People Come People Go

Namanya juga hidup, ada yang datang pasti ada yang pergi. Mutlak, selalu begitu adanya. Contoh mainstreamnya proses kelahiran dan kematian. Contoh paling nyakitinnya ada yang jadian ada yang dicampakkan. Wkwkwkkk.

Ada kali setahun belakangan, rumah emak gue diceriakan dengan 3 generasi kucing perempuan belang tiga. Diawali dengan kehadiran si nenek kucing yang sering keluar masuk rumah bahkan sejak emak gue masih ada, dilanjutkan dengan ibu kucing yang dilahirin di bawah kasur emak gue (kemudian kami beri nama Cingsa: kuCINGnya nenek SAdiyah), diakhiri dengan cucu kucing yang setelah lahiran di rumah tetangga langsung diambil paksa hak asuhnya oleh keponakan gue di rumah mamak.

Boleh dibilang mereka sudah hampir menjadi bagian dari keluarga kami walau cuma dari jenis kucing. Apalah lagi si ibu kucing alias Cingsa yang mana gue jadi saksi hidup doi dari jaman masih gadisnya (kittenish, sok kecantikan dan sok kuasa) sampai doi jadi mahmud karena terpaksa (sempat terkena baby blues nggak peduliin anaknya yang dimakan kucing hitam kejam) gegara masih belia tapi sudah dikawinin sama kucing jantan, sampai doi jadi mahmud yang ikhlas dan makin tampak jiwa keibuannya (selalu menggeram kalau ada kucing jantan mendekat ke ‘rumah mungil’nya).

Khusus untuk masa gadisnya, gue mau ceritain sedikit. Seriusan doi tuh cantik banget. Bodynya kurus, kakinya jenjang, warna putih di tubuhnya yang dominan membuat doi tampak bersih banget (kalau kata gue: putihnya nurun dari emak gue banget. Bersih!). Sayang aja bulunya sering rontok dan nempel di mana-mana.

Kesukaannya ngulet di depan orang yang lagi pada ngobrol, loncat-loncat kegirangan nggak jelas sama tidur di kasur dimana doi dulu dilahirin (kasur di bawah kasur punya emak gue). Kayaknya dulu gue nyucinya kurang bersih kali ya, jadi doi masih bisa membauinya dan jadi sok berkuasa gitu. Bayangin, waktu masih gadis tiap malam doi selalu tidur di kasur itu dan pernah satu malam doi menguasai 3/4 bagian kasur dan menyisakan 1/4nya buat gue. Gue tidur minggir-minggir ngeri jatoh, lah doi enak banget dengan posisi melintang. KZL!😐

But time flies… Seiring kian dewasanya si anak-anak Cingsa, gue dan kakak nggak bisa mentolerir aroma buang air kedua anaknya yang mengganggu indera penciuman kami. Di satu sisi takut berdampak pada kesehatan penghuni rumah, di sisi lain kasian kalau harus mengusir mereka.

Akhirnya tega nggak tega gue memberi ultimatum kepada keponakan untuk membuang Cingsa sekeluarga selambat-lambatnya satu minggu dari kepulangan gue terakhir. Katanya sih sudah diupayakan dibuang dari mulai dipindah posisikan di halaman samping rumah, ke halaman rumah tetangga, sampai di empang dekat rumah. Apa daya mereka balik maneng balik maneng, Son!

Akhirnya, kami sepakat untuk membuang mereka di pasar dekat rumah. Hiks, beneran sedih yang konyol! Bahkan baru sehari dibuang kami sudah kembali ke pasar sekadar memastikan mereka baik-baik sahaja. Sayang nggak ketemu.

Gue sedih, dua keponakan gue apalagi. Sempat berulang kali gue ditanya dengan muka cemberut oleh mereka, “emang Cinu nggak sayang apa sama Cingsa dan anak-anaknya?!” Tapi demi menjaga gengsi gue yakinkan kepada keduanya, “Dek, yang namanya sayang nggak mesti selalu bersama. Kita buang mereka kan buat kebaikan kita juga. Cinu sih mending buang mereka daripada dedek kena penyakit.” Entah mereka ngerti atau nggak. Hehe.

Dari kehadiran 3 generasi kucing perempuan belang tiga itu gue belajar beberapa hal:
1. Ternyata gue jomblo kronis kalau dibanding The Kucings!
2. Cinta keluarga itu yang utama (setelah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, jelas!)
3. Kadang, cinta itu maknanya melepaskan, euy. Yang bersama belum tentu baik adanya. Dengan berpisah, boleh jadi sebagai jalan kebaikan bagi keduanya (walau hikmahnya mungkin baru terasa di kemudian hari).

Udah segitu ajah! Wkwkwkkk, gajebo, ya? Gapapa, yang penting nulis!

*btw judulnya harusnya Kitten Come Kitten Go, ya??? Lah isinya full tentang kucing gini. Hihi.

image

Cingsa ba'da lahiran

c

2 comments

  1. titintitan · April 18

    yang penting nuliiiiss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s