Umar & Penaklukan Jerusalem

Musim dingin membekukan udara. Namun, warga kota sedari pagi hingga siang ini tak memedulikannya. Tak seperti di Antiokhia, hampir seluruh warga Jerusalem mengerti, mereka akan baik-baik saja. Penakluk yang baru justru memberi harapan yang sebelumnya tak pernah terpikir akan mereka dapatkan. Bahkan, bagi orang-orang Yahudi. Mereka yang tidak bisa menampakkan keimanannya, kelak akan dijamin kebebasannya.

Oleh karena itu, warga kota begitu bersemangat hari itu. Sejak dari gerbang-gerbang kota, penduduk telah berjajar begitu rupa. Mereka membayangkan, iring-iringan “Kaisar Arab” akan memasuki kota dengan gagahnya. Kuda-kuda terbaik yang ditunggangi para tentara berbaju besi. Umbul-umbul militer yang membuat gemetar mereka yang menyaksikan.

Lalu… terjadilah demikian.

Apa yang kemudian tamak mata setelah penantian yang cukup lama, adalah sesuatu yang bagi warga Jerusalem bahkan tak terbayangkan dalam mimpi paling miskin sekalipun. Dari pintu gerbang yang menjulang, tak tampak iring-iringan pasukan yang menggetarkan. Tidak mengantre ribuan tentara berbaju besi. Tidak ada umbul-umbul yang berkibaran. Tidak ada bunyi-bunyian yang mengantarkan kemenangan.

Kedatangan sang Khalifah yang menjadi syarat utama jika Palestina hendak menyerah, adalah kehadiran paling senyap sepanjang sejarah. Seekor keledai melenggang perlahan menuju Bukit Golgota, dengan seorang tua yang berjalan di depannya. Seeorang lagi beralan mengiringi, sembari menarik tali kekang keledai dan menebar senyumnya ke orang-orang yang berjejalan.

Orang tua itu, berbaju penuh tambalan dan beserban berwarna suram. Menggantung perbekalan sekadarnya di badan keledai: sekantong gandum, sekantong kurma, sekantong air, dan selembar tikar.

Setiap langkah keledai itu seperti sihir yang mendiamkan orang-orang di sepanjang jalan. Tidak ada sorak sorai, tak ada suara, hanya tangan-tangan yang menutupi mulut sebagian dari mereka. Di antaranya mulai ada yang berlinang air mata.

Inikah lelaki yang paling berkuasa di Timur dan Barat? Penakluk Persia dan Romawi?

Di bukit Golgota, Uskup Sophronus terdiam tubuhnya. Menelaga pelupuk matanya, berkomat-kamit bibirnya. Kashva hanya menyentuh pundak Bar tanpa suara, sedangkan para pendeta seperti terpaku di tempatnya.

“Lihatlah,” Uskup Sorphonus berkata kepada orang-orang di kan kirina, “… sungguh ini adalah kesahajaan dan kegetiran yang telah dikabarkan oleh Daniel sang Nabi ketika dia datang ke tempat ini.”

Sang penunggang unta: Khalifah ‘Umar bin Khaththab segera sampai di hadapan Gereja Makam Kristus. Dia turun dari unta dan sang Uskup menghampirinya.

“Salam untukmu, wahai Khalifah.”

“Begitu juga bagimu, wahai Uskup.”

Dari tempatnya berdiri, ‘Umar menatap ke kejauhan. Ke arah penduduk Palestina yang senyap suaranya. Barulah ketika dia melambaikan tangan sebagai ungkapan salam, orang-orang bersorak gembira. Telah lepas seluruh beban di dada. Keterkekangan sepanjang usia mereka, lolos bak ikatan yang terurai.

Hal. 83-86 buku Muhammad Sang Pewaris Hujan mas Tasaro GK.

***

Beneran zuperrr ceritanya. Apalagi bacanya di atas KRL. Mau nangis tapi malu, nahan nggak nangis tapi mengiris-iris hati!

Sudah pernah baca kisahnya, sebetulnya. Tapi kali ini baca siroh dan tarikh dalam balutan fiksi. Indahnya bukan main! T.O.P deh!

image

Iklan

Dong!

Pun kebanyakan orang tua zaman dulu nggak berpendidikan tinggi apalah lagi punya gelar akademis berderet-deret, tapi menurut gue mereka pintar-pintar. Ini terbukti dari kecakapan mereka dalam mengemas sebuah cerita jadi mengasyikkan.

Kalau dulu babeh gue suka cerita segala yang terjadi di masa mudanya kadang dibumbui sedikit pantun, kini gue nemuin lagi orang tua yang pandai bercerita.

Jadi kemarin gue lagi ngucapin kalimat dengan kata “donk”, tiba-tiba ibunya teman yang lagi berkunjung ke tempat kami menyambar…

“Dulu, ada orang Aceh yang baru datang ke Jakarta mau naik becak,” mulai beliau dengan logat khas Aceh-nya.

Ditanya, berapa harga ke Pasar Minggu. Kata abang becaknya, “Seribu, dooonk!”

Naiklah si orang Aceh ke atas becak, tapi sambil berdiri sepanjang perjalanan.

Tukang becak pun bingung dengan kelakuan si orang Aceh, dia bilang, “Duduk, dooonk!”

Merasa ditegur, si orang Aceh akhirnya duduk, tapi nggak lama berdiri, terus duduk, terus berdiri. Begitu seterusnya.

Di akhir, ibunya teman baru bilang, “Di kami, donk itu artinya berdiri. Hehe.”

😀

People Come People Go

Namanya juga hidup, ada yang datang pasti ada yang pergi. Mutlak, selalu begitu adanya. Contoh mainstreamnya proses kelahiran dan kematian. Contoh paling nyakitinnya ada yang jadian ada yang dicampakkan. Wkwkwkkk.

Ada kali setahun belakangan, rumah emak gue diceriakan dengan 3 generasi kucing perempuan belang tiga. Diawali dengan kehadiran si nenek kucing yang sering keluar masuk rumah bahkan sejak emak gue masih ada, dilanjutkan dengan ibu kucing yang dilahirin di bawah kasur emak gue (kemudian kami beri nama Cingsa: kuCINGnya nenek SAdiyah), diakhiri dengan cucu kucing yang setelah lahiran di rumah tetangga langsung diambil paksa hak asuhnya oleh keponakan gue di rumah mamak.

Boleh dibilang mereka sudah hampir menjadi bagian dari keluarga kami walau cuma dari jenis kucing. Apalah lagi si ibu kucing alias Cingsa yang mana gue jadi saksi hidup doi dari jaman masih gadisnya (kittenish, sok kecantikan dan sok kuasa) sampai doi jadi mahmud karena terpaksa (sempat terkena baby blues nggak peduliin anaknya yang dimakan kucing hitam kejam) gegara masih belia tapi sudah dikawinin sama kucing jantan, sampai doi jadi mahmud yang ikhlas dan makin tampak jiwa keibuannya (selalu menggeram kalau ada kucing jantan mendekat ke ‘rumah mungil’nya).

Khusus untuk masa gadisnya, gue mau ceritain sedikit. Seriusan doi tuh cantik banget. Bodynya kurus, kakinya jenjang, warna putih di tubuhnya yang dominan membuat doi tampak bersih banget (kalau kata gue: putihnya nurun dari emak gue banget. Bersih!). Sayang aja bulunya sering rontok dan nempel di mana-mana.

Kesukaannya ngulet di depan orang yang lagi pada ngobrol, loncat-loncat kegirangan nggak jelas sama tidur di kasur dimana doi dulu dilahirin (kasur di bawah kasur punya emak gue). Kayaknya dulu gue nyucinya kurang bersih kali ya, jadi doi masih bisa membauinya dan jadi sok berkuasa gitu. Bayangin, waktu masih gadis tiap malam doi selalu tidur di kasur itu dan pernah satu malam doi menguasai 3/4 bagian kasur dan menyisakan 1/4nya buat gue. Gue tidur minggir-minggir ngeri jatoh, lah doi enak banget dengan posisi melintang. KZL! 😐

But time flies… Seiring kian dewasanya si anak-anak Cingsa, gue dan kakak nggak bisa mentolerir aroma buang air kedua anaknya yang mengganggu indera penciuman kami. Di satu sisi takut berdampak pada kesehatan penghuni rumah, di sisi lain kasian kalau harus mengusir mereka.

Akhirnya tega nggak tega gue memberi ultimatum kepada keponakan untuk membuang Cingsa sekeluarga selambat-lambatnya satu minggu dari kepulangan gue terakhir. Katanya sih sudah diupayakan dibuang dari mulai dipindah posisikan di halaman samping rumah, ke halaman rumah tetangga, sampai di empang dekat rumah. Apa daya mereka balik maneng balik maneng, Son!

Akhirnya, kami sepakat untuk membuang mereka di pasar dekat rumah. Hiks, beneran sedih yang konyol! Bahkan baru sehari dibuang kami sudah kembali ke pasar sekadar memastikan mereka baik-baik sahaja. Sayang nggak ketemu.

Gue sedih, dua keponakan gue apalagi. Sempat berulang kali gue ditanya dengan muka cemberut oleh mereka, “emang Cinu nggak sayang apa sama Cingsa dan anak-anaknya?!” Tapi demi menjaga gengsi gue yakinkan kepada keduanya, “Dek, yang namanya sayang nggak mesti selalu bersama. Kita buang mereka kan buat kebaikan kita juga. Cinu sih mending buang mereka daripada dedek kena penyakit.” Entah mereka ngerti atau nggak. Hehe.

Dari kehadiran 3 generasi kucing perempuan belang tiga itu gue belajar beberapa hal:
1. Ternyata gue jomblo kronis kalau dibanding The Kucings!
2. Cinta keluarga itu yang utama (setelah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, jelas!)
3. Kadang, cinta itu maknanya melepaskan, euy. Yang bersama belum tentu baik adanya. Dengan berpisah, boleh jadi sebagai jalan kebaikan bagi keduanya (walau hikmahnya mungkin baru terasa di kemudian hari).

Udah segitu ajah! Wkwkwkkk, gajebo, ya? Gapapa, yang penting nulis!

*btw judulnya harusnya Kitten Come Kitten Go, ya??? Lah isinya full tentang kucing gini. Hihi.

image

Cingsa ba'da lahiran

c