Pemenang Vote Cover Buku IGen

Woohooo… aps kabar Senin? Moga slogan I Like Monday masih berlaku, ya? ๐Ÿ™‚

Baidewei, eniwei, buswei… seperti janji gue semingguan yang lalu terkait bagi-bagi kartu pos untuk yang sudah bantu vote cover buku calon buku perdana teman kalian iniย  yang berjudul IGen (Gaul Bener Tanpa Minder), alhamdulillah sudah diputuskan lho covernyaย  sama penerbit Qultummedia. Daaan cover terpilih adalaaah…

COVER NOMOR 3! 💢🌟💦

Nah, adapun yang berhak mendapatkan kartu pos dari gue (yang sudah pilih nomor 3, komen di blog ini pun nggak lebih dari Senin 23 Maret 2015 jam 9 pagi) nama-namany sebagai berikut…

1. Maisyarahpradhitasari
2. Dhicovelian
3. Risti

Yeaaay, Selamaaat! 👏👏👏

Tolong banget tulis alamat rumah /kostan kalian di kolom komen, yaaa… Atau kalau mau jaga privasi, bisa kirim via DM di:

Twitter: @enjeklopedia
FB: Nurjanah Enje

Ini dia 3 kartu pos yang menunggu alamat pengirimnya.

image

Ditunggu yaaa sampai seminggu dari sekarang (Senin 6 April 2015). Nggak mau lama-lama punya utang, Cyynnn…ย  😘

Si Ibu

Duh… pagi-pagi dibuat haru biru setelah dapat kabar dari grup WA, kalau anaknya seorang teman baru aja menyelesaikan hapalan Qur’anย  30 juz-nya. Wow, eh salah, Masya Allah!

Menurut gue–tanpa mengurangi kekerenan si anak yang umurnya belum sampai 10 tahun, si ibunya lebih keren lagi daripada anaknya.

Jadi sepernah gue interaksi sama beliau, satu kata deh: perempuan bertangan besi! *halah. Beneran, saking bertangan besinya, first impression gue waktu dia datang ke kantor yang dulu adalah: nih ibu ngeselin amat!

Tapi setelah interaksi lebih dalam, hancur berkeping-keping sudah kesan itu. Sebaliknya doi ini tipe ibu yang perhatianย  banget di balik ketegasan en kemachoannya (iyaย  macho. Soalnya dia kalau ngomong ke gue cuek aja pakai elu-gue. Kata-kata yang paling ngangeninnya adalah: yaelah lu, Nje! 😜). Kadang gue suka ngerasa dianak emasin dibanding teman-teman yang lain sama ibu mantan manajer SDM itu 😂

Oke lanjut. Jadi si ibu ini termasuk dalam jama’ah ibu bekerja. Waktu lagi hamil anak ketiga, doi diamanahin sebagai anggota dprd Depok dengan segala kesederhanaan en kebersahajaan hidupnya (kemana-mana masih sering ngangkot).

Pun setelah selesai amanahnya di dprd, si ibu melanjutkan karirnya di kantor majalah XYZ, en sekarang sibuk banget ngurusin butik hijaber ternama. Belom lagi Sabtu-Ahad yang dihabiskan buat dakwah, dakwah, dakwah. Pokoknya sibuk banget!

Nah, buat yang suka nyinyirin ibu bekerja, mungkin bisa ambil pelajaran dari si ibu ini. Di sela-sela kesibukannya, doi masih rajin lho anterin ibunya yang sudah tua buat check up ke rumah sakit. Terkait kesuksesannya punya anak penghapal Qur’an, salah satunya mungkin karena ketelatenan doi juga dalam men-tasmi’ (menyimak) hapalan anaknya kalau si anak lagi pulang dari pesantren.

Makin jadi deh kengirian gue sama si ibu. Gakpapa kan ya ngiri macam ini? ๐Ÿ™‚

image

3tahun yll baru hapal 4juz! 👏

Samita

image

Aduh biyuuung, buku sebagus ini kenapa baru gue baca 7 tahun setelah penerbitannya sih?!?!?!

Ini cerita bukan sembarang cerita. Kalau masih ada aja orang yang meremehkan bacaan fiksi, coba deh cabaca bukunya mas Tasaro GK. Biar membahas tentang cinta diantara dua insan, penuturannya apik tenaaan!

Salah satu contohnya novel berjudul  Samita ini. Intinya sih tentang cinta, tapi pengemasannya oke punya. Ya bahas dunia persilatan juga, ya bahas sejarah Indonesia juga, dan yang paling penting bahas nilai -nilai keislaman!

Iya, nilai bukan simbol. Jadi salah satu kekerenan si penulis menurut gue ialah mampu  mengkhotbahkan apa itu Islam tanpa sedikitpun terkesan menggurui. Pun mau ngasih tau tentang ayat maupun hadits yang berkaitan dengan cerita, selalu nggak pernah bulat -bulat dimasukkan, melainkan pakai bahasa universal: cerita.

Dari buku ini juga, saking butanya sama sejarah gue jadi sulit bedain mana yang fiksi mana yang asli, yang dari situ jadi gatel buat googling tentang sejarah, sekaligus merutuki diri: dulu ngapain  aja lo pas pelajaran sejarah? TIDUR! BOSEN! NGANTUK! 😝

###

Novel Samita ini tentang murid perempuan laksamana Cheng Ho, bahariawan muslim Tiongkok yang hidup di masa Dinasti Ming. Samita, sebagaimana kebanyakan remaja pada umumnya, menaruh hati pada Sad Respatih, orang nomor satu di pertahanan Majapahit. Sayang, Respatih sudah akan menikah dengan Aninditha, gadis kepuntren yang secara kasat mata anggun, tapi berhati iblis.

Setelah kapal -kapal yang dipimpin oleh Cheng Ho sudah sampai di Surabaya menuju Palembang demi meredam perompak yang meresahkan, Samita izin balik ke Majapahit untuk mengungkap kejahatan Anindhita. Dari situ lah perjalanan dimulai.

Jatuh dan tinggal di dalam jurang selama dua tahun, pertemuan dengan anak Raja Blambangan yang melakukan pemberontakan, sampai akhirnya sukses mengungkap Anindhita yang sebenarnya di hadapan Respatih.

Nggak sampai di situ, nyatanya butuh dua tahun lagi supaya Samita dan Respatih bersatu dalam ikatan pernikahan. Padahal umur pernikahan mereka cuma seumur jagung, Respatih mati dibunuh oleh orang-orang suruhan Raja Majapahit.

Terkait bersatunya mereka berdua ada quote bagus terutama untuk kalian para jomblo: pernikahan ini begitu ia inginkan sejak lama. Hanya, takdir seperti sengaja mematangkan jiwanya terlebih dahulu dalam perjalanan waktu yang demikian lama agar tak ada penyesalan.

Nah,  gimana, Mblo, cukup menghibur yah???  ๐Ÿ˜‰

Bantuin Vote Cover Buku Gue, Yayayaaa?

image

Bantuin vote, yow! ๐Ÿ™‚

Halohaaa… Salamu’alaikum, WP Maniaaa, met ngabisin weekend! ๐Ÿ˜€

Btw, Maret ini gue bak kesamber geledek, deh. Pasalnya belom lama dihubungin sama mbak editor dari penerbit Qultummedia, terus dikasih tau kalau dalam waktu dekat naskah gue bakal dibukuin. Ya Allah, ini beneran, kan? Yaiyalaaah!

Baideweh, mau banget dooonk minta bantuan teman-teman akoh yang baik hati rajin sedekah juga tilawah buat vote cover calon buku perdana gue. Fyi, buku ini segmennya buat anak remaja (SMP-SMA).

Di antara tiga cover di bawah, yang paling keceh menurut teman-teman yang manakah? Kalo bisa kasih alasannya juga yaaak. Hehe.

Buat yang pilihannya ternyata kepilih, insya Allah gue kirimin kartu pos. Yayaya, puwiiisss tolongin, ya? Ditunggu sampai besok (Senin) jam 9. Okey, ditunggu partisipasinya. Trims… ๐Ÿ˜€

Kalau Sesama Orang Gila Saling Dipertemukan

Watta crazy day! Alhamdulillah, kesampaian juga nge-dufan hari ini. Lima tahunan sudah nggak ke sana, di situ saya merasa… GILA!

Gila kayak apa? Begini cetitanya…

Jadi setelah banyak wahana di sana gue cicipin walau banyaknya menclok-menclok sendirian–teman seperjalanan yang dua nyalinya kurang wah–nyaris aja gue putusin untuk ajak yang lain balik dengan alasan sudah bosan. Alhamdulillah, pas naik ke salah satu wahana, buka obrolan sama seseorang yang nyalinya minta disembah #guyon, sirns sudah kebosanan gue.

Maksud gue, doi ini keren abisss. Masa ya, sudahlah masih mahasiswi, ke Dufan cuma seorang diri, tujuan ke sana juga cuma demi bolak-balik naik wahana yang memicu adrenalin doank! Dari situ gue merasa klik, jadilah gara-gara cewek bernama Mera itu selama di Dufan gue khilap sekhilap khilapnya.

– Naik Tornado 3x
– Naik Histeria 2x
– Naik Kora-kora 2x
– Naik Kicir-kicir 2x
– Naik Halilintar 1x (nyaris 2x andai gak ada insiden mati listrik yang membuat kami sepakat untuk ngebatalin padahal sudah tinggal sekali lagi antri, hiks)

Betul ya, kita bakal cepat dekat sama orang yang punya kesamaan/menyukai hal sama. Macam gue sama Mera, walau baru ketemu, tapi cepat banget bisa akrab bahkan sampai nggak sengaja pulang bareng segala. Dan satu yang membuat kami sama adalah sama-sama paling suka naik Tornado! Ngantrinya nggak pakai lama (weekday booo’!), durasi wahananya lumayan lama. Puas bet pokoknya!

Oke, Mera, moga lain kali kita dipertemukan lagi, ya?! ๐Ÿ™‚

image

image

image

Ontang anting bikin pusing

image

Wahana paling sedap!

Pokoe Joget, eh, Nerbitin Buku?

Pernah nggak, saat tujuan tinggal beberapa langkah, lo malah dilemahkan sama pergumulan dalam diri sendiri?

“Buku lo bakal bawa manfaat nggak buat pembaca? Buku lo bakal jadi amal jariah yang pahalanya ngalir terus, atau sebaliknya dosanya yang ngalir terus?”

Tiba-tiba, pertanyaan itu muncul semena-mena saat sisa langkah sudah nyaris mendekati garis finish-nya. Aduh biyuuung, padahal masih ngotot buat ngebuin isi blog ini! O.o

Kayaknya sih karena faktor umur deh. Sekarang kalo nulis sudah nggak bisa se-haha hihi beberapa tahun belakangan. Pun cuma sekadar pakai “wkwkwkkk”, malu. Palingan diubah aja jadi “parah parah cuwbeth” kalo di Instagram *sami mawon! :p

Intinya… harusnya menulis bukan lagi jadi ajang pembuktian ke sesama, bahwa gue sukses nerbitin buku sendiri, nggak keroyokan lagi. Lebih dari itu, menulis adalah tanggung jawab ke publik karena telah menyediakan bacaan yang bakal mencetak msyarakat ke depannya. Apalagi kalau bawa-bawa perkara akhirat, menulis adalah tanggung jawab di hadapan Allah atas tiap kata yang dirangkai.

Mungkin masih dimaklumin kalau nulisnya di blog. Nulis gaya apapun juga, teteup aja itu ibarat buku diary tiap orang. Yang baca nggak perlu ngerogoh kantong biar bisa baca. Nah kalo nulis di buku yang diterbitin penerbit baik indie maupun major? Ah, ngeri ngeri ngeri!

Kunyit Asem

Jadi ceritanya, kemarin sore Mamake mau minum jamu mbakembak yang biasa lewat depan rumah. Sayang, nggak kesampaian karena si Mbak keburu pergi.

Tadi pagi-pagi banget dia minta beliin lagi di mbak jamu yang biasa lewat pagi. Triiing… tiba-tiba gue mendadak pintar dengan bertekad buat kunyit asam home made. Kunyitnya? Alhamdulillah keingetan pernah nanam di pekarangan mini depan rumah. Langsung aja gue congkel-congkel kunyit yang ditanamnya cuma pakai kaleng astor!

Buat yang mau coba buat sendiri kunyit asam yang insya Allah gulanya lebih terjamin *nggak pakai gula biang yang banyak dipakai tukang jamu, ini sedikit resepnya. Beneran gampang banget juga buatnya! ๐Ÿ˜€

Bahan:
Kunyit
Gula merah
Asam Jawa
Garam sedikit
Air

Cara membuat:
1. Kupas kemudian parut kunyit. Jangan lupa pakai sarung tangan kalau tangannya nggak mau berubah jadi kuning.
2. Rebus air di panci (air disesuaikan dengan jumlah kunyit. Kira-kira aja jangan sampai keenceran)
3. Masukkan kunyit yang sudah diparut, gula merah, asem jawa (ini juga disesuaikan, makanya sedikit-sedikit dulu masukinnya)
4. Kalau sudah mendidih dan harum, tambah sedikit garam biar gurih (seujung sendok aja alias sedikit)
5. Matikan kompor, salin air rebusan kunyit asam ke dalam gelas. Jangan lupa disaring pakai biar kesaring ampasnya.
6. Kunyit asam siap disantap dalam keadaan hangat… ๐Ÿ™‚

Gampang, kan??? Ayooo coba buat! Jadinya kurleb kayak begini:

image

Abaikan tangan yang menguning! O.o

Beras, oh, Beras!

Dari jaman kuliah, kalo ngomongin tentang beras, ada dua orang yang selalunya sukses bikin gue senyum-senyum sendiri pas mengingat kelakuan keduanya terhadap beras.

Yang pertama mantan teman satu kost-an. Dia ini menurut gue unik, karena sukanya makan beras pera macam di warung makan daerah X yang masyhur itu–sebut aja warteg. Sebaliknya, dia paling nggak bisa makan kalau nasinya itu dari beras pulen, yang konon bisa merusak selera makannya. Paling banter dimakan lauknya aja tanpa nasi. Makanya, dia kurang suka makan di rumah makan dari Sumatera yang nggak kalah masyhur–sebut aja rumah makan sederhana.

Yang kedua, nggak bukan adalah bapak gue sendiri. Doi ini nggak kalah unik. Pokoknya perihal beli membeli beras, harus diserahkan ke dia. Belinya mesti di warung Bang Nur–teman sepermainannya, mesti yang paling pulen. Fyi: padahal dulu tiap hari masak sehari bisa 1 liter, untuk makan kami bertiga plus ayam-ayamnya yang dikasih makan sehari 2 kali. Beruntunglah ayam kampung yang dipelihara dia.

Nggak sampai di situ aja. Berhubung giginya sudah banyak yang tanggal, perihal masak memasak nasi juga mesti diserahin ke dia. Mau gue masak lauk ataupun nggak, tiap hari dia yang masak nasi. Katanya, kalau gue yang masak masih kekerasan (kurang air). Jadilah dia susah makannya.

Nah, karena kebiasaan Babak yang doyannya makan beras pulen, gue pun jadi kebawa sampai sekarang. Paling nggak bisa makan beras yang nggak bisa dimakan pakai tangan aka ngempyar nggak mau nyatu aka jatoh-jatoh terus.

Kalau ada dua jenis beras dengan harga berbeda di warung, pun gue selalu beli yang lebih tinggi harganya. Tapi kalau ada tiga jenis sih belinya yang pertengahan. Hehe.

Masalahnya adalah… sekarang HARGA BERAS TERUS NAIK-NAIK KE PUNCAK GUNUNG! Warung-warung di kampung yang biasanya nggak pernah nyediain beras dengan harga di atas 10ribu karena pasti nggak laku (soalnya di bawah itu aja masih lumayan pulen), kini cuma menyediakan satu jenis beras yang harganya sudah 10 ribu. Tadi pagi bahkan cuma ada yang Rp 10.300. Hiks.

Padahal beberapa bulan lalu masih tersedia beras seharga 7ribuan. Sebulan lalu sudah nggak ada, diganti dengan yang paling murah 8ribuan. Sekarang… ya salam!

Mau nyalahin yang mulia bapak presiden, takut dibully. Yaudah endingnya gini aja:

Kalau nggak ingat emak gue yang lidahnya Indonesia banget–makan wajib pakai nasi, rasanya sudah mau beralih ke kentang aja.

Eh, apa kentang juga latah ikut-ikutan naik, ya? O.o

Di Situ Kadang Saya Merasa Bingung

Iya, betul. Soal selera novel en bacaan, di situ kadang gue merasa bingung. Gimana enggak, saat banyak dari penduduk Indonesia mengidolakan novel-novel Mas TL, gue masih juga kekeuh cuma mengidolakan mas TGK, yang bawaannya mau punya semua karya dia. Yaelah!

Kayak yang terjadi di IBF tadi. Sebetulnya agak males datang ke sana kalau nggak ada acara bedah buku @muslimah_talk. Akhirnya dipaksain datang dengan tekad dari rumah nggak usah keliling-keliling biar nggak ngiler *ceritanya lagi ngirit-ngirit.

Sayang, rencana tinggal rencana alias gagal total! Berhubung dapat amanah dari teman-teman lingkaran buat beliin buku ‘Al Wafa’, mau nggak mau keliling dooonk!

Dari situ asal muasal kegagalan rencana yang sudah dibulatkan masak-masak. Berhubung buku ini agak susah nyarinya, dapatnya juga di stand penerbit buku ini yang hadap-hadapan sama penerbit Mizan, di mana banyak buku diobral di situ, ya mau nggak mau nyangkut dulu.

Terus kegirangan sendiri pas nemu satu judul buku yang sudah lama diincar “SAMITA”–bahkan sampai pesan ke teman yang tinggal di Bandung–dengan harga murah meriah. Sama buku “Muhammad” jilid dua yang nggak kalah murah. Nggak pakai mikir dua kali, langsung ke kasur, eh, kasir buat bayar. Walau ada sedikit perdebatan dalam hati:

Ya Allah, padahal Muhammad kan sudah baca.
Tapi kan minjem, belom punya!
Ya Allah, kan lagi ngirit.
Jangan pelit buat beli buku!
Ya Allah, yaudah deh beli…

Sekalian aja beli majalah Tarbawi edisi terakhir. Nggak apa buat ngobatin kerinduan sama majalah keren yang satu itu. Ikhlas dah, nggak mikir lagi. Beli! ๐Ÿ˜›

image

Di situ juga saya merasa… Bahagia! ๐Ÿ˜€

Tiap Kartu Pos Punya Cerita

Setelah mengenal en nyebur langsung di dunia post crossing, gue selalu girang kalau ada suara tukang pos berteriak di depan rumah, “pooos!”. Rasanya mau ngibrit sambil bertanya-tanya dalam hati, kali ini dapat kartu pos dari siapa lagi ya? Atau kalau ternyata nggak ada buat gue, gatel banget nanya, “Pak, nggak ada kartu pos buat saya?” Haha.

Ini mengingatkan gue akan masa kecil, waktu kakak dibawa suaminya ke Ambon, telpon apalagi henpon belomย ada yang punya di keluarga kami. Jadilah, komunikasi cuma bisa dilakukan via pos, biasa diantar sama tukang pos yang gayanya nyentrik abis: motor en helm serba oren ngejreng disertai lantunan tembang Jawa yang suaranya sudah bisa didengar bahkan ketika dia masih di depan gang, balapan sama suara motor RX King-nya yang kayak kaleng rombeng.

Mongomong tentang dunia surat menyurat wabil khusush dunia kartu pos aka post crossing, jujur gue baru mengenal sekarang-sekarang ini aja. Alhamdulillah, sejak beberapa bulan sudah dapat 6 kartu pos dalam en luar negeri, dari pengirimnya yang sudah kenal maupun yang belum.

Asik juga ternyata dunia post crossing ini, ya? Apalagi tiap kartu pos yang gue terima, punya ceritanya masing-masing. Let’s cekidot!

– Ini kartu pos pertama, gue dapat dari PNS Dept. Kes yang notabene teman kampus dulu. Dia ini yang ngenalin gue ke dunia post crossing sampai secara nggak sengaja gue gabung di web para pecinta post crossing di seluruh dunia. Terima kasih, D! ๐Ÿ™‚

image

Waktu itu dia kirim pas momennya lebaran idul fitri. Tapi sampainya ada kali sebulan setelahnya. Padahal kata si pengirim dikirimnya mah beberapa hari sebelum lebaran.

– Yang kedua, dapat dari teman kampus juga yang sekarang tinggal sementara di Gresik. Ini pun berkat D yang sukses mentriger kami teman-temannya untuk saling kirim kartu pos. Usut punya usut, si D ini kirim kartu pos ke beberapa orang. Jadi deh, kami gantian berbalas kartu pos.

image

Hehe, padahal mah di dunia maya rajin komen-komenan. Tapi teteup aja rasanya beda, komunikasi via kartu pos. Mulai dari cari-cari kartu pos unyu di online shop, tanya-tanya alamat, sampai ke kantor pos terdekat terus orangnya kasih kabar kalau kartu posnya sudah sampai.

– Yang ketiga ini dari teman blogger. Jadi pasca gue pamer beberapa kartu pos di IG, doi ngajak tukeran kartu pos. Gue iyakan, nggak lama kami sudah saling nerima kartu pos.

image

Sesuai dengan foto di kartu pos-nya, isi pesannya pun nggak jauh tentang gunung. Yang diakhiri dengan ngajak gue naik gunung bareng. Duh, maap, kau teman ke berapa gitu yang ngajakin, terus gue tolak karena satu dan lain hal. Heheee.

Yang dari dalam negeri sudah. Sekarang yang dari luar negeri. Diawali dengan secara nggak sengaja nemu web postcrossing.com. Terus tertarik, terus jajal kirim sekaligus dua ke Jerman en Rusia. Alhamdulillah, beberapa minggu setelahnya langsung terima dua kartu pos dari Jerman en Oklahoma Amerika.

image

Ini yang dari Jerman. Dari dia gue belajar, daripada beli, mending nyetak sendiri kartu pos kita. Selain buat ngasah keterampilan fotografi, juga harganya yang pasti lebih murah meriah. Heheeee.

image

Nah ini yang paling bikin gue ngerasa wah! Dari dia gue jadi tau, ternyata Route 66 bukan cuma sekadar judul lagu Rolling Stone yang dari kecil gue sudah dicekokin sama kakak-kakak yang cowok. Ternyata ada nama jalannya en terkenal pula. Pokoknya gue mau ke sana gimanapun caranya satu saat nanti. Terus pamer ke kakak. Yeah!

Sama satu lagi kesimpulan gue. Dari dua orang ini kayaknya emang gitu ya orang luar. Nggak banyak omong sama yang baru dikenal. Padahal di dua kartu pos yang gue kirim, susah payah gue berkoar-koar tentang Indonesia en gambar di sisi muka kartu pos. Haha.

Oiya, kartu pos yang gue kirim juga sudah terkirim keduanya ke orang yang dimaksud. 15hari ke Jerman, yang ternyata penerimanya adalah wanita berumur 60tahun tanpa suami yang sudah punya anak 2. Bahkan nenek-nenek aja semangat post crossing! ๐Ÿ˜€ Yang ke Rusia juga sudah sampai 45 hari sejak gue kirim, yang ternyata penerimanya adalah cewek lebih muda dari gue, nubie juga di dunia post crossing. Katanya seneng banget dapat kartu pos pertamanya dari Indonesia, terus nanya-nanya alamat lengkap en bilang mau kirim balik. Tapi sampai sekarang pun belum gue terima. Halah, nyangkut di mana itu?! :p

– Terakhir dari teman yang lagi kuliah di Belanda. Waktu itu iseng komen di postingan blog-nya yang lagi bahas tentang kartu pos. Lah nggak lama diminta alamat lengkap.

image

Ini aneh. Kartu pos terlama nyampenya dari tanggal tulis yang tertera. Dari pertengahan Desember sampai akhir Februari. Nyangkut ke negara mana dulu itu ya? Heuw.

Yah gitu deh pengalaman gue berkirim kartu pos. Seru, bikin deg-degan, bahagia kalau sudah keterima!

Ada yang lebih punya banyak pengalaman kirim-kirim kartu pos? Ayooo sharing! ๐Ÿ˜€