Vertikal-in

Hidup itu belajar yang nggak pernah putus & nggak boleh berhenti. Apalagi yang namanya belajar bukan cuma dari baca buku & dengar pemaparan guru/dosen/ustadz. Kita menjalin pertemanan dengan siapapun, baik yang sekadar kenalan sekali maupun yang mengharuskan sering-sering berinteraksi dengan mereka, juga bagian dari proses belajar kita. Setuju ya?

Khusus yang kedua, gue paling paling paling excited mengambil pelajaran dari mereka. Rupa-rupa karakter manusia yang sebagian bikin gue ketergantungan nggak mau pisah walau sekejap, sampai karakter manusia yang bikin capek hati & kalau bisa nggak usah berhubungan lama-lama alias kalau ada perlunya aja. Heuw!

Harusnya nggak boleh gitu, ya? Perkara senang-sedihnya kita nggak perlulah disandarkan karena orang lain. Karena happiness is ours! Because rasa senang itu kita yang menentukan.

Pernah gue dapat ilmu bagus dari seorang ustadzah kabir di Jakarta. Kata beliau, salah satu kunci kokohnya ukhuwah islamiyah yakni: apapun yang orang lain lakukan terhadap kita, langsung aja sambungin sama yang di atas (Allah). Mau yang jahat yang baik sama kita, kita serahkan penuh ke Allah untuk membalasnya.

Ah, ini keren banget menurut gue. Bikin hati jadi tenang gimanapun kondisinya. Masalahnya, gampang kalau persoalannya menyerahkan kepada Allah balasan terhadap orang yang baik sama kita. Saat lidah cuma mampu mengucap “jazaakillah khairan jaza”, Allah yang paling mampu merealisasikan doa kita.

Sebaliknya kalau persoalan menyerahkan kepada Allah balasan terhadap orang yang jahat sama kita (mungkin mereka nggak maksud jahat, sih, cuma memanfaatkan karena kebaikan yang kita lakukan terhadap mereka), rasanya beraaat banget. Di bibir mungkin sudah terucap, “biar Allah yang bales”. Tapi kita masih menyimpan rasa digdaya untuk membalas kejahatan mereka dengan anggota tubuh kita sendiri. Lisan yang mencemooh, hati yang ngedumel nggak keruan, tangan yang mau nabok, noyor, nampar, dllsb. Padahal, Allah bisa ngelakuin yang leeebih dari itu semua & pastinya lebih menyakitkan!

Menjadi bagian dari masyarakat yang mentalnya sungguh memprihatinkan, sungguh sering membuat rasa pesimis meraja, bahkan setan terus mengipas bara dalam dada. Makanya perlu banget mengasah kemampuan menyerahkan kepada Allah balasan terhadap orang yang jahat sama kita. Ah, semoga bisa!

Iklan

5 comments

  1. titantitin · Februari 3, 2016

    laikdis

  2. pianochenk · Februari 8, 2016

    Laikdis tu *ikutantitin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s