hajat sehari-harinya

Pula, seorang yang berakal nggak bekerja keras kecuali untuk 3 hal:
1. Memperbanyak bekal untuk hari kemudian
2. Meningkatkan potensi diri supaya bisa hidup lebih baik (ex: ilmu)
3. Meraih kenikmatan yang nggak diharamkan (ex: kekayaan)

See… Islam itu agama yang seimbang, yak? RAIH dunia, KEJAR akhirat. Oke! 🙂

انا افكر هذا يكفي…
في الا خر: حي حي نحن ندرس لغة العربية! لانها لغة القران و لغة الاهل الجنة! 🙂

Bedak Celemotan

Seorang teman pernah nulis status FB begini beberapa bulan lalu: “kenapa sih buibu pada semena-mena kalo bedakin muka anaknya tiap habis mandi? Kayak kue putri salju, celemotan kemana-mana!” Hah, iya juga. Kenapa ya?

Gue pikir selama ini jawabannya biar anaknya keliatan lucu bin ngegemesin, gitu. Tapi baru kemarin terkuak alasan sebenarnya kenapa buibu setega itu, dari mulut kakak gue yang sudah beranak lima en bercucu dua! Yaelah, kenapa nggak dari dulu ya gue tanya ke doi?

Kalian pernah dengar yang namanya “penyakit ‘ain”? Itu lho, penyakit ajaib yang musababnya cuma karena pandangan seseorang *bisa karena takjub atau juga karena dengki bin iri hati* yang biasa menjangkiti para bocah. Nah, ternyata tujuan dari pencelemotan bedak di muka anak kecil setelah mandi ya karena itu. Menghindari penyakit ‘ain!

Kata kakak gue, sih, buat menutupi kecantikan en kegantengan si anak dari tatapan orang-orang yang berpenyakit hatinya. Bahkan kata beliau yang ngaji sama habib-habib, di Arab pun nggak jauh beda. Cara si ibu supaya anaknya nggak terkena penyakit ‘ain dengan mencorengkan celak ke beberapa bagian muka si anak. Macam TNI AD yang lagi melakukan penyamaran di antara pohon-pohon gitu.

Sekarang di jaman bebas masukin aneka foto ke sosial media, kadang kita terutama para ibu muda suka lupa diri mengupload foto perkembangan bayinya. Dari yang baru lahir ke dunia, sampai yang sedang lutu-lutuna. Diupload! Sudahlah gitu captionnya yahud punya: alhamdulillah usia segini anakku sudah bisa blablabla, dllsb.

Sebagai teman yang baik, pernah sekali gue ngebilangin salah seorang di antara mereka perihal penyakit ‘ain en upload foto anak. Terus kapok nggak mau bilangin lagi takut dibilang dengki, “bilang aja lu ngiri belom punya baby!” Hah! :p

Nggak main-main, penyakit yang sudah ada dari jaman Rasulullah ini cara ngobatinnya terbilang unik en susah. Yakni dimandiin pake air bekas mandi si pelaku. Masalahnya adalah, kalo foto yang dipejeng di FB, kan, nggak ketauan siapa yang memberi penyakit ‘ain ini. Secara teman si ibu sudah ratusan bahkan ribuan. Masa iya mau dicek satu-satu? Susah juga!

Kalo sudah begini, jalan satu-satunya ya bentengin anak dengan doa-doa. En minimalisir deh pejeng foto-foto. Tapi gue suka pejeng foto-foto keponakan juga sih di IG @enjeklopedia *follow yuk!”. Eh tapi itu kan bukan foto anak gue, jadi ya biarin aja. Hehe, nggak waras! Tante yang keji! :p

***

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَارَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَق

ٌّ“Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar). (HR Ahmad).