Tentang Anak

Sist & Bro, akhi & ukhti, manteman… kemarin gue nggak sengaja ikut kajian parenting nabawi, lho! Nggak minat, awalnya. Tapi begitu 5-10 menit dengerin sambil lalu… ya Allah, ilmunya bagus banget! Sayang kalau nggal dishare. Gue share boleh yayayaaa??? Iya aja dah! 😁

Terutama banget pas ustadznya (Asep Sobari) bilang, bahwa konsep nabawi itu nggak melulu menafikan apa yang datang dari luar Islam. Asalkan itu baik, ya nggak masalah kita terapkan. Yang baik ambil, yang nggak baik buang. Ah, gue suka orang yang open mind kayak gini!!!

Oke, lanjut ke materi kajian. Sehebat apapun kita manusia, saat ajal menjemput yang kita bawa kan cuma 3, ya? Sedekah jariyah selama di dunia kemarin, ilmu yang bermanfaat yang kita ajarin ke orang lain, sama doa anak yang soleh. Sepokat?

Di antara tiga di atas sedekah jariyah peluangnya paling gede dilakukan oleh mereka yang kaya raya. Ilmu yang manfaat peluang paling gede dilakukan oleh mereka para guru/ustadz/dosen. Nah, kalo kita bukan bagian dari orkay/pengajar, apa yang bisa kita bawa? Baiknya Allah, kalau kita bukan termasuk dua orang di atas, masih ada lho yang bisa kita bawa sebagai bekal nanti. Yap, doa anak soleh! Karena semua orang punya kesempatan untuk punya anak asal syarat utamanya terpenuhi: NIKAH!!! *brb ambil toa masjid sodorin ke telinga sendiri*

Kerennya lagi… nggak sesempit teksnya, doa anak solehpun ternyata masuk di dalamnya segala kebaikan yang dilakukan si anak. Nah, tugas orang tualah mendidik anaknya supaya jadi anak yang banyak manfaat buat sekitar. Jadi anak yang berdaya untuk agamanya. Yeah!

Dalam Islam sendiri, pembagian umur manusia itu cuma TIGA. Shobiy (bayi), mumayiz (6–11 tahun), baligh (12 tahun ke atas). Di masa shobiy, pengajaran kepada anak cuma berupa teladalan, belum butuh perintah. Nah, di masa mumayiz ini mulai deh diajak untuk melakukan perbuatan baik secara berulang-ulang, misalnya sholat. Pula penting diajak ngobrol tema-tema besar dengan bahasa mereka.

Seperti yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ketika beliau bicara dengan Ibnu Abbas  yang saat itu usianya belum 8thn: “Nak, jagalah Allah, maka Allah akan dekat denganmu. Seandainya seluruh manusia sepakat untuk berikan kebaikan kepadamu, kalau Allah belum menakdirkan maka kau tidak akan dapati kebaikan tsb dan sebaliknya. Andai mereka sepakat untuk mencelakaimu, mereka nggak akan bisa kalau Allah nggak menakdirkannya.”

See, apa yang Rasulullah sampaikan pada anak yang kalo di Indonesia baru juga naik kelas 2 SD? Yap, konsep takdir!

Atau orang tuanya Abdullah bin Zubair yang membiarkan si anak saat usia 5thn main di atas benteng melihat langsung pasukan musuh (di perang apa gitu lupa). Nggak heran, ketika Umar lewat dimana banyak anak kecil yang memilih bubar karena takut dengan khalifah, Abdullah bin Zubair malah pede nggak menyingkir. Saat ditanya, kenapa nggak menyingkir seperti yang  lain. Jawabannya keren banget!

“Paman, jalan ini tidak sempit. Kenapa aku harus menyingkir apalagi karena takut kepadamu?” Umarpun… takjub!

Mereka para mumayiz di zaman Rasulullah dididik untuk punya a’laa (nilai luhur) & dibangun mental “apa yang bisa saya beri untuk Islam?”.

Pas masuk masa baligh, mereka sudah jadi manusia dewasa yang tangguh. Macam Ibnu Abbas yang ditunjuk Khalifah Umar sebagai penasehat kala usianya belum genap 18 tahun. Atau Zaid bin Tsabit di usianya yang baru 20 tahun, sudah diamanahi jadi PJ pengumpulan ayat-ayat Qur’an jadi mushaf. Atau Usamah bin Zaid yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah untuk jadi panglima memimpin pasukan muslim melawan Romawi di usia 18 tahun! Ya Allah… 😍

Jadi ya… kita emang wajib banget investasi yang terbaik buat anak. Tapi pastikan, orientasi investasinya bukan cuma sekadar duniawi (prestise, jadi ladang duit, dll), tapi lebih dari itu supaya mereka jadi pewaris kesolehan kita. Apalah kita, di umur 40an aja biasanya sudah numpuk aneka penyakit, yang membuat ibadah nggak segetol masa muda. Mangkenyong… pastikan ilmunya, amalnya, ibadahnya mengalir terus buat kita (kalau sudah punya anak, haha).

Buat yang diuji dengan nggak kunjung punya keturunan di usia pernikahan yang sudah berbilang tahun, mungkin bisa meneladani kesabaran berdoa Nabi Ibrahim & Zakaria. Walau rambut sudah memutih, tulang sudah melemah, doa mereka untuk dikasih keturunan nggak kunjung padam. Sampai Allah akhirnya mengarunia keduanya dengan Nabi Ismail & Yahya. Masya Allah!

Oke, Dude… jangan liat siapa yang menyampaikan ya (gue yang masih jomblo, jangankan anak, suami aja belom punya 😝). Moga sharing kajian yang gue ikutin kemarin ada manfaatnya. Aamiin.

Omongan

Cewek kalo lagi PMS, semua hal jelek di matanya. Hatta cuma diselak temannya masuk ke toilet, luruh sudah seluruh kebaikan temannya itu. Huh!

Itu yang gue alamin kemarin-kemarin, pas omongan seseorang nggak bisa dipegang. Pagi bilang apa, siang ngelakuin apa. Hilang sudah segala kebaikan dia selama ini. Imbasnya, kami jadi diem-dieman tiga hari!

Abis itu baikan lagi sih. Tapi jadi malu sendiri setelahnya. Kayak nggak ngaca, padahal di waktu yang sama gue ngelakuin hal yang serupa kepada pembaca setia blog ini. Baca: omongan gue nggak bisa dipegang.

Duluuu… waktu gue belum kenal sama yang namanya TONGSIS, gue bilang nggak suka sama aktivitas selfie di artikel ini.

Nah, beberapa hari yll gue upload foto groofie waktu di Dufan, yang kemudian diprotes sama sesama Instagramers yang pernah baca tulisan gue itu : katanya nggak suka selfie… kok?.

Segala alasan-walau ada benarnya-gue keluarkan demi membela apa yang gue lakukan. Tapi tetap aja, omongan apalagi tulisan yang sudah dipublish nggak bisa ditarik. Buktinya juga masih ada di blog ini.

Sebetulnya mau buat tulisan perihal gue sudah suka aktivitas selfie semenjak kenalan sama yang namanya tongsis. Tapi buat apa, kalau cuma jadi pembenaran atas kekeliruan yang sudah gue lakukan?

KayaknyA emang lagi disuruh mikir dari kesalahan sendiri & orang lain. Sebelum nulis sesuatu (yang berbau nyinyir) kira-kira gue berpotensi melakukan hal itu nggak di masa mendatang?

Hah, susah ya?! 😒

Lucu

Gue punya teman. Orang Aceh, menurut gue orangnya super unik. Jadi peristiwa apapun sama dia selalu dibilangnya:  LUCU, eee? *dengan logat khas Aceh ke-Melayu-melayuan. Seakan, cuma itu satu kata yang dia punya untuk merespon segala kejadian. Hah! 😄

Awalnya waktu baru-baru kenal sama dia, gue selalu meluruskan. Bahwa respon itu bukan cuma sekadar kata “lucu”. Ada sedih, bikin bingung, seru, menyenangkan, dllsb. Diapun nggak ketinggalan lanjut meluruskan–apa ngeles?, “iya, itu maksudnya, Ka.”

Nah, masalahnya sekarang kayak gue kena tulah. Gue butuh kata “lucu” itu untuk menghadapi beraneka persoalan hidup yang kadang bikin semaput, tapi pantang bagi gue buat kentut, eh, cemberut! 

Kata “lucu” kini menurut gue, adalah ekspresi lain dari… ya Allah, hamba ikhlas atas semua ketetapan-Mu.

Pun doa-doa yang selama ini dipanjatkan ternyata termentahkan.
Pun mimpi-mimpi yang selama ini dirajut ternyata berantakan.
Pun mereka yang selama ini diharapkan ternyata menjauh satu-satu.

Tapi hidup ini emang “lucu”! 😜